
"You seriously love that woman?" manik biru gadis pirang didepannya menatap kedua bola matanya mencari kejujuran darinya.
Sigit tidak menjawab pertanyaan gadis yang pernah mengisi hari-hari dimasa lalunya. Menurutnya, pertanyaan itu tidak perlu ia jelaskan lagi setelah apa yang sudah ia lakukan pada Winda diatas panggung tadi cukup jelas sebagai jawabannya, bahwa ia sangat mencintai istrinya.
"Sigit, please don't be mad at me with our past." gadis itu masih memohon padanya, ia teringat perlakuannya yang sudah membuat Sigit kecewa dengan memutuskan acara pertunangan mereka yang sudah didepan mata saat itu.
"I'm not mad at you." jawab Sigit akhirnya menatap tajam manik biru gadis pirang itu.
"Why are you silent on me."
"Hard to explain to you."
"Why? why hard to explain to me?" gadis itu terlihat memaksa penjelasan dari Sigit.
"Things are different now, Camelia. And i'm married now to the girl of my choice."
jawab Sigit tegas dengan menekankan kalimat terakhirnya. Matanya masih menatapnya tajam.
Mendengar jawaban Sigit membuat gadis itu terdiam menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya begitu saja diudara dengan kedua tangan terangkat sebahunya.
"Ho ho ho... kenapa lu lu pade pake bahasa planet Git? gak ngerti gue." Tania merasa bingung dengan percakapan dua manusia didepannya. Perasaan Tania tidak enak ketika wajah cantik Camelia terlihat kecewa dengan jawaban Sigit.
"Lu jangan coba-coba main api ya Git!" lanjut Tania dengan nada memperingatkan Sigit. Sigit menganggukan kepalanya pada Tania. Mata Tania beralih menatap Camelia yang duduk disampingnya.
"Hei lu nenek lampir cantik, jangan coba-coba jadi benalu dalam rumah tangga orang ya, bisa gue jadiin makanan piranha kamu nanti." lanjut Tania pada Camelia dengan gaya jari-jari tangannya dicengkeramkan diudara sebagai isyarat akan menerkamnya.
Topan melirikkan matanya pada Tania yang sudah jelas meledeknya. Karena setiap Tania kesal pasti sasarannya adalah dirinya.
Camelia tertegun dengan kalimat wanita disampingnya, seraya menirukan gaya Tania.
"What? makanan piranha?." ucap Camelia.
Tania mengangguk menjawab pertanyaan Camelia yang terheran mendengar kalimatnya.
"Iya bener."
Sigit mengalihkan pandangannya dari dua wanita didepannya yang masih beradu komentar. ia meraih androidnya yang berdering. Lalu melihat nama dilayar benda pipihnya yang membuatnya tambah geram, ia membiarkan androidnya bergetar berkali-kali dan segera menyilantnya.
Tidak lama setelah androidnya terdiam android Winda ganti berbunyi dengan nama penelpon yang sama dengannya tadi. Namun ia tetap saja membiarkan begitu saja panggilan-panggilan itu.
"Buat apa coba dia menelpon aku terus, setelah beberapa kali tidak aku angkat, ganti nomor Winda yang dia telpon, apa yang dia inginkan lagi?"
lirih Sigit, wajahnya terlihat jika ia sedang marah.
Sigit merasa Winda ditoilet cukup lama dan tidak kunjung datang bergabung kembali. Ia berniat menyusulnya ketoilet.
Sigit beranjak dari duduknya mendorong kursinya kebelakang agar ia dapat keluar dari kursinya. Begitu ia akan melangkahkan kakinya tangan Camelia menahannya dengan menyahut tangannya dan menggenggamnya.
Sigit tersentak melihat pergerakan Camelia, ia segera meraih jari tangan lentik itu dan mengalihkan dari pergelangan tangannya.
❄️❄️❄️
Didalam toilet.
Anita memasukkan kembali androidnya didalam tas hitam yang menggelayut dipundaknya. Ia berjalan mendekati Winda.
__ADS_1
"Win? kamu kenapa?" wajah Anita panik setelah melihat Winda yang terlihat lemah.
"Tidak tau mbak, badanku sudah lemes sekali."
"Kamu sakit?"
"Tidak mbak, mungkin masuk angin lagi ini."
"Ya sudah saya bantu ya?"
Anita membantu Winda, mengangkat tangan kanan Winda dan meletakkannya diatas pundaknya dan menuntunnya keluar dari toilet
Tangan kanan Anita membuka pintu toilet dan memapah langkah Winda perlahan berjalan menyusuri lorong, ia merasa iba melihat keadaan Winda.Ya, Anita mengakui dirinya memang salah yang sempat berpikir ingin berada diposisi Winda sebagai istri Sigit sehingga ia telah berbuat curang padanya, namun berkat bantuan Winda juga karirnya di perusahaan Duta Perkasa terselamatkan. Bagaimanapun juga ia merasa punya hutang budi padanya. Setidaknya ia sudah mempunyai niat yang baik dengan membimbingnya berjalan.
Langkah Winda terhenti yang diikuti Anita disampingnya ketika menyaksikan tangan gadis bule menggenggam pergelangan tangan Sigit didepannya, yang tidak lama segera dialihkan genggaman jari-jemari gadis itu oleh Sigit.
Winda memperhatikan wajah cantik didepan suaminya, ia merasa tidak asing dengan wanita itu. Sementara Anita tersentak kaget saat melihat Camelia berada di pesta pernikahan Willy. Ia tidak percaya mereka dipertemukan kembali setelah sekian lama dengan status yang berbeda. Saat itu, Anita menjauhi Sigit karena mengetahui hubungan mereka yang serius dengan akan segera melangsungkan pertunangan mereka, ia sadar diri jika ia tidak akan bisa menyaingi gadis bule itu sebagai pendamping hidup Sigit. Karena menurutnya gadis itu sangat sempurna untuk Sigit dibandingkan dengan dirinya, maka dari itu lebih baik ia mundur terhormat.
"Oh... bukankah itu adalah gadis tadi yang duduk didepanku? gadis yang berdiri menyambut Sigit ketika berada didepannya? terus kenapa dia ada disini? tapi... wajah itu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?"
Winda berpikir keras mengingat gadis itu, ia baru tersadar ketika tangan Anita menggerakkan pundaknya. Mereka beradu pandang sekilas, lalu melanjutkan langkahnya kembali mendekati suaminya berada.
Sigit melihat dari bawah ketika kepalanya menunduk terlihat sepatu dan dress yang dipakai Winda sudah berada disampingnya dengan seorang wanita. Pandangannya naik keatas hingga sampai terlihat jelas wajah istrinya dengan wanita yang sempat membuatnya geram. Ia terheran melihatnya berdua dengan tangan merangkul pundak Winda.
"Lu? lu apain istri gue sampai begini ha?!" hardik Sigit seraya menghempaskan kedua tangan wanita itu dari pundak Winda. Matanya bagaikan elang tajam menyorot mangsanya.
Camelia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan benar-benar terjadi, ia melihat betapa geramnya Sigit pada Anita, Ia tau betul bagaimana Sigit ketika sedang marah jika orang yang disayangi dan dicintainya tersakiti, ia kini merasa yakin dengan wanita dalam pelukan Sigit adalah wanita pilihan sesuai dengan yang dikatakannya, hanya wanita hebat yang bisa meraih hati laki-laki dingin seperti Sigit, yaitu wanita yang pandai mencuri hatinya. sedangkan Anita gugup mengalihkan pandangannya pada Winda setelah menatap wajah Sigit sekilas.
"Duduk dulu sayang, badanmu masih terlihat lemas."
Winda mengikuti perkataan suaminya, lalu melihat John, Topan dan Tania bingung tidak mengerti.
"John, tolong berikan tempat duduk untuk Anita." kalimat Winda membuat Sigit terheran.
Anita menghentikan langkahnya yang hendak meninggalkan mereka setelah mendengar kalimat Winda pada seorang laki-laki yang tidak ia kenal.
"Tapi sayang..." sahut Sigit terlihat memprotesnya.
"Abang... justru Abang terimakasih pada mbak Anita yang sudah membantuku sampai disini."
Jawab Winda seraya menatap suaminya, tangannya menggenggam tangan Sigit.
"Apa yang sudah terjadi padamu?" tanya Sigit penasaran.
Winda menceritakan keadaannya didalam toilet hingga dibantu Anita. Sigit merasa tidak enak setelah mendengarkan penjelasan dari istrinya, namun ia menutupi perasaan bersalahnya pada Anita dengan membenarkan jilbab Winda.
"Sekarang bagaimana? sudah baikan?"
"Hm. Sudah agak mendingan." jawab Winda.
Winda mengetahui perasaan suaminya yang ditutupi itu. Ia tersenyum menatap wajah Sigit.
"Mbak Anita silahkan duduk, kita duduk bersama saja disini."
Winda meminta Anita duduk bergabung dengannya dan teman-temannya, lalu mengalihkan pandangannya beralih pada gadis bule disampingnya.
__ADS_1
"Hello, i'm Camelia." gadis itu mengulurkan tangannya pada Winda sambil tersenyum.
"Winda."
Winda menyambut uluran tangan gadis disampingnya, ia baru teringat wajah dividio Sigit saat ia sedang mencari bukti pagi itu. Pantas saja jika ia merasa pernah melihatnya ketika Camelia berdiri didepan Sigit.
"Nice to meet you Winda." ucap Camelia tersenyum padanya.
"Nice to meet you too." jawab Winda membalas senyuman Camelia.
Mereka berbincang-bincang seolah-olah bertemu teman lamanya, sehingga terlihat diwajah Winda tidak ada gurat cemburu atau kesal dengan mantan-mantannya suaminya.
Sikap Winda membuat Sigit heran dan kagum melihatnya, dalam hatinya ia sangat mengagumi istrinya yang dewasa menyikapi perasaannya.
"Entah bagaimana hatimu saat ini sayang... walaupun kamu memperlihatkan senyuman dibibirmu diantara percakapanmu dengan mereka dan seolah-olah kalian adalah teman lama yang malam ini sedang reonian, tetapi perasaan cemburu dan sakit itu pasti ada, namun kamu mampu mengontrol itu semua dengan baik, bahkan mendekati kata sempurna. Sikapmu seperti inilah yang memposisikan dirimu terspesial dihati Abang. Inilah kesekian gayamu yang Abang suka."
❄️❄️❄️
Setelah sampai didalam kamar mereka, Sigit dan Winda segera membersihkan dirinya dan bersiap memanjakan tubuh mereka diatas tempat favoritnya, tubuh yang cukup lelah terasakan oleh mereka setelah menghadiri acara pernikahan sahabatnya.
"Sayang."
suara Sigit lirih memanggil nama Winda.
"Hm?"
jawab Winda dengan mata terpejam, kepalanya bertumpu diatas lengan suaminya.
"Abang sempat heran tadi, kenapa kamu tidak cemburu atau... kesal, sakit hati gitu melihat mereka tadi? padahal... Abang tadi sangat menghawatirkan mu."
Winda membuka kelopak matanya dan mengubah posisi tidurnya menghadap suaminya.
"Emmm... cemburu? sudah pasti ada rasa itu bang. Sakit? sudah pasti hancur berkeping-keping ibaratnya hati itu adalah gelas kaca bang, jika wanita masa depan bertemu dengan wanita masa lalunya dari seorang suami. Tidak Winda pungkiri, pun pasti sama bang dengan perasaan Winda. Karena kami adalah wanita yang sama-sama ingin dimengerti dan dipahami."
Winda berhenti sejenak membiarkan Sigit menyugar lembut rambutnya. Lalu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi... Winda berusaha membanggakan diri Winda sendiri, karena pada kenyataannya Windalah yang sekarang bersama Abang bukan mereka, dan sekarang hanya nama Winda yang memenuhi hati Abang. Bukankah Abang pernah berkata pada Winda waktu itu, jika mereka itu hanya sebatas masalalu sedangkan aku adalah masa depan Abang?"
Mendengar perkataan Winda, Sigit mengecup pucuk kepala Winda lalu memeluk tubuh seksi istrinya didalam selimut.
.
.
.
.
Bersambung...🤗
Ayo yang setuju sama Winda kasih vote n hadiahnya jangan velit2 ya...
Ingat! membuat orang bahagia dapat pahala loh...🤭
Dan untuk akak2 yang sudah, saya ucapkan terimakasih dan selalu dukung Abang Igit dan Winda.
__ADS_1
Saranghe...💞💞