Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 102


__ADS_3

Winda merasakan ada yang janggal dengan sikap Revan yang lebih banyak diam ketika berada di meja makan. Ia melirik mami yang biasa-biasa saja, namun sikap Revan yang sedikit berbeda membuatnya penasaran. Tidak seperti malam-malam biasanya ketika mereka sedang makan bersama.


"Kenapa Win? ayo makan dari tadi bengong aja. Apa sudah kangen sama Abang?"


Mami memandang Winda yang hanya terdiam memperhatikan Revan.


Satu minggu lebih ia menemani ibu dan Marina di rumah sakit, ia pulang ke rumah papi Winata karena pekerjaan dikantornya sangat membutuhkan dirinya, sehingga tadi siang dia meminta Riyan sopir mami untuk segera menjemputnya di rumah sakit.


"Tidak mi." jawab Winda cepat menyahut mami.


"Tidak salah?" mami tersenyum menggoda, ia tahu jika menantunya sedang penasaran pada sikap Revan.


"Makan dulu dari tadi siang kamu belum makan loh." lanjut mami.


"Iya mi."


Winda mulai menyuapkan makanan dari sendok kedalam mulutnya, sesuap, dua suap hingga suapan terakhir ia masih menyimpan pertanyaan.


Revan dan papi menyelesaikan makan malamnya bersamaan, minum dan berdiri secara berbarengan, saat mereka menyadari sikapnya yang spontan bersamaan, wajah kedua orang itu terlihat serba salah dan gugup saat secara tidak sengaja saling bertatap muka, mereka mengalihkan pandangan lalu pergi kedalam kamar masing-masing tanpa sepatah kata.


Melihat kejadian barusan membuat Winda semakin berpikir jika memang ada sesuatu di rumah ini.


Winda memperhatikan mami yang terlihat masih biasa saja.


"Sempurna mi sikapmu menyembunyikan sesuatu." batin Winda.


"Mi." panggil Winda


"Iya, ada apa Win?" tanya mami sambil membereskan piring papi dan Revan.


"Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Revan dan papi? sepertinya ada sesuatu ya mi?" ia mengumpulkan keberaniannya untuk menanyakan kepada wanita yang berada didepannya.


"Hm? memangnya ada apa sama mereka?" jawab mami seraya memiringkan tubuhnya mengalihkan pandangannya dari meja pada Winda.


"Winda rasa ada yang aneh sama Revan dan papi mi? tidak biasanya mereka bisa makan, minum, bahkan berdiri pun berbarengan seperti tadi?" tanya Winda masih tidak mengerti.


mami menghela nafasnya, meletakkan piring-piring yang sudah ia tumpuk.


"Hhhh... yah... begitulah mereka."


"Tidak mi, malam ini beda."


"Beda bagaimana? perasaanmu aja kali..."


"Mi." bujuk Winda dengan wajah memelas.


"Sebenernya... Emmm... sudahlah tidak usah hawatirkan mereka ya."


mami tidak melanjutkan kalimatnya, kedua ekor matanya melirik Winda sesaat lalu berjalan perlahan menuju taman bunga belakang rumah mereka.


Winda semakin yakin dengan pikirannya. Ia mengikuti langkah ibu mertuanya menuju taman.


"Serapat apapun aku berusaha menutupi sebuah rahasia itu dalam keluarga ini sudah pasti akan tercium juga kebenarannya. Kemarin Revan dan sekarang mungkin Winda yang akan mengetahuinya."


mami duduk dibangku yang berada di dekat kolam, ia termenung memikirkan keadaan keluarganya. Hatinya sakit teringat kembali peristiwa pertama kalinya ia membawa Revan masuk didalam rumah mewah ini.


Dulu ia merasa rumah ini adalah istana yang penuh kebahagiaan dengan keluarga yang utuh tidak ada kekurangan sedikit pun. Ia merasa cukup dengan apapun yang sudah diberikan suaminya, suami yang perhatian, penyayang dan setia serta anak-anak yang lucu.


Namun siapa sangka jika kebahagiaan itu justru diuji dengan yang namanya kesetiaan. Janji setia ketika mereka mulai memutuskan hidup bersama bisa goyah begitu saja.


Winda duduk disamping mami yang terpaku pada gelombang air kolam yang diterpa angin malam. Kilatan air dari pantulan cahaya lampu yang berada disekitarnya menambah suasana menjadi sendu.


"Mi... ada apa sebenarnya? apa yang sudah terjadi? mami boleh cerita ke Winda. Winda akan mendengar semua cerita mami, jangan mami pendam sendirian jika itu sangat memberatkan mami, jangan jadikan beban mami sendiri, mami punya papi, bang Bram, Abang Sigit, Revan, mbak Sofi dan juga Winda."

__ADS_1


Tangan Winda memegang pundak wanita yang sudah mulai terlihat kesedihan diwajahnya. Mereka saling menatap manik hitam lawan bicaranya.


"Mami..."


Mami masih memandang Winda dengan mata berkaca-kaca.


"Winda... ini bukan sebuah aib kan jika mami bercerita padamu?" suara mami parau. Winda seakan merasakan dada wanita didepannya sedang sesak menahan tangisnya.


Winda menggelengkan kepala semakin bingung menatap heran ibu mertuanya.


"Tidak mi." jawab Winda lirih.


Mami terlihat sedikit lebih rileks setelah mendengar jawaban Winda.


"Bertahun-tahun kami merahasiakan ini semua agar tidak ada seorangpun yang tersakiti pada akhirnya." mami mulai membuka bicaranya.


"Agar salah satu putra kami tidak ada yang merasa berbeda dengan yang lainnya."


"Mami hanya ingin memberikan haknya sebagai anak yang harus mendapatkan kasih sayang, perhatian, pengertian, dan... kehangatan dari orangtuanya."


Winda terkejut mendengar kalimat mami, ia mulai faham arah pembicaraannya yang sudah pasti yang dimaksud adalah Revan.


"Maksud mami? mami sudah tahu jika Revan sudah mengetahui semuanya?" tanya Winda terkejut.


Namun mami justru dibuat terkejut dengan pertanyaan Winda barusan yang seolah-olah sudah mengetahui semuanya dari awal.


"Winda?" mami mengerutkan keningnya.


"Kalau dilihat dari pertanyaan Winda barusan, sepertinya dia sudah mengetahui semuanya. Dan itu pastinya dari Abang Igit."


Winda sontak serba salah, ia baru menyadari jika mami telah dibuatnya terkejut. Mami terdiam memandangnya menunggu penjelasan dari pertanyaannya.


"I-iya mi, sebelumnya Winda memang sudah mengetahuinya dari cerita Abang waktu itu." Winda menjelaskan perkataannya tadi.


Mami terdiam kembali menatap kilatan-kilatan gelombang air kolam.


Suasana hening.


Winda terdiam menunggu reaksi wanita disisinya.


"Sebenarnya papi orang yang baik, dan sangat sayang sama mami." ucap mami kembali memecah kebisuan diantara mereka.


"Dan... mami yakin jika papi sampai berbuat seperti itu karena ada alasan tertentu. Tetapi sampai sekarang mami tidak tahu apa alasan papi menikah dengan ibunya Revan, karena papi tidak mau hati mami semakin terluka dan mami juga tidak ingin masalah itu dibahas lagi."


"Bagi mami itu hanya akan semakin memperburuk keadaan dan imbasnya akan sampai pada masa depan anak-anak, maka dari itu mami mencoba dan harus berani membesarkan hati mami dan menerima pendapat Abang waktu itu."


"Terus terang saat itu mami malu pada diri mami sendiri, malu pada Abang, anak kecil yang dengan senang hati menerima bayi mungil yang sama sekali tidak tahu apa-apa itu. Abang mengatakan kalau Revan adalah adiknya dan menyuruh mami untuk membawanya pulang ke rumah." cerita mami dengan menitikkan air matanya.


Winda semakin terharu mendengar kalimat wanita disampingnya, ia membayangkan peristiwa saat itu sesuai pemikirannya yang sangat membingungkan untuk mami, sebagai penentu putusan diantara dua pilihan antara menerima dan menolaknya. Sungguh bagaikan memakan buah simalakama. Namun dengan pengorbanan yang sangat luar biasa mami mampu mengikis semua itu hingga menjadi indah tak berbekas luka itu.


Mereka menghabiskan waktu berdua ditaman bunga, mengungkapkan perasaan yang sudah menggunung terpendam di palung dadanya.


Isakan tangis terdengar beriringan dengan suara jangkrik malam itu walaupun isakannya lirih.


"Hiks, hiks, hiks, hiks."


"Mami, engkau sungguh wanita luar biasa."


❄️❄️❄️


Sementara ditempat yang berbeda.


Sigit kembali menekan nama istrinya yang kesekian kali bahkan sudah puluhan chat yang ia kirimkan, namun tidak juga mendapatkan respon dari wanita yang sangat ia rindukan saat itu.

__ADS_1


"Masak iya jam segini dia sudah tidur? biasanya kan baru selesai makan malam dia? ada apa coba? kata ibu, dia sudah pulang kerumah dijemput Riyan tadi! orang-orang dirumah juga kenapa tidak ada yang angkat telpon Sigit?!" Sigit terus mengomel, dia benar-benar sudah marah malam ini diluar batas kesabarannya.


"Sebel!!"


Sigit membanting hpnya diatas ranjang dan meraih baju hangatnya menuju pintu, ia keluar dari kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Berharap mencari udara segar diluar.


"Kalau seperti ini bisa-bisa aku pulang besok pagi! bodo amat dengan meeting besok! biar Gunawan yang ngurus semua ini!!!" gerutunya dengan membenarkan baju hangatnya yang sudah menyatu dengan tubuhnya sambil terus berjalan menuju lift.


Tidak memakan waktu lama ia sudah berada di kafe yang terdapat air mancur di pinggirnya, dan ada beberapa meja kursi yang tertata rapi untuk dijadikan tempat pertemuan ataupun hanya sebagai tempat penghilang penat sepertinya.


Malam ini ia benar-benar baru merasakan udara malam di negeri orang setelah sekian lama ia berada di sana. Angin pantai dimalam hari terasa menenangkan dirinya sejenak sambil menikmati hidangan yang sudah dia pesan.


Berkali-kali ia menarik dan melepaskan nafasnya di udara menikmati belaian angin yang menyapu lembut wajahnya, hingga rambutnya terasa seperti berdisko di kepalanya.


"Tolong jangan ganggu aku lagi Tom! aku sudah muak dengan semua apa yang sudah kamu perbuat padaku dan keluargaku. Sekarang menjauhlah dariku!" sayup-sayup Sigit mendengar suara seorang wanita dari meja belakangnya.


Sigit meliriknya sekilas dan membiarkannya, ia berpikir jika itu adalah urusan pribadi sepasang kekasih.


"Kalau kamu tidak pergi dan menjauh dariku sekarang juga! maka aku akan berteriak dan mengatakan kalau kamu sudah berbuat kekerasan padaku."


"Coba saja kalau kamu berani."


"Jangan meremehkan aku Tom! aku tahu kalau kamu hanya... aww"


"Aww."


"Awwww, hiks hiks hiks."


Semakin lama Sigit tidak tahan mendengar jeritan dan tangisan wanita dari belakangnya itu. Ia pun beranjak dari kursinya berniat meninggalkan tempat itu.


Namun saat dia melewati wanita itu dia melihatnya sedang duduk sendirian dalam keadaan basah kuyup bajunya, rasa iba tidak tega melihat keadaan wanita itu menghampirinya.


Sigit segera berlari menuju bar table yang terdapat pelayan yang sedang berjaga disana, Sigit terlihat sedang berbincang-bincang dengan pelayan itu dan tidak lama pelayan itu masuk kedalam dan keluar dengan menyerahkan sebuah baju pada Sigit.


Sigit segera berjalan menuju wanita itu dan memberikan padanya.


"Terimakasih." ucap wanita itu.


Sigit tidak menjawab perkataan wanita itu, ia memperhatikan wanita didepannya seraya berpikir.


"Dia kan gadis yang punya gantungan kunci itu?"


"Kamu?" kata Sigit setelah mengingat siapa wanita itu.


Wanita itu justru terheran tidak mengerti dengan ucapan Sigit.


❄️❄️❄️


"Abang, ayo angkat bang...." Winda menghubungi suaminya berulangkali dan membalas chatnya, ia baru mengetahui jika Sigit sudah menghubunginya berkali-kali ketika ia bersama mami ditaman.


Winda gusar memikirkan Sigit yang sudah menghubunginya hingga tidak terhitung lagi panggilan dan chatnya.


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


Saranghe 💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2