
Winda terdiam selama dalam perjalanan duduk dibelakang Riyan yang sedang mengemudi mobil menuju bandara menjemput suaminya. Ia memperhatikan jalanan dari kaca jendela mobil melamun teringat kembali pembicaraannya dengan Renaldi yang ternyata benar kakaknya Revan.
"Saya dulu bekerja di perusahaan pusat WP, tapi karena suatu hal saya dipindahkan dipedalaman sampai sekarang."
"Yah... itu semua karena kecerdasan putra dari pemilik perusahaan itu, dia benar-benar orang yang jenius hingga kesalahan saya bisa terbaca olehnya."
"Kesalahan apa yang sudah mas lakukan hingga mas harus dipindahkan dipedalaman."
"Sebenarnya saya hanya kurang teliti saja hingga proposal itu hampir membatalkan kontrak kerja dengan perusahaan Utama sih, tetapi mungkin karena ada problem pribadi dalam keluarga sehingga jika ada setitik kesalahan bisa membesar begitu saja."
"Maksud problem pribadi keluarga itu apa mas? apa mas masih ada ikatan darah dengan pemilik perusahaan?"
"Tidak, cuma saya punya seorang adik yang berbeda ayah, dan ayah adik saya itu adalah pemilik perusahaan itu."
"Terus? problemnya dimana?"
"Kenapa anda tertarik sekali dengan cerita kehidupan keluarga saya? "
"Emm... bukan, bukan begitu maksud saya... cerita anda memang sangat menarik menurut saya."
"Sudahlah abaikan saja cerita saya. Ngomong-ngomong dari tadi saya cerita terus, sekarang gantian anda, disini bekerja atau..."
"Saya sudah bekerja baru saja selesai skripsi beberapa bulan yang lalu."
"Bekerja?"
"Iya."
"Dimana?"
"Jadi saya itu sudah bekerja di perusahaan cabang WP ketika saya semester berapa ya... semester lima kalau tidak salah."
"Wow keren. Terus status sekarang sudah menikah?"
"Alhamdulillah sudah, dan sekarang saya sudah mengandung anak pertama dari pernikahan kami."
"Apa? hamil?"
"Iya."
"Mbak Winda kita sudah sampai di bandara." suara Riyan terdengar ditelinga membuyarkan lamunan Winda.
"Oh sudah sampai ya?"
"Iya mbak, saya akan turun menunggu Abang diruang tunggu. Mbak Winda mau turun juga atau..."
"Aku turun aja deh Yan ikut menunggu Abang."
"Ya sudah kalau begitu mbak mari bareng Riyan."
Winda turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan Riyan memasuki ruang tunggu.
Dari kejauhan terlihat orang-orang yang lalu-lalang didepan mereka. Menunggu dan menyambut kedatangan seseorang, sama seperti dirinya saat ini.
Tidak lama berdiri diruang tunggu Winda melihat sosok suaminya yang datang mendekatinya dengan wajah bahagia, terlihat dari wajahnya yang berbinar tersenyum dengan tangan kanan menyeret kopernya.
Riyan berjalan cepat menuju Sigit meraih koper yang dibawa atasannya.
"Abang...." Winda memanggil suaminya dengan wajah berbinar-binar.
Sigit mendekap tubuh istrinya setelah Winda mencium tangannya, lalu Sigit mengecup pucuk kepala Winda.
Cupp
"Apa kabar sayang? tambah bulat aja pipinya ya?" ucap Sigit menoel pipi Winda.
Winda tersipu mendengar perkataan suaminya menyadari jika tubuhnya memang sudah terlihat membesar jika memakai pakaian seperti biasanya ketika didalam rumah.
"Jelek ya bang Winda sekarang?"
Sigit tersenyum melihat istrinya yang tidak memasang wajah cemberut ketika bertanya tentang dirinya yang sedang mengandung anaknya. Sigit mendekatkan mulutnya ditelinga istrinya.
__ADS_1
"Istri Abang sangat seksi dimata Abang."
"Gombal lagi ya?" pukulan kecil Winda mendarat di dada Sigit.
"Aw sakit sayang." Sigit memegang tangan Winda menghentikan pukulannya.
"Pulang sekarang yuk, nanti dilanjutin lagi."
"Apanya?"
"Bercandanya, emang apa coba."
"Hahaha..."
Sigit menyandarkan kepala Winda didadanya, mereka berjalan menuju mobil yang siap mengantarnya pulang kerumah.
"Riyan, kita berhenti dulu ya di restoran depan sana." perintah Sigit saat memasuki mobilnya.
"Iya bang." jawab Riyan singkat.
"Mau ngapain?" tanya Winda.
"Kita makan dululah disana." jawab Sigit sembari menautkan jemari tangannya pada jari tangan Winda.
"Tidak usah bang, mami tadi sudah nyuruh mbok Lastri dan Ningsih loh untuk menyiapkan makan malam."
"Yang bener?"
"Hm."
"Sampai segitunya mami?"
Winda menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
"Yah, mungkin ini karena pertama kalinya Abang pulang dari Singapura ngurusin perusahaan papi, biasanya juga biasa-biasa saja." ucap Sigit.
"Ya kali juga sebagai rasa syukur mami karena putranya berhasil melanjutkan bisnis papi." Winda menyela kalimat Sigit.
"Ya iyakan? coba kalau Abang tetep jadi jaksa apa iya mau ngurusin perusahaan papi sekarang?" sanggah Winda.
"Bisa aja jawabnya ya hm?"
"Aw, hentikan bang geli tau!"
Winda mencoba menghalau tangan Sigit yang menggelitikinya. Sigit terus menggoda Winda selama dalam perjalanan, suara teriakan, tawa, canda didalam mobil seakan melampiaskan rasa rindu mereka selama sebulan tidak bisa melakukannya karena jarak yang membuatnya menepis rasa itu.
"Apa kabar nih anak papa disini ya?"
Sigit mengusap perut buncit Winda lalu menciumnya.
"Eh dia gerak sayang." Sigit terheran dengan polah bayi dalam perut istrinya.
"Hm, dia semakin kuat tendangannya sekarang." Winda menimpali ucapan suaminya.
"Hebat anak papa ya?" respon Sigit.
"Sehat sampai nanti HPL ya sayang..." lanjutnya, tangannya kembali meraih kepala istrinya dan disandarkannya dipundaknya lalu menautkan kembali jari tangan mereka.
Obrolan-obrolan kecil sebagai sisipan candaan mereka, berbunga-bunga hati kedua sejoli yang baru bertemu setelah satu purnama mereka lewati, hari demi hari mereka lalui tanpa pasangan yang selalu bersama dalam setap keadaan.
Tin.
Mobil sudah memasuki gerbang rumahnya, tidak terasa perjalanan menuju rumah mereka terasa cepat dengan ditemani seseorang yang ia cintai.
Pak Zain menutup pintu gerbang kembali setelah mobil Sigit melewatinya.
Riyan mematikan mesin mobil begitu mobil ia parkir bebas dihalaman yang luas. Lalu berjalan ke belakang mobil membuka bagasi dan menurunkan koper Sigit.
"Ternyata deket ya bandara sampai kerumah?"
"Ye... itu karena ada Winda kali bang."
__ADS_1
"Hahaha... iya deh iya."
Sigit dan Winda berjalan memasuki rumah yang sudah disambut seluruh anggota rumah di meja makan.
Riyan menyeret koper sampai di kamar atas Sigit.
"Assalamualaikum pi, mi." ucap Sigit ketika bertemu dengan kedua orangtuanya, ia mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Waalaikumsalam." jawab papi dan mami serempak.
"Waduh pengantin baru terlihat seperti bulan purnama aja deh malam ini." celetuk Ningsih begitu nongol dimeja makan dengan menuang air mineral didalam gelas untuk mereka.
Mami tersenyum mendengar candaan Ningsih.
Semua mata beralih memandang Sigit dan Winda yang salah tingkah karena ucapan Ningsih.
"Apaan kamu Sih orang baru dateng juga udah jadi bualan, jadi malu kan orangnya..." ucap Revan.
"Bukan begitu mas Revan, lihat deh wajah mereka sampai terlihat sinar kebahagiaannya hingga memancarkan cahaya disini makin terangkan meja makan ini?"
"Ha ha ha..."
Seluruh orang yang berada di meja makan tertawa mendengar kalimat Ningsih.
"Sudah sudah jangan digodain terus, kapan coba makan malamnya, kamu juga sih Ningsih baru juga Abang datang malah di becandain. Ayo makan dulu." mami menengahi suara gaduh dimeja makan mempersilahkan makan malam bersama yang sudah dirindukannya.
Suara dentingan sendok terdengar setelah mami mempersilahkan makan malam. Mereka fokus dengan makanan yang sudah berada diatas piring masing-masing.
Sigit melirik papi yang lebih banyak diam selama makan malam berlangsung. Dari awal mulai makan malam Sigit secara tidak sengaja melihat keanehan diantara dua orang yang menarik perhatiannya. Papi dan Revan secara spontan meraih menu yang sama diatas piring mereka dengan sikap yang tidak seperti biasa yang ia lihat. Begitu meraih menu yang sama mereka saling pandang dan Revan serba salah, terakhir, Sigit melihat kedua orang itu meraih gelas dan meminum air secara bersamaan pula.
"Aneh? sikap papi dan Revan tidak seperti biasanya? walaupun ditutup-tutupi namun sikapnya tetap terlihat jelas kalau mereka seperti dalam masalah?" batin Sigit dengan mengerutkan keningnya.
Winda mengetahui sikap suaminya yang heran melihat keanehan pada papi dan Revan membuatnya teringat dengan pertama kalinya ia merasakan keanehan itu, namun setelah itu Winda tidak melihat Revan makan bersama lagi baru malam ini ia melihatnya kembali makan malam bersama.
"Abang tidak boleh mengetahui masalah papi dengan Revan sekarang, biar besok saja aku memberitahukannya, setidaknya malam ini Abang biar istirahat dulu kasihan dia masih capek setelah perjalanan jauh mengurus urusan perusahaan, apalagi nanti kalau sampai tahu juga ada orang-orang yang datang ke rumah karena mengaku sebagai Aldi bisa-bisa semakin runyam masalah ini. Tidak, tidak aku harus mengambil langkah sebelum rumit masalah ini." pikir Winda.
"Abang, Abang udah selesai makannya?"
"Hm?"
"Udah selesai makannya?"
"Udah."
"Ikut Winda yuk."
Winda berdiri disamping Sigit dan meraih tangannya lalu memandang pada anggota rumah yang masih duduk di kursinya.
"Maaf pi, mi dan Revan saya mengajak Abang duluan." ucap Winda pada mereka.
Ketiga orang itu mengalihkan pandangannya pada sepasang suami istri. Mami memahami sikap menantunya yang hanya ingin menghindari dari hal-hal yang terjadi saat ini jika Sigit mengetahui hubungan antara papi dan Revan yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah." jawab mami dengan mengangguk.
"Hei mau kemana?" tanya Sigit.
"Ikut saja bang." bisik Winda.
Winda menggamit lengan Sigit dan mengajaknya menuju kamar mereka.
"Abang capek kan?"
.
.
.
.
Bersambung 🤗🤗
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞