
"Selamat pagi pak."
"Selamat pagi pak."
"Selamat pagi pak."
Sigit berjalan memasuki loby kantornya, beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyambut dengan sapaan ramah.
"Pagi."
"Selamat pagi bang." sapa Firman mendekati Sigit menjabat tangannya.
"Hm, pagi pak."
Sigit membalas jabat tangan yang diulurkan Firman padanya. Mereka berjalan beriringan menuju lift.
"Selamat pagi pak." seorang karyawan didepan meja resepsionis menyapanya dengan ramah seraya menundukkan kepalanya.
"Pagi." jawab Sigit pada karyawannya ketika melintas didepan meja resepsionis. Ia berhenti sejenak.
"Bapak berangkat sendirian?" tanya karyawan itu melongokkan kepalanya mencari seseorang dibelakangnya.
Sigit memperhatikan karyawan itu lalu mengikuti arah kedua mata karyawannya itu.
"Hm? iya ada apa memangnya?" Sigit melihat belakangnya. "Apa ada sesuatu yang aneh dibelakang saya?"
"Oh bukan begitu pak." jawab karyawan itu gugup. "Ma-maksud saya mbak Winda tidak datang bersama bapak hari ini?"
Sigit mengerutkan dahinya.
"Oh Winda?" Sigit membalas dengan pertanyaan juga sebagai jawaban. "Winda mulai hari ini sudah cuti, kenapa? apa ada sesuatu untuknya?" tanya Sigit penasaran.
"Oh tidak pak, cuma mau menyampaikan pesan saja dari seseorang yang minggu lalu datang kemari mencarinya kesini." karyawan itu menjelaskan maksudnya.
"Seseorang kesini mencarinya?" tanya Sigit penasaran.
"Iya pak."
Sigit mengerutkan keningnya semakin penasaran.
"Siapa?"
"Emmm..." karyawan didepannya membuka catatan dari notebook nya lalu mencari data seseorang yang datang berkunjung. "Beliau seseorang dari perusahaan cabang yang berada di pedalaman, namanya pak Renaldi." jawabnya sambil membaca catatannya setelah menemukannya.
Sigit tercengang mendengar kalimat karyawannya.
"Renaldi? untuk apa dia datang kemari mencari Winda?" batin Sigit penasaran menahan gemuruh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Tatapannya berubah tajam terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Firman ikut terkejut mendengar nama yang pernah didengarnya ketika berkunjung di perusahaan cabang bersama kedua bawahannya saat itu.
"Wow kenapa bisa kebetulan begini? beliau kan orang yang luar biasa itu?"
"Apa katanya?!" Wajah Sigit memerah dengan rahang sedikit mengeras.
"Beliau mengatakan jika ingin bertemu dengan mbak Winda dan akan datang kesini lagi."
Karyawan itu menjelaskan dengan raut wajah sedikit memucat menahan rasa takutnya melihat perubahan diwajah pak bosnya.
"Berani-beraninya dia ingin menemui Winda, apa yang sebenarnya dia inginkan dengan bertemu istriku? atau jangan-jangan... dia sedang membuat rencana?" hati Sigit semakin memanas.
"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu." ucap Sigit tegas.
__ADS_1
Sigit segera melanjutkan langkahnya memasuki lift yang membawanya ke lantai ruangannya bekerja.
Firman dan karyawan itu terbengong melihat sikap Sigit yang tiba-tiba berubah dan meninggalkan mereka dengan wajah sinis, menyimpan amarah.
Sigit mendudukkan dirinya diatas sofa dengan keras, merasa kesal dengan perasaannya yang berubah risau dengan perbuatan Renaldi.
Ia terdiam menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, kedua bola matanya menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Renaldi mencari Winda? itu berarti ada sesuatu yang tidak aku ketahui." Sigit berkata sendiri. "Ada urusan apa dia sama Winda?" gumamnya lirih memikirkan sesuatu yang membuatnya gamang.
"Hhhh..." Sigit menghela nafas, beranjak menuju meja kerjanya lalu membuka berkas yang ada diatas meja itu.
Satu berkas, dua berkas, tiga berkas sudah ia buka dan sudah berhasil ia bubuhkan coretan tanda tangan diatasnya. Namun pikirannya semakin kacau memikirkan perkataan karyawannya dibawah tadi.
"Beliau seseorang dari perusahaan cabang yang berada di pedalaman, namanya pak Renaldi."
"Beliau mengatakan jika ingin bertemu dengan mbak Winda dan akan datang kesini lagi."
"Awas saja jika sampai kamu berani macam-macam dengan Winda ku Renaldi! aku tidak akan memaafkanmu!" kalimat Sigit dengan tatapan tajam dan kedua tangan sudah terkepal.
"Aaaahhgggg... bisa stress lama-lama aku memikirkannya, lebih baik aku cabut saja dulu ke kantor pusat sekarang."
Sigit berdiri dari duduknya. Menutup laptopnya lalu memasukkan hp kedalam saku jasnya dan meraih kunci mobil segera berjalan menyusuri koridor kantor menuju halaman parkir.
Mobil ia lajukan dengan kencang menuju perusahaan pusat, selama dalam perjalanan suasana didalam mobil seakan lebih panas dari biasanya. Berkali-kali ia menghibur hatinya dengan menghidupkan musik untuk menepis pemikirannya tentang Winda.
Namun, karena selalu terngiang nama Renaldi, nama seseorang yang mencari istrinya membuat hatinya tidak tenang dan semakin panik.
❄️❄️❄️
Sementara dirumah sakit.
"Ini, posisi bayinya sudah bagus dan sudah mapan kepalanya." dokter menggeser transduser diperut Winda. "Janinnya sangat sehat." lanjutnya seraya meletakkan alatnya ditempat semula.
Suster segera mengelap gel yang berada diperut Winda setelah pemeriksaan selesai. Ia membantu Winda merapikan pakaiannya kembali.
"Banyaklah bergerak, dengan berjalan kaki misalnya tetapi jangan berlebihan." dokter duduk ditempatnya memberikan saran pada Winda yang duduk didepannya.
"Jaga pola makan, kurangi makan yang manis-manis seperti coklat, ice cream." dokter menuliskan sesuatu dibuku catatan husus pemeriksaan kesehatan ibu hamil. "Karena bayi didalam perut mbak Winda sudah besar."
lanjutnya.
"Bantu jagain mbak Winda ya Bu, agar saat persalinannya nanti bisa normal dan lancar seperti umumnya."
"Iya dokter saya pasti akan selalu menjaga menantu saya." jawab mami meyakinkan dokter.
Winda ditemani mami mendengarkan saran yang diberikan dokter padanya hingga selesai.
Mami dan Winda segera undur diri setelah dokter selesai memberikan saran padanya dan mengakhiri pemeriksaannya.
Dalam hati Winda ada rasa antara takut dan senang, ia cemas setelah melihat anaknya yang masih dalam kandungannya. Sambil berjalan menuju mobil mereka, Winda terus mengelus perutnya dan melamun.
"Kenapa aku merasa sangat takut sekali saat ini? tiba-tiba perasaanku tidak enak begini? ada apa?"
"Win? ada apa?"
mami menggerakkan lengan Winda setelah menyadari perkataannya tidak didengar oleh menantunya.
"Dari tadi mami ngajakin kamu ngobrol loh, tapi kamu diam terus. Ada apa? ada yang kamu pikirkan?" tanya mami penasaran.
Winda melihat wajah mami sedang menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
"Winda tidak tahu mi." Winda merasa ragu untuk mengatakannya. "Entah kenapa tiba-tiba saja perasaan Winda tidak enak."
Mami terdiam sejenak melihat wajah cemas Winda, lalu memperlihatkan senyumannya pada menantunya.
"Tidak usah cemas, tidak usah merasa takut." tangan mami memegang pundak Winda. "Memang seperti itu kalau kehamilan sudah menginjak bulan ke delapan, pasti dia akan merasa resah, risau, tidak tenang. Semua yang dilakukannya sudah tidak nyaman lagi, serba salah. Maka dari itulah Allah memberikan keistimewaan kepada kaum ibu bahwa surga berada di telapak kakinya." mami menatap manik hitam Winda, mencoba menenangkan keresahan menantunya.
"Kamu ngerti kan?"
Winda terdiam membalas tatapan hangat wanita didepannya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya mi, Winda ngerti, Winda akan mendengarkan semua pesan dokter tadi, akan berhati-hati menjaga kesehatan Winda, agar Winda dan anak Winda sehat." ucap Winda setelah dirinya merasa lebih tenang.
Mami tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah sekarang kita langsung pulang yuk."
"Hm, iya mi."
Winda mengikuti apa yang dikatakan mami. Mereka memasuki mobil yang dikemudikan Riyan, langsung pulang kerumah mereka.
❄️❄️❄️
Di tempat berbeda.
Aldi menerima telpon ketika ia sedang mengemudikan mobilnya.
"Iya pak ada apa?"
"Berkasnya sudah kamu antar ke pusat kemarin?"
"Belum pak, ini baru mau saya antar kan kesana."
"Sekarang sudah sampai kantor pusat?"
"Belum, saya masih dalam perjalanan kesana sebentar lagi juga sampai kok."
"Ya sudah kalau begitu hati-hati dijalan, dan jangan lupa presentasikan seperti biasanya ketika memenangkan tender dari perusahaan besar waktu hehehe..."
"Siap pak beres, bapak tenang saja ya saya pasti akan membuat mereka terpikat.
"Percaya deh, kamu kan memang luar biasa."
"Ah bapak bisa aja bercandanya."
"Ya sudah kalau begitu, selamat bekerja semoga berhasil."
"Baik pak terimakasih."
klik.
Aldi meletakkan hp ditempatnya. Kembali fokus dengan kemudinya sambil mengulum senyum di bibirnya.
"Pak pak seandainya kamu tahu siapa aku sebenarnya, pasti kamu jantungan seketika hahaha..."
.
.
.
. Bersambung 🤗🤗
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞