Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 63


__ADS_3

"Win, bangun sayang..."


Winda merasakan sentuhan dipundaknya disertai sebutan namanya, perlahan-lahan Winda mengangkat kepalanya, kedua tangannya mengucek-ucek matanya yang terasa berat. Winda menggeliat meregangkan ototnya lalu membuka matanya perlahan, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Sigit dari ujung kepala sampai ujung kaki yang sudah rapi dengan stelan koko putih dan sarung serta peci. Hidungnya mencium parfum khas Sigit yang dia hafal sejak pertama kali masuk kuliah, aromanya begitu menguar di indra penciumannya, harum.


"A-abang sudah bangun dari tadi?"


"Hm."


"Su-sudah mandi juga?"


"Hm."


"Bukannya abang semalam sakit ya?"


"Hm... sedikit."


"Ha? sedikit?"


Winda terheran dengan jawaban suaminya seraya mengikuti gerakan Sigit yang mengatupkan ibu jari dan jari telunjuknya pada Sigit, dia mengerutkan keningnya membuat Sigit tersenyum kecil melihat reaksinya yang terbengong.


"Tapi kenapa abang..."


"Sakit itu jangan terlalu dimanja, bisa betah dia kalau dimanjakan. Bagi Abang sih istirahat yang cukup dan perhatian dari seorang istri seperti semalam sudah cukup sebagai obat." jawab Sigit menyahut pertanyaan Winda dengan suara khas orang flu, bindeng, kemudian kembali berjalan mendekati lemari mengambil sajadah.


Kedua ekor mata Winda melirik Sigit yang sudah berjalan menjauhinya.


"Buruan sana mandi, sudah jam lima. Abang tunggu shalat subuh berjamaah." Sigit menoleh Winda seraya menghamparkan sajadahnya disamping ranjang.


"Heran deh, perasaan semalam menggigil badannya beneran panas, tapi kenapa sekarang sudah rapi, harum lagi, apa semudah itu obatnya sakit?" pikir Winda terheran dengan Sigit. "Ahhh... bodo amat, yang penting sekarang dia sudah lebih baik dari pada semalam."


Winda bangkit dari duduknya berlalu meninggalkan suaminya, gegas menuju kamar mandi.


Setelah beberapa saat berada di kamar mandi, Winda keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk ditangannya, dia melihat Sigit sudah duduk diatas hamparan sajadah sedang menunggunya sambil membaca Alquran, walaupun masih sedikit terbata-bata membacanya namun terdengar merdu suaranya dan enak didengar. Winda segera meraih mukenanya dan memposisikan dirinya dibelakang Sigit, Sigit menghentikan bacaannya setelah melihat orang yang ditunggunya sudah siap untuk shalat berjamaah bersamanya.


"Sudah?"


"Sudah."


Sigit meletakkan kitab suci ditempat semula lalu memulai shalat bersama Winda. Sepanjang melaksanakan shalat subuh mereka melakukannya dengan tumakninah.


Winda mencium tangan suaminya lalu menyelesaikan doanya setelah berdzikir, dia merapikan mukenanya dan beranjak dari duduknya meletakkan mukena dan sajadah di lemari gantung, lalu beralih ke lemari bajunya memilih beberapa baju untuk dipakai di acara wisuda, Winda lupa mempersiapkan baju wisuda sebelumnya sehingga membuatnya berkali-kali memilih baju yang tergantung didepannya, namun dia tidak juga menemukan baju yang sesuai untuk acara Wisuda dengan wajah sedikit ditekuk merasa kesal.


"Ck, hhhh..." Winda berdecak dan menghembuskan nafas diudara.


"Kenapa bisa kelupaan baju wisudanya...." lirih Winda.


Sigit tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang terlihat kesal dengan menggaruk-garuk kepala. Dia teringat apa yang sudah direncakan oleh kedua wanita yang melahirkan mereka, Sigit berjalan menuju lemari disamping Winda dan mengambil gamis yang menurutnya sangat cocok untuk Winda.


"Pakai ini aja."


Winda kaget mendengar suara suaminya secara tiba-tiba disampingnya, dia pun menoleh kesamping melihat pemilik suara itu berasal, lalu pandangannya beralih ke benda yang berada di tangan Sigit yang berhasil membuatnya semakin terkejut, gamis yang berwarna senada dengan kombinasi brokat putih gading.

__ADS_1


"Dari mana Abang tau warna kesukaanku?"


Winda masih diam tertegun memandang suaminya dan baju ditangan suaminya secara bergantian.


Seakan mengetahui pikiran Winda perihal baju yang dibawanya, Sigit pun menjawab tatapan mata Winda.


"Kenapa? tidak suka? ibu dan mami yang memilihnya kemarin."


jawab Sigit sambil meletakkan baju Winda diatas ranjang.


"Ha? ibu sama mami? kok Winda tidak tau?"


"Hm, kemarin mereka dari butik tante Mirna."


Tok tok tok...


Winda mengalihkan pandangannya ke pintu setelah memperhatikan bajunya diatas ranjang, Sigit kembali mengambil stelan jas dari lemari sembari mempersilahkan orang dibalik pintu masuk didalam kamarnya.


"Masuk."


Tidak lama setelah Sigit mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintu, masuklah seorang wanita dengan membawa kotak kecil berjalan mendekati Winda.


"Mbak Winda sudah siap?" tanya wanita yang memakai baju hijau padanya.


"Hah? Siap? ngapain ya mbak?"


Winda tidak tahu maksud dari pertanyaan wanita didepannya dan apa sangkutannya dengan benda yang dibawa wanita itu.


"Bang? ada apa bang?" tanya Winda mengalihkan pandangannya pada suaminya.


"Maaf mbak, perkenalkan nama saya Santi, maksud kedatangan saya kemari karena disuruh bu Lia dan bu Arini membantu mbak Winda berdandan untuk acara wisuda mbak nanti." jawab wanita itu.


Santi adalah salah satu karyawan tante Mirna yang handal dalam hal memake up seseorang dalam semua acara, selain mempunyai butik, tante Mirna juga mengelola bisnis dibidang wedding organizer. Maka dari itu mami meminta izin tante Mirna agar Santi bersedia membantunya merias menantunya.


Winda membalas uluran tangan Santi dengan rasa bingung, karena baru mengetahui rencana ibu dan maminya yang kesekian kalinya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sigit yang mengedikkan pundaknya sebagai jawaban kalau dirinya juga baru mengetahuinya.


"Ikuti saja keinginan mereka." saran Sigit, lalu berpaling pandangannya pada Santi.


"Jangan terlalu menor ya mbak makeupnya, yang natural aja." pesan Sigit pada Santi.


"Ya bang." jawab Santi.


Sigit berlalu meninggalkan mereka berdua didalam kamarnya dengan membawa stelan baju kekamar sebelah untuk mengganti bajunya.


❄️❄️❄️


Tiga puluh menit sudah berlalu Sigit menunggu di ruang kosong yang terletak di sebelah kamar tidurnya, Sigit masuk didalam kamarnya kembali untuk memakai sepatu dan jam tangannya yang masih ditempatnya, dia berjalan melewati Winda yang sudah tidak bersama Santi, sendirian didalam kamarnya.


Sigit menghentikan langkahnya didepan Winda, dia menatap wajah Winda yang terlihat natural makeupnya sesuai dengan yang dia inginkan, membuat Winda terlihat sangat cantik.


"Cantik, seperti mau resepsi aja. Walaupun aku belum pernah melihatmu memakai baju pengantin, namun kamu bener-bener cantik memakai baju itu sayang..."

__ADS_1


Sigit berbicara dalam hatinya, mengagumi kecantikan istrinya yang sudah rapi mengenakan gamis yang disodorkannya tadi dengan kepala tertutup hijab segi empat yang kedua ujungnya dililitkan dilehernya, sehingga penampilan Winda saat ini terlihat lebih berani dengan menonjolkan lekuk tubuh dibagian tertentu, sehingga mengingatkan Sigit atas ucapannya ketika taruhan dengan geng boynya waktu itu.


"Eh, siapa diantara kalian yang bisa mengajak Winda ke mall terus beliin dia celana jeans, sudah deh satu saja jeansnya. terus dipakai sama dia, gue kasih deh lu duit 5 juta"


"Kalau gue nih ya, taruhannya siapa diantara kalian yang berhasil ngajak dia shopping, walking, deating, camping, swimming apalah yang penting dia mau memakai jeans. gue kasih duit 15 juta, kontan."


"Gila lu Git. duit segitu banyaknya cuma buat taruhan Winda doank?? demi apa bro? "


"Bercanda lu ah...."


"Udah deh, tidak usah macam-macam lu lu pada ya. tidak bagus. kualat baru tau rasa lu nanti"


"Serius man, gue tidak bercanda. Nih ya asal kalian tau, si Winda dibandingkan dengan Silvi, dan Tania, dia tuh semlehoy seperti gitar spanyol jika pakai pakaian seperti itu, karena temen cewek kita dikelas yang pakai baju longgar cuma dia."


Winda merasa Sigit sedang memperhatikan dirinya, dia pun mengalihkan pandangannya dari baju toga yang berada ditangannya kepada suaminya. Dan memang benar apa yang ada dalam benaknya, Sigit telah memperhatikan dirinya yang terlihat menonjol dadanya dengan pakaian yang dikenakannya.


"Apa lihat-lihat bang? Winda masih marah ya sama Abang, jadi jangan berpikir yang macem-macem." Perkataan Winda menyadarkan Sigit dari lamunannya.


Sigit merasa gugup telah tertangkap basah memperhatikan Winda yang sedang menutup dadanya dengan kedua tangannya.


"Hm? e... sini biar Abang yang bantuin membetulkan jilbanya."


Sigit mengambil alih toga dari tangan Winda menutupi rasa gugupnya sambil membuka peniti satu persatu pada lilitan ujung jilbab Winda di lehernya, Sigit mengerti jika istrinya tidak nyaman dengan jilbab seperti itu karena tidak terbiasa.


Winda terdiam membiarkan Sigit membantunya membenarkan style hijabnya seperti biasa, sehingga menutupi bagian dadanya, merasa sudah selesai Winda memutar langkahnya beranjak dari tempatnya, namun ketika akan melangkah, kakinya menginjak ujung gamisnya yang mengakibatkan Winda hilang keseimbangan, Sigit yang melihatnya segera bergerak cepat dengan kedua tangan menopang pinggang Winda dan Windapun refleks memegang leher Sigit. Lagi-lagi Sigit terpesona ketika kedua mata mereka beradu.


"Mbak Winda... mbak..."


❄️❄️❄️


Dimeja makan semua orang sudah siap menunggu Sigit dan Winda yang belum juga turun dari kamarnya, membuat mami hawatir jika mereka datang terlambat ke acara wisuda, mami menyuruh Revan untuk memanggil Abangnya agar segera bergabung dimeja makan. Mami merasa Revan yang disuruh memanggil abangnya tidak kunjung turun sehingga mami menyuruh Ningsih untuk menyusul Revan. Sementara Revan sudah berada didepan pintu kamar Sigit ketika Ningsih menaiki tangga.


Dua kali Revan mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari abangnya, ahirnya dia menerobos memasuki kamar Sigit dengan celingak-celinguk mencari sosok yang dia cari, namun begitu sampai didepan sofa dia melihat sosok Sigit dari belakang terlihat sedang mencium Winda dan memeluk pinggangnya dengan Winda memegang leher Sigit.


Belum hilang rasa terkejutnya Revan, tiba-tiba terdengar suara Ningsih dari belakangnya menerobos memanggil nama Winda dengan keras, membuatnya semakin kaget.


"Mbak Winda... mbak..."


Melihat pintu kamar Sigit terbuka Ningsih menerobos masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, mengira Winda sendirian setelah Santi pulang tadi.


Revan dan Ningsih sama-sama terperanjat ketika mereka saling berhadapan, pun begitu dengan Winda dan Sigit sama-sama terkejut melihat Ningsih dan Revan berada didalam kamarnya.


"Lho lho lho... ada mas Revan to disini... dari tadi lho mas Revan ditungguin ibu! mas Sigit dan mbak Windanya mana?" seloroh Winda tanpa bersalah, sedangkan Revan memukul jidatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...🤗🤗


saranghe....💞💞


__ADS_2