
"Kita dimana ini Git?"
Winda bertanya kepada Sigit setelah memasuki gerbang besi yang terdapat sebuah rumah yang sangat besar dibanding rumah kontrakannya.
"Ini rumah papi dan mami, mereka menyuruhku pulang dulu, ada yang perlu kami bahas mengenai pekerjaan."
Jawab Sigit pada Winda sambil mematikan mesin mobilnya, lalu mengajak Winda turun dan segera masuk kedalam rumah.
Winda mengikuti langkah Sigit dari belakang sambil menengokkan kepalanya kekanan dan kekiri memperhatikan rumah orang tua Sigit yang menurutnya begitu mengagumkan.
"Hatiku... kenapa hatiku tiba-tiba senyaman ini, begitu aku menginjakkan kaki diteras ini hatiku tenang, padahal aku tadi begitu gugup ketika Sigit mengatakan ini rumah mami papinya, aku belum pernah mengenalnya, aku hanya bertemu sekali dirumah sakit. Ada apa denganmu wahai hatiku..."
"Win, ayo..." ucap Sigit ketika melihat Winda yang terhenti diteras rumahnya.
"Kamu takut?"
Winda menggelengkan kepalanya membuat Sigit terheran.
"Atau... ada yang mengingatkanmu dengan rumah ini Win?" batin Sigit ketika memperhatikan raut wajah istrinya yang tiba-tiba terdiam, seperti ada yang dipikirkannya.
"Terus? kenapa kamu berhenti?" tanya Sigit.
"E... tidak apa-apa." Winda baru menyadari perkataan Sigit kalau dirinya memang berhenti, dia memperhatikan sekitarnya lalu melanjutkan langkahnya dengan tersenyum.
"Yuk." ucap Winda.
Sigit tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran istrinya yang tiba-tiba berhenti dan tiba-tiba pula mengajak masuk dirinya dengan tersenyum melangkahkan kakinya hingga sampai didepannya.
"Ayo... katanya ngajakin masuk? kenapa jadi bengong gitu?"
Sigit tergagap dengan ucapan Winda, kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk setelah beberapa saat melihat wajah istrinya.
"Hm..ayok."
Mereka berjalan berbarengan dengan Winda disampingnya.
"Assalamualaikum." ucap Sigit begitu sampai didepan pintu yang sudah disambut mbok Lastri.
"Waalaikum salam... silahkan masuk bang, mbak..." jawab mbok lastri mempersilahkan masuk mereka berdua.
Mbok Lastri dan penghuni rumah papi Winata yang lain sudah tahu jika Winda telah kehilangan sebagian ingatannya, dan terlebih lagi tentang hubungan pernikahan mereka berdua.
Mbok Lastri menyambut Winda sama seperti mereka pertama kali bertemu, tetap menjaga jarak, layaknya orang yang baru kenal agar tidak membuat Winda semakin curiga.
"Terimakasih mbok." ucap Sigit pada mbok Lastri, lalu menoleh kearah Winda memperkenalkan mbok Lastri padanya.
"Ini mbok Lastri, mbok Lastri ini yang membantu mami mengurusku sejak kecil, selain itu dia juga yang mengurus semua urusan rumah ini dengan dibantu Ningsih." penjelasan Sigit tentang asisten rumah tangganya pada Winda.
Winda menganggukkan kepalanya pada orang yang berada didepannya.
"Saya temannya Sigit mbok, Winda."
"Iya mbak Winda, silahkan abang dan mbak Winda masuk, sudah ditunggu bapak dan ibu di taman belakang." kata mbok Lastri memberitahukan mereka, jika kedatangannya sudah ditunggu orang tua Sigit.
Sigit berjalan mengarahkan Winda menuju taman belakang, begitu sampai ditaman belakang, mereka melihat sudah ada kepulan asap dari acara kumpul keluarga.
Winda mengikuti Sigit yang berjalan mendekati orang tuanya.
"Assalamualaikum pi... mi..." Sigit mencium punggung tangan orang tuanya yang diikuti oleh Winda.
"Waalaikum salam bang, dan..."
__ADS_1
Belum selesai mami menyambut kedatangan Sigit dan Winda, perkataannya terhenti ketika giliran menyebut nama Winda, sengaja mami lakukan agar terlihat pertama kalinya mereka bertemu.
"Winda om, tante." sahut Winda menyebutkan namanya.
Mami Lia tersenyum mendekati Winda.
"Panggil saja seperti abang memanggil kami Win, panggil mami dan papi."
Winda tersenyum canggung, dia merasa belum mengenal mereka tetapi mereka sudah bersikap baik kepadanya, Winda menatap wajah mami Lia, dia melihat ada pesona kelembutan disana.
"Baik akan Winda coba tan-te... e... ma-mi..." ucap Winda agak gugup ketika menyebut nama panggilan mami Lia.
Sigit sudah bergabung dengan papi Revan, Riyan dan pak Zain sedang berada dibagian membakar ikan dan daging. Sedangkan Winda bergabung dengan mami Lia, Ningsih dan mbok Lastri dibagian penyajian makanan yang lain.
Setelah acara bakar-bakar selesai, sampailah pada acara makan-makan dengan diselingi pembicaraan yang hangat, Winda sesekali melirik tingkah Sigit yang memberikan beberapa tusuk sate kambing dipiringnya.
"Git, aku tidak suka sate kambing. Jangan ditambah terus."
Ahirnya Windapun mengungkapkan protesnya pada Sigit didepan semua orang dengan tangan mengembalikan sate kepiring Sigit lagi yang sudah ketiga kalinya, membuat berpasang mata yang ada disekitar mereka mengalihkan penglihatannya kearah mereka berdua saling menaruh sate dipiring mereka.
"Git aku gak mau."
"Kamu harus mau, biar sehat tidak terkena anemia."
Sigit mengarahkan sate kemulut Winda.
"Ayo buka mulutmu Win, a..."
"Tapi aku baik-baik saja Git."
"Buka Win..."
"Aku... hap. Nyam nyam nyam..."
Tak kalah dengan aksi Sigit terhadapnya, Windapun membalas perbuatan Sigit, tanganya menyuapkan nasi penuh dimulut Sigit ketika Sigit menertawakan dirinya.
"Nih kamu juga makan yang kenyang biar tidak sakit. Ha ha ha..."
Winda terlihat senang membalas perbuatan Sigit.
Sigit kembali mengulang perbuatanya menyuapi Winda secara paksa, begitu pula dengan Winda selalu membalasnya karena merasa kesal awalnya hingga tanpa mereka sadari terjadilah adegan saling suap menyuap dari piring mereka secara bergantian.
Sungguh pemandangan yang romantis dimalam yang syahdu dibawah sinar bulan purnama yang telah disaksikan keluarga papi Winata, setelah sekian lama papi, mami dan yang lainnya tidak menyaksikan kebersamaan mereka semenjak Winda terbaring diruang ICU, kini mereka tampak begitu bahagia penuh ceria diwajah mereka saat saling membalas menyuap dengan sesekali tangan Sigit menyentil hidung Winda dan menyeka mulutnya yang belepotan, sesekali tawa mereka terdengar membuat orang yang menyaksikannya semakin baper, terharu dan prihatin dengan keadaan Winda yang secara batinnya dia merasakan adanya ikatan dengan suaminya, akan tetapi secara psikisnya dia harus berjaga jarak dengan merasakan keanehan-keanehan terhadap tingkah suaminya yang seharusnya mereka saling memberi dan menerima.
Ningsih dan Revan cekikikan tidak tahan menahan tawa melihat tingkah Sigit dan Winda seperti anak kecil.
Begitu pula dengan yang lain menahan tawanya dengan memencepkan bibirnya sambil saling melirik melihat tingkah Sigit dan Winda.
Setelah beberapa saat adegan romantis mereka berlangsung seru, Winda baru menyadari orang-orang disekitarnya yang terdiam memperhatikan tingkahnya dengan Sigit, dia pun terdiam menghentikan aksinya melihat satu persatu orang disekitarnya yang diikuti dengan Sigit, Sigit kembali melihat wajah Winda dengan kikuk.
"Aku cuma tidak mau kamu anemia terus sakit, itu saja. Udah cepetan dihabisin makannya tidak usah perhatiin mereka."
Winda menyisihkan beberapa tusuk sate diatas piringnya dan melanjutkan makannya.
"Ehem... papi sudah kenyang mi, papi kedepan dulu ya."
"Iya, mami juga sudah kenyang pi."
"Ya sudah kalian lanjutkan saja kami masuk dulu."
Papi Winata dan mami Lia beranjak dari kursinya setelah berpamitan pada Sigit dan Winda, selain itu mami sebenarnya ingin memberikan ruang kepada putranya dan Winda untuk saling berbagi.
__ADS_1
Mbok Lastri, Ningsih, Revan dan yang lain mengikuti papi dan mami segera memasuki rumah.
"Saya juga mau beberes dulu didepan Sih." ucap mbok Lasri.
"Gue juga ada tugas yang sudah menunggu dimeja belajar." timpal Revan beranjak dari duduknya yang diikuti Riyan dan pak Zain.
"Hm... Ningsih kok tiba-tiba sakit perut ya mas Sigit, mbak Winda... kalau begitu Ningsih kebelakang dulu ya..." Ningsih pun segera meninggalkan mereka berdua ditaman.
Winda melihat punggung Ningsih sampai tidak terlihat, dia mengangkat kedua bahunya lalu melihat wajah Sigit.
"Bisa kompak ya mereka." ucap Winda pada Sigit.
Sementara Sigit sudah bisa menebak kepergian mereka secara berbarengan, dia tersenyum dengan kekompakan semua penghuni yang mendukung aksinya.
"Git."
"Hm?"
"Kenapa tersenyum?"
"Lihat bulan diatas sana, dia terlihat sangat cantik, menambah malam ini lebih indah."
Sigit menunjuk bulan purnama lalu menatapnya, Winda melihat wajah Sigit yang terlihat sangat berbeda ketika masih kuliah dengan sekarang yang terlihat lebih menghargai dirinya, hati kecilnya merasa nyaman dengan sifat Sigit yang sekarang, yang begitu dewasa dibandingkan masih dulu.
"Git."
"Hm?"
"Boleh aku bertanya?"
"Boleh, tanyakan saja?"
"Aku heran dengan kita, setahuku, dulu kamu begitu tidak suka padaku dengan seribu caramu kamu akan selalu mengejekku sehingga membuat hatiku menyimpan rasa sakit atas perbuatanmu, tetapi... kenapa hati kecilku kini... "
"Apa sebenarya yang dikatakan oleh hati kecilmu?"
"Hati kecilku berkata bahwa aku sangat dekat dengan orang tuamu, termasuk orang-orang yang ada disini, dan... dirimu." Winda menatap manik Sigit dibawah sinar rembulan.
"Dirimu adalah orang yang paling dekat denganku dibandingkan dengan mereka. Entah mengapa hatiku merasa nyaman bila didekat dirimu yang sekarang dibandingkan kamu yang dulu. Aku merasa ada ikatan diantara kita."
Sigit tersentuh mendengar perkataan Winda yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, matanya mulai berkaca-kaca melihat wajah istrinya yang begitu datar, polos tidak mengerti apa-apa dengan peristiwa yang menimpa dirinya sehingga merenggut memori pernikahan mereka.
Sigit menggenggam erat tangan Winda dengan mata saling beradu pandang.
"Apakah kamu akan percaya dengan apa yang aku katakan kepadamu nantinya?"
Ucap Sigit memastikan keraguan dalam hatinya tentang kesiapan mental istrinya jika dia sudah mengetahui perihal statusnya adalah seorang istri dari Sigit Andra Winata.
Winda menatap manik Sigit yang terlihat kejujuran disana, dia mengerutkan keningnya dengan kedua alisnya bertautan menunggu jawaban Sigit, pikirannya mulai bertolak belakang dengan hati kecilnya ketika tangan Sigit menggenggam tangannya semakin erat.
.
.
.
.
Bersambung...
ayo dukung terus babang dan Winda ya...
__ADS_1
Terimakasih...😍😍
Saranghe 💞💞