Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 54


__ADS_3

"Kita makan disini saja ya, abang laper." kata Sigit saat memasuki restoran dengan tangan kiri menggandeng tangan kanan Winda.


Winda kembali merasakan genggaman tangan Sigit yang membuatnya nyaman berada di sampingnya, dia pun membalas genggaman tangan Sigit dengan erat.


"Hm, terserah abang, aku ngikut aja." jawab Winda mengikuti langkah Sigit disampingnya.


Mereka berjalan menuju tempat yang terbuka, dekat dengan kolam air mancur.


Sigit menarik kursi mempersilahkan Winda duduk, dia berjalan menuju kursi didepan Winda lalu menarik kursinya duduk berhadapan.


Tidak lama setelah mereka duduk, seorang waiters mendatangi meja mereka dengan membawa buku menu ditangannya.


Sigit menerima buku menu yang disodorkan oleh waiters padanya, lalu memesan menu favorit nya. Setelah selesai memesan, Sigit memberikan buku menu pada waiters itu kembali, dia memandang istrinya yang sedang melihat arah kolam yang terdapat air mancur.


Winda memperhatikan air mancur yang berada didekat mejanya, dia merasa tidak asing dengan pemandangan didepannya, dia terdiam seakan pernah mengalami hal yang sama seperti saat ini.


Sigit mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya, dia yakin bahwa istrinya sedang merasakan suasana yang sama, suasana yang pernah mereka lakukan ketika pertama kali mereka makan ditempat ini setelah pulang dari rumah pak Lurah saat pernikahan mereka.


Sigit tidak sengaja menghentikan mobilnya ditempat yang sama lagi, dia pun baru menyadari setelah memperhatikan Winda yang lama terdiam melihat kolam yang terdapat air mancur.


"Kenapa?" tanya Sigit melihat wajah Winda yang sedang melamun.


Winda merasakan sentuhan seseorang ditangan kanannya, dia mengalihkan pandangannya dari kolam air mancur ke sumber sentuhan ditangannya.


"Hm?"


"Ada apa melamun dari tadi?"


"Iya... aku rasa... aku pernah melihat kolam itu, dan... tempat ini sepertinya aku mengenal nya." jawab Winda sambil memandang sekelilingnya.


"Apa kita pernah kesini sebelumnya bang?" lanjut tanya Winda beralih menatap wajah suaminya.


Sigit memperhatikan sekelilingnya sejenak lalu membalas tatapan mata istrinya, kemudian menganggukkan kepalanya dengan tangannya ditumpuk diatas meja, tangan kanan diatas tangan kirinya.


"Iya, memang kita pernah kesini, saat pulang dari rumah pak Lurah tepat dihari pernikahan kita, waktu itu abang merasa laper setelah seharian tidak makan terus abang mampir kesini. Dan tidak sengaja sekarang abang mampir lagi disini." jelas Sigit pada Winda yang mendengarkan penjelasannya membiarkan waiters meletakkan beberapa piring dan mangkok satu persatu diatas meja mereka.


"Silahkan dinikmati mas, mbak." kata waiters mempersilakan mereka berdua setelah meletakkan makanan yang dipesan oleh Sigit.


"Terimakasih mbak." jawab Winda yang diangguki waiters itu, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Seperti biasa, Winda mencuci tangannya lalu melipat lengan bajunya, dia menyodorkan piring yang berisi kepiting asam manis didekat piring nasi milik Sigit.


"Abang sukanya kepiting asam manis mulu dari dulu, gak bosen apa bang."


tanya Winda pada suaminya mengingat menu kesukaan Sigit sejak mereka masih awal kuliah sampai sekarang, tangannya mengambil seekor kepiting.


Sigit tersenyum mendengar pertanyaan Winda, dia kemudian mengangkat kursinya mendekat disamping kursi Winda, lalu membantu Winda yang kesulitan mengupas cangkang kepiting untuk dirinya.

__ADS_1


"Sini abang bantuin." kata Sigit begitu berada disamping Winda.


"Cara membuka cangkang kepiting itu seperti ini." ujar Sigit mengambil alih kepiting satunya dari piringnya.


Tangan kanannya mengangkat bagian bawah kepiting dan tangan kiri menarik bagian atasnya, sehingga dengan mudah kepiting asam manis pedas ditangannya sudah terpisah jadi dua.


"Kenapa cara bukanya kebalik bang?"


tanya Winda heran.


"Biar bumbu yang meresap di cangkang atas tidak tumpah, jadi kuahnya bisa langsung diseruput begini." jawab Sigit menjelaskan alasannya sambil menyeruput kuah bumbu dari cangkang bagian atas.


Sigit kemudian mengambil daging kepiting itu lalu menyuapkan di mulut Winda.


Winda melihat daging kepiting ditangan suaminya yang sudah berada didepan mulutnya, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke wajah suaminya terkejut.


"Ayo makan." ucap Sigit.


"Hm? aku tidak suka bang."


"Coba dulu." paksa Sigit pada Winda.


Winda tidak mau mengecewakan suaminya, dia pun menuruti perintah Sigit mencoba kepiting asam manis pedas dari suapan Sigit.


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Gimana rasanya? enak?" ucap Sigit sambil tersenyum melihat raut wajah Winda yang terlihat menikmati makanan dalam mulutnya.


Mata Winda tertuju pada wajah laki-laki didepannya dengan melempar senyum manisnya.


"Hm, enak." jawab Winda, matanya berbinar setelah merasakan makanan favorit suaminya yang sempat membuatnya penasaran.


Mereka menikmati makanan sambil sesekali Sigit menyuapi makanan dari tangannya ke mulut Winda sehingga membuat Winda merasa nyaman berada didekat Sigit.


Winda tersenyum setelah tangan Sigit mengusap sisa makanan yang menempel didekat bibirnya dengan tissue, kedua bola matanya menatap wajah Sigit yang tersenyum membalasnya.


"Hai bro, ketemu lagi disini."


Winda dan Sigit terkejut mendengar suara yang sangat mereka kenal selama empat tahun. Mereka menoleh memastikan pemilik suara yang menyapa mereka, yang ternyata adalah Willy dan Silvi yang berjalan melewati mejanya akan keluar dari restoran.


"Lu Will? kirain siapa." jawab Sigit setelah mendapati sahabatnya yang sudah menarik kursi didepannya dengan Silvi disampingnya.


Sigit mengepal tissue yang sudah digunakan untuk mengelap bibir Winda lalu ia letakkan di atas mejanya.


"Hai pengantin baru... makin romantis aja... apa kabar?" tanya Silvi begitu duduk disamping Winda setelah menjabat tangannya dan memeluknya.


Winda terhenyak mendengar sapaan sahabatnya, dia merasa heran dengan Silvi yang mengatakan pengantin baru padanya dan Sigit, seolah sudah mengetahui statusnya dengan Sigit, padahal dia merasa belum memberitahukan statusnya kepada kedua sahabatnya.

__ADS_1


Kedua bola matanya menatap wajah Silvi yang terlihat ceria bersama Willy.


"Hei Winda... kenapa?" ucap Silvi dengan menggerakkan tangan Winda menyadarkan lamunannya.


"Oh baik, Alhamdulillah kami baik-baik saja." jawab Winda kikuk.


"Syukurlah, maaf kemarin belum sempat mampir ke rumah om Winata menjenguk mu setelah kamu pulang dari rumah sakit."


"Hm, tidak apa-apa. Tapi... bagaimana kalian bisa tau status kami sekarang Sil? karena... aku rasa, aku belum memberitahukan status kami pada kalian." tanya Winda terlihat bingung melihat sahabatnya dan Sigit secara bergantian.


Silvi tersenyum mendengar pertanyaan Winda, dia memegang tangan Winda, lalu menceritakan semua kejadian yang terjadi dihari pertunangnnya dengan Willy hingga tragedi kecelakaan yang menimpa Winda.


Setelah mendengar penjelasan dari Silvi wajah Winda berubah dengan tersungging senyum dibibirnya.


"Jadi kalian sudah tunangan? selamat ya..." tanya Winda.


"Hm, terimakasih Win. Dan ucapan selamat juga buat kalian berdua, semoga segera terlengkapi keluarga kecil kalian dengan hadirnya malaikat-malaikat kecil." balas Silvi pada Winda dengan diahiri saling memeluk satu sama lain.


"Tidak terasa dua hari lagi kita wisuda Win, dan... satu minggu lagi kami akan menikah." lanjut Silvi sambil menyodorkan undangan dari dalam tasnya pada Winda.


Winda terbelalak mendengar ucapan Silvi barusan, terkejut. Sementara Sigit menepuk pundak Willy lalu menjabat tangannya.


"Hm? kamu serius Sil?" tanya Winda, tangannya menerima dan membuka undangan dari Silvi yang menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.


"Wah kejutan... selamat bro... gue suka gaya lu, sikat, langsung dapet." ucap Sigit pada Willy.


"Ha ha ha ha..."


"Tapi gue lebih suka gaya lu bro, dulu benci sekarang jadi istri. Ha ha ha..." kini ucapan Sigit dibalas oleh Willy dengan tawa yang lebih condong mengejek Sigit.


Silvi dan Winda tertegun mendengar gelak tawa dari kedua laki-laki yang berada didepan mereka.


.


.


.


. Bersambung...🤗🤗


Maaf akak2ku sayang... beberapa hari kemarin belum sempat up.🙏


Semoga part ini dapat melampiaskan rindunya akak2 pada Abang Sigit ya...


Jangan lupa like dan komentnya....🥰


Saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2