Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 120


__ADS_3

"Kamu yakin sudah menemukan orang itu?"


"Yakin bos, empat hari yang lalu dia bersama suaminya di pantai Clara."


"Bagus, tinggal kalian cari waktu yang tepat untuk menculiknya."


"Siap bos."


"Pastikan jangan sampai kalian salah orang."


"Baik bos, kami akan melakukannya dengan sangat baik."


"Dimana tempat tinggalnya gadis itu?"


"Dia tinggal di daerah kawasan perumahan elit bos. Dia menantu dari seorang pengusaha ternama yaitu Winata Pratama."


"Wow... amazing. Benar-benar sangat menggiurkan jika itu berhasil. Hahaha..."


Di suatu tempat dengan pencahayaan remang-remang di sebuah gedung yang sepi. Segerombolan orang yang berbaju hitam berkumpul sedang membicarakan target selanjutnya.


Mereka membuat rencana yang matang agar semuanya berjalan dengan lancar sesuai keinginan ketua geng mereka.


"Arman! siapkan keperluan besok apa saja yang diperlukan."


"Baik bos."


"Aldi."


"Iya bos."


"Kamu harus siap-siap didalam mobil begitu target sudah keluar dari pintu gerbang. Sepertinya pintu gerbang itu tidak pernah lengah dari pengawasan satpam mereka."


"Iya bos."


"Dan kalian semua." sang bos menunjuk bawahan yang lainnya. "Siapkan tempat penyekapan untuk gadis itu selama disana."


"Baik bos, siap laksanakan."


"Baiklah sekarang kalian semua siapkan keperluan besok."


"Baik bos."


jawab orang-orang yang berpakaian hitam dan segera keluar dari ruangan itu.


Setelah semua orang keluar dari ruangan itu tinggallah si bos seorang diri tersenyum puas sambil menikmati barang ditangannya lalu menyembulkan asapnya di udara bebas sekitarnya.


❄️❄️❄️


Aldi meratapi nasibnya yang merasa selalu dalam kondisi terpojok dalam setiap keadaan. Semua orang yang baik selalu pergi menjauh dari kehidupannya.


Ayahnya yang baik, selalu mendidik dan mengingatkan dirinya tentang tanggung jawab, kedisiplinan dan bagaimana caranya menjadi seorang laki-laki yang bijaksana kelak dalam membina rumah tangga, sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.


"Aldi anakku, suatu saat kamu akan menjadi seorang laki-laki dewasa. Dimana suatu hari nanti kamu akan menanggung semua beban tanggung jawab keluargamu kelak. Maka dari itu ayah hanya bisa memberikan pendidikan yaitu dengan menyekolahkanmu hingga kamu lulus kuliah setidaknya, sebagai modal penopang masa depanmu nanti nak, ayah tidak bisa memberikan kekayaan yang melimpah sebagai warisan."


Ibu, seorang wanita yang sabar dan lebih suka mengalah dari pada banyak perdebatan juga telah pergi meninggalkannya setelah melahirkan anak dari seorang laki-laki yang sangat ia benci.


"Aldi, jadilah laki-laki yang tegas dan bisa mengayomi keluargamu. Bantulah orang yang sedang kesulitan dan membutuhkan uluran tanganmu janganlah menindas orang yang lemah nak. Karena sejatinya mereka adalah bagian dari hidup kita."


Azam sahabatnya yang paling mengerti keadaannya saat itu, juga lebih dulu meninggalkannya karena penyakit yang diderita nya, tidak ada seorang pun yang tau jika sahabatnya mengidap penyakit yang serius.


"Sobat, jika kamu mendapati seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah. Barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat. Jika kamu menjumpai batu kecil ataupun duri dijalan yang mengganggu jalan sesamamu, maka singkirkan. Barangkali itu bisa jadi penyebab dipermudahnya jalanmu menuju ke surga. Dan jika kamu jumpai anak ayam yang terpisah dari induknya, ambil ia dan susulkan ia dengan induknya. Semoga ia menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dengan keluargamu di surga kelak."


Bapak dan ibu Azam, kedua orang tua sahabatnya juga telah pergi meninggalkannya beserta bidadari kecil yang sangat ia sayangi, mereka pergi menjauh dari kehidupannya dan entah dimana keberadaannya sekarang yang tidak ia ketahui sama sekali.


"Terimakasih ya nak kamu sudah menjadi sahabat terbaik untuk azam selama ini."


"Mas Aldi jangan tinggalkan bidadari sendirian ya? bidadari sudah tidak punya kakak lagi, cuma mas Aldi yang bidadari punya."


Lili, satu-satunya teman masa kecilnya yang ia punya saat ini. Lili yang sejak kecilnya sudah menaruh hati pada Azam hingga kini ia masih lemah jika mendengar nama Azam.

__ADS_1


Banyak kisah yang terjadi dengannya setelah kepergian Azam. Ia bahkan berkelakuan seperti seorang wanita yang ambisi meraih cinta laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan siapa dia berhadapan. Karena rasa sayang yang berlebihan kepada Azam hingga membuat Lili tidak bisa mengontrol emosinya. Namun ketika Lili bertemu kembali dengannya setelah sekian lama tidak bertemu, ia mengatakan padanya bahwa ia telah menemukan seorang gadis yang mampu membuat hatinya bergetar hanya dengan sorotan matanya dan senyuman saja. Bahkan Lili mengatakan bahwa dia merasa mengenali sorot mata dan senyuman itu.


Renaldi tersenyum seakan melihat wajah orang-orang yang sangat ia rindukan seolah-olah mereka berada didepannya saat ini.


"Aku sangat merindukan kalian." air matanya membasahi pipinya. "Ayah, ibu, Azam sahabatku, bapak, ibu, dan kamu bidadari kecilku yang malang... hiks hiks hiks aku sangat rindu..." matanya menembus kegelapan malam yang semakin dingin.


Rasa sedih dan rindu yang tak berujung semakin mendekap kesunyian hatinya tanpa seorangpun disisinya saat ini yang menemani kemelut kehidupannya. Seakan dunia tidak peduli dengan kisahnya.


❄️❄️❄️


"Lepaskan tanganmu." Winda tidak menggubris perintah Sigit, ia masih menikmati dada bidang suaminya dengan kedua tangan memeluk tubuh kekar itu.


Sigit melepaskan tangan Winda yang mendekap tubuhnya. Ia menatap wajah istrinya yang sedang bersedih.


Kedua pasang bola mata itu saling bertatapan. Mencari kehangatan sorot mata yang berada didepan mereka.


"Dari awal kamu sudah merahasiakan ini semua dari Abang Win." tatapan Sigit semakin dalam, terlihat kecewa wajahnya.


"Jika saja kamu katakan yang sejujurnya dari awal, mungkin Abang tidak sekecewa ini sama kamu."


"Apalagi ini bersangkutan dengan Renaldi."


"Laki-laki yang sangat membenci keluarga Winata."


Sigit menghempaskan tangan Winda dan berjalan meninggalkannya sendirian.


"Bang." Winda tidak ingin kemarahan Sigit berlarut-larut, ia berjalan mengejar suaminya.


"Tunggu Winda bang."


"Sudah cukup!"


"Tapi Winda mohon maafkan Winda bang."


"Ok Winda mengakui kalau itu semua kesalahan Winda tapi tolong maafkan Winda." Winda duduk sambil memegang tangan Sigit lalu mencium punggung tangannya, mengharap belas kasihan suaminya atas kesalahan-kesalahan yang sudah di perbuatnya.


"Winda janji tidak akan mengulanginya lagi. Jadi tolong maafin kesalahan Winda bang."


"Berdirilah, masuk didalam kamar dan istirahatlah." tangan Sigit meraih pundak Winda dan mengangkatnya agar istrinya segera berdiri.


"Abang memaafkan Winda kan?"


"Sudah istirahatlah ke kamar duluan, Abang masih banyak kerjaan malam ini."


jawab Sigit menyuruh Winda segera masuk didalam kamar mereka.


Winda melihat wajah Sigit lalu membalikkan badannya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Sigit melihat istrinya yang sudah kesulitan berjalan menaiki tangga karena perutnya yang semakin membesar.


"Kasihan sekali kamu sayang..." lirihnya dan berlalu menuju dapur mencari Ningsih.


"Ningsih." Sigit berjalan di dapur memanggil Ningsih.


Sesampainya di dapur Sigit celingukan tidak mendapati seseorang yang dicarinya, ia berganti haluan berjalan menuju kamar husus untuk Ningsih dan mbok Lastri yang bersebelahan.


"Ningsih."


Tok tok tok.


"Iya mas." Ningsih berlari segera membuka pintunya mendengar suara Sigit berada didepan kamarnya.


"Tidak biasanya mas Sigit manggil Ningsih sendiri malem-malem begini? ada apa ya?" pikir Ningsih resah mengingat Sigit tidak pernah memanggilnya seperti saat ini.


"Iya mas ada apa ya?" tanya Ningsih saat pintu sudah terbuka dan berhadapan dengan Sigit. Matanya terlihat sudah mengantuk.


"Tolong kamu beresin kamar ku dibawah situ, yang dulu pernah aku pakai sebelum aku tidur dikamar atas, sekarang ya."


Ningsih tertegun mendengar perintah Sigit.

__ADS_1


"Harus sekarang mas?"


"Iya sekarang Sih."


"Baik mas, Ningsih segera beresin sebentar."


Ningsih segera menutup pintunya dan berlari menuju kamar Sigit yang lama ketika masih kecil dulu.


Sigit mengikuti langkah Ningsih dan memperhatikan Ningsih yang membereskan kamarnya dengan cepat memasang bed cover dan lainnya. Ia segera berjalan menaiki tangga.


Sigit membuka pintu kamarnya dan mencari istrinya yang sudah berada didalam kamar.


"Abang." Winda terkejut mendapati Sigit berada didepan pintu.


Sigit melihat Winda yang masih duduk termangu diatas ranjang dengan tangan buru-buru mengusap air matanya.


"Abang sudah selesai pekerjaannya?"


Sigit pura-pura tidak melihat air mata Winda dan tetap berjalan mendekati ranjang dimana Winda duduk.


"Kenapa belum tidur?"


"Ini, baru saja Winda mau tidur bang." jawab Winda menutupi kesedihannya hendak menaikkan kakinya diatas ranjang bersiap segera tidur.


Sigit menahan kaki Winda dan menatap bola mata yang masih terlihat sembab.


"Kamu masih bersedih?" suara Sigit terdengar lirih ditelinga Winda.


Winda terdiam tidak bisa berkata-kata, ia masih menyimpan rasa takut dan bersalahnya.


Sigit duduk diatas ranjang disamping winda, dengan sigap mengangkat tubuh istrinya yang sudah setengah berbaring diatas ranjang.


Winda seperti tersihir dengan pergerakan suaminya, ia diam tidak berontak.


"Asal kamu tahu Win, semua yang Abang lakukan semata-mata karena Abang takut kehilanganmu." tubuh Winda sudah berada dalam bopongan Sigit.


Mata mereka saling menatap mencari kehangatan cinta yang semakin membesar.


"Abang sangat menyayangi mu, Abang sangat mencintai istri Abang. Maka dari itu abang tidak ingin sesuatu terjadi pada dirimu sayang."


Suasana hening.


Mata Winda berbinar tidak berkedip melihat wajah Sigit tepat didepannya.


Winda tertegun dengan kalimat Sigit.


Ia sama sekali tidak mengira dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah dengan mengangkat tubuhnya dalam gendongannya dan berjalan menuju pintu.


"Pegangan Abang yang kuat." Winda mengikuti ucapan suaminya dan mengalungkan tangannya dileher Sigit.


"Abang, Winda mau dibawa kemana?" tanya Winda penasaran dengan Sigit yang membawanya menuruni tangga masih membopong tubuhnya.


"Mulai malam ini kita akan tidur dan pindah dikamar Abang yang dibawah."


"Hm?"


"Abang tidak sanggup melihatmu naik turun tangga dengan perut sebesar ini."


Mata Winda berbinar mendengar kalimat suaminya.


"Abang... aku sangat malu pada diriku sendiri, walaupun aku sudah menyakitimu, tetapi kamu masih saja menyayangi aku dengan setulus hati mu, betapa beruntungnya aku menjadi istrimu bang."


Winda menyandarkan kepalanya pada kepala Sigit dengan senyum merekah menghias di bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


. Bersambung 🤗🤗


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2