
"Hai sayang." Sigit tersenyum memandang wajah Winda dari layar hp nya.
"Baru aja berapa jam udah video call Winda bang."
Sigit baru sampai di bandara beberapa saat yang lalu, sambil menunggu ia pun menghubungi istrinya setelah bertemu dengan Gunawan. Semua keperluannya sudah dibawa Gunawan untuknya. Baru beberapa jam berjauhan dengan Winda rasa rindu sudah menggelitik hatinya.
"Yah... siapa tahu kamu khawatir sama Abang kan?"
"Hm... gak juga biasa aja tuh." jawab Winda datar.
"Yang bener? disini banyak cewek cantik-cantik loh? masih gak khawatir?" balas Sigit menggoda Winda yang bersikap cuek. Matanya menggoda wanita yang terlihat dari dalam layar hpnya sedang meratakan lotion di lengan tangan.
Winda mengangkat sebelah alis segera menyimpan rasa cemburunya dengan tersenyum meledek.
"Paling juga ya begitu doang."
Sigit terdiam memperhatikan ekspresi istrinya. Ia memikirkan sikap istrinya yang tidak terpancing godaannya.
"Kenapa gak cemburu ya? kan abang gemes jadinya Win."
"Karena suamiku itu laki-laki normal jadi ya wajar aja kalau ngerti cewek cantik." jawab Winda.
"Gak tau apa bang, hati Winda sangat cemas tau, malah Abang sengaja godain. Awas aja nanti kalau sampai jadi Abang-abang kecentilan selama disana bisa puasa berbulan-bulan nanti baru tau rasa hi hi hi." batin Winda.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Sigit memperhatikan wajah Winda yang mulanya terlihat cemberut kini berubah senyuman yang terlihat aneh.
"Ha? gak, gak papa." jawab Winda masih dengan tersenyum geli.
"Yakin?"
"Yakinlah seratus persen."
"Gak nangis kalau kangen nanti?"
"Gak. PD sekali."
"Yakin?"
"Yah... paling-paling jika beneran siap-siap aja puasa sebulan."
"Ha ha ha... ngancem nih?"
Diam.
Winda tidak merespon suaminya, dirinya merasa kesal. Tidak tahu kenapa moodnya berubah-ubah saat berjauhan dengan suaminya beberapa Minggu ini. Terkadang tidak ingin jauh dari Sigit, ditinggal sehari dikantor saja terasa rindu separti ditinggal sebulan, apalagi ini jika sampai satu minggu, bahkan bisa jadi satu bulan Sigit berada di Singapura entah bagaimana nantinya.
"Abang sudah kangen tau sayang." ucap Sigit akhirnya mengungkapkan perasaannya.
Winda terdiam sesaat memperhatikan suaminya yang masih memandangnya.
"Hm sama Winda juga iya." balasnya setelah terdiam beberapa saat dan memalingkan wajahnya dari suaminya.
"Iya apa?" pancing Sigit semakin melebarkan senyumnya.
"Tauk ah. Ya sudah Abang hati-hati ya? baik-baik juga disana, jangan lupa jaga hati dan mata Abang dari virus memabukkan selama jauh dengan Winda. Inget! bentar lagi sudah dipanggil papa." lanjutnya.
Sigit tampak mengangguk dan tersenyum pada Winda, ia tahu jika istrinya sudah cemas dan cemburu. Terdengar lucu jika istrinya sudah cemburu, dia akan menyimpan rasa cemburunya dan mengatakan kalimat sindiran untuknya.
__ADS_1
"Dasar Winda, kalau sudah cemburu seperti ini tambah lucu wajah kamu sekarang. Tapi Abang makin gemes rasanya. Hhhhhh semoga masalah perusahaan ini bisa cepet teratasi sehingga tidak perlu lama-lama aku jauh denganmu."
"Iya jangan khawatir abang selalu inget kok. Ya sudah Abang juga ini lagi boarding kamu langsung tidur ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sigit melambaikan tangannya dan menutup panggilannya dengan Winda lalu menon aktifkan hpnya, kembali ia membenarkan letak duduknya dan melemaskan ototnya. Rasa capek dan kantuk menghinggapinya setelah seharian ikut muter-muter mencari seseorang yang bernama Aldi.
Sigit segera memejamkan matanya berharap segera tidur walaupun hanya beberapa saat selama didalam pesawat.
❄️❄️❄️
"Yah batre lowbat, mati deh."
Winda melihat layar hpnya sudah gelap, dia berjalan menuju nakas meraih casger dan segera menghubungkan dengan hpnya.
"Untung aja tadi Abang udah selesai video call. kalau belum, bisa tidak tidur semalaman aku." ucapnya dengan tersenyum kecil sambil meletakkan hpnya diatas nakas.
"Hhhh rasanya capek sekali, tidur ah."
Winda mendaratkan tubuhnya diatas ranjang, kedua bola matanya melirik bantal Sigit sekilas sepi dan sendiri yang ia rasakan.
Winda menutupi tubuhnya dengan selimut sampai seleher dan segera memejamkan matanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama dia sudah tertidur.
Malam semakin dingin, jarum jam bergerak seakan nyaring terdengar ditengah keheningan malam. Rumah pak Idris terasa sepi dikala malam dini hari menjelang fajar.
Pak Idris menggeliat tubuhnya saat terdengar suara hp berdering.
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt
Pak Idris mengucek kedua matanya yang masih terasa berat dibuka, Bu Arini yang berada disampingnya ikut terbangun mendengar suara hp suaminya berdering.
"Siapa pak malam-malam begini nelpon?" tanya Bu Arini begitu sudah duduk diatas ranjang.
"Tidak tau bu, bapak juga baru terbangun." jawab pak Idris seraya beranjak dari ranjang.
Pak Idris berjalan meraih hpnya diatas meja. Ia tertegun ketika melihat tulisan di layar hpnya yang bertuliskan Marina lalu segera menggeser tombol hijau keatas.
"Assalamualaikum Marina."
"Waalaikumsalam om, maaf malam-malam mengganggu istirahatnya om dan tante."
"Tidak apa, ada apa malam-malam begini menelpon? tidak biasanya." tanya pak Idris penasaran karena selama ini yang sering menanyakan kabarnya adalah Ibrahim bukan Marina.
Marina adalah istri dari Ibrahim keponakannya yang tinggal di Jakarta, satu-satunya keluarga yang masih tersisa yang ia miliki, walaupun hanya saudara angkat.
"Mas Ibrahim sekarang dirawat dirumah sakit om, keadaannya semakin kritis. Bisakah om datang sekarang ke jakarta?" suara dari sebrang.
"Apa? Ibrahim di rumah sakit?" laki-laki setengah baya itu terkejut mendengar kabar tentang keponakannya.
"Sakit apa dia?" tanya lagi.
Bu Arini beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati suaminya begitu mendengar pertanyaan suaminya yang menyebut nama Ibrahim.
"Pak, ada apa dengan Ibrahim?" tanya Bu Arini menyela suaminya yang masih mendengarkan jawaban dari sebrang dengan serius.
Pak Idris mengangkat tangan kiri dan mengedipkan matanya kearah istrinya memberikan isyarat kepadanya agar diam dulu tidak mengganggunya.
__ADS_1
"Baiklah om dan tante akan segera kesana, kamu tenang ya, insyaallah Ibrahim akan segera baik-baik saja. Ya sudah om siap-siap sekarang om tutup dulu telponnya assalamu'alaikum." pak Idris menutup telponnya.
"Buk, Ibrahim sudah beberapa hari ini dirumah sakit dia baru saja melakukan operasi dan sekarang keadaannya semakin memburuk, jadi ibu segera menyiapkan perlengkapan kita untuk beberapa hari selama di Jakarta. Tolong ibu bangunkan Winda dulu pelan-pelan jangan terlihat panik ya bapak khawatir kalau dia malah shock. Bapak menyiapkan kendaraan dulu." kalimat pak Idris pada Bu Arini.
"Baik pak."
Pak Idris meraih koper yang berada diatas lemari dan memberikan pada istrinya kemudian membantu mengambil beberapa pakaian dan barang-barang yang diperlukan mereka.
"Cepat ya berkemasnya." ucap pak Idris sambil meletakkan pakaiannya dan berlalu menuju garasi mobil.
❄️❄️❄️
Sementara di tempat yang berbeda tepat dini hari menjelang fajar.
seorang laki-laki menambah kecepatan kendaraanya tidak sabar ingin segera menemui orang yang selama ini ia cari. Rasanya tidak percaya jika mereka juga mencari keberadaannya.
Senang.
Gugup.
Cemas.
Bercampur jadi satu didalam hatinya setelah mendapatkan kabar dari Ricko salah satu temannya yang memberitahunya dua jam yang lalu melalui telpon bahwa pak Idris sedang mencarinya tadi siang dirumahnya.
"Bapak... ibu... ternyata kalian masih mengingatku... terimakasih pak terimakasih Bu... Aldi akan datang kerumah bapak, tunggu Aldi." ucap Aldi bersemangat hingga tak terasa matanya mulai mengembun.
"Azam, lihatlah betapa bahagianya aku akan segera bertemu dengan mereka, selangkah lagi Zam." kembali Aldi bermonolog sambil mengemudi.
Aldi merasa lapar ditengah perjalanan karena rasa senangnya setelah mendapatkan kabar dari Ricko tadi ia lupa tidak membawa camilan selama diperjalanan.
Aldi menghentikan mobilnya tepat didepan minimarket yang buka nonstop dua puluh empat jam, lalu segera memasuki minimarket itu dan mengambil beberapa camilan yang diinginkan.
Setelah selesai dengan belanjanya ia segera menuju ke kasir yang mengantri cukup banyak orang untuk ukuran antrian laki-laki termasuk Aldi.
Dengan penuh keterpaksaan Aldi pun mengantri mengingat ia sangat lapar malam ini.
Sambil mengantri ia tidak sabar membuka bungkusan camilan dan tidak segan mengunyahnya saat itu juga, tanpa disadari ia telah diperhatikan seorang wanita yang sama mengantri seperti dirinya.
Setelah merasa cukup dengan mengunyah camilannya ia baru menyadari jika ada seorang wanita yang sedang memperhatikannya dengan sesekali mencuri pandang dan menertawakan dirinya. Aldi pun balik memperhatikan wanita itu dari ujung kaki sampai kepalanya yang tertutup hijab dan gamisnya secara seksama. Terlihat gemuk badannya.
"Kenapa lihat-lihat? tidak pernah lihat cowok tampan sedang makan apa?" celetuk Aldi pada wanita itu.
Wanita itu malah tersenyum padanya.
"Mas lucu ya kalau makan kayak anak kecil yang baru mendapat Chiki hehehe." jawab wanita itu.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Saranghe 💞💞
__ADS_1