
"Git, hentikan Git!"
suara Bram melerai Sigit dan Renaldi.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt.
Decitan mobil terdengar secara tiba-tiba. Renaldi menginjak rem mendadak ketika tangan Sigit menarik kerah lehernya.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt.
Renaldi sekuat tenaga mengimbangi laju mobil, ia arahkan mobil ke sisi jalan raya. Susah payah Renaldi mengerem mobil secara mendadak dengan memutar stir ke sisi jalan yang berbeda.
Mobil berhenti tepat dipinggir jalan, hampir saja menabrak sebuah pohon yang tepat berada didepan mobil Sigit.
Wajah Revan dan Bram pucat pasi begitu melihat mobil berhenti tepat didepan pohon besar. Renaldi mengerem dengan posisi yang tepat.
Gemetar dan ketakutan yang dirasakan seorang laki-laki yang paling muda diantara mereka berempat.
"Lihat! apa yang baru kalian lakukan ha! untung tidak terjadi apa-apa." Bram marah pada Sigit dan Renaldi. Sigit sudah menarik tangannya dari baju Renaldi.
"Sudah Re, jangan pancing kemarahan Sigit." Bram kesal. "kalau masih ingin diteruskan perkelahian kalian, nanti kalau sudah sampai diparkiran, jangan ditengah jalan seperti ini, bisa berbahaya untuk pengendara mobil yang lain." gertak Bram pada kedua manusia yang duduk di depannya.
"Untung saja mobil papi masih jauh jaraknya, kalau tidak... entahlah apa yang terjadi."
Sigit melirik tajam wajah Renaldi yang masih terus berbicara tentang bidadarinya, ia tidak terima dengan ucapan Renaldi.
Renaldi tersenyum sinis dengan mengangkat sebelah bibirnya, masih terlihat sisa-sisa darah yang mengalir disana, sama seperti Sigit. Walau merasa sakit dan perih di sebagian tangan dan wajahnya, namun ia tidak merasakan rasa itu karena panik. Ada rasa senang dan puas tentu dalam hatinya melihat Sigit tersulut perkataannya.
Revan terdiam ketakutan, bergidik melihat ketiga saudaranya. Suasana didalam mobil seakan panas walaupun ber AC, terasa sangat pengap.
Masih terngiang di telinga perkataan kakaknya saat adu mulut dengan Sigit sehingga hampir saja membuat mereka celaka.
"Dan jangan bilang kalau namamu juga Aldi, sama seperti orang-orang yang mengaku namanya Aldi yang berdatangan kerumah." kalimat Sigit dengan melirik tajam pada Renaldi mengingat cerita istrinya malam itu.
Renaldi diam.
Terheran, wajahnya terlihat sedang terkejut saat mendengar kalimat Sigit. Ia melirik Sigit.
"Iya, aku memang Aldi, alias Renaldi Suherman. Kenapa? kamu terkejut? tidak percaya?" jawab Renaldi dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak mungkin! kamu bukan..."
"Iya. Aku adalah Aldi sahabat terbaik Azam Alfian Idris. Sahabat dari mendiang kakaknya Bidadari, dan Itulah yang sebenarnya. Anda dengar??! lalu apa urusannya dengan mu masa lalu Bidadari ku denganmu?" Renaldi berusaha merebut gantungan kunci dari tangan Sigit.
"Kembalikan gantungan kunci itu padaku!" ucap Renaldi.
Sigit segera menangkis tangan Renaldi.
"Asal kamu tau Renaldi, gantungan kunci ini sudah kembali pada pemiliknya." bantah Sigit sambil menggantungkan gantungan itu di jari tangannya.
"Gantungan kunci bintang ini yang aku berikan pada gadis kecil malam itu, dan..." Sigit tidak melanjutkan kalimatnya. Ia mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Bilang saja kalau kamu menginginkan benda antik itu bukan? karena sebelumnya kamu sudah melihatnya ketika masuk ke apartemenku malam itu. Apalagi..."
"Sudah hentikan ocehanmu Renaldi."
"Hahaha kenapa? kamu malu mengakuinya?"
"Atau... diam-diam kamu mulai tertarik dengan apa yang ada padaku?"
"Renaldi!!"
Sigit sudah sangat geram mendengar kalimat-kalimat laki-laki disampingnya, ia pun menjulurkan tangannya dan menarik kerah leher laki-laki itu.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt.
----------------------------------------------
"Sudah Re jangan membuat Revan semakin ketakutan." Lanjut Bram menatap Revan.
Revan kembali tersadar mendengar suara Bram.
"Hm."
Renaldi diam, kembali fokus dengan kemudinya. Mobil berjalan melintasi jalan raya yang sepi, hanya sesekali beberapa mobil melintas berpapasan dan ia lewati.
Sementara Sigit, mengalihkan pandangannya disisi jalan, terlihat sangat gusar setelah perang dingin didalam mobil, ia tidak sabar ingin segera sampai dimana istrinya berada.
__ADS_1
🎵🎵🎵🎵
Tidak berselang lama suara panggilan dari hp Bram terdengar didalam keheningan.
"Iya Pi."
"Apa yang terjadi Bram, papi lihat mobil Sigit hampir saja menabrak sebuah pohon tadi, apa ada sesuatu lagi dengan mereka berdua?"
"Sedikit Pi, tapi sudah bisa dikondisikan sekarang, papi jangan khawatir." Bram menoleh Sigit dan Renaldi bergantian.
"Tetap awasi mereka Bram."
"Iya Pi."
Klik.
Bram menutup panggilan papi dan melirik Revan.
"Kenapa papi bang?"
"Papi melihat mobil Sigit hampir menabrak pohon tadi, membuat mereka khawatir." jawab Bram, Renaldi sesekali mengelap bibirnya yang masih berdarah, ia meringis menahan rasa perih. Sigit tidak peduli dengan keadaan Renaldi yang lebih parah darinya.
Renaldi mulai mengurangi kecapatan mobil, pengguna mobil yang lain sudah mulai memadati jalan raya, terlihat sudah padat rumah-rumah penduduk disekitar klinik yang berada didepannya.
Mobil sudah berhenti diparkiran klinik, Renaldi mematikan mesin dan membuka seatbeltnya, sedangkan Sigit segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ruang informasi menanyakan pada suster yang berjaga disana.
Ia berlari menyusuri setiap ruangan yang ia lewati, dengan rasa cemas ia mencari ruang Bougenville dimana istrinya ditempatkan setelah mendapatkan informasi tentang Winda.
Ketiga laki-laki yang bersamanya didalam mobil, ia tinggalkan begitu saja, dalam benaknya hanyalah bayangan Winda.
"Git! Sigit!"
terdengar dari kejauhan suara seorang wanita memanggil namanya dengan melambaikan tangan kanan padanya.
"Sini Git."
Sigit mempercepat langkahnya menuju wanita itu.
"Tania? bagaimana keadaan Winda sekarang?"
Tanya Sigit bertambah cemas, dadanya semakin berdebar-debar.
"Dia baik-baik saja kan?"
"Sudahlah cepat masuk kedalam."
Tania mendorong tangan Sigit agar segera masuk ruangan Winda.
Sigit masuk kedalam ruang rawat husus melewati Faisal yang masih berdiri menyandarkan tubuhnya didinding. Wajahnya terlihat sangat kacau dengan lirikan tajam menyorotnya.
Ceklek.
Sigit menutup pintu kembali, ia melihat dua perawat yang sedang berjaga disamping Winda dengan memegang tangan Winda yang sedang tertatih-tatih berjalan dengan selang infus terpasang di lengan kirinya.
"Sigit..." suara Winda lirih menyebut nama suaminya, matanya berbinar melihat sosok laki-laki yang sangat ia rindukan.
Tidak percaya, dan terkejut menatap suaminya yang berjalan semakin mendekatinya.
Langkah kedua perawat disamping Winda terhenti seketika, mereka bersamaan menolehkan kepalanya pada sosok yang berada didepan pintu.
"Winda... kamu..."
Sigit berjalan tergesa-gesa mendekati istrinya dan menggantikan posisi perawat yang berada disisi Winda.
"Biar saya saja sus." ucap Sigit seraya meraih tangan Winda, lalu menyampirkannya diatas pundaknya.
"Kamu baik-baik saja kan?"
"Git..." masih tertegun tidak percaya menatap wajah suaminya, tidak berkedip.
"Iya? kenapa? Abang sangat mencemaskan keadaanmu sayang." Sigit mengecup pucuk kepala istrinya dan memeluknya erat, erat dan semakin erat. Seakan enggan melepasnya.
Sementara itu, kedua perawat segera mengemasi sisa makan siang Winda yang tergelak diatas nakas, mereka segera keluar ruangan meninggalkan dua insan yang melepas rasa rindu.
"Git..." Winda menitikkan air matanya sebagai rasa bahagia telah bertemu lagi dengan suaminya. Ia pun menyambut pelukan hangat suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sigit.
"Git, aku takut, aku takut menjalani hidup sendirian... jangan biarkan aku sendirian jauh darimu Git... hiks hiks hiks aku tidak bisa hidup sendiri tanpamu Git... hiks hiks... aku takut..."
__ADS_1
Cup cup cup cuppp
Tangan Sigit membelai lembut punggung istrinya, mencoba memberikan ketenangan padanya, berkali-kali ia mencium kening wanita yang berada didekapannya.
"Iya, Abang janji, Abang tidak akan meninggalkan kamu sendiri lagi, Abang akan selalu ada di dekatmu." kristal bening akhirnya lolos begitu saja dari peraduannya mendengar suara hati istrinya yang terucap begitu pedih menghujam dan menyesakkan dadanya.
"Kamu jangan sedih lagi sekarang ya? Abang sudah disini, Abang akan selalu ada di sampingmu sayang. Cupp."
Winda menganggukkan kepalanya, menikmati dekapan dada bidang suaminya untuk sesaat, lama ia tidak merasakan kelembutan kasih sayang dan perhatian Sigit selama jauh darinya.
Winda mengangkat kepalanya menatap wajah suaminya, terlihat jelas wajah yang lebam, dan ada darah yang masih terlihat di sudut bibirnya, sehingga membuatnya penasaran.
"Git? wajah kamu kenapa lebam begini? kamu tadi berantem dengan seseorang? atau berantem dengan segerombolan penculik itu?" tangan Winda meraba wajah Sigit, lalu mengusap darah segar dari sudut bibirnya.
"Aww..."
"Sakit?"
"Tidak, cuma perih aja."
"Diobati ya?"
"Tidak usah." tangan Sigit meraih tangan Winda dan kembali mengalungkan tangan itu pada pinggangnya. "Inilah obat yang paling mujarab. Cupp."
"Gombal." Winda tersenyum mendengar Sigit yang mulai menggodanya. Sigit pun tersenyum melihat wajah Winda yang sudah membaik. Ia memapah kembali menuju brankar Winda.
Sementara dari balik pintu, terlihat beberapa pasang mata yang menyaksikan sepasang suami istri yang sedang memadu kasih melepas rasa rindu. Sigit masih menuntun Winda yang ingin berjalan disekitar brankar.
Mami menutup kembali pintu dari luar secara perlahan, tidak ingin kedatangannya diketahui anak dan menantunya. Mami, mbok Lastri bersama Tania melempar pandang dan tersenyum kecil.
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa pada Winda, mami sangat berterima kasih pada kalian berdua Tania." ucap mami memandang wajah Tania dan Faisal bergantian, kemudian menggenggam jemari tangan Tania, bahagia.
"Sudah sepatutnya kami berbuat seperti itu pada sahabatku mi."
Faisal menghela nafas panjang, lega rasanya menyaksikan sikap Sigit yang memang menyayangi dan mencintai Winda sepenuhnya, ia merasa rasa yang diberikan Sigit pada Winda melebihi rasa yang ada didalam hatinya.
Suasana sekitar ruangan Winda hening, Bram, Renaldi, papi dan Revan duduk di kursi yang berada di ruang tunggu. Mereka saling diam.
Didalam ruang rawat.
Terlihat dua sejoli yang masih asyik dengan pertemuan mereka. Sigit masih setia berada di sisi Winda. Canda, tawa terdengar didalam ruangan yang hanya ada mereka berdua.
"Aw..."
Suara Winda tiba-tiba mengagetkan Sigit saat Sigit menuntun Winda. Langkah kaki Winda terhenti seketika dengan tubuh membungkuk seperti menahan rasa sakit.
Sigit bingung memandang wajah Winda yang meringis.
Ternyata benar dugaannya jika Winda sedang menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa?"
"Aw..."
"Win?"
"Aawwww....."
Sigit melihat kebawah.
Deg.
"Darah??" gumamnya.
.
.
.
Bersambung 🤗🤗
Kelamaan ya??
Maaf...🙏🙏🤗
Tunggu kelanjutannya yang pasti bertambah dag dig dug tentunya...
__ADS_1
Sarangheo 💞💞💞