
Pagi hari yang cerah, secercah sinar mentari pagi menerobos masuk jendela kamar Sigit. Terlihatlah sebujur tubuh yang masih tertutup selimut diatas ranjang, entah mengapa Sigit masih terasa malas untuk beranjak dari balutan selimut setelah tertidur usai melaksanakan shalat subuh dengan istrinya.
Mungkin karena semalam ia terlalu lama menunggu Winda hingga ketiduran diatas kursi membuat tubuhnya kini terasa pegal-pegal semuanya, tubuhnya seakan kaku untuk digerakkan.
"Git, bangunlah sudah pagi. Nanti kesiangan loh kekantornya." Winda baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan badannya. Ia memilih baju ganti dan meletakkannya diatas ranjang tepat disebelah suaminya
"Hm."
Winda melirik suaminya yang hanya menyahut singkat tanpa membuka mata.
"Git bangun." Kembali suara Winda terdengar membangunkan Sigit.
"Entah mengapa badanku rasanya pegal-pegal..." masih dengan kedua mata tertutup. Suara Sigit berat terdengar khas orang bangun tidur.
"Buka dulu matanya, bangun dan cepetan mandi." Winda duduk di tepi ranjang.
"Uuuuaaaaaahhhhmmm................"
Perlahan Sigit memaksakan membuka sedikit matanya untuk melihat pemilik suara yang berada didekatnya.
Terlihat olehnya sekarang sesosok tubuh seksi yang hanya mengenakan selembar handuk melilit di tubuh wanita tambatan hatinya yang hendak berganti baju.
Harum aroma sabun mandi menusuk Indra penciuman Sigit, kedua matanya kini terbuka sempurna dengan tersemat ide curang untuk menggoda istrinya yang tiba-tiba saja mengusik naluri kelelakiannya.
Entah kenapa, begitu melihat tubuh Winda didepannya yang begitu menggiurkan, tubuhnya tiba-tiba saja terasa segar seketika.
Tanpa Winda sadari keadaannya saat ini justru memancing gairah suaminya yang sudah lama menunggu moment yang tepat untuk bercinta lagi setelah sekian lama tersimpan. Tepatnya dua bulan Sigit tidak menjamah istrinya setelah kelahiran Brian. Dalam hatinya, ia tidak tega menuntut satu hal itu jika Winda masih merasa tidak nyaman untuk melakukannya. Ia akan menunggu sampai waktunya tepat. Dan menurutnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Perlahan Sigit menggeser duduknya dan bergerak lebih mendekat istrinya sehingga jarak diantara mereka sudah terkikis.
"Sudah pagi ya..." Suara Sigit lirih didepan wajah istrinya. Bola mata Sigit tidak berkedip menatap netra Winda.
Winda menganggukkan kepalanya, terkesiap melihat pandangan suaminya yang terlihat begitu berbeda saat melihatnya. Wajah mereka sudah berdekatan hingga hembusan nafas suaminya terasa begitu hangat diwajahnya.
"Git..." Winda gugup saat bibir suaminya semakin mendekati bibirnya.
__ADS_1
"Git..." hatinya semakin bergemuruh menahan getaran hebat yang tercipta begitu saja ketika bibir Sigit memainkan bibirnya dengan lembut. Sudah lama Winda tidak merasakan permainan suaminya semenjak ia hamil tua.
"Sigit..." Sigit tidak menghiraukan panggilan Winda, tangan kirinya kini menekan tengkuk istrinya semakin dalam. Luma*an bibirnya kini semakin panas, tangannya pun sudah tidak terkendali menjalar disetiap lekuk tubuh istrinya.
"Saat ini aku sangat menginginkannya sayang..." Bisik Sigit sangat lirih disela-sela kegiatan memainkan lidah istrinya dalam mulut Winda.
"Aku ingin melepas rasa ini hanya denganmu seorang Win..." Bibir Sigit semakin lihai menjelajah.
"Hanya kamu sayang yang bisa membuatku kecanduan untuk meluapkan rasa ini." Winda mulai menikmati setiap permainan suaminya yang sangat lembut padanya.
"Hanya kamu istriku, Winda Zilvana Idris. I love you so much honey." Tingkah Sigit sudah tidak terkendali memimpin pertempuran panas bersama istrinya saat ini.
"Sigit..."
Desa*an Winda mulai terdengar indah bagaikan irama musik tersendiri yang mengalun begitu merdu dalam pendengaran Sigit didalam kamar mereka.
Tangan Sigit menyentak handuk yang melilit ditubuh istrinya dalam sekejap, lalu menggiring tubuh molek belahan hatinya diatas ranjang, ia menenggelamkan kepalanya di dada Winda, sudah tidak tahan menahan gejolak yang semakin memanas dalam dirinya, perlahan ia memulai pertempuran panas yang membuatnya lupa segalanya. Ia benar-benar seperti singa yang baru saja menerkam mangsanya setelah beberapa purnama menahan dahaga dan rasa lapar.
❄️❄️❄️
Ya, saat ini Sigit telah berada ditengah rapat didalam kantor cabang. Selama Dian menyampaikan materi rapat, justru Sigit tengah asyik melamun pergulatannya bersama istrinya tadi pagi. Rasa yang terus menggelitik hatinya ingin segera pulang dan melanjutkan pertempuran untuk yang kesekian kali telah mengusik konsentrasi nya.
Entah mengapa kepalanya kini dipenuhi dengan adegan dalam arena dua kali tiga itu. Entahlah tidak tau kenapa ia merasa seakan hasratnya kini tidak seperti saat mereka melakukannya dimalam pertama, justru ia lebih merasa nikmat setelah melakukannya tadi pagi.
"Hm?" Sigit memalingkan wajahnya pada Firman seolah meminta pendapat sekertarisnya itu.
Firman merasa heran dengan sikap atasannya yang tidak seperti biasanya, Sigit yang menjalani hari-hari di kantor biasanya terlihat lebih serius saat rapat atau disiplin mengerjakan kerjaannya hari ini Firman melihat sosok Sigit didepannya seperti bukanlah Sigit atasannya.
"Untuk urusan ini, biar dihandle pak Firman saja, karena sekarang saya harus segera pergi. Ada hal yang lebih penting untuk saya selesaikan." Jawab Sigit seraya menutup berkas didepannya. " Pak Firman." Sigit mengalihkan pandangannya pada orang yang dipanggil.
"Iya pak."
" Saya percaya sama pak Firman. Jadi kerjakan dengan sebaik mungkin. Dan nanti biar saya yang menyurvei sendiri jika proyek sudah 80 persen hampir selesai." Lanjut Sigit menyerahkan urusannya pada tangan kanannya.
Semua anggota rapat melihatnya tidak berkedip, karena melihat wajah atasannya yang murah senyum sejak kedatangannya yang kesiangan ke kantor cabang tadi.
__ADS_1
" Baik pak." Jawab Firman.
Sigit beranjak dari duduknya yang diikuti Firman. Mereka keluar dari ruang rapat secara beriringan.
"Bang, sepertinya hari ini bunga-bunga bermekaran tidak seperti hari-hari biasanya." Suara Firman menghentikan langkah Sigit.
"Hm? bunga bermekaran? Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa urusannya dengan ku?"
memangnya aku ini Ningsih atau pak Zain apa? yang ngurusin taman sampai-sampai Firman bilang bunga-bunga bermekaran. Sungut Sigit, ia heran dengan apa yang dikatakan oleh bawahannya barusan.
"Ya itu, kenapa wajah Abang berseri-seri sampai-sampai rapat saja tidak fokus, ngelamun terus sampai Dian selesai presentasi." jelas Firman tanpa basa-basi.
Sigit mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum kecil mendengar perkataan Firman.
"Tuh kan kumat lagi, senyum-senyum sendiri."
Firman dibuat semakin tidak mengerti dengan sikap Sigit yang semakin melebarkan senyumannya.
"Sungguh pertempuran yang mengesankan." batin Sigit.
"Sudahlah pak Firman, pak Firman tidak perlu tau." ucap Sigit masih dengan tersenyum seraya meninggalkan Firman yang masih berdiri tegak ditempatnya. " Saya pulang dulu."
Sigit berjalan memasuki ruangannya membereskan meja kerjanya, setelah itu ia keluar ruangan menuju lift, dan segera melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, Sigit sampai disebuah tempat yang sangat ia dambakan selama ini untuk orang teristimewanya.
Kembali senyumnya berkembang menghiasi kedua pipinya. Rasa senang terpancar ketika membayangkan wajah istrinya nanti setelah melihat apa yang sudah dia persiapkan selama ini.
"Winda... semua ini aku lakukan semata-mata hanya untukmu, tetaplah tersenyum dan tetaplah berada di sisiku hingga suatu saat nanti maut memisahkan kita." lirih Sigit.
.
.
Bersambung 🤗🤗🤗
__ADS_1
Sarangheo 💞💞💞💞