
Tanpa disadari, ditempat yang tidak jauh dari Winda berada, ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah konyol wanita cantik yang tersenyum sendiri, lalu disusul dengan memukul kepalanya terlihat seperti orang bingung yang tersesat arah tujuannya.
Sigit. Ya laki-laki itu adalah Sigit yang sedari tadi menunggu kedatangan Winda, ratu penghuni hati dan istananya saat ini, nanti dan selamanya. Sigit menggelengkan kepalanya, tersenyum geli melihat ulah Winda yang benar-benar belum sadar dengan apa yang ada dihadapannya.
"Hai... assalamu'alaikum..."
Sigit mendekati Winda yang berjingkat kaget melihat dirinya datang begitu saja didekatnya.
"Eh, wa'alaikumsalam." Winda memegang dadanya menahan kaget. "Abang..."
"Kenapa disitu terus, ayo masuk. Tamu undangan sudah pada didalam tau, kamunya malah asyik sendiri didepan." ajak Sigit melangkahkan kakinya dengan menggandeng tangan Winda.
"Eits, tunggu dulu." dengan cepat Winda menarik lengan Sigit hingga langkahnya terhenti.
"Ada apa?" penasaran.
"Kalau boleh tau didalam ada apa bang?"
"Memangnya kenapa?"
"Mmm, soalnya aku tiba-tiba saja nervous bang." jawab Winda lembut tersipu malu.
"Kenapa nervous?"
"Masalahnya ini pertama kalinya Winda menghadiri undangan di rumah temannya abang. Apalagi tadi ketika Winda baru melihat halaman rumahnya saja udah hampir hilang ingatan."
"Hm? hilang ingatan? ada-ada saja." Sigit menautkan kedua alisnya.
"Iya, beneran." sahut Winda cepat. "Coba deh Abang lihat tuh papan bunga karangan itu." Winda menunjuk benda yang dibicarakannya. " Masak iya, hanya gara-gara aku tadi ngehalu duduk berdua sama Abang dibangku itu, begitu melihat tulisan karangan bunga jadi ada nama Sigit dan Winda? satu lagi itu papan karangan bunga disampingnya ada tulisan Winda Zilfana Idris, anehkan? bagaimana coba jika didalam sana nanti aku melihat ada hal-hal menarik lainnya membuat pikiranku semakin eror? kepikiran kan bodohnya aku didepan rekan kerja abang?" jelas Winda panjang lebar mengeluarkan unek-uneknya.
Khawatir.
Winda memasang wajah cemas yang tiba-tiba membuatnya tidak percaya diri bertemu dengan rekan kerja suaminya. Dibenak Winda saat ini ia akan bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang penting, petinggi-petinggi perusahaan yang jelas istri mereka adalah ibu-ibu sosialita dan banyak membahas tentang perannya sebagai istri orang besar. Jika disejajarkan dengan dirinya sudah jelas tidak sebanding.
"Hahaha...." mendengar kalimat istrinya justru Sigit tertawa terbahak-bahak.
Winda heran dengan suaminya yang menganggap kekhawatirannya lelucon.
"Abang..." kedua tangan Winda menggerakkan- gerakan lengan Sigit.
"Hahaha... sudahlah ayo buruan kita masuk, bisa-bisa perutku semakin sakit jika lama-lama disini." ucap Sigit tidak ingin melihat istrinya semakin ngelantur kemana-mana.
Sigit baru menyadari, ternyata tidak hanya dirinya yang merasa khawatir malam ini, tetapi Winda juga sama seperti dirinya, gugup. Hanya saja bedanya, kalau dia merasa khawatir jika istrinya menolak hadiah darinya. Sedangkan Winda, ia mengira rumah yang ia tapakkan kakinya disana sekarang milik rekan kerja Sigit sehingga membuatnya tidak percaya diri.
Winda menurut dengan laki-laki yang menggandeng tangannya memasuki rumah besar itu.
Hatinya berdebar sangat kencang saat berada didalam rumah itu.
Sepi.
__ADS_1
Gelap.
Tidak ada cahaya dan tidak ada seorang pun tamu undangan yang tampak didalam rumah itu, jauh dari yang namanya acara pesta kantoran. Sangat sunyi.
"Bang... kenapa sepi sekali? gelap lagi. Aku takut bang..." Winda mulai ketakutan, pikirannya kacau, ia memeluk perut suaminya dan tiba-tiba saja tubuhnya kaku tidak bisa berjalan.
"Bang Sigit... aku takut..." bulu kuduk Winda berdiri semua, Sigit masih diam tidak menjawab panggilannya. Tangan Sigit masih memegang kedua tangan Winda yang memeluk perutnya dari belakang.
"Abang..." gema suaranya terdengar keras seperti didalam gedung kosong.
Tiba-tiba pikirannya teringat bayangan seorang gadis kecil yang terperangkap sendirian didalam gedung kosong beberapa tahun lalu, gadis kecil itu sangat ketakutan. Tubuh Winda bergetar, tangannya memeluk tubuh suaminya semakin kencang dengan kepala disandarkan di punggung Sigit dan kedua tangannya semakin dingin.
"Ini benar kamu kan bang Sigit? atau jangan-jangan kamu... aaaa... aku takut ya Allah. Tolong... siapa saja yang ada didalam tolong bantuin dong idupin lampunya please..."
Sigit tidak tega melihat istrinya yang justru ketakutan, sama sekali ia tidak mengira jika skenario yang dibuatnya akan terbalik dengan rencana awalnya. Sigit khawatir jika Winda akan pingsan. Ia memegang kedua tangan Winda mencoba mengendorkan pegangan itu dan membalikkan tubuhnya menghadap Winda, namun tangan Winda masih memeluknya erat tidak mau menuruti gerakan Sigit.
"Winda... lepaskan pelukannya." lirih Sigit.
"Tidak mau!"
"Ayolah sayang lepaskan sebentar saja, Abang tidak bisa bergerak."
"Biarin!"
"Dadaku semakin sesak sayang, Abang tidak bisa bernafas dengan baik." mohon Sigit.
"Biarin, Abang mencoba nakutin Winda ya sekarang?! awas aja ya nanti kalau sudah sampai dirumah siap-siap puasa! satu bulan?! dua bulan!? atau..." Winda mengomel kesal karena merasa dikerjain suaminya.
Sigit yakin jika saat ini ia sedang ditertawakan oleh keluarga dan teman-temannya.
Cup.
Sigit mengecup bibir Winda, lalu menatap wajah manis sekalipun dengan mata tertutup. Ya, Winda sangat ketakutan sehingga ia memejamkan mata sedari tadi untuk mengatasi rasa ketakutannya.
"Bukalah kedua matamu yang indah itu sayang." bujuk Sigit.
Winda masih kekeh memejamkan matanya.
"Aku sangat takut bang, aku takut gelap, Abang tahu itu kan... jadi aku tidak akan membuka mataku hingga lampu ini menyala."
Sigit meraih sebuah benda dari saku celananya, ia mengangkat benda itu tepat didepan wajah istrinya.
"Bukalah."
"Tidak!"
"Buka dulu, ada sesuatu yang akan membuat kita selalu bersinar walaupun di tempat gelap sekalipun."
" Tidak!"
__ADS_1
Cup.
"Percayalah pada Abang, kamu akan menemukan taburan salju dibawah cahaya bintang didalam sini Bidadariku, sekarang buka mata ya?"
Winda merasakan adanya cahaya didepan matanya, perlahan Winda membuka kedua matanya.
Sejenak wanita itu terdiam memperhatikan gantungan kunci yang dipegang suaminya.
Terkejut.
Heran dan penasaran berkecamuk dalam pikirannya.
"Jadilah seperti bintang yang selalu bersinar di langit, indah dipandang dan dapat menenangkan yang memandangnya, ia memiliki energi yang bisa mendatangkan berjuta manfaat pada insan yang menatapnya sehingga energi positif juga yang tersalurkan padanya. Kamu ingat siapa yang mengatakan ini padamu sayang?"
Sigit mengulang kalimatnya bertahun-tahun lamanya, ia mengetes seberapa cepat ingatan istrinya akan teringat kata-katanya itu.
Winda terdiam sejenak, terpaku dengan kalimat suaminya, ia kenal kalimat itu dan masih melekat dalam ingatannya tentang anak laki-laki yang membantunya malam itu.
"Ma-mas Bintang..." sebut Winda lirih. Pandangan Winda beralih dari gantungan kunci itu pada Sigit.
"Bagaimana Abang bisa mendapatkan gantungan kunci itu serta kalimat yang sama dengan mas Bintang malam itu bang..." tanya Winda tidak mengerti.
Kedua bola mata mereka saling bertemu mencari kebenaran dari dugaan yang membuat Winda bingung.
Winda tidak berkedip melihat gantungan kunci yang masih sama tidak berubah sama sekali dari pertemuan pertamanya dengan anak laki-laki yang selalu ia ingat kebaikan dan ketulusan hati padanya hingga saat ini, gantungan kunci itu memancarkan cahaya yang terang dari bintang yang berada didalam dan dihiasi taburan glitter seakan hujan salju. Masih sama persis tidak berubah sama sekali.
"Katakan, bagaimana Abang bisa tahu itu semuanya bang..."
"Seberarti apa gantungan kunci ini pada mu sayang..."
"Aku sangat ingin bertemu dengan orang itu, ingin mengenalkan Abang padanya, mengucapkan terima kasih kepadanya karena malam itu sudah menjadi mas Bintang untukku. Dan juga aku ingin mengatakan padanya bahwa Bidadari kecil itu sekarang sudah memiliki pangeran yang sangat baik hati seperti dirinya, selalu menjagaku dan menyayangi aku dengan tulus."
"Lihat mata Abang sayang..."
Winda memperhatikan manik suaminya dibawah cahaya gantungan kunci bintang itu, Winda mengerutkan keningnya mencari sesuatu yang mengganjal rasa penasarannya.
Lambat laun ia melihat sorot mata yang sama dengan bola mata yang dilihatnya pada anak laki-laki malam itu.
"Jangan bilang jika mas Bintang malam itu adalah kamu bang..." tidak terasa kristal bening meleleh begitu saja dipipi mulusnya berbarengan dengan anggukan kepala Sigit.
"Hm, akulah mas Bintang malam itu Bidadariku, mas Bintang yang menemanimu sepanjang malam dibawah cahaya gantungan kunci bintang ini sayang."
Winda mendekap erat tubuh kekar laki-laki didepannya seraya menangis sesenggukan rasa haru telah dipertemukan dengan teman masa kecilnya dan juga seorang pemimpin keluarga kecilnya. Winda benar-benar tidak menyangka seperti ini kisah mereka yang dipertemukan kembali dari seorang teman menjadi sepasang suami istri, dua kali kisah mereka sebagai teman dipertemukan dan berakhir dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Suamiku... Abang Sigit..."
Sigit membalas pelukan Winda, membiarkan kening mereka bersatu menikmati takdir Tuhan yang sangat indah untuk mereka syukuri.
.
__ADS_1
. Bersambung...🤗🤗🤗
Sarangheo 💞💞💞💞