
Tepat pukul 3.50 sore hari, Sigit sudah sampai diparkiran kantor cabang.
Sigit ingin memberikan surprise untuk istrinya, dia berencana mengajak Winda menikmati sore dengan melewati dinner yang romantis.
Sigit sudah booking tempat favoritnya sebelum sampai dikantor cabang. Mobilnya sengaja diparkirkan disamping gerbang masuk, supaya istrinya tidak melihat kedatangannya, karena dia ingin membuat Winda senang dengan kejutan darinya.
Buket bunga yang disiapkan Sigit di kursi belakang sudah cantik menyambut pemiliknya.Tersungging senyum di kedua pipi Sigit, dia masih mengatur detak jantungnya yang mulai tak beraturan, dia menunggu istrinya keluar dari kantor.
Sigit sesekali melihat arah jam tangannya dan pintu utama kantor, berharap istrinya sudah keluar, dia terus memperhatikan pintu utama kantor dari dalam mobil, hingga keluarlah sosok yang ditunggunya menuju parkiran, bola matanya tidak berkedip untuk beberapa saat ketika melihat sesosok laki-laki yang tidak asing lagi baginya berjalan beriringan dengan istrinya.
Sigit mengurungkan niatnya keluar dari mobil, tangannya kembali dilipat didadanya, kedua bola matanya masih menyaksikan laki-laki itu yang tidak lain adalah Faisal yang mengejar istrinya dari dalam kantor, bahkan dia terkejut disaat laki-laki itu bersimpuh didepan istrinya, seperti seorang pangeran yang memberikan setangkai bunga mawar kepada kekasihnya.
Dadanya semakin bergemuruh melihat ulah Faisal, Sigit masih memperhatikan mereka sampai mereka duduk dikursi tunggu pos satpam,.
Cukup lama Sigit melihat mereka, sepertinya ada hal penting yang mereka bicarakan, sampai kesabaran sigit sudah tidak terbendung lagi ketika Winda dan Faisal tersenyum, Winda menerima setangkai mawar dari Faisal, matanya nanar menyaksikan mereka, Sigit melirik buket bunga yang sudah disiapkan untuk Winda dijok belakang lalu mengambilnya, dia memandangi buket bunga yang sudah ditangannya, ada senyum getir dibibirnya.
"Ternyata kamu tidak ada nilainya dibandingkan dengan setangkai mawar merah itu! " kata Sigit lirih memandangi buket di tangannya, lalu meletakkannya kembali. Sigit mengeraskan rahangnya dengan tangan mencengkram buket istimewanya.
Sigit melirik jam tangannya, hari semakin gelap, dia segera menghidupkan mesinnya, dan mendekatkan mobilnya kearah pos satpam.
Tin tiiin
Sigit memperhatikan raut wajah Winda yang terkejut melihatnya sudah berada di depan pos satpam.
"Ayo masuk. Sudah sore." kata Sigit dari kaca jendela.
Winda beranjak dari duduknya dengan kebingungannya antara ikut suaminya atau naik taksi onlinenya.
Winda berdiri memandangi wajah suaminya yang terlihat kelelahan, ahirnya Winda memutuskan berpamitan kepada pak Eko dan Faisal, dia berjalan menuju mobil Sigit dengan mempercepat jalannya.
"Kok bisa ya mobil Sigit tiba-tiba sudah didepan pos satpam? kapan dia datang? apa akunya saja yang tidak memperhatikan dari tadi. hhhh" kata Winda dalam hati masih dalam rasa heran.
Sigit hanya melihatnya dari balik kaca jendela yang sudah ditutupnya.
Winda segera masuk dan duduk disamping kemudi, lalu memasang selfbelt miliknya.
__ADS_1
Tin
Sigit melajukan mobilnya tanpa melihat Winda sedikitpun, dia terlihat fokus dengan jalan didepannya. Alisnya saling bertautan, mulutnya terdiam tanpa ada suara yang menanyakan perihal yang ada ditangan Winda.
Winda merasa ada gelagat yang tidak mengenakkan dengan diamnya suaminya saat ini, dia mengira karena pengaruh pekerjaanya dikantor, dan bersamaan dengan ujiaan skripsi yang dipercepat tiga hari lagi.
"Besok aku mulai izin tidak masuk kerja Git, mau persiapan ujian skripsi tiga hari lagi. jadi aku hanya lembur dari rumah untuk beberapa hari kedepan."
Winda membuka percakapan berharap ada respon dari suaminya agar keadaan tidak tegang.
"Hmm, tumben mulai bicara, biasanya juga betah-betah aja dia diam sampai rumah. apa ini karena Faisal? dan pengaruh dari magic mawar merahnya? ck, apaan si Git lu ini."
Sigit mengusap wajahnya. Winda memperhatikan suaminya yang masih terdiam belum menjawab pertanyaanya.
"Git." Winda mengulang panggilanya yang ketiga kalinya.
"hmm? " Sigit menoleh kearah istrinya.
"Kamu kenapa? dari tadi aku panggil kamu tidak menjawab. apa belum selesai juga masalah dikantor? " tanya Winda dengan suara yang lembut, dia melihat suaminya seperti dalam banyak masalah.
Tiga puluh menit sudah mereka berada didalam mobil, Winda melihat Jalan didepannya semakin padat, Sigit mengurangi kecepatan mobilnya, sudah hal biasa jika kemacetan terjadi setiap jam pulang kerja.
"Sepertinya jalanan didepan sudah macet Git, kita berhenti dulu yuk dimasjid depan situ, sekalian nunggu shalat maghrib disana." kata Winda dengan senyum kearah suaminya meminta persetujuannya.
"Iya." lagi-lagi jawaban suaminya singkat yang Winda dengar.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk ehem." tiba-tiba suara Winda terbatuk, tanganya mencari air mineral didalam mobil. Sigit melirik kearah Winda.
"Lu kenapa?" tanya Sigit
"Gak tau, tiba-tiba saja tenggorokanku gatal." jawab Winda memegangi tenggorokannya.
"Dari tadi aku kelupaan tidak minum, jadi sekarang...." kata Winda terputus, mendapati mobil sudah berhenti didepan swalayan dan Sigit sudah keluar dari mobil.
"Kenapa si dengan Sigit sore ini? apa dia juga mengalami PMS? heran aku. tiba-tiba diam, tiba-tiba datang, tiba-tiba juga pergi."
__ADS_1
Winda berbicara sendiri didalam mobil, masih dengan mencari air mineral didalam mobil, namun dia tidak menemukannya, justru matanya terpaku melihat seikat buket mawar merah yang segar dijok belakang.
"Buket siapa ini?, apa ada orang lain tadi yang duduk dibelakang? terus ketingglan? " kata Winda masih bertanya-tanya, tangannya mengambil buket itu dan menciumnya.
"Hmmm harum... andai... buket ini Sigit yang membelikan untukku pasti hatiku seindah bunga mawar ini."
"Ngapain lu senyum-senyum sendiri? " mata Winda terbelalak tiba-tiba terdengar suara Sigit sudah di telinganya membuyarkan hayalannya.
Sebotol mineral sudah diulurkan Sigit ketangan Winda, dan sebotol lagi untuk dirinya.
"He he he ini bunga cantik banget Git, harum lagi. Aku nemu dijok belakang lho, punya siapa Git? "
Wajah Winda merona gembira mendapatkan bunga kesukaannya, Winda masih meneliti buket ditangannya, sesekali mencium harumnya mawar.
"Tauk punya siapa! orang nyasar kali! " jawab Sigit asal, tangannya sudah mengemudikan mobil.
"Kirain dari Sigit buat Winda. he he he." jawab Winda tersenyum lepas didepan Sigit.
"Jangan GR." kata Sigit dengan lirikan matanya kearah Winda.
"Sebenarnya itu buat lu Win, gue berharap lu bisa memaafkan perbuatanku selama ini, tapi ternyata lu lebih memilih mawar dari Faisal dari pada gue, jadi gue urungkan niat gue memberikan buket itu untuk lu." kata Sigit dalam hatinya.
Winda masih senang dengan buket mawar ditangannya. Ada rasa senang dalam hati Sigit melihatnya walaupun tidak memberikanya secara langsung.
"Lu seneng? " tanya Sigit
"He em... seneng banget. karena bunga mawar kesukaanku, dan juga ini pertama kalinya aku dapat bunga mawar cantik sebanyak ini. Harum lagi. hmmmm." kata winda menikmati harumnya mawar ditangannya.
"Walaupun itu punyanya orang nyasar. Tapi aku suka." lanjut Winda dengan melirikkan matanya kearah suaminya.
ayo dukung author dengan like, komen, dan vote.
thank's all....💐
__ADS_1