
Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih pada akak-akak yang sudah memberikan support dengan like n komentnya...🌹🌹
teruslah support dengan vote dan hadiah2 yang lain... terimakasih 🤗
❄️❄️❄️
Pagi ini Winda sudah rapi dengan dandanan seperti biasanya dengan menggunakan gamis kerjanya, sedangkan Sigit masih berkutik didalam kamar mandi setelah menyelesaikan tugasnya memeriksa berkas-berkas yang masuk dalam emailnya. Winda meletakkan baju kerja Sigit diatas nakas lengkap dengan jam tangan, dan dasi. Sedangkan sepatunya dia taruh didepan nakas, lalu berjalan menuruni tangga menuju dapur mencari mbok Lastri dan Ningsih yang baru saja menyelesaikan tugas memasaknya.
Sepulang dari acara wisuda kemarin hingga pagi ini Sigit lebih banyak diam berkutat dengan laptopnya, banyak sekali hal-hal yang harus segera dia selesaikan melalui online. Winda hanya mengimbangi tingkah suaminya, dia tidak ingin mengganggu konsentrasi Sigit, Winda hanya sekedar membawakan secangkir kopi dan camilan yang dia letakkan diatas meja kerja suaminya, setelah itu ia kembali membiarkan Sigit sendirian didalam ruang kerja dan kembali menikmati permainan game didalam kamarnya.
"Wah... mbak Winda sudah cantik. Selamat ya mbak atas keberhasilan mbak Winda selama kuliah, ahirnya keringat yang keluar selama kuliah bertahun-tahun terbayar sudah dengan senyuman mbak Winda sekarang. Maaf kemarin Ningsih belum sempat ngasih ucapan selamat, maklum lagi banyak kerjaan dirumah he he he..."
ucap Ningsih pada Winda ketika Winda membantu membawakan sayuran didalam mangkok ke meja makan. Winda hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Tumben aja lu Sih bicara agak berisi, abis minum apa lu tadi?" suara Revan tiba-tiba terdengar yang sudah duduk diatas kursi menunggu dua wanita yang mulai mendekati meja makan. Hari ini mami dan papi Winata sudah pergi pagi-pagi sekali, sebelum pukul tujuh mereka sudah berangkat mengurus bisnisnya diluar kota yang memakan waktu perjalanan sangat jauh.
Ningsih mengangkat bibirnya sebelah kiri mendengar ledekan Revan.
"Mas Revan bisa gak sih, damai bentar sama Ningsih? pasti deh bawaannya ngelegek muluk."
"Ha ha ha... abis... lu sih, ngasih selamat gak ada hadiahnya. Iya gak mbak?"
Winda tidak merespon pertanyaan Revan yang tertuju padanya, dia melirikkan kedua ekor matanya pada Ningsih yang terlihat kesal.
"Nih Sih, kalau mau ngasih ucapan selamat kayak Revan begini... selamat ya mbak sudah berhasil memberikan yang terbaik buat orang tua mbak dengan memberikan prestasi yang baik, sekarang tinggal memberikan hadiah pada kami seorang malaikat kecil abang dirumah ini..."
Kalimat Revan seraya mengulurkan boneka Teddy bear pada kakak iparnya, yang hanya dilihat Winda lalu beralih ke boneka yang diulurkan padanya. Ada perasaan aneh dengan kalimat iparnya ketika mengatakan malaikat kecil abangnya. Winda tersenyum mempunyai rencana untuk Revan yang secara tidak langsung sudah membuatnya tersipu dengan kalimatnya.
"Bonekanya mbak terima ya, terimakasih..."
Winda mengambil boneka dari tangan Revan, matanya melirik dua orang didepan meja lalu berjalan memutarinya dan berhenti didepan Ningsih.
__ADS_1
"Buat kamu Sih."
Revan dan Ningsih saling pandang dengan kedua bibir terbuka, terbengong dengan tingkah Winda. Ningsih menerima boneka yang diletakkan Winda ditangannya dengan kening berkerut tidak mengerti maksud Winda.
"Bu-buat Ningsih mbak? kok dikasih Ningsih? bukannya ini...."
"Iya buat kamu, Karena kalau mbak lihat boneka itu pas sebagai hadiahmu Sih, kalian sangat cocok kalau dilihat dari segi keakraban. Sama kayak Tom and Jerr, hi hi hi..."
Winda terkekeh melihat wajah kedua manusia yang terbengong.
"Hati-hati kalau berjodoh nantinya ha ha ha..."
Winda terkekeh menertawakan raut muka Revan yang terlihat kesal dengan ledekannya.
"Ehm, ehem."
Tanpa disadarinya Sigit sudah berada dibelakangnya melihat tingkahnya yang sedang mengerjai adiknya, namun siapa sangka jika ledekannya justru mengena dihati suaminya.
"O o.."
"Seneng?" ucap Sigit pada Winda sambil menarik kursi duduknya.
Revan dan Ningsih tidak mengerti apa arti dari tatapan sepasang suami istri itu.
❄️❄️❄️
Tepat pukul 09.00 sesuai janji yang sudah disepakati Sigit dan Willy, mereka bertiga sudah duduk berhadapan disebuah meja yang sudah dipesan Sigit sebelumnya. Sambil diiringi lagu-lagu kafe, mereka bercanda dan ngobrol sekedarnya. Winda tidak mengerti jika pertemuan mereka sebenarnya sudah direncanakan oleh suami dan sahabatnya, Sigit mengajaknya ke kafe dengan alasan ingin merilekskan pikirannya sejenak, karena kecapekan semaleman bergelut dengan pekerjaan.
"Begini Win, langsung saja keinti pembicaraan. Sebenarnya gue sama Sigit dulu teman satu angkatan satu sekolah bahkan satu nasib sampai sekarang, entah kenapa Tuhan selalu menyandingkan dia sama gue."
Willy memulai awal kisah ceritanya pada Winda tentang masalalu mereka sampai pernah masuk kuliah di negeri kincir angin walau hanya beberapa semester saja, hingga mereka kembali kuliah di Indonesia lagi. Willy sekali-kali berhenti sejenak, berhati-hati ketika menceritakan kejadian dimalam ulang tahun Anita yang membuat sebuah insiden pertama kalinya Sigit seperti itu.
__ADS_1
Cerita Willy sama seperti cerita yang disampaikan Sigit padanya, sehingga mengundang rasa curiga Winda pada kedua sahabat itu, dia merasa Sigit dan Willy telah berkompromi mengarang cerita mereka, sehingga dia menghalau perkataan Willy.
"Begitulah cerita yang sebenarnya karena akulah orang yang berada disana saat Sigit merasa tersiksa."
"Hm. Begitu ya? apa kamu tahu wil? apa akibatnya jika hasrat seorang laki-laki jika tidak segera tersalurkan? kamu tentunya sudah tau betul apa akibatnya, dan juga tidak semudah dengan hanya membuka semua bajunya saja untuk bisa meredakannya. Udah deh Wil jangan..."
"Oke, gue tahu itu, gue tau. Tapi Lu juga harus tahu Win, jika seorang lelaki mengalami hal seperti itu tanpa melakukan hal yang hina, maka kita harus memberikan pertolongan pertama yaitu segera menghubungi petugas medis. Karena gue belum pernah menangani orang seperti itu. Jadi saat itu gue langsung hubungi dokter Rozi. Suami lu juga kenal dia, karena dia adalah dokter spesialis. Waktu itu dokter Rozi nyuruh gue melakukan beberapa pemeriksaan, yang pertama, gue disuruh memeriksa pernapasan Sigit. Jika saat itu pernapasan Sigit tidak normal, gue disuruh mencoba memberikan pernapasan buatan atau CPR.Yang kedua, jika Sigit sampai kehilangan kesadaran tetapi masih bernapas, gue disuruh membaringkan dia ke sisi kiri. Lalu, menekuk kaki bagian atas sampai lutut berada di atas pinggang. Yang ketiga, gue disuruh melonggarkan pakaian yang Sigit kenakan dan menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat, maka dari itu gue buka semua bajunya dan hanya menyisakan ce**na dalamnya saja, kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut, agar suhu tubuhnya tetap hangat. Gue menyewa kamar dari penginapan lain husus untuk Sigit, agar tidak diketahui Anita." jelas Willy panjang lebar membuat Winda terdiam, sedangkan Sigit terbengong karena dia juga baru mengetahui cerita yang sebenarnya setelah Willy menceritakan semuanya.
Willy memperhatikan wajah Winda yang terlihat sedikit tenang.
"Sekarang gue tanya ke lu Win, lu pasti ingat bagaimana hubungan malam pertama kalian, pasti lu bisa melihat dari situ, sudah pengalaman apa belum suami lu itu."
"Apaan si Will." suara Winda kesal mendengar perkataan Willy.
"Ingat ya Will, sebentar lagi kamu menikah dengan Silvi, jangan sampai urusan yang menyangkut didalam ukuran dua kali tiga itu dibicarakan pada orang lain, siapapun itu orangnya. Abang juga! tidak boleh ember. karena itu larangan keras, ingat itu!!" lanjut Winda dengan lirikan tajam diarahkan pada Willy dan Sigit bergantian.
"Ha ha ha malu ya..." goda Willy pada Winda yang mengetahui maksud dari perkataan Winda yang tidak lain adalah urusan diatas ranjang.
"Sudah sudah hentikan Will." lerai Sigit.
"Iya ya gue lupa kalau gue lagi ngomong sama Winda ha ha ha..." Nada Willy masih sedikit meledek Winda.
Winda mengaduk-aduk coffe latte dalam cangkirnya seraya membuang rasa kesalnya pada Willy, yang dia rasa Willy sudah mulai tertular penyakit gemar ngeledek dari suaminya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...🤗🤗
Saranghe...💞💞