Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 104


__ADS_3

"Saya puas dengan apa yang sudah anda presentasikan tadi anak muda, jadi kami memutuskan kerjasama ini terjalin dengan baik dan saling menguntungkan." jawab salah satu kolega papinya yang memutuskan kerjasama dengan perusahaannya kembali walaupun sempat diawal mereka membatalkan kerjasamanya.


Tidak terasa hampir satu bulan kerja keras Sigit mengurus perusahaan selama di Singapura membuahkan hasil, sehingga impian ingin segera kembali ke Indonesia akan terwujud.


"Terimakasih atas kepercayaannya pak, harapan saya juga sama dengan bapak, semoga proyek ini lancar." Sigit menimpali perkataan koleganya.


Mereka berjabat tangan sebelum keluar dari ruangan rapat.


Sigit mengantar koleganya sampai didepan pintu dan tersenyum mempersilahkan mereka.


Setelah meeting selesai Sigit segera memasuki mobilnya menuju penginapan.


Ada gurat senyum bahagia menghias wajahnya ketika didalam mobil hingga ia berjalan memasuki kamarnya.


Ia meletakkan perlengkapan meetingnya diatas meja, lalu membuka jas dan berlalu menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Setelah merasa segar tubuhnya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang meluruskan otot tubuhnya yang menegang saat meeting tadi.


Seperti biasa ia meletakkan tangannya di atas kepalanya, tidak sengaja tangannya memegang gantungan kunci yang berada dibawah bantalnya. Gantungan kunci yang membuatnya penasaran selama ini.


Ia meraih gantungan kunci itu dan memperhatikannya dengan teliti.


"Gantungan kunci yang aneh, kenapa setelah bertahun-tahun lamanya kini bertemu lagi?" ucap Sigit meneliti benda ditangannya.


Ia terdiam dan membayangkan wajah bidadari yang bersamanya malam itu.


Tersenyum.


Ada rasa bahagia ketika ia mengingat wajah bocah kecil itu.


"Dia begitu lucu, gadis kecil yang penakut."


"Tapi... kenapa hati kecilku yakin jika pemilik gantungan kunci bintang ini bukanlah bidadariku?" lirihnya masih dengan menatap benda itu.


"Tidak. Aku harus mengembalikan gantungan kunci ini padanya besok sebelum aku pulang. Bagaimanapun juga ini adalah miliknya, aku sudah tidak peduli dengan ini semua karena aku sudah punya masa depan yang sangat berarti dalam hidupku, bersama istri dan anakku." ucap Sigit membara ketika mengingat istri dan anak yang dikandung Winda.


Sigit memperhatikan bentuk gantungan kunci itu, digerakkan kekanan dan kekiri. Ia merasa ada yang berbeda dengan gantungan itu. Ia mengerutkan keningnya teringat kata-kata pembuat gantungan kunci beberapa tahun silam, ketika papi memesan gantungan kunci untuk ketiga putranya saat itu.


Pembuat gantungan kunci bintang miliknya dan kedua saudaranya telah mendesain sangat epik, berbeda dari yang lain sehingga unik sekali milik mereka.


"Nak, gantungan kunci bintang ini berbeda dengan gantungan kunci bintang yang lain, sekilas jika dilihat sama tetapi jika diteliti sangat berbeda jauh." Kata pembuat gantungan kunci.


"Kek, apa yang membuat gantungan kunci bintang ini berbeda dengan gantungan kunci yang lain?" tanya Bram kecil waktu itu.


"Iya kek, ini bentuknya sama cuma terlihat berbeda karena ini ada lampunya dan ada bubuk didalamnya?" imbuh Sigit kecil menanyakan rasa penasarannya dengan memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang dilihatnya.


"Anak pintar, siapa nama kalian?" tanya pembuat gantungan itu sambil jongkok menyamakan tinggi mereka.


"Saya Bram kek."

__ADS_1


"Kalau saya Sigit Andra Winata." jawab Sigit kecil dengan lantang menyebutkan nama lengkapnya.


"Hahaha... Anda memiliki putra yang hebat tuan." ucap kakek itu pada papi.


Papi tersenyum mendengar pujian kakek pembuat gantungan kunci itu. Bangga dengan keberanian putranya.


"Nak Bram, nak Sigit, ingat perkataan kakek ini baik-baik ya..." kata kakek itu yang diangguki kepala oleh kedua bocah didepannya.


"Lampu bintang yang berada didalam gantungan kunci ini akan menyala dengan sendirinya jika berada ditangan kalian. Dan jika suatu saat nanti kalian sudah bertemu dengan bidadari hati kalian, maka tidak hanya lampu bintang saja yang bercahaya tetapi bubuk didalamnya yang disebut glitter ini akan ikut bertaburan kesana sini sehingga akan terlihat seperti hujan salju. Maka dari itu kakek hanya membuat secara husus tiga gantungan kunci bintang ini hanya sesuai permintaan ayah kalian yang ingin memberikan hadiah spesial untuk ketiga putranya." Lanjut kakek tua itu menjelaskan panjang lebar.


Kakak beradik itu memperhatikan gantungan ditangan masing-masing, sedangkan milik adek mereka masih terbungkus rapi didalam kotaknya. Gantungan yang itu milik Revan yang masih bayi.


"Coba kalian tukar gantungan kunci bintang itu." kata kakek memerintahkan kedua kakak beradik.


Bram dan Sigit pun mengikuti perintah dari kakek didepan mereka dengan saling menukar gantungan kunci bintang mereka. Namun mereka justru tertegun melihat gantungan yang berada ditangan masing-masing.


Mati.


tidak ada cahaya yang terpancar dari bintang itu.


Sigit menoleh kearah si kakek, begitu pula dengan Bram penasaran.


"Kok mati kek punya bang Bram saya pegang?"


"Iya punya Sigit juga mati kek bintangnya?"


Kakek tua itu tersenyum kearah papi lalu beralih pada kedua bocah kecil itu.


"Iya kek." jawab kedua bocah itu berbarengan.


 


"Gantungan kunci ini?" Ucap Sigit tertegun melihatnya setelah teringat pesan si kakek yang sudah membuat gantungan kunci bintang miliknya dan kedua saudaranya.


"Kalau ini benar milikku harusnya dia menyala seperti kata kakek waktu itu, kenapa ini tidak?" tanya Sigit sambil menggerak-gerakkan gantungan itu.


"Atau jangan-jangan ini adalah gantungan kunci bintang yang sama tapi tidak serupa?" lanjut Sigit.


"Iya ini bukan milikku." ucap Sigit dengan mata berbinar.


"Tapi... kalau dipikir-pikir ketika aku bersama bidadari waktu itu kenapa bintang itu bisa menyala bersamaan dengan glitter yang berhamburan sehingga bisa seperti salju ya?" tanya Sigit heran mengigat peristiwa bersama bidadari saat itu, dimana peristiwa dan perkataan kakek tua itu bisa terjadi ketika ia bersama teman masa kecilnya yang entah dimana keberadaannya.


"Bodoh kamu Git, bener-bener bodoh kamu! apa kamu masih mencari pemilik benda itu hm? sementara istri? kamu sudah punya Winda, dan dia sekarang sedang berjuang untuk anakmu yang ada didalam rahimnya. Sudahlah Git hentikan semua ini." Sigit berkata sendiri memaki dirinya sendiri.


Ia meletakkan benda itu diatas meja dan mencoba memejamkan matanya.


❄️❄️❄️


Pagi ini sebelum berangkat menuju perusahaan cabang yang sudah disepakati oleh kedua atasannya, Winda sudah berada di kafe teratai. Kafe yang dijanjikan laki-laki yang baru dikenalnya.

__ADS_1


Entah kenapa ia menuruti perkataan laki-laki itu.


Winda memasuki kafe dan mencari orang yang mengajaknya bertemu.


"Ternyata kamu datang juga ya?" tiba-tiba suara laki-laki itu sudah berada di sampingnya.


"Iya karena saya kasihan sama kamu, sepertinya mas dalam kesulitan." jawab Winda asal menghilangkan rasa canggungnya.


"Apa anda bilang? kasihan sama saya? memang ada tampang ya mbak saya seperti itu, sampai-sampai anda berkata begitu." jawab Aldi menertawakan jawaban Winda.


Winda memperhatikan kedua bola mata laki-laki didepannya.


"Maaf mas sebelumnya, ada perlu apa ya mengajak saya ketemuan pagi-pagi begini?" tanya Winda tanpa basa-basi.


"Oh iya ini tas anda ketinggalan ketika di minimarket waktu itu." Aldi menyodorkan tas dari tangannya.


Winda terkejut melihat benda yang disodorkan laki-laki itu kepadanya.


"Loh? ini kan tasku mas? kok bisa sama mas ya?" tanya Winda.


"Tadi kan sudah saya bilang mbak, tas anda ketinggalan di minimarket malam itu."


"O iya ya... wah terimakasih loh mas atas kebaikan mas." Winda tersenyum pada laki-laki itu.


"Sama-sama, tapi anda harus janji mentraktir saya besok disini lagi sebagai rasa terimakasihnya."


"I-iya tentu. Saya akan mentraktir anda besok."


"Janji ya? saya tunggu nih besok disini sore hari jam empat." kata Aldi seraya menunjukkan keempat jarinya.


"Iya insyaallah saya kesini besok sore ya mas." jawab Winda.


"Terimakasih ya, saya pamit dulu karena saya sudah ada janji sama teman, permisi." lanjutnya mengakhiri pertemuannya.


"Silahkan."


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


double up ya... biar terobati kangennya sama Abang.


Nah loh.... makin sayang sama Abang Igit kan?

__ADS_1


ayo dukungannya makin semangat lagi kak ...


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2