
Wajah Sigit terlihat lebih segar setelah mandi, dia menggeser letak bantalan kursi yang berada dibelakang punggungnya disandaran sofa lalu duduk bersila, sekilas dia menatap wajah Winda yang duduk didepannya lalu tersenyum kecil.
''Emm... gimana ya cara ngejelasinnya sama kamu...'' tangan kanan Sigit memegang dagu sedangkan tangan kiri bersedekap menjadi tumpuan siku tangan kanannya berfikir mencari ide yang tepat untuk menjawab pertanyaan Winda.
Winda meredam rasa kesalnya pada Sigit, dia merasa Sigit telah berani mencuri kesempatan dengan mencium bibirnya barusan disaat hanya ada mereka berdua.
Sigit mengangkat tangan kanannya dari dagu seperti sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan Winda.
Winda melihat pergerakan Sigit.
''Gini, kamu tau apa itu amnesia?" tanya Sigit.
"Hm. Tau. Kenapa?" jawab Winda sambil menajamkan lirikannya pada Sigit.
Sigit mulai membuka suaranya dengan penuh hati-hati.
"Aku punya teman, dia seorang wanita yang sangat baik, baik hatinya, perangainya, sopan, smart dan... cantik tentunya."
Sigit mencoba membungkus kisah mereka dengan alibi seolah-olah terjadi pada orang lain, dia melirikkan pandangannya pada Winda saat kalimat terahirnya.
Winda terlihat serius mendengarkan cerita Sigit.
"Terus? apa masalahnya?"
Sigit melihat Winda yang mulai tertarik dengan ceritanya, ada perasaan was-was dalam hati Sigit akan psikis Winda ketika berniat melanjutkan ceritanya, tetapi dengan melihat istrinya yang enjoy saja mendengarkan ceritanya, diapun melanjutkan ceritanya kembali dengan sesekali menggigit apel dari genggamannya.
"Dia sudah menikah dengan teman kuliahnya yang suka jail, suka mengganggunya sedari semester pertama kuliah sampai beberapa semester, saat menikah istrinya tidak mengetahui prosesi akad nikah mereka, karena saat itu dia dalam keadaan tidak sadarkan diri dari kecelakaan yang dialaminya, ketika teman laki-lakinya menolongnya justru mereka malah digrebek lalu disuruh menikahinya karena dikira warga sekitar mereka sedang melakukan hal-hal seronok, ahir cerita merekapun ahirnya dinikahkan warga. Yah.... awalnya ada sedikit perbedaan sih dalam pernikahan mereka karena masih penyesuaian mungkin, tetapi sesuai keadaan lambat laut mereka bisa saling menerima semuanya."
Jeda Sigit sembari memperhatikan reaksi istrinya yang terlihat semakin penasaran dengan mengerutkan keningnya. Sigitpun melanjutkan ceritanya.
"Suatu hari... mereka pergi bersama teman-temannya untuk menghadiri acara pertunangan sahabatnya, teman perempuanku tadi qadarullah mengalami kecelakaan. Dimana kecelakaan itu membuatnya trauma kembali dari masa kecilnya dan membuat dia koma selama sebulan lebih terbujur diruang ICU." ucap Sigit terhenti menatap Winda.
"Hm... malang sekali temanmu itu. Terus bagaimana keadaannya sekarang?" sela Winda sambil mengunyah anggur.
"Ya, Alhamdulillah ahirnya dia sadar kembali, tapi..." Sigit menjeda kalimatnya sambil menatap manik hitam istrinya, membuat Winda mengerutkan keningnya, penasaran.
"Tapi kenapa?" Winda memiringkan wajahnya menatap Sigit.
Sigit masih menatap Winda, lalu membuang muka dari Winda dan melanjutkan kalimatnya yang terputus.
"Teman perempuanku tadi tidak mengingat suaminya, dia hanya mengingatnya sebagai temannya saja."
"Kasihan dong suaminya terlupakan begitu saja." ucap Winda.
"Tapi kalau menurut aku sih mereka sama-sama kasihan, sebaiknya suaminya juga harus mengatakan yang sebenarnya secara pelan-pelan agar istrinya bisa menerima kalau mereka sudah menikah." lanjut Winda.
"Apa kira-kira istrinya bisa menerima itu?" pancing Sigit setelah mendengar pendapat Winda.
"Ya... awalnya mungkin istrinya akan berontak tidak percaya dengan pernyataan suaminya, kalau aku dengar dari ceritamu tadi secara pertemanan mereka tidak akur, butuh waktu kayaknya untuk istrinya bisa menerima kenyataan bahwa temannya itu adalah suaminya, jika suaminya memberitahukannya secara memaksa, bisa jadi mental istrinya terganggu karena belum siap mengingat memorinya. Tapi kalau menurutku lebih baik suaminya jangan sampai jauh darinya, dia harus selalu berada disisi istrinya, karena... bisa jadi dengan sering mereka bersama kemungkinan ada momen yang terulang kembali dan mampu menggerakkan motorik saraf otak istrinya mengingatkan hubungan mereka lagi secara perlahan." ucap Winda panjang lebar kepada Sigit.
Sigit mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Winda begitu saja seolah mendapatkan sinyal dari istrinya diapun berpikir menyusun rencana sambil tersenyum puas.
"Ok rencana awal akan aku susun, terimakasih sayang atas pendapatnya, dengan perkataanmu barusan bisa membuatku semangat lagi untuk meyakinkan dirimu."
__ADS_1
pikir Sigit sambil tersenyum simetri dibibirnya.
"Kenapa tersenyum?"
tanya Winda heran melihat Sigit tersenyum sendiri.
"Emm... ide bagus itu, nanti aku sampaikan kesuaminya biar dia melakukan seperti apa yang kamu katakan."
jawab Sigit mencari alasan yang tepat.
"Memang siapa sih Git? apa aku kenal sama istrinya tadi?" tanya Winda.
Sigit terhenyak mencoba mencari jawaban yang tepat lagi untuk pertanyaan istrinya.
"Nanti aku kenalin sama dia kalau ada waktu dianya ya..." jawab Sigit asal.
Winda melihat jam didinding sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit.
"Ibu lama ya gak dateng-dateng."
"Memang kenapa Win? kamu butuh sesuatu?"
"Gak sih cuma ngantuk saja."
"Ya sudah tidur saja sana, kan ada abang yang nungguin Win..."
Sigit tidak menyadari perkataannya sehingga membuat Winda membulatkan matanya tajam kearahnya.
"Kamu kenapa melotot begitu? ada yang salah denganku?" Sigit belum menyadari penyebab istrinya marah padanya.
"Kenapa??"
"Kamu bener-bener aneh Git, kemarin di ruang ICU kamu cium keningku, megang-megang tanganku, tadi cium bibirku lagi, terus barusan nyebut abang... dari mana coba ceritanya kamu bisa seenaknya sendiri seperti ini Git?"
Sigit terdiam melihat istrinya yang sedang curiga dengan tingkahnya, lalu mengambil remot Tv diatas meja dan memencet-mencet tombol remot.
"Sudah sana tidur biar bisa cepat pulang, jangan hawatir aku nunggunya disini."
kata Sigit pada Winda.
Winda terlihat kesulitan beranjak dari duduknya untuk berdiri, Sigit pun berniat membantunya, namun ditepis oleh Winda lalu berjalan sendiri menuju ranjang.
Tok tok tok
Winda duduk diatas ranjang , ketika
suara pintu diketuk dari luar.
Ceklek
"Maaf pak, bu sudah waktunya makan siang." seorang perawat membawa masuk nampan makananan Winda, lalu meletakkannya diatas nakas.
"Iya sus terimakasih ya." balas Winda sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama bu,"
Susterpun segera keluar ruangan setelah menyelesaikan tugasnya.
Winda hanya melirik makanan rumah sakit yang terasa hambar menurutnya, lalu berbaring diranjangnya segera tertidur karena pengaruh dari obatnya.
Suasana hening didalam ruang rawat inap Winda, hanya suara televisi yang masih hidup karena tidak lama setelah Winda tertidur Sigitpun ikut terlelap diatas sofa.
❄❄❄
Winda terlihat panik sampai jam sembilan malam ibunya belum juga datang, dan diapun sudah berulang kali menghubunginya namun panggilannya selalu tidak aktif.
Sigit mengetahui jika istrinya merasa tidak nyaman dengan hanya mereka berdua didalam ruangan.
"Tadi ketika dokter memeriksamu. Aku pergi kekantin dan ibu menghubungi aku, ibu bilang kalau ibu sama bapak tidak bisa datang kesini karena urusannya belum juga selesai, jadi mereka meminta aku yang menunggumu." ucap Sigit ketika melipat sajadah di samping ranjangnya.
"Memangnya kamu tidak ada kerjaan apa? selalu menungguku disini?"
"Tidak, justru semakin menyenangkan." jawab Sigit sambil meletakkan lipatan sajadahnya disandaran sofa.
"Sudah cepat tidur sana, besok pagi biar segera pulang kerumah, tidak bosen apa disini terus?" lanjut Sigit.
Winda membetulkan selimut ditubuhnya, merasa hawatir dengan tingkah Sigit, yang selalu memberikan kejutan untuknya secara tiba-tiba.
"Awas jangan coba-coba kurang ajar kamu nanti ya kalau aku sudah tertidur." ucap Winda memperingatkan Sigit mengingat dirinya pasti tidak akan merasakan apapun jika sudah tertidur karena pengaruh obat.
"Sudah tidak usah mikir macem-macem, sekarang tidur." titah Sigit.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Winda memejamkan matanya, karena pengaruh obatnya membuat Winda cepat terlelap.
Melihat istrinya sudah terlelap, Sigit mendekati Winda dengan duduk disisi ranjang lalu membelai kening istrinya.
"Kamu tidak tahu Win, betapa senangnya hatiku bisa melihatmu seperti ini lagi, bisa berdekatan, berbincang-bincang berdua lagi, akan aku lakukan apa yang kamu katakan tadi siang sesuai rencanaku yang sudah direstui orang tua kita. Maafkan aku yang tidak memberitahumu jika sebenarnya tadi ketika dokter memeriksamu aku menemui papi, mami, bapak dan ibu untuk tidak menunggumu disini dan mengizinkan aku melakukan rencanaku besok untuk selalu bersamamu, Winda Zilvana Idris cupppp cup." kata Sigit lirih dengan diahiri kecupan dikening dan bibir tipis istrinya.
"Sungguh bibir yang manis." Sigit tersenyum memperhatikan bibir istrinya setelah mengecupnya.
"Selamat tidur sayang..."
Sigit beranjak dari duduknya dan berlalu menjauh dari ranjang.
.
.
.
.
.Bersambung....
Terimakasih kepada semua yang sudah kasih boom likenya...😍😍
jangan lupa koment dan Votenya juga...
__ADS_1
saranghe....💞💞