
"Sudah Win cepat pulang ayo, besok kita kan mau melakukan survei di kantor cabang? kasihan debay nya loh kalau kamu terlalu sibuk."
Dian mengingatkan Winda agar segera pulang begitu rapat sudah selesai.
Hasil rapat memutuskan mereka bertiga, Dian, Winda dan Firman yang akan melakukan survei langsung ke kantor cabang yang terletak di pedalaman, Winda tidak keberatan jika dirinya masih sanggup melakukannya.
Winda tersenyum pada Dian, ia membereskan berkas diatas meja kerjanya dan bersiap pulang sesuai anjuran Dian.
"Iya baik mbak. Terimakasih atas perhatiannya." ucap Winda sembari beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ya iyalah perhatian dengan istri pak bosss, biar dapat bonus lebih." jawab Dian seraya tersenyum dan memainkan sebelah alisnya pada Winda.
Winda mengetahui kebiasaan Dian yang sering menggodanya saat Dian belum mengetahui statusnya sebagai istri Sigit. Dian pun tahu batasannya sebagai rekan kerja yang sudah kenal baik dengan istri atasannya itu jika sedang bercanda, ia hanya berani menggodanya jika hanya ada mereka berdua saja.
Winda tersenyum meliriknya.
"Hm, perlu dilaporin nih lama-lama..."
"Ha ha ha ha..." mereka tersenyum riang menertawakan candaan mereka sendiri.
Winda sudah selesai membereskan meja kerjanya, begitu juga dengan Dian.
Mereka berjalan keluar menuju parkiran secara bersamaan sambil melanjutkan candaannya lalu memasuki mobil mereka masing-masing.
Winda masuk kedalam mobil yang sudah ditunggu Riyan.
Riyan melajukan mobil menuju jalan raya ikut memeriahkan kebisingan kota Jakarta di sore hari.
"Yan, berhenti sebentar di kafe teratai ya saya ingin sekali minuman yang ada disana."
"Iya mbak."
Winda ingin sekali mampir di kafe, merasakan minuman yang pernah ia dan Sigit cicipi. Entah kenapa tiba-tiba saja ia membayangkan minuman disana terasa segar.
Riyan memarkirkan mobilnya dihalaman kafe teratai, ia memilih menunggu Winda saat ditawari masuk bersama.
"Ya sudah kalau begitu tunggu dimobil saja ya atau kalau kamu berubah pikiran boleh menyusul kedalam."
"Ya mbak."
Winda melangkahkan kakinya memasuki kafe dan segera memesan minuman yang ia inginkan, lalu memilih tempat duduk yang berada di tengah kafe.
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt
🎵🎵🎵
Winda membuka tasnya dan meraih benda yang bergetar dan berdering itu.
"Abang?" ia membaca nama yang menghubunginya. Kemudian mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum Abang... apa kabar?"
tanya Winda dengan raut wajah ceria setelah melihat suaminya dari layar hpnya.
"Waalaikumsalam, Abang sedang tidak baik-baik saja sekarang." suara Sigit lirih.
"Kenapa?" Winda tertegun dengan jawaban suaminya yang menjawab pertanyaannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
"Abang rindu tau sayang. Disini tidak ada kamu rasanya hari-hari Abang seperti malam yang sunyi."
"Gombal ya Abang..." jawab Winda sambil tersenyum.
"Serius sayang." suara Sigit meyakinkan istrinya.
"Doain aja semoga meeting nanti malam membuahkan hasil, jadi dua hari lagi Abang sudah bisa pulang." lanjut Sigit.
"Aamiin, aku selalu berdoa untuk abang kok setiap selesai sholat. Abang yang sabar ya."
__ADS_1
"Kalau dengar istri abang seperti ini jadi semakin bertambah deh rindu Abang." balas Sigit dengan tersenyum.
"Ya sudah Abang istirahat dulu sana, capek kan?" Winda mengalihkan pembicaraan mereka agar suaminya tidak tersiksa jika melihatnya terlalu lama.
"Sebentar dulu." putus Sigit meneliti tempat Winda yang terlihat sedang tidak berada di rumah ataupun dikantor.
"Sekarang kamu lagi dimana? jangan kelayaban ya kalau suami sedang tidak dirumah?!" ucap Sigit menyelidik.
"Oh ini di kafe teratai bang." Winda faham jika suaminya menghawatirkan dirinya.
"Abang tau nih... kamu lagi kangen sama Abang ya sekarang makanya mampir kesitu?"
Winda menjawabnya dengan sebuah senyuman dan anggukan.
"Yah cuma ngangguk dan senyum doang, jawab yang romantis sayang." bujuk Sigit pada Winda.
Winda menengok kekanan dan kekiri memperhatikan sekitarnya, siapa tahu ada yang memperhatikannya, namun setelah memastikannya tidak ada yang memperhatikan dirinya ia membalas suaminya.
"Iya Winda sangat sangat sangat merindukan Abang pulang, secepatnya bersama Winda lagi."
"He he he gitu doang? ya sudah deh tidak apa-apa. Abang matiin dulu ya video callnya, by by... jaga diri baik-baik selama Abang belum pulang, hati-hati jagain buah hati kita, love you." Sigit mengakhiri percakapan mereka, namun panggilan masih aktif.
Winda tersenyum memandang tingkah suaminya dari balik layar.
"Udah bang."
Sigit memainkan alisnya, seakan menunggu sesuatu dari istrinya.
Winda memahami isyarat permainan alis suaminya iapun segera menjawab Sigit dengan tersenyum.
"Iya iya, i love you too Abang."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tanpa sepengetahuannya ternyata ada seseorang yang telah memperhatikan dirinya saat dia baru memasuki kafe tersebut. Dia adalah seorang laki-laki yang duduk tepat dibelakang Winda.
Dengan sangat jelas laki-laki itu mendengarkan percakapannya dengan Sigit.
"Lucu juga ternyata jika seseorang sedang dimabuk cinta saat LDR an hehehe." batin laki-laki itu menertawakan Winda.
Aldi, nama laki-laki itu yang sudah memperhatikan dan mendengarkan percakapannya.
"Siapa tadi namanya?" batinnya lagi mengingat nama wanita dibelakangnya.
"Winda, iya Winda. Wanita yang punya tas itu." lanjutnya setelah mengingat sosok itu.
"Ternyata Tuhan mempertemukan kita disini, heh... keberuntungan apa yang sedang memihakku hari ini."
Aldi berdiri beranjak dari kursinya bertepatan dengan seorang pelayan kafe yang membawakan pesanan Winda, ia menghampiri Winda.
"Silahkan mbak." kata pelayan kafe itu.
"Iya terimakasih ya mbak." jawab Winda tersenyum pada pelayan wanita itu.
"Sama-sama." pelayan itu berlalu setelah melayani pelanggannya.
"Hai," sapa Aldi pada Winda.
Winda mendongakkan kepalanya pada seseorang yang tiba-tiba datang menghampirinya dengan membawa sebuah cangkir ditangannya.
"Boleh saya duduk?" tanya Aldi seraya menggeser kursi didekat Winda.
Aldi tersenyum tenang saat melihat wanita didepannya yang tertegun memperhatikan dirinya.
"Ternyata benar ya pepatah itu, dunia tidak selebar daun kelor. Nyatanya saya bisa bertemu lagi dengan anda disini." kalimat Aldi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Hm?" Winda heran, terlihat sedang berpikir keras mengingat siapa sosok didepannya sekarang.
"Apa? bertemu lagi? memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Winda penasaran.
"Ya, saya orang yang sudah ngomel-ngomel di minimarket waktu itu pada seorang wanita yang berhijab sama seperti anda." Aldi menjelaskan.
Winda diam berusaha mengingat peristiwa yang terjadi sesuai perkataan laki-laki didepannya.
"Minimarket?"
Winda mengulang tempat yang dikatakan Aldi.
"Ah jangan-jangan dia termasuk orang-orang yang mengaku namanya Aldi lagi, sama seperti orang yang datang kerumah karena mereka tahu kalau aku sedang mencari seseorang yang bernama Aldi. Bisa gawat ini."
Winda justru mengingat beberapa hari terakhir ini, sudah ada sepuluh orang yang mengaku namanya Aldi setelah dia mendapatkan kabar dari bik Ratna yang mengatakan ada seorang laki-laki yang bernama Aldi datang kerumah dengan memberikan kartu namanya, namun sayang kata bik Ratna kartu nama itu ikut terbuang saat dia membuang sampah di bak truk. Bik Ratna sempat mengingat alamatnya saja, yaitu di Jakarta tidak jauh dari tempatnya.
Maka dari itu ia berusaha mencarinya sendiri tanpa memberitahukan Sigit terlebih dahulu.
"Masih belum mengingat saya?" ucap Aldi memecah lamunan Winda.
"Siapa ya?" tanya Winda akhirnya.
"Saya adalah laki-laki yang secara kebetulan bertemu dengan anda malam itu, sekitar hampir subuhlah di minimarket, dan saya adalah laki-laki yang makan snack didepan kasir karena sudah tidak tahan menahan rasa lapar saya waktu itu, sehingga diolok-olok wanita didepan anda." Aldi menceritakan peristiwa itu dengan detail.
Winda mengangkat alisnya tersenyum mengingat peristiwa itu. Aldi melihat sorot mata dan senyuman sekilas Winda, mengingatkannnya pada Azam sahabatnya.
"Kenapa wajahmu terlihat disini Zam? kenapa mata dan senyumannya begitu sama denganmu. Dan... kenapa juga hatiku terasa dekat dengannya seolah aku sudah lama mengenalnya, padahal hanya dua kali ini aku baru bertemu dengannya."
"Sudah ingat?"
"Iya iya saya ingat sekarang, oh jadi kamu laki-laki itu? lucu sekali sikap mas dan mbak-mbak itu malam itu hehehe sempat kepikiran kirain kalian adalah sepasang pengantin baru, jadi ya masih banyak penyesuaian gitu dengan pasangan." Winda tertawa lepas saat mengingat sikap Aldi yang ngomel-ngomel.
"Oh iya, saya tadi sempat dengar percakapan anda dengan... pacarnya ya?" Aldi membuka pembicaraan setelah suasana hening sesaat, ia benar-benar merasa semakin dekat dengan wanita didepannya itu.
Winda tersenyum lucu menertawakan pertanyaan laki-laki itu.
"Bukan, dia su..."
"Sebentar sebentar ada panggilan, sebentar ya?"
Aldi memotong kalimat Winda ketika hpnya bergetar dan berdering. Lalu mengangkatnya.
Winda kembali menyeruput minumannya dan membiarkan laki-laki itu menjawab teleponnya.
"Oh sorry banget nih, aku harus cabut sekarang. Dan tolong besok pagi-pagi sekali kita ketemu lagi disini ya, ada sesuatu yang ingin aku berikan pada anda." ucap Aldi terlihat sedang tergesa-gesa berpamitan pada Winda.
"Sorry." lanjut Aldi menggeser kursinya dan beranjak pergi.
Winda mengerutkan keningnya heran.
"Aneh, belum kenal tapi sok akrab tu orang. Bener-bener orang aneh, ngajakin janjian lagi heh... kayak orang kurang kerjaan aja." lirih Winda menggerutu setelah orang itu berlalu.
"Jangan lupa besok saya tunggu disini!" teriak Aldi sambil berlalu dari pintu keluar.
.
.
.
.
. Bersambung 🤗🤗
Ayo votenya kak belum bertambah loh.
cus ah hadiahnya...
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞