Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 77


__ADS_3

Mereka sampai dirumah papi Winata pukul sepuluh malam, belum sempat mereka membersihkan diri rasa capek dan kantuk pun menghampirinya, Winda sudah berbaring ditempat tidur lebih duluan, selang beberapa saat Sigit menyusulnya.


Pagi hari, kicauan burung yang bertengger di pohon alpukat saling bersahutan membangunkan mereka, Winda menggeliat mengangkat lengan tangannya keatas, ia membuka kelopak matanya perlahan, lalu melihat wajah suaminya didepannya yang masih tertidur terlihat sangat lelah dengan tangan kanan memeluk pinggangnya.


Winda menatap wajah suaminya, tersenyum seraya meraba hidung suaminya membangunkannya lirih.


"Bang... bangun sudah pagi. Belum shalat shubuh loh kita." suara Winda berhasil membangunkan suaminya, Sigit membuka matanya yang masih terasa berat dengan kedua alisnya terangkat.


"Hmmmmm.... masih ngantuk sayang... " jawab Sigit malas semakin mengeratkan pelukannya diperut Winda, kepalanya ia sandarkan didada istrinya.


Cup.


Winda memeluk kepala Sigit, lalu mengecup pucuk kepalanya yang menyusup didadanya. Ia membiarkan suaminya merasa nyaman dipelukannya beberapa menit.


"Ya sudah kita tidak shalat subuh saja ya... kita nikmati tidur lagi." ucap Winda menggoda suaminya kembali menaikkan selimut putihnya hingga menutupi tubuh mereka.


Sigit justru terkejut mendengar ucapan Winda, ia segera mengangkat kepalanya dan menghempaskan selimut dari tubuh mereka dengan tangan kanannya.


"Jangan... dosa sayang. Gimana sih malah dukung Abang gak bener." Sigit terduduk segera menurunkan kakinya membelakangi Winda.


"Lagian udah jam lima lebih dibangunin malah meluk perut Winda tambah kenceng aja." jawab Winda tersenyum melirik suaminya merasa berhasil membangunkan suaminya.


"Ya sudah yuk kita kekamar mandinya bareng, biar cepet selesai."


Sigit menarik tangan Winda dan berjalan sambil menggandengnya menuju kamar mandi.


❄️❄️❄️


Winda meletakkan secangkir kopi untuk Sigit diatas meja, sudah rutinitasnya membuat kopi dan menyiapkan baju kerja suaminya setiap pagi. Memang sengaja ia memanjakan suaminya itu agar merasa nyaman bila bersamanya.


Setelah selesai menyiapkan keperluan suaminya ia bergegas menuju dapur, membiarkan Sigit berkutat dengan laptopnya, mengurus pekerjaannya dikantor yang sudah beberapa hari diurus Firman. Ia bergabung dengan mbok Lastri dan Ningsih yang sudah menyelesaikan tugasnya didapur, Winda membawakan mangkok dan sepiring lauk keatas meja.


Ningsih sendiri sangat senang dengan sikap Winda yang statusnya sebagai istri Sigit, seorang suami yang dingin, satu-satunya anak majikannya yang banyak diam ketika dirumah jarang mengajaknya mengobrol kalau tidak penting, berbeda dengan sibungsu Revan. Sigit ternyata memiliki istri yang ramah berlawanan dengan sikapnya. Winda, walaupun seorang menantu dikeluarga Winata, ia tidak membedakan status ART dengan majikannya, sama seperti keluarga Winata yang menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.


Winda berjalan menuju taman bunga, ia melihat tanaman yang masih basah karena pak Zain baru saja selesai menyiramnya, ia tersenyum menikmati beragam jenis bunga yang mekar terlihat indah sebagai pemandangan pagi, ia duduk sendirian dibangku yang berada dipinggir kolam. Tidak lama kemudian datanglah mami Lia duduk disampingnya, mereka berbincang-bincang terlihat sangat akrab. Terkadang keakraban mereka membuat kedua wanita yang mengabdi dikeluarga Winata merasa heran melihatnya.


"Sendirian aja pagi-pagi disini?" sapa mami Lia begitu duduk disampingnya setelah memperhatikan dirinya beberapa saat dari dapur. Mami tersenyum melihat dirinya yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Eh mami." jawab Winda menoleh ke pemilik suara yang membuyarkan lamunannya, lalu tersenyum pada ibu mertuanya. " Iya mi, tadi liat pak Zain nyiram bunga jadi ingin melihatnya. Abang masih menyelesaikan tugasnya diatas." lanjut Winda menjawab mertuanya.


"Hm, ya gitu deh Abang, putra mami yang satu itu memang tipe serius orangnya, yah... wajar saja kalau dia terlihat sangat dingin sikapnya." kalimat mami seraya menyebikkan bibirnya dengan sebelah alisnya terangkat kedua tangannya disilangkan didadanya dan mendekatkan kepalanya ditelinga Winda melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, diacara pernikahan Willy kemarin tidak dingin kan... dia bersikap romantis iya kan?"


Winda tersenyum menoleh ibu mertuanya terdengar menyelidik.

__ADS_1


Winda menatap kedua bola mata ibu mertuanya yang tersenyum padanya.


"He he he mami tau aja."


"Hm, mami kesana cuma sebentar, cuma sekedar bertemu dengan om Surya dan istrinya, setelah itu papi pamit tidak bisa mengikuti acara sampai selesai."


"Jadi? mami lihat Abang sedang nyanyi diatas panggung?" tanya Winda terbelalak tidak percaya.


"Hm tentu. Sampai dia menjemput bidadari hatinya." jawab mami dengan tersenyum simetri padanya, sedangkan Winda terkejut karena tidak melihat sosok kedua mertuanya saat itu.


"Benarkah? Winda kok tidak lihat mami sama papi disana?"


Winda memutar tubuhnya menghadap ibu mertuanya tersipu menahan malu mengingat sikap suaminya yang menggandeng tangannya menaiki panggung dengan romantis.


Mami Lia menatap wajah menantunya yang terlihat tersipu malu. Lalu mencubit lembut dagu Winda.


"Mami senang melihat kalian seperti itu." kata mami sambil mendekatkan wajahnya. "jadilah seorang istri yang selalu berada di hati dan pikiran suami dimanapun dia berada, jadilah kekasihnya jika tidak bersamanya, jadilah partner kerja walaupun kamu dirumah dan suamimu dikantor, jadilah simpanannya jika suamimu sedang keluar kota, dan yang terakhir jadilah istri yang bisa menjadi seorang ibu yang mampu memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya." nasihat mami sangat menyentuh hati Winda, betapa mulia ibu mertuanya yang sudah pasti melakukan nasehat yang diucapkan barusan padanya. Ia seketika teringat cerita suaminya ketika diperumahan teratai indah dan ditaman anggrek putih, hatinya terasa perih saat membayangkan wajah bayi mungil dan wajah wanita lain yang telah menjadi madunya tanpa sepengetahuannya selama dua tahun, terasa sesak dadanya.


"Mi... terbuat dari apa sebenarnya hati mami yang mulia ini? engkau benar-benar seorang wanita yang hebat hingga sanggup membesarkan putra madumu sendiri, dan... mami sanggup merahasiakan betapa hancurnya hati mami saat menerima kenyataan saat itu dari keluarga mami. Engkau bisa saja membuang Revan dan menelantarkannya saat itu, tapi engkau tidak melakukannya, engkau benar-benar seorang ibu yang luar biasa." Winda berkata dalam hatinya, matanya berkaca-kaca menatap wajah maminya, ia menghambur memeluk tubuh wanita didepannya sehingga membuat mami terheran dengan tingkah Winda yang memeluk tubuhnya secara tiba-tiba.


"Win... kenapa menangis?" tanya mami tidak mengerti mengapa menantunya menangis dan memeluk dirinya tidak seperti biasanya yang mudah menangis.


"Hey? kenapa? ada kata-kata mami tadi yang menyinggung perasaanmu?" tanya mami lagi.


Winda masih memeluk mertuanya seraya berpikir ada alasan tertentu yang menyebabkan papi Winata melakukan pernikahan keduanya dengan mantan kekasihnya tanpa sepengetahuan mami, namun tidak ada keberanian Winda untuk menanyakan kebenarannya pada mami saat ini.


Winda melepas pelukannya dan menatap kedua bola mata wanita itu.


"Terimakasih mi, mami sudah menyayangi Winda sejauh ini."


Winda mengusap air matanya dan tersenyum melihat wajah mami Lia yang sedang bingung dibuatnya dengan tiba-tiba menangis. Mami Lia membenarkan kerudung Winda yang sedikit berubah dari semula.


Tanpa mereka sadari gerak-gerik mereka diperhatikan oleh dua lelaki yang sedari tadi melihatnya dari kejauhan. Lalu salah satu dari mereka mendekati kedua wanita yang baru melepaskan pelukannya didekat kolam.


"Ehem. Disini ternyata kalian." suara Sigit tiba-tiba mengagetkan dari belakang mereka, spontan kedua wanita didepannya menoleh pada pemilik suara itu.


"Asyik bener nih pagi-pagi ngerumpinya menantu dan mertua dibangku taman, sampai lupa dengan suaminya." ledek Sigit pada kedua wanita yang ia sayang sedang asyik berdua didekat kolam.


Terlihat olahnya dan papi tadi ketika baru keluar dari pintu samping setelah mbok Lastri dan Ningsih selesai menyiapkan sarapannya di meja yang terdapat ditaman sesuai permintaan papi ingin makan bersama dengan suasana alam pagi ini.


"Oh iya mami sampai lupa, he he he..." mami beranjak berdiri dari duduknya melihat sekeliling. "Yuk kita sarapan dulu, dimana papi bang?" tanya mami sambil menggandeng tangan Winda, lalu berjalan menuju meja setelah mengetahui papi sudah duduk menunggunya di sana.


Sigit melihat sisa tangis Winda dipipinya, ia terheran sambil berjalan dibelakang kedua wanita yang sudah berjalan duluan darinya.


"Hey." Sigit menarik tangan Winda dan memperhatikan wajahnya."Kamu habis menangis?" Sigit menatap mata Winda dan beralih pada maminya yang sudah duduk disamping papi Winata. "Ada apa?" tanya Sigit lagi penasaran. Winda hanya tersenyum padanya dan duduk didepan maminya.

__ADS_1


"Sudah, sudah jangan hawatir, tidak terjadi sesuatu kok bang." jawab mami sambil menyidukkan nasi papi diatas piring. "Tadi itu Winda cuma terharu dengan keromantisan Abang dipernikahan Willy kemarin." tambah mami menjelaskannya.


Sigit mengalihkan pandangannya pada Winda mencari jawaban darinya mendengar kalimat maminya, sedangkan Winda tersenyum malu pada papi dan mami didepannya.


"Hahaha... anak papi yang seperti manusia kutub bisa romantis juga ternyata ha ha ha..." ucap papi menertawakan Sigit yang mendelik menahan ejekan papinya.


"Harapan papi semoga segera dapat tambahan cucu lagi kita ya mi, biar tambah rame rumah ini nanti..."


"Uhuk uhuk uhuk uhuk..." Sigit tersedak ketika mendengar kalimat papinya yang tertuju padanya. Winda segera menyodorkan segelas air putih untuk Sigit.


"Minum dulu bang biar lega." ucap Winda.


"Papi bisa aja kalau bicara Win, kita kan baru berapa kali coba melakukan..."


"Abang."


Belum saja Sigit menyelesaikan kalimatnya sudah disahut Winda yang memerah wajahnya menahan malu karena kalimat suaminya.


"Hahaha... hahaha..."


Sigit terbengong melihat papinya yang menertawakan dirinya yang diikuti senyum manis mami disamping papinya.


"Lah? sudah berapa bulan coba kalian menikah? kan wajar ya mi kalau kami mengharapkan cucu dari kalian." papi melanjutkan kalimatnya yang diangguki maminya.


"Hm, saat ini Shofi sudah hamil empat bulan anak keduanya, siapa tahu sekarang... Winda ngidam ya Pi...." mami menimpali pembicaraan papi setelah menelan makanan didalam mulutnya.


"Emmm... kalau belum, saran papi sih. Lebih baik kalian ambil cuti saja dulu dua bulan pergi honeymoon ke Bali atau... kemana gitu, biar rileks kalian dan itu bisa mendukung program kehamilan."


kalimat papi memberikan saran untuk putranya.


Sigit melirik Winda yang menunduk menikmati sarapannya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


ayo kak ramaikan lagi votenya.


juga komentarnya yang gokil abis n like nya so pasti jangan kelupaan ya...

__ADS_1


Saranghe....💞💞


__ADS_2