Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 62


__ADS_3

"Win, sudah jam sepuluh malam, sebaiknya kamu masuk ke kamarmu nak, jangan sampai membuat suamimu menunggu, tidak baik." ucap Bu Arini pada Winda, tangannya membelai kepala putri semata wayangnya.


Ibu dan anak itu sudah satu jam lebih bercengkrama melepas rasa rindunya didalam kamar tamu yang sudah disediakan mami Lia untuk besannya.


Winda tiduran dalam pangkuan ibunya, melampiaskan rasa rindu pada wanita yang telah melahirkannya, dia tidak ingin menyia-nyiakan momen seperti ini dengan belaian kasih sayang ibunya yang sering ia rasakan ketika masih di kontrakannya bila ibunya sedang berkunjung. Sementara Sigit bersama bapak dan papi Winata berada di ruang keluarga membicarakan seputar pekerjaan dan pembicaraan ringan lainnya, sedangkan mami baru saja pamit keluar dari kamar tamu ingin segera istirahat ke kamarnya.


"Tapi Winda masih ingin berlama-lama sama ibu disini." sanggah Winda pada ibunya.


"Besok pagi kamu harus sudah mempersiapkan dirimu untuk wisuda Win..."


"Hmm..."


Winda masih malas-malasan untuk beranjak dari tempatnya, dia masih memeluk paha ibunya sebagai bantalan kepalanya membuat Bu Arini meyakini jika hubungan putri dan menantunya sedang tidak baik.


"Ibu pernah menempati posisimu Win, dimana saat pertama kali menyatukan perbedaan dalam ikatan pernikahan pasti akan banyak menghadapi rintangan, dan saat ini kamu telah menutupi masalah itu dari kami nak..."


Bu Arini melihat wajah Winda dari balik jilbab coklatnya, lalu melanjutkan kalimatnya.


"Dengar nak, saat ini suamimu sudah menggantikan tanggung jawab ibu dan bapak terhadapmu, jadi apapun yang kamu lakukan sudah menjadi tanggung jawab Sigit sebagai suamimu. Jika suamimu sedang berbicara kamu harus mendengarnya, jika dia sedang memerintahmu maka kamu juga harus mematuhinya jangan membantahnya selagi itu tidak melanggar aturan Allah, misalnya suamimu menyuruhmu membuka jilbabmu dihalayak umum, atau menukar agamamu dengan yang lain, kamu boleh menolaknya, itupun ada caranya untuk menolaknya." Bu Arini menasehati dengan membelai kepala putrinya.


Winda mendengarkan kalimat ibunya yang seakan mengetahui keadaannya dengan membiarkan tangan yang sangat nyaman bu Arini membelai kepalanya.


"Jika ada masalah didalam rumah tangga itu sudah biasa, anggap saja garam. saat kamu sedang memasak tidak kamu kasih garam pasti tidak ada rasanya masakan itu, secantik hasil dan seharum bau masakan itu jika tidak diberi garam maka para pecinta makanan akan mengkategorikan sebagai masakan yang hambar karena tidak ada rasa gurihnya." Winda mengganti posisi miringnya dengan duduk berhadapan dengan ibunya, matanya menatap wajah tenang didepannya yang dihiasi senyum dikedua pipinya.


"Bicarakan baik-baik jika ada masalah dengan pasangan jangan dipendam, usahakan bertanya padanya terlebih dahulu jangan mendengarkan apa kata orang lain sebelum kamu mencari tahu kebenarannya sendiri, dan... ingatlah selalu jika seorang suami sudah berusaha menjelaskan sesuatu dan sudah berkata jujur padamu janganlah kamu menganggapnya berbohong hanya ingin mencari aman darimu, karena bisa jadi dia akan mencari tempat yang nyaman untuk bercerita apapun itu masalahnya. Buatlah senyaman mungkin suamimu selama bersamamu entah ketika didalam rumah maupun diluar rumah, karena dengan begitu dia akan selalu merindukanmu nak." tangan bu Arini memegang pundak Winda dengan memberikan senyum hasnya.


Winda menatap kedua bola mata ibunya sambil tersenyum, tidak ingin ibunya semakin mengetahui kekalutan hatinya yang sudah berusaha ia tutupi sedari pulang tadi bersama suaminya.


"Ibu tidak usah hawatir dengan hubungan Winda dan abang, kami baik-baik saja bu, karena abang orangnya sangat mengerti Winda, bahkan dia selalu perhatian dan selalu hawatir sama Winda."


Winda tersenyum pada ibunya mengatakan sikap Sigit yang memang sudah berubah kepadanya agar ibunya tidak merasa hawatir dengan rumah tangganya. Walaupun dalam hatinya masih menyimpan rasa sakit ketika mendengar penjelasan dari suaminya.


"Iya ibu tau itu dari sikap menantu ibu tadi. Bahkan ibu sangat bersyukur karena kamu sudah pulih walaupun belum sepenuhnya."


Winda tersenyum membalas senyuman ibunya yang menepuk-nepuk kecil pundaknya lalu ia meraih punggung tangan ibunya dan menciumnya.

__ADS_1


"Ibu... Winda tau jika ibu sebenarnya merasakan ada sesuatu antara aku dan abang, tapi... saat ini hatiku memang belum bisa mempercai suamiku bu... wanita mana yang tidak sakit hatinya jika mendengar suaminya pernah ... aaahhh entahlah aku tidak tau bu apakah malam itu abang benar-benar sendirian ataukah memang berdua dengan wanita itu. Yang pasti ada rasa kecewa dihatiku karena aku takut, aku merasa takut kehilangan dirinya bu, dan ternyata aku baru menyadari jika sekarang aku sudah mulai mencintainya, mencintai lelaki yang selalu meledekku, lelaki yang suka menggodaku sejak pertama kami kuliah, iya lelaki yang selalu tidak ingin berdekatan denganku dialah Sigit Andra Winata suamiku. Maafkan Winda yang sudah berbohong sama ibu."


"Ehem, ehem..."


suara deheman terdengar dari arah pintu mengagetkan dua wanita yang saling berpelukan masih berada di atas ranjang. Pak Idris berjalan mendekati kedua wanita yang sangat ia sayangi.


"Masih belum cukup kamu berpelukan terus sama ibumu sedari tadi? sudah hampir dua jam lho kalian disini, apa masih kurang? atau... bapak tidur sama Sigit saja malam ini?"


"Iiihhh.... bapak, baru saja satu jam lebih dikit pak..." seloroh Winda mendengar candaan bapaknya yang sudah duduk disampingnya.


"He he he, kasihan suamimu Win, kelihatannya kecapekan dia seharian mengurusmu." jawab pak Idris terkekeh mendengar jawaban putrinya yang merasa kesal padanya.


"Bapak bisa saja, Winda kan sudah besar pak."


"Sudah besar masih suka dipeluk ibunya kalau mau tidur."


"He he he..."


"Memangnya sudah selesai bapak ngobrolnya sama papi dan abang?"


"Hm? yang bener pak?"


"Iya."


"He he he berarti bener kata bapak kalau abang kecapekan mengurus Winda seharian he he..."


"Sudah sana keluar, ini sudah malam, besok pagi-pagi kamu harus sudah siap-siap."


"Iya pak. Winda keluar dulu, assalamualaikum.


"Waalaikumsalam."


jawab kedua orang tuanya bersamaan.


❄️❄️❄️

__ADS_1


Winda memasuki kamarnya dengan melangkahkan kakinya secara perlahan agar tidak terdengar oleh suaminya, begitu sampai didepan kursi sofa dia melongokkan kepala ke sekelilingnya mencari sosok suaminya berada namun tidak menemukannya, Winda berjalan menuju ranjang dengan melepas jilbabnya dan bergegas ke ruang ganti untuk mengganti bajunya. Begitu selesai mengganti bajunya dengan jubah tidurnya, Winda baru menyadari sosok tubuh yang terbujur diatas ranjangnya yang tertutup selimut dengan suara mengigau seperti orang kedinginan.


Winda mendekati Sosok itu yang tak lain adalah Sigit yang sedang kedinginan, badannya menggigil sehingga ia terus mengigau, Winda membuka selimut Sigit lalu memeriksa suhu tubuhnya.


Winda bergegas keluar dari kamarnya menuruni tangga menuju dapur setelah melihat termometer yang diletakkan dititik suhu tubuh tertentu Sigit menunjukkan angka 39, ia segera mencari obat turun panas di kotak P3K yang terletak di dapur. Sengaja Winda mencari sendiri mengingat rumah sudah sepi kemungkinan semua penghuni rumah sudah pada tidur, ia pun tidak ingin membangunkan mereka.


Winda mengambil es di lemari pendingin dan meletakkannya di dalam wadah kemudian kembali menaiki tangga menuju kamarnya setelah merasa cukup apa yang dibutuhkan untuk Sigit, dengan membawa nampan yang berisi segelas air, obat turun panas dan air es untuk mengompres Sigit berharap agar demamnya segera turun.


Winda membantu mengangkat kepala Sigit yang masih terus menggigil kedinginan dengan memberikan obat dan segelas air putih. Winda merasa iba melihat suaminya yang terlihat lemas tidak bertenaga setelah meminum obat, tangan Winda meraih botol minyak angin lalu menggosokkannya ditubuh suaminya agar tubuhnya terasa hangat.


Dengan mata sayu Sigit berusaha melihat Winda yang terus memijat kaki, telapak tangan dan jari-jarinya, dia merasa nyaman telah diperhatikan istrinya.


"Sayang..."


"Sudah tidak usah banyak bergerak dulu, sekarag istirahat agar besok kita bisa ikut wisuda."


Kalimat Winda menyela perkataan suaminya yang belum selesai berbicara, agar segera istirahat. Winda membetulkan letak bantal dan selimut Sigit lalu menyisihkan gelas dan meletakkan kompres didahi Sigit setelah menggantinya.


Winda memperhatikan wajah Sigit yang terlihat kemerahan karena dampak dari demamnya, wajah lelah benar-benar terlihat disana membuat dia baru tersadar dari perkataan bapaknya yang sempat mengatakan Sigit buru-buru memasuki kamarnya dengan wajah kecapekan.


"Berarti apa yang dikatakan bapak dari tadi memang benar, ternyata kamu sedang sakit bang... bagaimana aku sampai tidak mengetahuinya?" lirih Winda menatap suaminya yang sudah terpejam kedua matanya karena efek dari obat.


"Hhhh..." Winda membuang nafas diudara. masih dengan rasa bersalahnya Winda mengganti kompresan Sigit kembali lalu duduk dibawah ranjang disamping suaminya yang berada dipinggir ranjang dengan kedua tangannya dilipat diatas ranjang sebagai bantalan kepalanya dan kaki ditekuk dibawah ranjang hingga tertidur menunggui suaminya. Berharap esok hari akan cerah hari-harinya secerah mentari pagi yang indah membawa berjuta semangat untuk semua mahluk hidup yang mengawali harinya dengan penuh warna.


.


.


.


.


Bersambung..🤗🤗


saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2