
Terimakasih selalu terucap untuk teman-teman, pembaca setia yang sudah memberikan semangatnya dengan like, and koment 💖💖
syukur-syukur kalau ditambah bonus votenya...😍😍
❄❄❄
"Kita berhenti dimasjid dulu shalat maghrib ya" ucap Sigit ketika mobilnya sudah berhenti diparkiran masjid yang diangguki Winda sebagai tanda setuju.
"Hm." Winda mengikuti suaminya membuka pintu mobil dan berjalan menuju masjid, mereka berjalan beriringan berlawanan arah dengan para jamaah lain yang sudah selesai shalat berjamaah.
"Begitu selesai langsung kemobil." pesan Sigit sebelum mereka berpisah menuju tolet pria dan wanita.
"Iya." Winda berjalan lurus sesuai arah panah dimana letak toilet wanita.
Winda tidak mengantri seperti biasanya jika ditoilet pada umumnya, karena dia datang disaat sudah agak sepi pengguna toilet, diapun segera berjalan masuk masjid begitu selesai mengambil air wudhu.
"Bang kita jamaah saja ya." kata Winda begitu bertemu dengan suaminya diserambi masjid.
Sigit mengangkat wajahnya dan menghentikan langkahnya melihat pemilik suara didepannya, setelah mengetahui pemilik suara yang tak lain adalah istrinya, dia pun menganggukkan kepalanya.
Winda segera memakai mukena dan berdiri dibelakang Sigit, mengikuti setiap gerakan yang dilakukan suaminya dengan husyuk hingga selesai.
Winda menyelesaikan doanya, lalu melipat mukena yang dipakainya, setelah selesai ia letakkan kembali dilemari kaca yang berada disampingnya, dia keluar dari masjid dengan mencari keberadaan suaminya yang sudah keluar duluan diserambi masjid, namun tidak menemukannya.
Winda turun dari tangga serambi masjid dan berjalan menuju mobil, dia mendapati Sigit sedang bersandar dipintu mobilnya sedang berbicara dengan seseorang melalui mesin pintarnya.
Winda menarik grandle pintu mobil lalu masuk, dia mengambil gawainya dan bermain game sambil menunggu suaminya selesai dengan urusannya, tidak berselang lama setelah Winda duduk Sigit membuka pintu dan duduk dibelakang kemudi.
Sigit melihat Winda sekilas yang terdiam memainkan gawainya lalu mulai mengemudikan mobilnya kejalan raya, selama dalam perjalanan mereka hanya banyak diam dan mendengarkan alunan musik yang dihidupkan Sigit.
Tidak terasa tiga puluh menit perjalanan mereka lalui, Winda melihat gedung pencakar langit yang tinggi sudah berada diatasnya yang bertuliskan HOTEL MUTIARA, mobil Sigit terhenti, sudah berada diparkiran luas dibawahnya.
"Kenapa kesini? bukankah ini tempat pertama kalinya Sigit dan aku dipertemukan dalam keadaan yang seharusnya tidak terjadi ketika itu, Sigit melindungiku dengan memeluku didalam lift. Ya Allah...." pikir Winda setelah mengingat peristiwa lift mati yang cukup lama, dimana hanya ada dirinya dan Sigit yang berada didalamnya.
__ADS_1
Winda memejamkan matanya, seketika tubuhnya merinding, dia menggigit kecil bibir bawahnya dengan menyandarkan kepalanya disandaran kursi sambil mendongak kelangit-langit mobil.
Masih segar dalam ingatannya ketika Sigit memeluk dan membopong tubuhnya yang tidak sadarkan diri didalam lift, waktu itu hanya mereka berdua yang terpilih oleh dosen mereka untuk mewakili study banding antar mahasiswa seIndonesia dari pihak fakultas hukum di Universitasnya.
Winda masih memejamkan matanya seakan-akan kejadian itu baru saja terjadi kemarin, matanya terasa panas menahan lahar yang sudah mulai meleleh, tiba-tiba telapak tangannya terasa hangat hingga Winda membuka matanya dan melihat jari-jari Sigit menggenggam telapak tangannya.
"Kenapa?" ucap Sigit lirih setelah melihat istrinya yang mulai menitikkan air matanya.
"Kenapa hmm?" Sigit mengulangi pertanyaannya, matanya menatap manik Winda yang sudah basah.
Sigit tidak tega melihat air mata Winda, tangannya mengusap air mata istrinya yang terlihat sendu.
"Kenapa kita kesini Git?" suara Winda parau menjawab suaminya.
Tangan Sigit meraih kepala Winda, lalu disandarkannya kepala istrinya dipundak kirinya.
Tangan kiri Sigit menggenggam tangan kanan Winda.
"Bukan tidak suka Git. Tapi aku teringat peristiwa dilift waktu itu."
"Terus kenapa?"
"Aku merasa berdosa karena itu adalah pertama kalinya aku berpelukan, berduaan yang cukup lama dengan laki-laki yang bukan muhrimku, aku takut, aku benar-benar takut waktu itu." air mata Winda semakin mengalir deras dipipinya.
Winda kembali teringat saat dirinya hanya berduaan dengan Sigit didalam lift yang tiba-tiba terhenti tepat dilantai sepuluh hingga kurang lebih empat puluh menit mereka terjebak.
Waktu itu mereka baru saja menyelasaikan tugas dilantai tujuh belas hingga jam sepuluh malam, setelah selesai pertemuan menyerahkan tugas dari seluruh peserta study banding, mereka berniat segera istirahat kekamar masing-masing, namun diluar dugaan, lift terhenti dilantai sepuluh.
Sementara Sigit terdiam sesaat, mengingat kepribadian istrinya dulu yang memang menurutnya serba aneh, lebih tertutup dan lebih menjaga harga dirinya sebagai wanita berhijab, istrinya yang hanya berbicara, bercanda dan bersikap dengan lawan jenisnya selalu dengan kehati-hatian, ternyata itu adalah demi menjaga dirinya dari pandangan laki-laki yang tidak bertanggung jawab terhadap dirinya, kini dirinya mengerti dengan sikap istrinya yang selama ini dia anggap aneh, culun, kampungan, sangat berbeda dengan Silvi dan Tania yang selalu bersikap dan berpenampilan kekinian ternyata dibalik itu semua istrinya menjaga dirinya sendiri untuk menjaga kehormatan suaminya kelak, dan ternyata orang itu adalah dirinya sendiri, Sigit Andra Winata.
Sigit mencium kening Winda yang masih bersandar dipundaknya.
"Aku takut Git, takut tempat yang sempit, air yang dalam, kilat, petir, karena... " Winda terdiam sesaat mengingat masakecilnya.
__ADS_1
"Kenapa hmm?" ucap Sigit lirih, tangan kanannya kini menggenggam diatas tangan mereka yang sudah saling bertautan.
"Ketika aku masih berumur delapan tahun, saat itu hujan rintik-rintik disore hari aku membantu temanku yang mengabil air disumur rawa yang begitu dalam, waktu itu sumur ditempat kami belum seperti sekarang, aku mengambil air menggunakan timba, ketika aku sedang menimba yang kedua kalinya tanpa aku duga justru aku terpeleset ikut tercebur bersama timba ditanganku, lalu tanganku meraba-raba dinding sumur mencari bantuan, beruntungnya ada serabut akar disekitar dinding sumur itu, aku bisa bertahan dengan pegangan akar itu, didalam sumur terasa sesak nafasku, ditambah kilat dan petir tiba-tiba menyambar-nyambar dilangit, dan... apa yang terjadi selanjutnya aku tidak tau karena aku sudah berada dirumah dengan banyak orang yang mengerumuniku diruang tamu." air mata Winda meleleh dibaju Sigit.
Sigit menghapus air mata istrinya yang masih kalut mengenang trauma masa kecilnya.
"Apa itu berarti selama ini kamu berada dalam tekanan dengan rasa ketakutan disaat-saat seperti itu?" tanya Sigit yang diangguki kepala istrinya, Sigit semakin mendekap tubuh istrinya.
"Jangan takut. Jangan takut, kamu harus mampu melawannya. Kamu pasti bisa." Sigit mencium pucuk kepala istrinya memberi semangat.
"Aku hanya ingin mengulang nostalgia yang berbeda waktu itu dengan sekarang Win, aku hanya ingin mengulangnya, dimana kita pertama kalinya dipertemukan disini dengan perasaan yang berbeda dengan sekarang." tangan Sigit menggenggam tangan Winda erat.
Winda mengangkat kepalanya dari pundak suaminya, dia melihat wajah suaminya dengan tangan kanannya mengelap air matanya menggunaknan tissue yang baru dia ambil dari kotak tissue diatasnya.
"Ternyata cerita kita ditakdirkan Tuhan seperti ini, maafkan aku yang selama ini menyakiti perasaanmu honey, sayang." Sigit menatap manik istrinya yang sudah saling beradu.
Setelah saling pandang yang cukup lama, Sigit semakin mendekatkan bibirnya yang kini sudah tidak berjarak, dia menghisap bibir tipis Winda yang terasa hangat.
"Jangan takut lagi, aku akan menjagamu, aku akan selalu ada untuk dirimu." ucap Sigit lirih menatap manik hitam didepannya.
Winda terharu dengan perkataan suaminya, dia pasrah dengan rengkuhan suaminya, tangannya dalam genggaman Sigit, matanya terpejam kembali ketika tangan kanan Sigit membelai kepalanya dan mengecup keningnya.
"Terima kasih Git. Terimakasih sudah bersedia menjadi sandaranku." Winda melepas genggaman Sigit dan beralih memeluk erat tubuh sintal suaminya, begitu pula dengan Sigit menyambut pelukan hangat istrinya.
Tanpa mereka sadari, mereka terhanyut dengan suasana sendu berubah menjadi drama romantis yang saling berpelukan bak romeo and julliet.
"Dari tadi tidak sopan manggil suami dengan sebutan nama, panggil abang honey, sayang..." ucap Sigit mengingatkan Winda yang mulai mengendurkan pelukannya dan menggeser tubuhnya dari rengkuhan suaminya.
"Maaf. habis aku masih keinget masa kuliah dulu, kirain masih temen kuliah." Winda berceloteh malu menatap suaminya.
"Iya, teman tapi mesra." seloroh Sigit menggoda istrinya yang malu-malu dan mencolek hidung Winda dengan jari telunjuknya.
sekali lagi terimakasih yang sudah dukung dengan like n koment.❤❤💐
__ADS_1