
"Ahhhh.... ahirnya sampai rumah juga." Ningsih merasa lega setelah mobil Revan berhenti diparkiran halaman rumah. Seharian mereka menghabiskan waktu mengelilingi kota Jakarta setelah dari toko buku, ia tidak mengetahui status kakak beradik yang sedang berbincang bersama tadi, ia datang ketika laki-laki itu mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui kepada Revan, setelah itu laki-laki itu beranjak pergi dari kursinya meninggalkan Revan.
Capek dan kantuk kini menghinggapi dirinya. Ia keluar dari mobil dan berjalan mensejajari langkah laki-laki disampingnya memasuki rumah.
Revan membawa buku-buku yang dibelinya tadi siang bersamanya.
"Mas, terimakasih ya hari ini sudah meluangkan waktu mengajak Ningsih ke toko buku, terus keliling Jakarta, ternyata seru ya mas." ucap Ningsih dengan tersenyum ketika Revan hendak menaiki tangga menuju kamarnya.
Revan menoleh kearah Ningsih dan memperhatikan wajahnya, terlihat ada rona bahagia dalam senyumnya.
"Hm sama-sama, aku juga terimakasih kamu sudah nemenin aku seharian sampai pulang malam begini."
"Ih... gak papa tau mas, Ningsih malah senang sekali bisa berduaan sama mas Revan... he he he"
Revan menatap tajam pandangannya pada Ningsih.
"Hm... jangan berpikir yang aneh-aneh Ningsih..."
"Iya iya mas... he he he..." jawab Ningsih nyengir.
Ningsih tersenyum setelah puas menggoda Revan.
"Terimakasih." lanjut Ningsih sambil mengacungkan bukunya pada Revan.
Revan hanya melirik Ningsih sambil menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menaiki tangga meninggalkan Ningsih sendirian.
Bahagia.
Itulah yang dirasakan Ningsih saat ini, ia memperhatikan Revan menaiki tangga hingga tidak terlihat sosoknya. Ia berjalan menuju kamar pribadinya yang bersebelahan dengan kamar mbok Lastri.
Sepi tidak ada seorang pun didalam rumah, ia melihat hpnya dan memperhatikan angka yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perlahan ia menuju kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan ritualnya sebelum tidur, ia segera membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya, ia teringat kalimat Revan yang sempat menjawab pertanyaannya didalam mobil sambil mengemudi.
"Siapa tadi mas orang yang ngobrol sama mas Revan di kafe?"
"Kenapa?"
"Sepertinya serius amat wajahnya ketika Ningsih lihat tadi."
"Teman mas Revan?"
"Bukan."
__ADS_1
"Terus?"
"Kenalan?"
"Bukan juga."
"Saudara?"
" ...." diam tidak ada jawaban.
"Kok diam mas?"
"Tapi... boleh juga kayaknya mas, ganteng." lanjut Ningsih.
"He he he..."
"Tau gak mas, kalau Ningsih perhatiin tadi, mukanya agak-agak mirip loh. Bibir, bentuk wajah dan... rambutnya sama persis dengan mas Revan. Pas kalau jadi kakaknya mas Revan." celetuk Ningsih asal nyeplos tidak memperhatikan raut wajah laki-laki disampingnya.
"Ningsih... bisa diem gak?!" ucap Revan terlihat sedikit kesal.
"Gak capek apa dari tadi nyerocos mulu."
"Hhhhhhh...." Ningsih menghela nafasnya lalu membetulkan letak tidurnya diatas tempat tidur.
"Siapa coba laki-laki itu? terus kenapa pula mas Revan terlihat tidak suka ketika aku tanyakan tentang laki-laki itu, padahal... disisi lain kalau aku perhatiin walaupun hanya sebentar aku memperhatikan wajah mereka tadi sangat mirip sekali?" gumam Ningsih dengan mengerutkan keningnya penasaran.
"Aldi. Ya Aldi, laki-laki itu bernama Aldi seingetku tadi mas Revan memanggilnya dengan sebutan Aldi."
❄️❄️❄️
Ditempat yang berbeda.
Aldi tersenyum kecut, ia masih berada didekat kolam renang dengan segelas minuman ditangannya. Membayangkan rencananya akan mulus sesuai dengan keinginannya.
"Aku hanya ingin keluarga laki-laki tua itu hancur berantakan, sama denganku. Biarkan dia merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang dia sayangi." penuh dengan hawa amarah didadanya sehingga rasa dendam telah membutakan mata hatinya. Tanpa ia sadari tangannya menggenggam gelas dengan erat dan semakin erat sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Bagiku itu sudah cukup, setidaknya dia telah menanggung akibat dari perbuatannya pada ayah dan ibu." matanya semakin nyalang.
Terbayang kedua orang tuanya yang sangat ia sayangi menari dipelupuk matanya, terlihat disana masa manisnya keluarganya disaat ia masih kecil, wajah Aldi kecil dengan tersenyum manis bercanda, bersama, jalan-jalan disebuah taman wisata sambil menggandeng tangan kedua orangtuanya. Alangkah bahagianya keluarga mereka dulu.
Kini mereka sudah tidak ada lagi didunia ini.
Sepi.
__ADS_1
Hampa terasa kehidupannya selama ini tanpa keluarga yang utuh, walaupun selama ini dirinya mendapatkan kehidupan yang baik dari kebaikan seorang laki-laki yang sangat ia benci.
Apartemen, mobil, pekerjaan. Semua fasilitas ia dapatkan dari kebaikan hati seorang Winata. Namun itu semua belum cukup untuk dirinya untuk melupakan rasa sakit hatinya yang sangat dalam.
Awalnya Renaldi bekerja di kantor pusat atas rekomendasi dari Winata sendiri, namun pada saat pertama kalinya Sigit mengganti kan posisi papinya sebagai Dirut perusahaan WP, ia mengetahui ada keganjalan dalam beras kontrak kerja yang dapat merugikan kerjasama antara perusahaan WP dengan perusahaan Utama. Akhirnya atas permintaan Winata, Renaldi dipindahkan oleh Gunawan di perusahaan cabang yang terletak di daerah pedalaman.
Sejak saat itu Renaldi tidak pernah terlihat lagi di kantor pusat.
Beberapa hari ini ia berada di Jakarta, ia menginap di apartemennya yang sudah lama ia tinggalkan. Karena ingin menikmati ramainya kota Jakarta iapun mengendarai mobilnya dari pedalaman menuju Jakarta. Baru saja ia memasuki sebuah tempat perbelanjaan ia menabrak seorang gadis yang tidak lain adalah Lili.
Gembira, senang.
Seakan dunianya kembali berwarna setelah menemukan sahabat masa kecilnya, bahkan ia kembali semangat untuk menemukan bidadari kecil, adik perempuan sahabatnya yang telah lama ia cari.
"Tujuanku kemari saat ini tidak lain adalah ingin segera melihat keluarga itu hancur." matanya masih menatap tajam kilatan air kolam yang tersorot gemerlapan lampu taman.
"Selain itu... tujuanku kesini juga ingin segera menemukan keberadaan bapak dan ibu." ia terdiam sejenak dengan sorot mata yang sudah meredup terbayang wajah pak Idris dan Bu Arini yang ia anggap sebagai orang tuanya.
"Dan juga bidadari kecilku." lirihnya dengan air mata yang sudah mulai menyembul dari kelopaknya.
Ia mengeluarkan benda kecil, sebuah gantungan kunci yang terbuat dari kaca yang bulat. Dimana didalamnya terdapat sebuah bintang yang bertaburan Glitter yang berhamburan jika digerakkan.
"Bidadari... dimana kamu sekarang..." ratapannya sambil memandangi benda kecil ditangannya.
"Hanya kalianlah keluarga yang aku miliki saat ini, dan... untuk selama ini hanya benda inilah yang selalu bersamaku."
Malam semakin gelap, tak terasa air mata pun berderai merasakan perih hatinya saat ini.
❄️❄️❄️
"Sayang tidur dulu, besok kita cari lagi mas Aldi." kalimat Sigit menenangkan Winda yang masih meratapi keberadaan Aldi.
Seharian mereka mencari Aldi dari teman-teman masa lalunya. Namun tidak seorang pun yang mengetahuinya.
Pukul tujuh malam tadi mereka mendapatkan kabar bahwa ada salah satu teman mereka yang mengetahui keberadaan Aldi, akan tetapi rumah orang itu sangat jauh dan nomor kontak yang mereka miliki sudah tidak aktif lagi, sehingga tidak mungkin jika mereka langsung berangkat menuju alamat orang tersebut, ahirnya pak Idris memberikan saran agar besok melanjutkan pencariannya lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung 🤗🤗
Saranghe 💞💞