
"Huuaaahh...." Aldi menguap, kedua tangannya terangkat keatas, tubuhnya menggeliat ketika baru terbangun merasakan sorot sinar matahari di wajahnya yang menembus tirai jendela kamar. Menjelang pagi tadi ia baru sampai di penginapan, rasa kantuk menyerangnya saat sampai di penginapan, diapun segera istirahat dikamar pesanannya.
"Jam berapa sekarang?" Aldi meraih hpnya melihat angka yang ada dilayar.
"Ya Tuhan kenapa aku bangun kesiangan? padahal aku kan cuma ingin tidur sebentar saja? hhhh... jadi kesiangan kan." Aldi mendesah, ia beranjak dari ranjang dan segera masuk didalam kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan dirinya ia segera mengganti handuk yang melilit tubuhnya dengan mengenakan stelan baju lengan panjang dan merapikan penampilannya didepan cermin.
"Bapak, ibu tunggu Aldi sampai di rumah, Aldi sudah tidak sabar bertemu dengan kalian." ucapnya sambil mengambil kunci mobilnya.
Aldi membeli roti di kafe bawah dan membawanya didalam mobil sebagai pengganjal perutnya selama perjalanan menuju rumah pak Idris. Tanpa sengaja saat akan meletakkan roti, tangannya memegang sebuah tas yang berada diatas kursi disampingnya, membuat ia tertegun memikirkan pemiliknya.
"Tas? tas siapa ini? kenapa ada disini?" ucapnya sambil mengangkat tas tersebut dan mengingat kejadian semalam.
"Oh iya punya gadis semalam yang ketinggalan di meja kasir minimarket." Aldi menjawab pertanyaannya sendiri setelah berpikir siapa pemiliknya.
Aldi meletakkan tas itu kembali dikursi sampingnya setelah mengingat kejadian semalam.
Semalam ia berusaha mengejar gadis pemilik tas itu sampai diluar minimarket, namun mobil yang ditumpangi gadis itu sudah pergi lebih dulu, sehingga suara panggilannya pun tidak terdengar oleh gadis itu. Akhirnya ia kembali masuk didalam minimarket dan memberikan tas tersebut kepada petugas kasir, menurutnya siapa tahu pemiliknya akan kembali dan mencarinya, namun petugas wanita itu menolaknya dengan alasan tidak bertanggung atas barang bawaannya. Aldi terpaksa membuka tas itu didepan petugas kasir mencari sesuatu yang dapat menunjukkan identitas pemiliknya, namun hanya ada buku catatan kecil dan tulisan-tulisan di kertas yang dilipat tidak ada tulisan yang menunjukkan identitas si pemilik. Akhirnya Aldi pun membawa kembali tas tersebut.
"Sekarang waktunya melajukan mobil ke jalan melati no 20." ucapnya penuh bahagia.
Ia mendapatkan alamat rumah pak Idris dari Ricko tadi malam maka dari itu ia langsung melajukan mobilnya.
Jarak antara penginapan dengan rumah pak Idris hanya memakan waktu tiga puluh menit, ia pun berhasil menemukan rumah dan segera memarkirkan mobilnya didepan pagar.
Dengan hati membara penuh bahagia ia memanggil nama pak Idris dan Bu Arini dari balik pagar itu.
Sekali, dua kali, hingga beberapa kali ia memanggil pemilik rumah namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Benar kan? ini rumah bapak?" hati Aldi mulai ragu, diapun menelpon ricko temannya memastikan alamat yang dicarinya.
Aldi terlihat sedang bercakap-cakap dengan seseorang dihpnya. Ia meletakkan tangannya di pinggang dan memperhatikan rumah didepannya terlihat sepi.
"E... beneran ada orang rupanya, ada apa ya anak muda sepertinya mencari bapak?" Aldi menolehkan kepalanya kearah suara yang tiba-tiba terdengar dari belakangnya disertai munculnya sosok seorang wanita yang sudah tua.
Ia segera mengakhiri panggilannya dan memasukkan hpnya kembali didalam saku celananya.
"Oh iya saya Aldi, saya kesini memang ingin bertemu dengan bapak." jawabnya sambil tersenyum menganggukkan kepala.
"Saya bik Ratna anak muda, saya yang diamanahi ibu untuk bersih-bersih rumah beliau, baru saja saya pulang dirumah ada tetangga yang memberi tahu bibik kalau ada orang didepan rumah bapak."
"Oh begitu... tapi ini bener rumahnya pak Idris kan bik?"
"Iya bener anak muda."
"Kok sepi? apa bapaknya ada bik?"
"Oh... mereka sekarang ke Jakarta anak muda karena keponakannya sedang sakit jadi tadi malam mereka langsung berangkat kesana."
"Terus, bibik tahu tidak kapan mereka pulang?"
"Ya mungkin beberapa hari nak, kan menunggu keponakannya sakit?"
__ADS_1
"Iya juga ya. Emm.... bibik tau tidak dimana alamat di Jakartanya?"
"Tidak tau anak muda." jawab bik Ratna sambil menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu saya titip ini." ucap Aldi seraya mengambil dompet lipat dari saku celananya.
"Ini kartu nama saya, ada alamat dan nomer telpon saya, tolong sampaikan bapak kalau bapak sudah pulang nanti ya bik." Aldi menyerahkan selembar kartu namanya pada wanita didepannya dan memberikan pesan penting menurutnya.
"Iya nanti saya sampaikan anak muda." bik Ratna menerima kartu nama yang disodorkan padanya.
"Terimakasih ya bik. Kalau begitu saya pamit dulu."
"Iya anak muda hati-hati dijalan."
Aldi kembali masuk didalam mobil dan tersenyum pada bik Ratna, lalu melajukan mobilnya dijalan.
Drrrrrttt drrrrtt drrrrtt
🎵🎵🎵
suara panggilan dihpnya berdering saat ia baru melajukan mobilnya.
Ia segera mengangkat panggilan itu yang tidak lain panggilan dari atasannya.
"Iya ada apa pak?"
"Kamu sekarang dimana? saya cari dikantor, saya telpon dari tadi tidak kamu angkat-angkat."
"Iya maaf pak saya tidak mendengar jika ada panggilan masuk karena saya sedang dalam perjalanan ada urusan pribadi yang sangat penting saat ini, tapi ada apa ya pak?"
"Baik pak saya segera pulang, mungkin besok saya baru bisa masuk ke kantor."
"Ya sudah kalau begitu."
❄️❄️❄️
Pagi ini Sigit sudah lebih segar setelah istirahat merebahkan tubuhnya beberapa waktu diatas ranjang dikamar yang sudah dibooking Gunawan selama dia di negeri orang.
Sigit mengenakan stelan jas merapikan penampilannya didepan cermin, ia memperhatikan dirinya didalam cermin.
Terdiam.
Pandangannya bertumpu pada sebuah benda yang berada diatas meja tepat didepan cermin. Sebuah benda yang terjatuh dari seorang gadis yang berada didepannya saat mereka bersamaan keluar dari bandara menuju mobil jemputan masing-masing. Sigit melihat dari kejauhan ketika gadis itu hendak masuk kedalam mobil ada sebuah benda kecil yang terjatuh dari tasnya. Pemilik benda itupun tidak mengetahuinya dan mobilnya berlalu meninggalkan bandara.
Sigit tidak mempedulikan benda itu ia terus berjalan melewatinya, namun bukannya terus berjalan justru ia berhenti tepat setelah melewatinya. Sigit masih dengan berdiri memperhatikan benda kecil itu dan mendekatinya.
Spontan tatapan matanya terpaku pada benda kecil itu.
"Kamu menyukai gantungan kunci itu?"
"Iya aku sangat suka dengan gantungan kunci bintang ini mas, unik. Dia bisa bercahaya seperti bintang di langit."
"Kalau kamu suka, kamu boleh mengambilnya."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Hm. Ambil aja itu buat kamu."
"Jadilah seperti bintang yang selalu bersinar di langit, indah dipandang dan dapat menenangkan yang memandangnya, ia memiliki energi yang bisa mendatangkan berjuta manfaat pada insan yang menatapnya sehingga energi positif juga yang tersalurkan padanya. kamu paham?."
"Iya mas paham. terimakasih."
"Bidadari?" gumam Sigit lirih seraya mengambil benda kecil itu didepan cermin yang sempat ia pungut tadi malam dini hari. Ia teringat peristiwa masa kecilnya yang sangat menyenangkan saat itu, mendapatkan seorang teman kecil yang baik dan lugu, wajah bidadari kecil yang terlihat malam itu masih lucu dan menggemaskan baginya.
"Benarkah gadis tadi malam itu adalah bidadari yang akhir-akhir ini ada dalam mimpiku? gadis kecil yang lucu? gadis kecil yang bisa menghibur kesedihanku malam itu dengan selalu bersandar didadaku semalaman karena rasa takutnya waktu itu? bidadari... ternyata kita dipertemukan disini." Sigit bermonolog sambil memegang gantungan kunci itu, matanya tidak berkedip menatap sebuah benda yang berada ditangannya.
"Aku harus menemukan gadis itu dan memastikan kebenarannya." lanjutnya bersemangat lalu segera memasukkan gantungan kunci itu didalam saku celananya dan bergegas keluar kamar menuju tempat yang sudah terjadwal untuknya beberapa hari kedepan.
❄️❄️❄️
"Marina, kamu yang sabar ya, tenangkan pikiranmu jangan berpikir yang tidak-tidak." ucap Bu Arini pada istri keponakannya yang masih menangis.
"Iya mbak benar kata ibu. Kalau mbak menangis terus itu tidak akan menyelesaikan masalah justru mbak akan semakin tidak tenang dan bisa-bisa mbak ikutan sakit nantinya." Winda menambahi perkataan ibunya.
Marina mengusap air matanya menatap kedua wanita disampingnya.
"Habis bagaimana lagi? aku tidak tega melihat mas Ibrahim seperti itu." jawab Marina dengan menatap sosok suaminya dari balik pintu kaca yang tergeletak diatas brankar penuh dengan peralatan medis menempel ditubuhnya.
"Banyaklah berdoa mbak, agar mas Ibrahim segera sembuh."
Marina menganggukkan kepalanya.
"Sabar ya mbak." Winda memeluk tubuh wanita yang hanya selisih tiga tahun lebih tua darinya. Mencoba memberikan kekuatan menghadapi cobaannya.
Marina membalas pelukan Winda dan menyandarkan kepalanya dipundak winda.
"Terimakasih Winda sudah memberi semangat mbak."
Bu Arini memperhatikan Winda dan Marina yang berpelukan bagaikan dua saudara yang baru bertemu, ia tersenyum.
.
Dan akupun tersenyum 😄
.
.
.
Bersambung... 🤗🤗
Ayo akak2 semua berikan semangatnya lagi untuk babang dan Winda ya...
Dengan memberikan like, vote dan hadiah ya...
terimakasih 😊
__ADS_1
Saranghe 💞💞