
Setelah berhenti dimasjid dan menunaikan shalat maghrib, mereka melanjutkan kembali perjalanan pulang kerumah papi Winata.
Rintik hujan begitu deras membasahi mobil mereka, gebyar cahaya kilat semakin menyilaukan.
"Masya Allah kilatnya..." suara lirih Winda terdengar di telinga Sigit.
Didalam mobil, Sigit melihat wajah Winda terkena cahaya kilat terlihat jelas sedang cemas ketakutan.
kruuuk kruuuk kruuk
Tiba-tiba terdengar suara dari perut Winda. Sigit mencari arah suara yang menggelikan hatinya.
"Lu laper? "
Winda menganggukan kepalanya menahan malu karena ulah mahluk yang ada didalam perutnya tidak bisa diajak kompromi setelah seharian belum makan.
"Tadi lupa belum makan siang karena menyelesaikan laporan, kan besok aku sudah izin untuk beberapa hari." jawab Winda.
Sigit segera membelokkan mobilnya yang memang kebetulan restaurant yang dibookingnya tadi sore sudah didepannya.
"Kita makan disini saja." kata Sigit memarkirkan mobilnya. Walaupun sebenarnya dia sudah tidak berniat mengajak Winda dinner ditempat ini, namun karena kasihan mendengar Winda melupakan makan siangnya, ahirnya membuat Sigit iba terhadapnya.
"Ayo turun." ajak Sigit ketika pintu mobil sudah terbuka, dan bergegas berlari dibawah hujan deras meninggalkan mobil diparkiran yang diikuti oleh Winda.
Dengan baju yang sudah basah karena air hujan yang mereka terjang, mereka masuk didalam restaurant.
Duuuuar duaaaarrrrr
Terdengar suara petir bersahutan.
Winda yang berjalan dibelakang Sigit seketika kaget mendengar suara petir yang menggelegar, dengan spontan Winda menghamburkan dirinya dipunggung Sigit dari belakang.
"Astaghfirullahal 'adzim, Sigit! " teriak Winda mengalungkan tangannya di perut Sigit, kepalanya disandarkan dipunggung suaminya dengan mata terpejam.
Sigit tertegun merasakan pelukan Winda dari belakangnya, hatinya berdesir.
"Aku takut Git."
Suara Winda terdengar berat, dengan tubuh gemetaran yang dapat dirasakan oleh Sigit, Winda semakin mengeratkan pelukannya disaat petir semakin bersahutan.
"Win. Winda." suara Sigit memanggil Winda, Sigit awalnya ragu memegang tangan Winda yang memegang perutnya, namun Sigit merasa kasihan melihat Winda yang ketakutan.
Sigit mulai merenggangkan tangan Winda yang masih dengan memeluk perutnya, dan berbalik menghadap Winda yang bajunya sudah basah air hujan, lalu memapahnya berjalan mendekati kursi.
"Ayo duduk dulu, tenangkan dirimu."
Mereka duduk dikursi saling berhadapan, Winda mengedarkan pandanganya, suasana sunyi, pencahayaan hanya dengan lampu temaram dan lebih didominasi cahaya dari lilin aroma terapi disekilingnya.
Makanan sudah tersaji diatas mejanya, sesuai pesanan Sigit.
"Sudah, ayo makan dulu, keburu dingin makananya."
Winda menatap suaminya yang mulai memakan makanannya, dia merasakan ada perbedaan dalam diri Sigit setelah mereka menikah, rasa cemas yang ditutupi dengan diamnya seakan-akan dirinya tidak peduli, namun itu dapat Winda rasakan berbeda ketika mereka masih dikampus.
"Lu kenapa? tidak suka? " Sigit melihat Winda yang masih memperhatikan dirinya belum menyentuh makanannya sedikitpun.
Winda menggeleng kepalanya.
"Bukan itu."
"Terus kenapa? masih takut? "
"Hm, pulang saja yuk."
"Tapi lu belum makan dari tadi siang. terus kalau masuk angin gimana? "
"Aku sekarang sudah tidak laper lagi Git."
__ADS_1
"Tidak! sekarang makan dulu, gue tidak mau lu ngerepotin gue kalau lu nanti sampai sakit."
Mendengar perkataan Sigit, Winda merasa tersinggung, dia semakin mematung.
"Ayo makan. setelah selesai makan baru kita pulang! " kata Sigit setelah melihat Winda yang masih belum menyentuh makanannya.
"Buka mulutnya." kata Sigit dengan mengangkat sendok yang sudah berisi didekat mulut Winda.
"Cepetan Win." kata Sigit lagi.
Winda melihat sorot tajam mata Sigit dari remang-remang cahaya lilin sedang menyorotnya, Winda pun membuka mulutnya.
"Dihabisin, setelah habis baru pulang." kata Sigit memberikan sendok dari tanganya kepada Winda.
setelah beberapa saat, ahirnya mereka sudah selesai dan mereka masuk mobil kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Diluar, hujan semakin deras, sorotan kilat masih terlihat dan petir terdengar pelan, Sigit mengurangi kecepatan mobilnya.
Hening didalam mobil, Sigit sesekali melihat Winda yang komat-kamit merapal doa dan memejamkan matanya.
Tin tiin
Mobil Sigit sudah berada didepan gerbang, kedatangannya sudah disambut pak Zain membukakan gerbang dengan membawa payung ditangannya.
"Selamat malam bang..." sapa pak Zain.
"Selamat malam juga pak."
jawab Sigit.
Sigit memarkirkan mobil sportnya di depan, lalu keluar dari mobilnya, mereka berlari kecil dibawah hujan deras menuju rumah dengan keadaan sudah basah kuyup, Winda masih mengekor dibelakang Sigit.
Namun, ketika mereka memasuki ruang tamu setelah mbok Lastri membukakan pintu rumah, suara petir kembali menyambar lebih keras dan disertai lampu padam. Sehingga Winda kembali memeluk Sigit dari belakang, kedua tangannya memeluk dada Sigit, kepalanya bersandar dipunggung suaminya dengan mata terpejam, mulutnya terdenger gumaman lirih.
"Sigit! Winda takut."
Pelukan Winda semakin kencang ketika petir saling bersahutan berkali-kali dalam keadaan gelap tidak ada penerangan cahaya didalam rumah.
Sigit tidak pernah merasakan seperti ini, badannya kaku menegang seakan ada kehangatan mengalir dari tubuh dibelakangnya.
"Git. takut." suara Winda semakin lirih terdengar ditelinganya.
Sigit masih terpaku, diam diruang tamu.
"Dingin, dingin sekali hmmmmm" racauan Winda dari bibirnya, tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Sigit merasakan pelukan Winda semakin mengendor, Sigit segera memegang kedua tangan Winda dan membalikkan tubuhnya kebelakang.
"Mbok Lastri, kenapa lampu cadangannya lama sekali hidupnya? "
"Mungkin sebentar lagi bang."
Baru saja mbok Lastri menjawab pertanyaan Sigit, lampu sudah menyala kembali,
Sigit melihat wajah Winda yang sudah pucat dengan mata terpejam, baju yang basah kuyup dan tubuhnya yang sudah lemas.
"Win? "
Sigit segera menangkap tubuh Winda yang sudah lunglai tak sadarkan diri.
"Mbak Winda."
"Mbok tolong buatkan air hangat untuk Winda, sepertinya dia masuk angin." kata Sigit terlihat cemas.
"Iya bang."
Sigit segera membawa Winda kekamarnya, mbok Lastri kembali mengunci pintu, dan berlalu menuju dapur.
Sigit meletakkan tubuh Winda diatas ranjang, tangannya ragu untuk mengganti pakaian Winda yang basah.
__ADS_1
Sigit masih mondar-mandir sambil mengusap rambutnya yang basah, dia masih bingung melakukan tindakan pertolongan pertama pada Winda.
Tok tok tok
Mbok Lastri masuk dari balik pintu kamarnya.
"Bang ini air hangatnya, dan ini minyak anginnya, segera ganti bajunya mbak Winda dan olesi minyak ini ketubuhnya, supaya hangat." kata mbok Lastri masuk kedalam kamar Sigit dengan membawa dua gelas air jahe hangat dan minyak angin diatas nampan, lalu meletakkannya diatas nakas.
"Mmm.... kebetulan mbok, tolong gantiin baju Winda sekarang ya. Sigit mau ganti baju dulu." kata Sigit lega setelah mendapati mbok Lastri, namun baru saja Sigit akan beranjak dari tempatnya berdiri mbok Lastri sudah menahannya.
"Bang, abang kan suaminya mbak Winda, jadi abang sendiri yang harus melakukannya, bukan mbok. Bukannya mbok tidak mau, tapi jika mbak Winda nanti sudah sadar pasti dia akan malu jika auratnya dilihat orang lain." mbok lastri menjelaskan kepada Sigit. Sigit terdiam memikirkan perkataan mbok Lastri barusan.
"Udah cepetan bang, mbok keluar dulu kalau begitu." lanjut mbok Lastri dan segera keluar kamar Sigit.
Setelah kepergian mbok Lastri dari kamarnya, Sigit mengambil pakaian ganti Winda dari lemari.
Antara rasa kikuk dan hawatir bercampur jadi satu dipikiran Sigit, dia memulai dari membuka jilbab, lalu baju Winda secara bergantian.
Berkali-kali Sigit menelan salivanya dan menggaruk-garuk kepalanya ketika membuka kancing baju Winda satu persatu dan melepaskannya dari tubuh Winda.
Kedua bola matanya membulat ketika tangannya sudah sampai pada giliranya membuka benda yang berwarna pink didada Winda, lagi-lagi Sigit menelan salivanya sendiri, ada gejolak yang tiba-tiba berbeda dari tubuhnya.
"Ya Tuhan, kuatkan iman Sigit..."
Lirihnya, dengan susah payah tangan Sigit sudah berhasil mengaitkan benda pengganti yang membuat hatinya berdesir.
Sigit segera mengoleskan minyak angin kesekujur tubuh Winda, dan memakaikan baju gantinya.
Setelah selesai mengganti baju Winda, Sigit segera ke kamar mandi membersihkan dirinya dan mengganti bajunya.
Sigit duduk disamping Winda, memandang wajah Winda yang masih belum sadarkan diri diatas ranjang, wajah Winda sudah tidak sepucat sebelumnya.
Tangan sigit membelai rambut Winda yang baru pertama kali Sigit melihatnya setelah mereka menikah.
"Win, Win baru saja di restaurant tadi gue bilang jangan sakit, sekarang lu malah seperti ini, bikin orang panik aja lu, cepet bangun Win." kata Sigit lirih mengusap kening dan rambut Winda.
Sudah sepuluh menit Sigit duduk dibawah ranjang menunggu Winda, kedua tangannya mengusap tangan Winda, setelah cukup lama mengusap tangan Winda, kini jari-jari tangannya saling bertautan dengan jemari Winda dengan niatan menyalurkan rasa hangat dari tangannya ketangan Winda, sampai rasa kantuk pun menghampirinya.
Tanpa disadarinya Sigit tertidur dengan berbantalkan siku kanannya ditekuk ditepi ranjang dengan jari tangan masih saling bertautan dengan jari tangan Winda.
Winda tersadar setelah merasakan kehangatan dari tubuhnya, tangannya seakan ada yang menggenggam.
Perlahan Winda membuka kedua matanya, dia melirik tangannya yang terasa berat digerakkan.
Winda mendapati genggaman tangan Sigit di tangannya, dia terheran dengan keberadaan dirinya yang sudah didalam kamar bersama Sigit, matanya masih memperhatikan suaminya yang tertidur dengan duduk dibawah.
Winda perlahan-lahan mencoba melepaskan genggaman Sigit dan berusaha duduk dari tidurnya, namun akibat pergerakannya membuat Sigit terbangun dari tidurnya.
Sigit mengerjapkan matanya, kemudian melepaskan tautan jari tangannya.
"Winda? lu sudah sadar? "
"Sigit? kenapa kamu tidur disitu? " kata Winda masih dengan suara lemahnya ingin mengetahui keterangan dari Sigit, lalu Winda memperhatikan rambutnya yang terurai sudah tidak mengenakan jilbabnya.
"Terus kenapa jilbabku sudah terlepas dari kepalaku? " mata Winda menatap manik Sigit, yang masih terdiam belum menjawab pertanyaannya.
Winda membuka selimutnya dan melihat bajunya yang sudah berbeda dari yang dia kenakan sebelumnya, mata Winda kembali membulat dan beralih kearah Sigit secara bergantian melihat bajunya dan Sigit.
"Jangan bilang kalau kamu yang sudah..." kata Winda tidak melanjutkan kata-katanya dengan membekap mulutnya sendiri setelah menebak dalam pikirannya apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Menurut lu, yang melakukan ini semua siapa selain gue? " jawab Sigit menutupi rasa kikuknya sambil menggaruk rambutnya.
"Sudah tidak usah berpikir yang macam-macam, kalau iya memangnya kenapa, dan kalaupun tidak memangnya kenapa juga? "
jawab Sigit santai, alisnya digerakan keatas.
"Sigiiiiiiiiiiiiiiit !!!! " jerit Winda.
__ADS_1
ayo dukung author dengan like, komen, votenya.
Thanks all๐