Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 36


__ADS_3

Sigit turun dari kapal, dia berjalan dibelakang mengikuti dua anggota tim yang beberapa jarak darinya, mereka sudah mendekati perahu kecil yang terdampar, Sigit memperhatikan kedua anggota tim yang berdiri sambil memegang-memegang sesuatu didalam perahu sambil berbicara entah apa, hanya gerakan bibir mereka yang dia lihat, sigit tidak mendengar karena jaraknya masih beberapa meter dari mereka, serta suara deburan ombak disekitarnya.


"Komandan!!! Ada korban didalam perahu!!! dia masih bernafas!!!" teriak salah satu anggota tim.


Komandan dan beberapa anggota tim yang lain segera turun dari kapal dan menyusul kelokasi dengan membawa tandu darurat.


Sigit mempercepat langkah larinya bersama Willy dibelakangnya, setelah mendengar teriakan anggota tim didepannya, dia bersemangat kembali dan sangat berharap bahwa korban itu adalah Winda, istrinya.


"Ya Allah ya Tuhanku... lindungilah Winda istriku... dan semoga orang yang ada didalam perahu itu adalah Winda." dalam hati Sigit selalu memohon keselamatan untuk istrinya.


Sigit telah sampai didepan perahu kecil, pandangannya tertuju pada tubuh seorang perempuan yang sangat dia kenal sedang terbujur sendirian didalam perahu dengan wajah yang pucat.


"Winda??" suara Sigit yang keluar dari mulutnya sangat lirih, tubuhnya seakan tidak bertulang, lemas, lunglai tidak berdaya, tangannya memeriksa denyut nadi istrinya yang dia rasakan sangat lemah.


Orang-orang disekitarnya melihat ada gurat antara sedih bercampur senang diwajahnya.


"Ini benar istri bapak Sigit?" tanya salah satu anggota tim kepadanya, yang diangguki kepala Sigit.


"Iya pak, dia Winda, istri saya"


Sigit dibantu tim anggota mengangkat tubuh istrinya dari dalam perahu kecil itu untuk dipindahkan dihamparan pasir yang lebih luas.


"Tubuhnya sangat lemas pak, dia membutuhkan pertolongan pertama." kata anggota tim.


Sigit langsung menekan pelan-pelan dada Winda sambil memanggil nama Winda berkali-kali, rasa cemas, takut kehilangan hinggap dibenaknya.


"Win, bangun Win..."


"Win, jangan tinggalin abang Win..."


Sigit memberikan nafas buatannya untuk Winda, kemudian menekan dada Winda kembali, Sigit melakukan itu sampai berkali-kali, nafasnya yang ngos-ngosan tidak dia pedulikan, yang dia inginkan hanyalah istrinya yang unik, yang tegas, yang mandiri, dan yang terbaik untuk dirinya kembali bersamanya.


Willy dan segenap tim gawat darurat sangat terharu menyaksikan kegigihan Sigit yang disertai kehawatiran diwajahnya untuk memberikan pertolongan pertama terhadap istrinya.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk." Winda ahirnya mengeluarkan air dari mulutnya setelah mendapatkan nafas buatan dari Sigit yang terahir.


Semua orang disekitarnya bernafas lega melihat keberhasilan usaha Sigit memperjuangkan istrinya yang sangat menegangkan, bahkann mereka mengira Winda sudah tidak bisa tertolong lagi, namun hanya Tuhanlah yang menentukan.


"Alhamdulillah ya Allah... engkau selamatkan istriku." ucap Sigit bersyukur melihat istrinya masih selamat.


"Sigit...??" suara Winda lirih menyebut nama Sigit dengan menatapnya dan orang-orang disekitarnya, tidak lama setelah menyebut nama Sigit, Winda kembali tidak sadarkan diri.


Sigit dan Willy segera memindahkan tubuh Winda diatas tandu darurat yang sudah dibawa komandannya sedari tadi, kemudian membawanya menuju kapal.


Setelah berada diatas kapal sang komandan menghubungi pihak rumah sakit untuk segera menyiapkan ambulan dipantai.


"Sabar Git, lu harus kuat untuk menjadi sandaran Winda. lu tidak boleh sakit."


Willy menghibur sahabatnya disela-sela tangan mereka menggosokan ke tangan Winda.


Sigit dan Willy tidak henti-hentinya menggosok-gosok tangan Winda memberikan kehangatan.


Setengah jam sudah mereka melalui medan perjalanan laut, hingga sampailah mereka dipantai dengan disambut ambulans putih yang sudah menunggunya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Gerombolan orang yang berada dipantai mulai riuh terdengar, Silvi dan Tania menangis berpelukan, merekapun dihibur Willy, Topan dan John.


Petugas ambulans membantu Sigit dan Willy memindahkan Winda kedalam ambulans.


"Terimakasih komandan dan anggota tim semua atas kerjasamanya." ucap Sigit kepada komandan beserta anggotanya sebelum mobil ambulans berlalu.


"Sama-sama pak. itu sudah tanggung jawab kami, dan semoga istri bapak baik-baik saja."


"Aamiin, terimakasih pak."


"Silvi, Tania tolong ambilkan ganti kami divilla, lalu antarkan ke rumah sakit Sehat Sejahtera ya." ucap Sigit kepada kedua sahabat istrinya.


"Iya Git. Kita segera menyusul kesana." jawab Tania.


(Flash back)


Winda melihat seorang bocah kecil kesulitan mengambil bola yang hanyut terbawa air, dia merasa kasihan melihatnya, lalu dia berniat menolongnya dengan mengambilnya.


Tanpa Winda sadari dirinya semakin jauh berjalan merintangi air laut, dia mencoba melawan arus ombak menuju darat, namun justru ombak pasang semakin menyeretnya ketengah lautan.


"Abaaaang...."


"Baaaaaang..."


"Sigiiiiiiiit."


"Giiiiiiiiiiiit."


"Tolooooong hap" "Tolooooooooong hap hap"


Winda berusaha menjerit dan memanggil-manggil nama Sigit meminta bantuan dan mengangkat tangannya, namun ternyata tidak ada satupun orang yang mendengarnya, hingga tubuhnya dihembaskan ombak yang datang semakin tinggi.


"Hasbunallah wani'mal wakil ni'mal maula wani'man nashiir."


"Hasbunallah wani'mal wakil ni'mal maula wani'man nashiir." berulang kali Winda berdzikir memohon pertolongan dari Tuhannya.


Winda mendapati busa yang cukup besar untuk dijadikan bahan lantaran agar badannya dapat mengapung, namun tubuhnya sudah mulai lemas, dia masih berusaha mencari sesuatu disekitarnya, dia melihat ada perahu kecil didekatnya saat dirinya berada ditengah air laut yang berombak besar.


Tangannya berusaha meraih perahu kecil itu dengan susah payah penuh perjuangan, hingga pada ahirnya dia berhasil berada diatas atas perahu kecil.


Winda mendayung mencari sesuatu agar bisa dia gunakan untuk mendayung, namun dia tidak menemukan apa-apa, ahirnya dia memutuskan mendayung dengan menggunakan kedua tangannya untuk bisa menuju darat, akan tetapi percuma saja apalah daya kekuatannya ditengah sapuan ombak.


Lama sudah Winda bergelut diatas air laut sendirian, tubuhnya terasa kian lemah tak berdaya, ahirnya Windapun pasrah antara hidup dan mati.


"Astaghfirullahal 'adziim."


"Astaghfirullahal 'adziim."


"Astaghfirullahal 'adziim."


"La ilaha illallah muhammadurrasulullah..."


"La haula wala quwwata illa billah"

__ADS_1


kalimat dzikir itulah yang selalu ia sebut dalam keadaan sempitnya sekarang, sampai ia tidak sadarkan diri diatas kapal kecil dan terdampar di pulau kecil.


(Flash On)


Sigit mengikuti para perawat yang mendorong istrinya diatas brankar menuju ruang IGD, dia terlihat gusar melihat keadaan istrinya.


Dokter nenangani istrinya yang kini sudah dipindahkan diruang ICU karena keadaannya yang semakin kritis.


Tidak henti-hentinya Sigit berdoa untuk keselamatan istrinya, begitu pula dengan kelima sahabatnya melakukan hal yang sama, mereka menunggu Winda diruang tunggu dengan berderaian air mata.


Tidak lamapun dokter keluar dari ruangan ICU memanggil Sigit sebagai wali pasien.


Mengingat kondisi Winda yang masih kritis, untuk sementara pihak keluarga belum diperbolehkan untuk melihat keadaan Winda diruang ICU, bukan Sigit namanya kalau sampai tidak bisa memenuhi keinginannya untuk selalu berada disamping istrinya, apalagi disaat-saat seperti ini, Sigit tidak sanggup membiarkan istrinya berjuang sendirian, dengan perdebatan yang cukup panjang dengan dokter ahirnya membuahkan hasil diperbolekan dirinya menunggu disamping Winda.


Sigit membelai kepala istrinya yang menggunakan tutup kepala dan baju husus serba hijau. Air matanya meleleh ketika pandangannya terhenti di ventilator, mesin pernapasan pasien, kemudian beralih ke botol infus yang berada diatasnya dengan selang putih yang menghubungkannya ketangan kiri istrinya.


"Winda sayang... jangan takut, abang selalu bersamamu, abang selalu ada disampingmu, cepatlah bangun untuk abang sayang..."Suara Sigit lirih membisikkan ditelinga Winda.


"Abang kangen senyumanmu, bercanda denganmu, abang sangat mencintaimu sayang, jangan takut ya...abang selalu menunggumu disini..." lanjut Sigit membisikkan kata hatinya ditelinga Winda lalu mencium tangan istrinya.


Sigit memandang wajah sayu istrinya.


"Bagaimana aku bisa memberikan cintaku kepada orang yang sama sekali tidak mencintaiku?"


"Aku takut Git? dingin brrr"


"Aku takut tempat sempit, takut air yang dalam, aku takut petir."


"ketika umurku delapan tahun, aku pernah menolong temanku menimba air disumur rawa, waktu itu belum ada sumur seperti sekarang, ketika menimba yang kedua kalinya aku ikut tercebur didalam sumur bersama timba itu."


"Aku takut kedalaman air."


"Aku takut kedalaman air."


Sigit semakin tersedu-sedu mengingat kata-kata istrinya ketika menceritakan masa kecilnya yang takut dengan air yang dalam. tangannya kembali meraih tangan kanan istrinya lalu menciumnya.


"Maafkan abang sayang... maafkan abang yang tidak bisa menjagamu..."


Willy, Topan, John, Tania dan Silvi memperhatikan Winda yang terbujur berbaju serba hijau diatas brankar dari balik kaca putih ruang ICU, tangan Sigit sesekali membelai kepalanya kemudian mencium tanganya berukang kali dengan berderaian air mata, membuat hati mereka tersayat-sayat melihat pemandangan yang memilukan didepannya.


.


.


.


.


.


. Bersambung


kalau tidak kuat, siapkan tissu ya...

__ADS_1


Jangan lupa dukungan untuk babang Sigit ya...


love you all 💞💞💞


__ADS_2