Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 41


__ADS_3

Sigit memasukkan barang-barang Winda didalam bagasi mobil, kemudian membantu Winda duduk dikursi samping kemudi dengan menuntunnya dari kursi roda yang didorong suster, sementara dokter Tama tersenyum melihat Sigit yang perhatian terhadap istrinya, mereka pasangan yang serasi.


Winda sudah bisa berjalan sendiri, akan tetapi dia masih merasa pusing jika berjalan jauh, maka dari itu dokter Tama menyarankan untuk memakai kursi roda saja ketika berjalan menuju parkiran mobil.


"Jangan lupa dua minggu lagi kontrol ya pak Sigit." kata dokter Tama mengingatkan ketika Sigit berada didepan pintu mobil.


"Ya dok, saya akan mengantarnya besok. Terimasih kasih dokter." Ucap Sigit sambil mengulurkan tanganya berjabat tangan kepada dokter Tama.


"Sama-sama pak" jawab dokter Tama menyambut jabat tangan Sigit, lalu merundukkan kepalanya mendekati kaca jendela yang terlihat senyum Winda dibalik kerudung birunya.


"Semoga ibu baik-baik saja, dan jangan lupa jaga kesehatan." pesan dokter Tama kepada Winda.


"Baik dokter, akan saya ingat-ingat semua pesan dari dokter, terimakasih ya dok." kata Winda kepada dokter Tama yang membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum.


"Sama-sama."


Sigit mulai mengemudikan mobilnya melewati dokter Tama yang masih berdiri menunggu mereka sambil melambaikan tangannya.


Tin.


Sigit melajukan mobilnya kejalan sambil melirik istrinya yang terdiam melihat jalan raya didepannya.


"Kenapa?" tanya Sigit.


"Hm?"


"Kamu kenapa? ngelamun aja liat depan."


"Gak, gak ada apa-apa."


"Gak usah bohong, tuh mata kamu kelihatan kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan."


"Hmm... sok tau."


"Gini-gini juga pernah dapat materi psikologi Win, masak lupa."


"Iya tapi gak gitu juga kali Git."


Sigit tersenyum melirik Winda yang mencibirnya, dia lebih suka Winda sekarang yang terlihat cuek bisa menyesuaikan diri denganya, jika dulu Winda terlihat lebih pendiam penuh kehati-hatian setiap kali berbicara dan melakukan sesuatu, sekarang terlihat berbeda, lebih cepat merespon dan terbuka.


Setelah empat puluh menit mereka melintasi jalan raya, Sigit menghentikan mobilnya didepan toko bunga, lalu membuka pintu segera keluar dari mobilnya.


"Mau kemana Git?"


"Kamu tunggu disini, aku cuma sebentar."


"Hm."


Sigit membalikkan tubuhnya berjalan memasuki toko bunga setelah memastikan Winda.


Sementara Winda menunggunya didalam mobil dengan bermain gawai.


Setelah beberapa saat menunggu didalam mobil, Winda melihat Sigit sudah berada didepan pintu mobil.


"Lama nunggunya?" kata Sigit begitu duduk dibelakang kemudi.


"Gak juga." jawab Winda melihat buket mawar merah ditangan Sigit.


Sigit menatap wajah Winda sesaat, dia teringat buket mawar merah yang pernah diberikannya kepada Winda saat dia ingin memberi kejutan untuk istrinya sepulang kantor waktu itu, alangkah senangnya Winda saat itu yang merupakan buket pertama kali yang diterimanya.


"Untuk kamu."


"Hm?"


Winda memandang wajah Sigit terkejut dengan sikap Sigit yang mengulurkan buket ketangannya.


"Buat aku?" kata Winda menunjuk dirinya, dan diangguki kepala Sigit.


"Hm, buat kamu."

__ADS_1


Pandangan Winda beralih kebuket pemberian Sigit.


"Beneran?" ucap Winda seakan ragu dengan Sigit yang memberikan buket pada dirinya secara tiba-tiba.


"Diterima gak? kalau gak ya sudah dibuang saja ditong sampah yang ada didepan sono noh." kata Sigit sambil menunjuk dengan dagunya ke tong sampah warna kuning yang berada didepan toko bunga.


"Jangan. Ini bunga kesukaanku Git."


Winda segera mengambil bunga dari tangan Sigit, matanya berbinar lalu mencium aroma dari bunga mawar itu.


"Hm.... harum..."


Winda tidak menyadari jika Sigit memperhatikan dirinya dengan tidak berkedip, setelah puas dengan mencium aroma mawar dia menoleh kearah Sigit.


"Terimakasih ya, ini pertama kalinya aku dapat buket mawar secantik ini." kata Winda kepada Sigit dengan tersenyum bahagia, matanya menatap wajah Sigit penuh ceria.


"Win, buket ini bukan yang pertama lagi sayang, tapi yang kedua..." ucap Sigit dalam hati, matanya terasa panas menahan airmata agar tidak menetes ketika melihat istrinya yang begitu senang mendapat bunga kesukaannya, sama seperti pertama kalinya Winda mendapati bunga itu dari jok belakang.


"Iya." Sigit menjawab istrinya dengan suara parau menahan sesak didadanya, dan menutupi kesedihannya dengan tersenyum.


"Sudah yuk, kita lanjutkan lagi perjalanan pulangnya." kata Sigit mengalihkan perasaannya, dia tidak mau terlihat lemah didepan Winda.


Winda menyetujui perkataan Sigit dengan mengangguk.


"Hm."


Sigit kembali mengemudikan mobilnya dijalan raya dengan kecepatan sedang, karena jarak yang mereka tempuh hanya tinggal sepuluh menit lagi dari toko bunga tadi.


Sigit membelokkan mobilnya diarea perumahan Teratai Indah, kontrakan rumah Winda.


Winda terheran ketika mobil yang membawanya sudah berhenti didepan pagar rumah kontrakannya.


Sigit turun dari mobil dan membuka gerbang masuk, setelah itu Sigit masuk kedalam mobil lagi melaju kedalam parkiran mini disamping taman bunganya.


"Ayo turun Win..." kata Sigit membuyarkan lamunan Winda yang terlihat heran dengan tingkahnya.


"Tapi, bagaimana kamu bisa mengetahui ini rumahku Git?" tanya Winda membuntuti langkah Sigit.


"Em... nanti kalau sudah didalam aku ceritain ya..." jawab Sigit dengan memutar kunci pintu rumah kontrakan Winda.


Winda semakin terheran ketika memasuki rumahnya, dia terkejut dengan isi didalamnya, ada beberapa figura foto Sigit yang terpajang disamping figura fotonya.


Winda memperhatikan secara teliti ruang tamu, lalu kamar favoritnya yang berada disamping ruang tamu yang sudah terpajang foto Sigit, kemudian dia lanjutkan langkahnya berjalan menuju dapur, langkahnya terhenti dimeja makan dengan tangannya memegang sandaran kursi.


"Git, kenapa ada fotomu di kamarku dan diruang tamu? terus siapa yang merubah isi kamar favoritku didepan?" suara Winda penuh keheranan.


"Duduk dulu, makan siang dan shalat dzuhur dulu, setelah itu baru aku jelasin, yuk duduk dulu sini."


Sigit mencoba membujuk Winda agar tenang, dia takut jika Winda semakin shock jika mengetahui keadaan yang sebenarnya saat ini, menurutnya menjelaskan kenyataan hubungan mereka sekarang tidaklah tepat, mengingat Winda pernah memendam rasa jengkel terhadapnya karena kekonyolan yang pernah dia lakukan semasa awal kuliah mereka.


Winda membuka tudung saji, dia terperanjat ketika mendapati beberapa menu masakan diatas meja.


"Siapa yang memasak ini semua Git?" tanya Winda sambil menyiduk nasi diatas piring untuk Sigit.


"Tadi aku menyuruh orang untuk menyiapkan ini semua." jawab Sigit sambil melipat lengan kemejanya, dia memperhatikan tingkah Winda yang tiba-tiba menyiapkan makanan untuk dirinya seperti biasa yang dilakukan Winda sebelum peristiwa yang membuatnya hilang sebagian ingatannya, Sigit merasa hanya ingatan Winda yang terhapus, namun nalurinya masih sama seperti dulu terhadap dirinya.


"Yah mami sama ibu yang dibantu mbok Lasri dan Ningsih lah Win yang melakukan semua ini, tidak mungkin kan aku bilang sama kamu yang sebenarnya siapa yang melakukan ini semua... semalam aku sudah membicarakan ini sama mereka di kantin rumah sakit, maafkan aku bila aku tidak jujur padamu Win, itu semua kami lakukan demi kebaikan psikismu, nanti, jika keadaanmu sudah bisa menerima kenyataan ini, aku akan menjelaskan padamu Win... kenapa kami berbuat seperti ini, aku sebenarnya tidak tega sayang melihatmu begini, serba bingung melihat perubahan ini, termasuk kenapa aku bisa disini bersamamu, tapi aku akan mencoba membantumu mengingat apa yang sudah kamu lupakan, walaupun entah kapan itu waktunya, setidaknya aku sudah berusaha untukmu."


kata hati Sigit didalam benaknya.


"Itu berarti ada orang lain yang masuk dirumahku Git?"


"Hm." jawab Sigit sambil mengunyah nasinya.


"Aku tidak suka ya ada orang lain sembarangan masuk didalam rumahku Git."


"Ya sudah nanti aku bilang sama orangnya agar tidak kesini lagi dia, karena Winda tidak mengizinkan."


"Bukan begitu Git... aku cuma takut jika orang itu menyalahgunakan kepercayaanmu saja Git."

__ADS_1


Sigit tidak mau acara makan siangnya rusak hanya karena hal yang tidak penting menurutnya, dia membiarkan Winda begitu saja.


"Sudah yang penting makan dulu."


❄❄❄


Sudah keempat kalinya Winda mengikuti perkataan Sigit begitu saja tanpa protes untuk mengikuti shalat berjamaah bersamanya, dari shalat dzuhur, ashar, maghrib, dan sampai saat ini shalat isya', entah kenapa Winda merasakan ada yang aneh dengan hatinya yang tiba-tiba menurut dengan setiap ucapan Sigit.


"Sini duduk." Sigit menepuk sofa disampingnya sebagai isyarat untuk Winda duduk disampingnya begitu Winda memasuki ruang tamu.


Winda berjalan mendekati sofa dan duduk disofa depan Sigit.


"Aku duduk disini saja." kata Winda sambil membetulkan kerudungnya bagian depan.


"Baiklah."


Setelah duduk dan membetulkan cara duduknya Winda mengeluarkan secarik kertas yang dia bawa dari atas, lalu disodorkan diatas meja didepan Sigit.


"Apa itu Win?"


"Aku tidak tahu, tapi aku menemukan kertas itu diatas mejaku didalam kamar. Entah apa yang sudah terjadi dulunya sampai kamu mau menandatangani surat itu... aku tidak tau apa-apa tolong ceritakan padaku Git."


Sigit mengambil kertas yang disodorkan Winda kepadanya diatas meja, sebenarnya dia tau isi dari surat perjanjian itu, karena dialah yang telah merencanakan semuanya bersama orang tua mereka, harapan Sigit supaya dia bisa bersama Winda dan mengawasinya.


"Iya itu persyaratan yang kamu ajukan dulu waktu kamu mau skripsi, mengontrak rumah ini."


"Tapi kayaknya gak mungkin Git aku yang membuat ini."


"Ya... terserah kamu percaya atau tidak, yang penting kamu tahu sendiri bagaimana kekuatan surat yang dibubuhi materai dengan tanda tangan diatasnya." kata Sigit kembali meletakkan kertas itu diatas meja da berlalu keluar,


"Iya Git tapi tidak gitu juga kali, masak iya aku dikamar atas, padahal aku lebih suka dibawah, terus memasak, mendinglah kalau masak, tapi kalau ini pergi kekantor bareng, padahal kamu kan ngantornya dipengadilan sedangkan aku dikantor cabang WP, jauh tau Git... " Winda kesal dengan kertas yang diletakkan Sigit diatas meja.


Winda menggerutu mengikuti Sigit menuju teras rumahnya, dia melihat Sigit duduk dikursi besi dibawah untaian tanaman bunga melati.


"Kenapa kamu ikut keluar Win?"


Sigit menggeser duduknya berbagi kursi panjang dengan Winda, agar duduk disampingnya.


"Aku tidak mau perjanjian itu Git..." bujuk Winda pada Sigit.


Sigit menolehkan wajahnya menatap wajah Winda yang berubah


mendung.


"Terus maunya apa?" tawar Sigit pada Winda.


Winda terdiam sambil mempermainkan jari tangannya, tidak sengaja matanya terpaku dengan cincin yang melingkar dijarinya, perlahan-lahan dia melepasnya dari jarinya dan memperhatikannya lebih dekat.


Sigit memperhatikan raut wajah istrinya yang takjub meneliti setiap pahatan berlian dicincinnya.


"Ini pasti cincin mahal, kalau dilihat dari pahatan berliannya, ini bukan cincin biasa, tapi... dari mana aku bisa mendapatkan cincin sebagus dan semahal ini?" suara Winda lirih terdengar ditelinga Sigit sambil memperhatikan kilauan berlian yang terkena sinar lampu.


.


.


.


.


.Bersambung...


udah dipanjangin ya upnya...


ayo like, koment n votenya juga jangan lupa ya...


Yang sudah boom like, dan sudah jadiin kisah babang dan Winda sebagai cerita favoritnya Terimakasih…😍😍


saranghe...

__ADS_1


__ADS_2