Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 117


__ADS_3

Sigit masuk ruangan dan memeriksa berkas yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Gunawan diatas meja kerjanya. Dengan teliti ia membacanya dan menandatangani satu persatu berkas tersebut.


Sigit melirik tumpukan berkas yang masih menggunung dan harus selesai hari ini, terasa sangat capek sudah membayangkan kerjaannya hari ini. Ia ingin sekali cepat pulang ke rumah ingin segera bertemu dengan istrinya, menanyakan hasil dari pemeriksaan tadi pagi di dokter spesialis kandungan.


Sigit menggigit ujung pena, menghentikan kerjaannya sejenak, memikirkan istrinya yang sudah menunggunya pulang ke rumah


"Kira-kira sedang ngapain ya Winda?" Sigit meletakkan penanya diatas meja, meraih hp disamping tumpukan berkas didepannya.


Sigit mencari nama Winda lalu memencet layarnya untuk melakukan panggilan video call.


🎵🎵🎵🎵


"Hai, assalamualaikum."


Tidak menunggu lama panggilannya segera tersambung, wajah Winda pun terlihat dari layar hpnya.


"Wa'alaikum salam." jawab Winda melihat wajah suaminya. "Abang masih dikantor sekarang?" lanjut Winda memperhatikan ruangan yang digunakan suaminya.


"Hm, Abang bener-bener bete hari ini." Mata Sigit melirik tumpukan berkas. "Banyak bener kerjaan kantor."


"Ya sudah yang sabar bang kerjain saja, itung-itung kerja cari nafkah buat anak dan istri."


"Ye... kemarin juga gitu, Abang kerja buat istri dan anak Abang." sungut Sigit.


Winda terdiam melihat ekspresi suaminya.


"Bagaimana tadi hasil USG nya? baik-baik saja kan?"


"Hm. Alhamdulillah baik-baik saja, bayinya sehat, posisinya udah mapan, terus... kata dokter, Winda harus lebih sportif menjaga makanan."


"Baguslah kalau begitu. kalau sudah tau begini kan Abang lega dengarnya. Kamu juga bisa lebih berhati-hati mulai sekarang."


"Hm, Winda tadi sempet merasa takut sih."


"Takut? kenapa?"


"Winda takut jika Winda tidak bisa..."


"Tidak bisa apa?! jangan berpikir yang macem-macem ah, Abang tidak suka jika kamu berpikir yang aneh-aneh seperti itu." Sigit menatap wajah istrinya, ingin sekali ia berada disampingnya mengusap kepala istrinya saat ini, menenangkan kegelisahannya. "Kamu harus berpikir yang positif, jangan banyak menyendiri didalam kamar, lebih baik kamu menyibukkan diri dirumah bersama mami, Ningsih dan mbok Lastri. Biar tidak berpikir yang macem-macem."


Winda terdiam mendengar kalimat Sigit.


"Abang... Winda sudah rindu sama Abang, jam berapa Abang pulang nanti?"


"Mungkin agak malem pulangnya, sabar ya, nanti kalau sudah selesai Abang langsung pulang kerumah kok."


"Ya sudah sekarang Abang lanjut kerjanya, biar cepat pulang tidak kemaleman nanti pulangnya."


"Hm, ya sudah kalau begitu Abang tutup dulu, assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."

__ADS_1


Tok tok tok


Baru saja Sigit mengakhiri panggilannya dengan Winda, suara pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang dari luar.


Sigit melihat arah pintu diketuk sambil meletakkan hpnya kembali.


"Masuk!"


Setelah mendengar perintah darinya, seseorang dari balik pintu masuk dan berjalan mendekati meja kerjanya.


"Maaf pak, perwakilan dari perusahaan cabang ingin bertemu dengan bapak terlebih dulu saat ini sebelum meeting dimulai." katanya.


"Dimana dia sekarang?"


"Sudah menunggu di depan ruangan bapak."


"Suruh dia masuk."


"Baik pak." seseorang yang merupakan bawahan Gunawan itupun segera membalikkan badannya berjalan keluar ruangan meninggalkannya. Lalu mempersilahkan tamunya memasuki ruangan atasannya.


"Permisi."


Tidak berselang lama setelah kepergian orang tadi, terdengar suara seseorang yang baru dibicarakannya.


"Iya masuk." jawab Sigit sambil meraih penanya, melanjutkan pekerjaannya.


"Selamat siang pak."


Mata Sigit menatap sosok yang berdiri didepannya.


Terkejut.


Sigit tidak berkedip melihat orang yang sudah didepannya. Ia tidak percaya jika saat ini bertemu lagi dengan laki-laki didepannya itu.


"Renaldi? apa dia orang yang dimaksud sebagai perwakilan dari perusahaan cabang tadi?" kembali dadanya bergemuruh."Beliau seseorang dari perusahaan cabang yang berada di pedalaman, namanya pak Renaldi."


"Beliau mengatakan jika ingin bertemu dengan mbak Winda dan akan datang kesini lagi." lagi-lagi perkataan karyawannya terngiang.


Renaldi tidak kalah terkejut begitu melihat sosok seseorang didepannya, menatap balik sorot mata Sigit.


Dengan tiba-tiba suasana terasa bagaikan ditengah kutub dalam ruangan itu.


Dingin.


Hening.


Renaldi mencoba menenangkan dirinya, ia tersenyum pada Sigit lalu berjalan mendekati meja Sigit. Sedangkan Sigit menatap tajam memperhatikan Renaldi yang semakin mendekatinya, hatinya sangat kesal merasa muak dengan wajah Renaldi.


"Suatu kehormatan tersendiri bagi saya bisa bertemu langsung dengan anda lagi bapak Sigit Andra Winata." kalimat Renaldi terdengar sangat tajam menusuk hati Sigit.


Sigit terdiam mendengar kalimat Renaldi dan menatapnya semakin sinis, Renaldi berdiri tepat didepan mejanya dengan kedua telapak tangannya bertumpu diatas meja.

__ADS_1


"Kenapa tidak si tua itu yang berada disini? kenapa harus si sialan ini yang harus aku temui! oh iya, dia adalah suami Winda. hh! sepertinya asyik jika aku mengatakan sesuatu tentang wanita yang dinikahinya itu. Menarik! pasti sangat menarik!!" Renaldi tersenyum memikirkan sesuatu yang akan membuatnya senang melihat wajah Sigit yang kepanasan.


Sigit menatapnya dengan tatapan sinis. Kedua pasang bola mata itu saling menyorot dan saling menyudutkan lawan bicaranya.


"Beliau seseorang dari perusahaan cabang yang berada di pedalaman, namanya pak Renaldi."


"Beliau mengatakan jika ingin bertemu dengan mbak Winda dan akan datang kesini lagi."


Suara karyawan itu mengusik pikirannya, semakin menari indah memainkan amarahnya.


"Langsung ke inti pembicaraan saja! apa maksud lain dari kedatangan mu kemari!" ucap Sigit tanpa basa-basi.


Renaldi tersenyum memasang wajah datar.


"Tenang saja pak Sigit, bersikaplah seperti istri anda yang sangat bersahabat itu."


Deg.


hati Sigit semakin bergemuruh, rahangnya sedikit mengeras mendengar ucapan Renaldi.


"Apa maksud dari perkataan mu itu?!" suara Sigit lirih dengan nada penuh tekanan, ia merasa bahwa Renaldi sedang sengaja memancingnya.


"Yah.... ternyata seorang wanita yang begitu anggunnya menggunakan gamis menutupi tubuhnya yang dilengkapi dengan manisnya hijab menutupi kepalanya, sehingga membuatnya semakin mempesona memikat setiap orang yang sedang bersamanya saat itu." menjeda kalimatnya, mengalihkan pandangannya kearah pena Sigit lalu menyahutnya hingga sempurna beralih ditangannya.


Sigit tersentak melihat tingkah Renaldi.


"Ditambah lagi dengan nada bicaranya yang sopan, sikapnya yang hangat sehangat mentari pagi bila bersama dengan seseorang. Sehingga membuatnya terlihat semakin sempurna untuk dimiliki." suara Renaldi terdengar sangat santai, pandangannya beralih pada sebuah pena yang sengaja ia mainkan ditangannya.


"Kurang ajar!!!" Sigit berjalan memutar mejanya hingga berdiri di depan laki-laki yang menyindirnya.


Matanya setajam sembilu merobek daging, kedua tangannya meraih kerah baju Renaldi, ia menariknya sangat keras hingga seakan Renaldi tercekik karenanya.


"Katakan!! apa maksud dari ucapan mu itu, katakan bangsat katakan!!"


Renaldi menahan kekuatan tangan Sigit yang sangat kuat menarik kerah bajunya membuatnya semakin susah bernafas.


"Jangan sekali-kali kamu melecehkan istriku, apalagi kalau kamu sampai menyentuh nya!!"


Sigit semakin mendekatkan wajahnya hingga tepat berhadapan wajah mereka.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk... sungguh dua karakter yang berbeda."


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗

__ADS_1


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2