
"Mas bintang terimakasih ya... sudah membantu dan menemani bidadari disini, jika tidak ada mas bintang tadi entah bagaimana bidadari sekarang, hiks, hiks... mungkin sudah hilang ditengah hutan dan di maka..."
"Ssstttt... jangan nangis, jangan berkata seperti itu pula." jari telunjuk Sigit diarahkan pada bibir Winda. "Yang penting sekarang bidadari tenangin dulu diri bidadari ya, dan jika bidadari sudah ngantuk, sini."
"Tidur disini, didada mas, anggap saja aku adalah kakakmu oke?"
"Baik mas."
"Kamu menyukai gantungan kunci itu?"
"Iya aku sangat suka dengan gantungan kunci bintang ini mas, unik. Dia bisa bercahaya seperti bintang di langit."
"Kalau kamu suka, kamu boleh mengambilnya."
"Benarkah?"
"Hm. Ambil aja itu buat kamu."
"Jadilah seperti bintang yang selalu bersinar di langit, indah dipandang dan dapat menenangkan yang memandangnya, ia memiliki energi yang bisa mendatangkan berjuta manfaat pada insan yang menatapnya sehingga energi positif juga yang tersalurkan padanya. kamu paham?."
"Iya mas paham. terimakasih."
Winda tertidur setelah mendengar suaminya, ia kembali memimpikan masa kecilnya yang tiba-tiba saja hadir begitu saja.
"Win, bangun."
"Hm?"
"Bangun. Kita lanjut yuk ke Monas sekarang."
Setelah beberapa waktu membiarkan istrinya tiduran diatas kakinya, Sigit membangunkan Winda dengan pelan agar tidak merasa bingung.
"Iya." Winda membuka matanya perlahan lalu melihat wajah suaminya yang berada diatasnya. "Winda ketiduran ya bang?" lanjut Winda tersipu malu setelah duduk dengan mengucek kedua matanya.
"Biasa pairok." jawab Sigit asal.
"Apa itu?" tanya Winda penasaran.
"Begitu sampai, ngorok." jawab Sigit sambil menertawakan dirinya.
Winda cemberut mendengar perkataan Sigit.
"Ye... kirain sejenis makanan."
Sigit terbengong mendengar perkataan istrinya.
"Lha? baru aja kita tadi makan di restoran? apa kamu sudah lapar lagi?" tanya balik Sigit sambil menatap heran wajah istrinya.
__ADS_1
"Iya, Winda memang sudah laper lagi sekarang."
jawab Winda enteng.
"Ya sudah ayo cabut dulu dari sini." ajak Sigit seraya menyodorkan tangannya pada Winda. "Terus kita mampir cari makanan lagi buat persediaan selama didalam mobil." lanjutnya seraya membantu istrinya berdiri.
"Hehehe kalau Winda makin bulet gak papa kan Abang?" tanya Winda menanyakan pendapat suaminya setelah berdiri dengan kedua alis terangkat.
"Hm boleh, asal jangan terlalu berlebihan. Tidak bagus." kata Sigit. "Kalau Abang sih tidak apa-apa, justru kamunya itu nanti PD tidak jadi bahan pembicaraan orang kalau badannya bertambah bengkak, seperti gajah bengkak?" lanjutnya.
Winda menghentikan langkahnya menatap suaminya.
"Ye... Abang kok ngomong begitu sih?"
"Lha iya kan?" Sigit menatap balik istrinya.
"Iya sih tapi tidak usah ada kata gajah bengkak juga kali bang..." sungut Winda. "Gajah itu udah besar loh bang, apalagi ditambah bengkak, seperti apa coba tubuh Winda bang?" lanjut Winda tidak terima dengan ucapan suaminya.
Sigit berjalan beriringan saling menggandeng tangan mereka, ia tersenyum melihat Winda.
"Maka dari itu... Abang tadi kan udah bilang, kamu PD tidak dengerin kata orang lain kalau seperti itu?"
Winda diam tidak menjawab. Ia melirik suaminya.
"Iya juga sih ada benernya kata abang, tapi Winda kan bisa diet nanti setelah melahirkan?"
Sigit melajukan mobilnya menuju tempat yang diinginkan Winda. Mereka berhenti sejenak di masjid untuk melaksanakan shalat, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Tidak berselang lama, semburat jingga yang sudah menghitam menambah semakin indahnya kota Jakarta dimalam hari. Ditambah lagi kendaraan berlalu lalang ditengah hiruk pikuk kota Jakarta dimalam Minggu membuat Winda merasa semakin seru petualangannya hari ini.
Lampu gedung pencakar langit dan lampu jalan terpancar cahaya seperti kemerlip bintang di langit.
"Sudah sampai."
Sigit melihat wajah Winda yang sumringah begitu mereka sampai diparkiran.
Mereka berjalan diatas rerumputan, menikmati udara malam saling bergandengan tangan berjalan beriringan.
"Asyik. Bener-bener seru tau bang malem minggu berduaan begini."
"Bukan seru lagi tapi romantis."
sahut Sigit menyela perkataan Winda. Ia melepaskan gandengan tangannnya, lalu duduk diatas kursi yang sudah tersedia. Winda mengikuti Sigit duduk disampingnya.
Mereka melihat para pendatang semakin banyak berdatangan melintasi sekitar mereka. Suara canda tawa muda mudi yang bergerombol terdengar menambah keramaian.
Sebagian pendatang yang melewatinya juga tidak sedikit menatap mereka berdua dengan tatapan rasa curiga.
__ADS_1
Sigit mendekap tubuh istrinya dari belakang. Meletakkan dagunya dipundak kanan Winda, mengungkapkan perasaannya saat ini yang berbeda dengan beberapa bulan yang lalu ketika mereka datang dulu.
"Hati Abang saat ini sangat tenang dan lebih nyaman dibandingkan dulu ketika kita kesini malam itu." ucap Sigit mengingat kembali. "Malam penuh mendebarkan hati Abang."
"Masak iya... yang bener..."
Sigit semakin mengeratkan dekapannya. Tangannya memegang perut Winda seraya mengelusnya.
"Hm beneran." Ia menganggukkan kepalanya, Sigit melanjutkan kalimatnya dengan nada pelan seakan berbisik ditelinga istrinya. "Antara gagal dan berhasil meyakinkan hati istri Abang yang masih tergoncang dirinya waktu itu karena kecelakaan yang menimpanya, sehingga mengakibatkan ia kehilangan sebagian ingatannya dengan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah rumah tangga Abang."
Winda menolehkan wajahnya dengan membalikkan tubuhnya menghadap Sigit. Ia menatap wajah didepannya itu.
"Namun, Abang yakin jika Abang menyampaikan sesuatu tulus dari hati maka istri Abang akan menerimanya juga dengan hati."
Mereka saling menatap bola mata lawannya.
"Abang..." suara Winda terdengar lirih, hatinya tersentuh, pikirannya kembali berputar ketika pertama kalinya Sigit mengajaknya ditempat yang sama. "Sebegitu beratnya perjuangan Abang meyakinkan diri Winda?"
Sigit memejamkan matanya lalu menatap kembali manik hitam istrinya.
"Itu karena Abang sangat menyayangi wanita masa depan Abang, wanita yang bersedia melahirkan penerus Abang nanti sayang."
Winda melihat tangan Sigit meraih kedua tangannya, lalu mencium punggung tangannya.
"Terimakasih sudah menerima kekurangan Abang."
Winda terpaku.
"Terimakasih untuk semua yang sudah kau berikan untuk Abang."
"Banyak hal yang Abang tidak tau menjadi tau apa itu pentingnya saling menjaga perasaan orang lain."
"Tetaplah berada di sisiku apapun dan bagaimanapun keadaannya rumah tangga kita nanti, mau kan?"
Winda menatap wajah suaminya. Ia memperhatikan manik hitam itu yang menyiratkan penuh kejujuran dan harapan padanya.
"Bagai pelangi setelah hujan hatiku, indah penuh warna. bagaikan balon udara diriku melambung tinggi di udara hingga dapat ku nikmati hamparan luas pemandangan yang menakjubkan mata. Kata-kata janji setia terngiang di telingaku walaupun ikrar sehidup semati yang terucap dari bibirmu saat itu tidak kudengar... jangan biarkan kidung sunyi bersemayam dalam rumah tangga kita, biarkanlah cerita indah yang selalu bertahta didalam kebersamaan kita dalam mengarungi samudra kehidupan bersamaku, entah untuk hari ini, esok, lusa atau selamanya... semoga Allah merestuiku menjadi istri serta ibu yang dapat menyejukkan setiap pandangan mata dan hati suami dan anak-anakku nanti... terimakasih juga untukmu suamiku sudah menjadikan aku sebagai ratu dalam kerajaan rumah tanggamu, walaupun aku bukan wanita pilihan. Terimakasih."
.
.
.
.
Bersambung 🤗🤗
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞