Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 15


__ADS_3

Faisal menyeruput teh yang dibawa Winda setelah menghabiskan dua potong pitzzanya.


Mereka berdua asik membicarakan suatu hal yang terkadang Sigit faham arah pembicaraan mereka, dan banyak hal juga yang membuat Sigit tidak mengerti. walaupun itu cuma membicarakan sekolah dan kerjaan sampai skripsi.


Sigit masih terdiam menyimpan rasa penasarannya dengan membolak-balikkan halaman buku Tata Negara milik Winda, seolah-olah sibuk membaca isi buku itu.


Lirikannya sesekali memperhatikan Winda dan Faisal yang terkadang tertawa setelah mendengar perkataan diantara mereka yang menurut Sigit sama sekali tidak lucu.


Faisal memperhatikan Sigit yang terdiam dan acuh dengan dirinya, seperti seorang bapak menunggui anak gadisnya yang sedang ketangkep basah berduaan dengan cowoknya.


"Winda gak mau kenalin siapa temen Winda? "


Tanya Faisal dengan melirik kearah Sigit yang masih sibuk dengan bukunya.


Mendengar pertanyaan Faisal, Sigit mengangkat kepalanya kearah Winda.


"Temen? hahaha iya temen. gue temen yang menikahi temen sendiri." kata sigit menertawakan dirinya sendiri dalam hatinya.


Winda menolehkan wajahnya kearah suaminya yang kini sudah mengalihkan pandangan dari buku ditangannya dan memperhatikan dirinya.


Winda terlihat gugup melihat tatapan suaminya yang terlihat tenang, dengan merubah posisi kaki kanannya diatas paha kiri, dan tangan bersedekap didada sambil memegang buku ditangan kanannya, sedang memperhatikan dirinya.


Winda segera mengalihkan pandangannya kearah Faisal.


"Oh iya mas lupa! " jawab Winda tersenyum kaku.


Sigit masih memperhatikan Winda menunggu jawabannya.


Winda menggaruk kepala yang tertutup jilbabnya.


Faisal memperhatikan Winda yang seperti memikirkan sesuatu.


"Sigit kalau dirumah kan panggilannya abang. iya abang."


Winda mengingat orang-orang dirumah Sigit memanggilnya dengan sebutan abang.


"A... abang. iya abang mas! "


jawab Winda sekenanya setelah mendapatkan ide yang cemerlang menurutnya dengan terbata-bata.


Namun baru saja Winda menjawab pertanyaan, Faisal justru membelalakkan matanya dan menertawakannya.


"Ha ha ha abang? Win, Win sejak kapan kamu punya abang? "


Faisal menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum kearah Sigit dan Winda bergantian.


Dia melihat arloji putih yang melingkar ditangan kirinya, lalu melihat kearah Winda dan Sigit.


"Ya sudah aku mau pulang dulu, sudah malam. tidak sopan laki-laki kerumah perempuan yang bukan mahromnya sampai larut malam! "


Faisal melirik Sigit dan beranjak dari duduknya mengulurkan tangannya kearah Sigit.


Sigit mengangkat sebelah alisnya terhenyak dari perkataan Faisal yang terasa sindiran untuknya. dan menyambut uluran jabatan tangannya.


"Saya pulang dulu ya abangnya Winda."


kata Faisal menjabat tangan Sigit dengan menekankan kata abang dikalimatnya pada Sigit, lalu pandangannya beralih kearah Winda.


"Kamu juga besok pasti sibuk ngantor sama ngampus kan? jangan tidur larut malam! " kata Faisal


Sigit masih diam memperhatikan laki-laki yang sok perhatian dengan istrinya.


"Siapa dia?! sampai seperhatian itu sama istri gue! tapi, kenapa juga dia bilang bukan mahrom? apa dia? "


gerutu Sigit dalam hatinya. matanya panas memperhatikan mereka berdua.


"Sok tau! " jawab Winda sambil berdiri dengan sedikit tersenyum.


"Assalamualaikum."


Faisal mengucap salam dan membalikkan tubuhnya berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


jawab Winda dan Sigit bersamaan.


Winda mengunci pintu kembali dan melihat Sigit sudah berjalan kearah kamar mandi.


Winda memunguti cangkir yang sudah tidak berisi dan kardus kosong pitzza, lalu membawanya kecucian piring.


Begitu selesai mencuci cangkir-cangkirnya. Winda mendapati Sigit keluar dari kamar mandi dan wajahnya sudah basah dengan air wudhu dan menuju ruang depan.


Windapun bergegas mengambil air wudhu dan segera melaksanakan shalat isya' yang sudah terlambat.


Winda beranjak dari atas sajadahnya dan merapikannya kembali dilemari gantungnya, dia melihat ranjangnya sudah ditempati Sigit yang tertidur pulas.


Winda memperhatihan suaminya yang sudah nyenyak di alam mimpinya.


Sejenak Winda memandangi wajah suaminya, terdengar dengkuran kecil dari tidurnya sehingga terciptalah senyum mengembang dibibir Winda.


"Ternyata kalau sudah tidur seperti ini wajahnya sangat teduh, tampan, keliatan machonya, tapi kalau sudah bangun hhhh hilang deh semuanya, yang ada tinggal nyebelin! " gumam Winda dengan senyum dibibirnya.


Jam didinding sudah menunjukan pukul 10 malam, Winda menutupi tubuh suaminya dengan selimut tebalnya, lalu membiarkannya tertidur diruangan kesukaannya.


Winda melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar tidurnya yang berada dilantai dua.


❄❄❄


Dirumah Winata


"Ya saya segera kesana! "


Papi Winata mengahiri suara panggilan.


"Mi, papi berangkat ke Singapura malam ini. Tolong siapin semua perlengkapan papi! sebentar lagi Gunawan sampai kesini jemput papi ke bandara."


"Malam ini? ada apa pi? "


"Papi harus segera mengatasi perusahaan yang disana. ini sangat penting mi! "


Tidak berapa lama setelah mami selesai membereskan bawaan suaminya, Gunawan sudah sampai di rumah papi Winata menemui mami Lia dan berbincang-bincang sebentar diruang tamu.


"Sebentar saya panggilkan papi dulu Gun! " mami Lia pun sudah siap dengan koper bawaan suaminya diruang tamu, dan beranjak ke ruang kerja papi Winata.


"Pi, Gunawan sudah datang! "


"Suruh tunggu sebentar! "


Papi membereskan berkas-berkas diatas meja kerjanya lalu berdiri dari kursinya.


"Mi, kabari Sigit! besok pagi suruh dia kekantor pusat! sebenarnya besok ada pertemuan penting yang harus papi hadiri disana, karena ada yang lebih penting lagi yang harus segera papi tangani, jadi urusan dikantor pusat biar Sigit yang menghandle. dan ini berkas-berkasnya sudah papi beresi semuanya."


Mendengar perintah suaminya, mami Lia mengerutkan keningnya. ragu dengan keputusan suaminya.


"Memangnya abang mau pi? "


"Mami tenang saja, papi tahu betul sifat Sigit. dia pasti akan datang kekantor kalau keadaan sudah mendesak, karena dia sudah beberapa kali menggantikan posisi papi kalau papi tidak ada. yang penting mami kabari dia besok pagi saja jangan sekarang! "


Papi berlalu dari meja kerjanya dan menghampiri mami Lia.


"Mami jangan hawatir! setelah ini kita akan melihat Sigit yang lebih bertanggung jawab! "


Papi Winata memeluk mami Lia dengan hangat dan mengecup keningnya.


Mami lia menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam, seolah-olah mengetahui ada rencana yang sudah disusun suaminya untuk Sigit putra satu-satunya yang keras kepala diantara tiga bersaudara.


"Ya sudah papi berangkat sekarang, sudah ditunggu Gunawan." pamit papi


"Iya hati-hati."


"Hmm."


papi Winata beranjak keruang tamu menemui asistennya dan berlalu keluar rumah, mami Lia mengiringi langkah suaminya sampai didepan rumah dan mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap papi


"Waalaikumsalam." jawab mami Lia dengan melihat langkah suaminya yang semakin menjauh kedalam mobilnya dan berlalu melintasi pintu gerbang.


❄❄❄


Tepat pukul empat pagi Winda sudah terbangun, perlahan Winda menggeser tubuhnya dari kehangatan selimut yang melilit ditubuhnya.


Hawa dingin masih terasa direlung tulang rusuknya, dia menggerakkan kakinya memasuki kamar mandi yang berada didalam kamarnya.


Selesai membersihkan diri dari kamar mandi, suara adzan subuh terdengar dikeheningan.


Winda segera melaksanakan panggilan subuh, dan bergegas menuruni tangga ke ruang dapur, dia memperhatikan pintu kamar tidur Sigit saat ini yang masih tertutup.


"Biarin aja dia masih tertidur, mending membuat sarapan dulu." Winda mengurungkan niatnya membuka pintu kamar dimana suaminya berada.


Tangan Winda mulai memasak nasi dimajigcom lalu mencari bahan masakan yang ada dimesin kotak pendingin yang berada di dapur cantiknya.


Setelah cukup lama berkutat didapurnya, ahirnya selesai sudah acara memasaknya.


Makanan sudah tersaji diatas meja.


Winda membawa secangkir kopi ditangannya untuk Sigit, namun pintu kamar Sigit belum juga terbuka.


Winda segera mengetuk pintu membangunkan suaminya.


Tok


Tok


Tok


"Git!! "


Tok


Tok


Tok


"Sigit! "


"Dasar ya laki-laki kalau sudah tidur susah dibangunin! hhh. "


belum ada sahutan dari dalam. tangan winda membuka pintu dengan pelan.


Samar-samar terdengar suara Sigit sedang menerima telpon dari seseorang.


"Tapi mi... Sigit tidak bisa! "


....


"Iya sudah coba nanti Sigit atur waktu hari ini."


....


"Iya mi... Sigit usahain."


....


"Iya iya!"


....


"waalaikumsalam."


Sigit menutup panggilan dan mengarahkan pandangannya ke istrinya yang sudah di depan pintu, sigit meletakkan hpnya diatas nakas lalu beranjak dari ranjang berjalan menuju Winda didepan pintu.


"Gue mau kekamar mandi belum shalat! " kata Sigit melewati istrinya.


Sigit memperhatikan meja makan yang dilewatinya ketika mau kekamar mandi. disana sudah tersaji menu sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Hmm bisa masak juga ternyata dia. " pikir Sigit dengan tersenyum.


__ADS_2