
Winda sendirian duduk di taman, rasa bosan dan jenuh mulai melanda dirinya. Pasca melahirkan Brian, Sigit telah melarangnya untuk bekerja lagi di kantor. Alasannya agar dirinya lebih rileks dulu, menenangkan pikirannya dan tentunya tidak terlalu terforsir dengan pekerjaan kantor. Sigit sangat memperhatikan keadaannya sekarang.
Malam ini terasa begitu sepi tidak ada satupun orang dirumah yang terlihat olehnya, hanya mbok Lastri yang masih terlihat sibuk di dapur sejak siang tadi. Entah dimana mami, Revan dan Ningsih tidak terlihat sejak pagi tadi. Terlebih yang membuatnya hatinya bertambah kesal ketika mengingat suaminya yang biasanya sore hari sudah berada di rumah tumben juga hari ini sampai jam tujuh malam belum juga pulang.
Berulang kali ia menghubungi nomer suaminya tidak juga diangkat, pesan tulisannya pun tidak ada satupun yang sudah dibaca. Rasa resah tidak tenang menggelayut mempermainkan pikirannya. Rasa khawatir tentu menghampiri benaknya.
Winda terdiam menatap coretan pena yang ia torehkan diatas lembaran putih hariannya, ia meluapkan perasaannya saat ini. Disela menulis isi hatinya, sesekali bola mata indah itu menatap berjuta kedipan bintang yang terlihat begitu indah seolah mereka tersenyum menemaninya, mengusir rasa sepi dalam kesendiriannya.
_Berjuta rasa terpendam dalam qolbu, rasa cinta yang selama ini terpatri dan mengendap dalam jiwa. Cinta suci seputih salju di belahan dunia terdingin, kan selalu terjaga sepenuh hati, tak kan kubiarkan mencair dan berlalu begitu saja tanpa sejarah. Cinta suci kan selalu setia bersama dalam menjalani setiap aral melintang, se setia jingga merah di ufuk barat menemani matahari hingga terbenam sempurna, mengakhiri ujung pergantian siang dengan indah terlukis nan menawan, hingga mampu menyihir para insan yang terluka._
Cup.
Tanpa Winda sadari, sebuah kecupan mendarat begitu saja di kepalanya saat dirinya terhanyut dalam untaian kata yang berhasil melekat diatas lembaran putih.
"Abang mencarimu didalam ternyata kamu disini sayang." Bola mata Sigit menatap manik hitam yang terlihat terkejut melihatnya.
"Sigit..." Winda berdiri dan memeluk tubuh suaminya.
"Hmmmm... Sepertinya saat ini tuan putri sangat merindukanku." ucap Sigit menggoda seraya tersenyum dengan sedikit melirik istrinya.
"Iiih Sigit aaah..." Winda malu memalingkan wajahnya dari suaminya.
"Eits, sepertinya kamu sudah nyaman ya memanggil nama suamimu tanpa kata Abang..." Sigit memeluk tubuh istrinya semakin erat, menempelkan bibir mereka dengan sorot mata yang tajam. "Katakan ada apa?" Lanjutnya.
Winda terkesiap dengan tingkah suaminya yang semakin panas.
"Git... Hmmppp hmmppp."
Winda gelagapan mencoba melepaskan pagutan suaminya yang menyerangnya begitu saja hingga mulut mereka sempurna menyatu.
"Panggil Abang sayang..."
__ADS_1
Sigit melahap bibir tipis didepannya saat wanita penakluk hatinya menyebut namanya.
"Katakan alasannya." Suara Sigit lirih dengan mata masih menatap lekat bibir tipis itu dan melahapnya kembali.
"Sigit ah... ahhh hmmppp hmmppp." Winda mulai kewalahan menghadapi terjangan Sigit yang benar-benar tidak memberikan kesempatan untuknya sedikitpun walaupun hanya sekedar melonggarkan pergerakannya, hingga akhirnya membuatnya bertekuk lutut pada suaminya agar mengakhiri serangannya.
"Oke, oke aku menyerah Abang..." ucap Winda susah payah penuh perjuangan untuk melepaskan bibirnya yang masih dalam pagutan Sigit.
Sigit mengendorkan pagutannya perlahan mendengar kalimat dari bibir Winda.
"Aku nyerah Abang..."
Kembali terdengar suara Winda tersengal-sengal setelah pagutan bibir mereka terlepas. Tangan kanannya mengusap bibirnya yang seketika terasa tebal. Sigit menatap lekat wajah dibawah nya.
Winda membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.
"Aku sudah mengingat semuanya."
Sigit terkejut, suasana menjadi hening saat Winda mulai angkat bicara.
Winda membalikkan tubuhnya, terdiam sejenak menatap wajah laki-laki didepannya itu dengan lekat, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Iya bang. Aku sudah mengingat semuanya bang... mulai dari aku berjalan sendirian pulang lembur dimalam itu hingga aku tenggelam di laut waktu itu." Kalimat Winda terjeda.
"Malam itu... ditengah hujan gerimis... Aku berjalan sendirian, tidak lama kemudian ada dua orang laki-laki mengikutiku dan menggodaku. Aku pun berlari untuk menghindari mereka, namun sayang aku terjatuh dan pingsan, dan... pagi harinya saat aku tersadar ternyata aku sudah menjadi istrimu..." Terhenti sejenak mengatur nafasnya yang terasa sesak dalam dadanya. Sementara Sigit ikut terhanyut membayangkan saat tragedi malam pertama kali kisah mereka terjalin.
Deg deg deg deg
Debaran jantung Sigit terasa bergetar lebih cepat saat mendengar cerita Winda, ada setitik rasa senang menguasai hatinya melihat kenyataan bahwa istrinya sudah mengingat kembali memori yang sangat urgent dengan hubungan mereka dalam rumah tangganya.
Sigit kembali fokus menyimak penjelasan Winda.
__ADS_1
"Aku menyadari siapa aku saat itu. Dan aku juga tau siapa kamu sebenarnya bang... aku juga tau betul jika kamu sama sekali tidak ada perasaan sedikitpun padaku... saat aku mendengar percakapan geng boy dan geng girl siang itu aku baru mengerti semuanya, bahwa... bahwasanya aku hanyalah bahan taruhan bagimu tidaklah lebih dari bahan leluconan kalian saja. Namun... malam itu saat kamu bilang bahkan berjanji padaku jika kamu akan selalu ada untukku dan akan berusaha menerima ku apa adanya, saat itu juga hatiku sangat bahagia. Ya, sangat bahagia sekali mendengar kalimat suamiku yang sangat membuat hatiku sejuk. Sesejuk embun pagi yang membasahi dedaunan yang layu." Winda mengalihkan pandangannya menatap langit hitam penuh cahaya bintang.
"Namun... setelah aku menyadari ini semua dan terlebih... terlebih lagi saat aku kehilangan Brian, aku kembali sangat ketakutan... aku takut jika kamu akan meninggalkan aku juga." Winda terisak menahan beratnya beban yang menghimpit ulu hatinya yang sudah ia simpan selama ini. Ia tidak sanggup menanggung perasaannya sendiri.
Sigit menggelengkan kepalanya, kedua matanya yang sudah mengembun sejak tadi tidak berkedip menatap wajah istrinya. Mulutnya bergerak namun tidak terdengar sepatah katapun.
"Winda... Ya Tuhan akhirnya engkau mengembalikan ingatan istriku.... Terimakasih ya Allah."
Sigit perlahan berjalan mendekati istrinya yang membelakangi dirinya.
Kedua tangannya memeluk perut Winda, lalu merundukkan tubuhnya dan menyandarkan dagunya pada pundak kanan istrinya, memberikan rasa nyaman pada pujaan hatinya. Seraya membisikkan isi hatinya tepat ditelinga Winda.
"Kamulah wanita yang sudah ditakdirkan Allah untuk mengisi tulang rusuk Abang yang kosong didalam sini sayang... Jadi sampai kapanpun kamu tidak akan tergantikan oleh siapapun. I love you more than you know honey." Sigit menempelkan pipinya pada pipi kiri Winda dan mengeratkan dekapannya pada wanita istimewa yang sudah memenuhi isi hatinya.
"There is only one name on my heart, dear, that is you Winda Zilvana Idris."
Air mata Winda lolos begitu saja terasa hangat membasahi kedua pipinya. Rasa ketakutan dan bahagia berbaur dalam palung hatinya.
Dekapan hangat dari seorang Sigit Andra Winata mampu menenangkan keraguan yang sempat mengusik pikirannya, sejak ingatannya pulih kembali pada masa-masa awal pernikahannya, Winda benar-benar ketakutan akan kehilangan sosok suami sempurna dimatanya. Kini laki-laki itu telah mampu meluluhkan hatinya dan meyakinkan ketulusan hati seorang Winda yang mulai tergantung pada perangai suaminya.
"Aku juga begitu bang... hanya ada satu nama didalam hatiku, yaitu kamu bang... Sigit Andra Winata suamiku." Winda membalas ungkapan suaminya, ia mencengkeram erat kedua lengan tangan Sigit yang melingkari diperutnya. Winda meyandarkan kepalanya pada dada bidang milik laki-laki yang mendekapnya dari belakang.
Mereka menikmati suasana haru penuh keromantisan yang tercipta begitu saja.
Ah... andaikan mereka tau jika aku cemburu dengan keromantisan mereka saat ini, pasti mereka tidak akan memperlihatkan so sweet mereka dibawah kerlipan bintang yang selalu tersenyum memandangnya.
Bagaimana dengan Anda readers???
.
.
__ADS_1
Bersambung 🤗🤗🤗
Sarangheo 💞💞💞💞