Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 53


__ADS_3

"Sudah yuk pulang."


"Hah? pulang?"


"Iya, pulang."


"Kan baru sesi pertama Git, yang kedua belum?"


"Kemaleman kalau nunggu yang kedua, yang penting kan udah liat atraksinya sayang..."


"Tapi kan belum puas Git."


Winda terpaksa mengikuti Sigit yang sudah berdiri dan akan beranjak dari tempat duduk mereka, dia tidak memperhatikan kata terakhir yang diucapkan Sigit.


"Besok lagi kan bisa kesini lagi, abang yang anter dan akan abang tunggu sampai sepuasnya." kata Sigit sambil berjalan didepan Winda.


Winda terkejut mendengar kalimat Sigit, tidak percaya dengan pendengarannya, dia menghentikan langkahnya dan membiarkan Sigit terus berjalan.


"Anginnya sudah terasa dingin, tidak baik kalau kelamaan terkena angin malam."


kata Sigit bermaksud mengingatkan Winda yang masih dibelakangnya.


"Jangan sampai kamu masuk angin hanya karena terlalu asyik dengan mood mu saat ini sementara kesehatanmu terabaikan." Sigit melanjutkan kalimatnya dengan masih berjalan tanpa menoleh kebelakang sambil kedua tangannya dimasukkan dalam kedua saku celananya.


"Win, kamu dengar kan kata-kata ku barusan? jawab Win jangan diam saja." Sigit menghentikan langkahnya saat perkataan nya tidak direspon Winda.


Sigit menoleh kebelakang lalu membalikkan badannya setelah tidak menemukan orang yang dicarinya.


"Win?"


Sigit memanggil Winda, menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok istrinya, lalu berjalan menuju tempatnya semula.


"Winda."


Sigit menghentikan langkahnya saat melihat sosok istrinya dengan kedua tangan bersedekap dada dan tas kecil bergelantung dipundaknya, jilbab dan gamisnya berkibar seperti bendera yang diterpa angin, Winda masih berdiri tidak jauh dari tempat mereka saat melihat atraksi.


Sigit berjalan mendekatinya dan terheran dengan tingkah Winda yang masih berdiri tidak bergeming dari tempatnya.


"Kenapa masih disini?"


"Aku masih ingin melihat atraksinya Git."


"Tadi kan sudah abang bilang, besok bisa kesini lagi, biar abang yang anterin."


"Hm? apa kamu bilang? abang?" Winda semakin yakin jika dia tidak salah dengar.


"Iya Abang."


Winda memandang Sigit yang berjalan semakin mendekatinya. Sigit menatap kedua bola mata Winda yang terlihat jelas dari bawah sinar lampu taman sedang terkejut mendengar ucapannya barusan.


"Iya abang, itu panggilan yang biasa kamu sebut untukku, dan aku ingin kamu menyebutkan kata itu lagi untukku, tidak cuma orang-orang di rumah saja yang memanggil ku abang, tapi istriku juga memanggil ku abang, supaya sopan didengar dan..."

__ADS_1


Sigit menggenggam kedua tangan Winda erat.


"Lebih romantis tentunya." lanjut Sigit lirih didepannya dengan wajah yang sudah tidak berjarak lagi.


Winda memperhatikan kedua mata Sigit dan ujung hidung mereka yang sudah menempel. Tangan Sigit beralih mengeratkan pelukannya di pinggang Winda sehingga tubuh mereka menyatu. Bibir Sigit mengecup lembut bibir tipis Winda.


"Abang akan selalu membantumu mengingatkan masa-masa indah yang sudah kita lakukan setelah kita menikah." Ucap Sigit pada Winda yang masih terpaku, diam dalam bisu mendengar kata-kata Sigit.


"I love you Winda Zilvana Idris, i love you."


"Kamu... serius mengatakan itu padaku?"


Sigit menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Winda.


"Sangat serius, aku sangat menyayangimu istriku, maafkan aku yang selama ini selalu mengejekmu, membuatmu sakit hati jengkel dengan sikapku, kamu mau kan memaafkan aku?"


Winda menatap Sigit, kedua mata mereka saling beradu pandang.


"Kamu mau kan memaafkan aku? kita jalani semua ini dari awal, seperti awal pernikahan kita tiga bulan yang lalu. kita lupakan masa lalu yang buruk dan kita jadikan pelajaran untuk kedepannya, Hm? mau kan?" ucap Sigit lirih.


Sigit melihat keraguan dari raut wajah Winda yang masih terdiam dalam pelukannya.


"Win?"


Winda masih mencari kejujuran dari pancaran sorot mata Sigit didepannya.


"Aku... masih perlu waktu Git untuk menerima semua ini, karena aku masih bingung dengan kondisiku yang seperti ini, dan... Camelia, bagaimana jika tiba-tiba suatu hari nanti dia datang untuk memintamu kembali?" ucap Winda ragu setelah terbayang gadis bule dalam Video yang berada di digital Sigit.


"Kamu masih belum percaya dengan bukti-bukti yang sudah kamu lihat dan kamu dengar hm? coba kamu lihat mataku sayang, lihat, apa ada yang aku sembunyikan darimu? apa ada kebohongan didalamnya?" kata Sigit saat Winda menatap kedua bola matanya.


"Masalah Camelia, dia hanya masa laluku, semua sudah berahir, sudah tidak ada apa-apa lagi diantara kami. Sedangkan kamu, kamu adalah masa depanku, calon ibu dari anak-anakku nanti, walaupun saat ini... aku sangat berharap sudah ada buah hati kita disini." Sigit memegang perut Winda kembali meyakinkan istrinya dengan mencari ide agar Winda tidak ragu lagi terhadapnya


"Ha? apa kamu bilang?"


Winda tertegun dengan kata-kata Sigit.


"Iya penerusku, karena kita sudah melakukannya setelah kamu menerima semua kenyataan bahwa kita sudah menikah, dan kamu sudah memaafkan kesalahanku yang dulu tentunya. Semua itu terjadi atas dasar persetujuan bersama bukan paksaan, karena aku tidak mau kamu menerima ini semua karena keterpaksaan."


Winda mendengarkan kalimat Sigit, tubuhnya terasa lemah tak bertenaga, Sigitpun merasakan tubuh Winda yang mundur beberapa langkah segera merengkuhnya dalam dekapannya, menyandarkan kepala Winda didadanya, berharap dapat memberikan rasa nyaman pada istrinya.


Winda meneteskan air matanya dan mengikuti tingkah Sigit yang mendekapnya didada bidangnya. Winda merasa betapa beratnya perjuangan Sigit selama merawatnya saat dirinya dirawat dirumah sakit dan membimbingnya penuh perhatian walaupun dilakukan dengan cara yang aneh menurutnya.


Winda kembali mengingat-ingat tingkah Sigit ketika dia baru sadar dari komanya di rumah sakit yang begitu terlihat rasa senang bercampur cemas diwajahnya, sampai saat ini mendekap tubuhnya penuh perhatian terhadap dirinya.


Winda berpikir bahwa dirinya telah salah menilai tentang suaminya selama ini, dia merasakan banyak perubahan pada sikap Sigit terhadapnya.


"Sudah jangan menangis sayang, abang hanya ingin kamu bahagia hidup bersama abang, hanya air mata bahagia yang boleh keluar dari mata indah ini, jangan air mata kesedihan."


Winda semakin sesak dadanya, air matanya berurai semakin deras dipipinya saat jari tangan Sigit mengusap air matanya.


"Git, maafkan aku Git." ucap Winda sambil mendelikkan wajahnya didada suaminya kembali dengan kedua tangan memeluk erat pinggang Sigit.

__ADS_1


"Abang sayang, coba panggil abang."


jawab Sigit dengan lega setelah Winda menerima perkataannya.


Ada untaian senyum yang mengembang dibibir Sigit, dia sangat bersyukur dengan usahanya untuk membawa Winda kembali dalam bagian dari kebahagiannya walaupun Winda tidak mengingat semua kisah bersejarah mereka sekalipun, namun masih bisa merasakan rasa itu disaat mereka mengulang peristiwa yang sama.


"Abang... abang mau kan memaafkan aku, membantu ku mengingatkan apa yang sudah terlupakan sebelum kecelakaan dipantai saat itu, aku tau... mungkin masih banyak lagi yang aku lupakan momen indahnya kebersamaan saat itu, dan juga masih banyak tindakan dan ucapanku yang telah melukai perasaan abang tentunya. jadi... tolong maafkan aku dan jangan pernah meninggalkan aku sendirian, tetaplah bersamaku dalam setiap keadaan." ucap Winda berharap pada Sigit dengan tulus.


Sigit menganggukkan kepalanya menatap manik hitam Winda didepannya yang terlihat sangat teduh, tangannya kembali mengusap sisa-sisa air mata yang mengalir dipipi istrinya.


"Tentu sayang, abang selalu memaafkanmu karena pintu maaf abang akan selalu terbuka untukmu selama kamu tidak melenceng dari aturan agama dan menyalah gunakan kepercayaan yang aku berikan padamu."


"Hm."


"Sekarang kita pulang ya, tanganmu sangat dingin, anginnya juga bertiup semakin kencang dan juga dingin. Abang hawatir jika kita lama-lama disini kamu akan masuk angin." ucap Sigit sambil mengecup pucuk kepala Winda lalu memapah jalan Winda dengan tangan merengkuh pundak Winda menuju parkiran.


❄❄❄


Mereka sudah berada didalam mobil dengan tangan kiri Sigit menggenggam tangan kanan Winda sambil mengemudikan mobil secara perlahan merayap dijalan ibu kota yang padat di malam minggu.


Winda sesekali melirik suaminya yang tidak melepaskan genggamannya, dia membiarkan Sigit mencium punggung tangannya ketika mobil mereka terhenti di lampu merah.


"Momen seperti ini yang selalu abang bayangkan, dan malam ini alhamdulillah bayangan abang selama ini sudah jadi kenyataan, bisa mengemudikan mobil sambil menggenggam tangan mu. Terimakasih sayang sudah menerimaku secepat ini."


ucap Sigit terlihat betapa gembira hatinya dari sorot kedua matanya dengan tersungging senyum manis dikedua pipinya.


Winda menyambut ucapan suaminya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Winda juga terimakasih pada abang, karena abang sudah meyakinkan Winda dengan perjuangan yang begitu kekeh ingin mempertahankan Winda, padahal kalau abang mau abang bisa meninggalkan Winda begitu saja."


"Abang bukanlah laki-laki seperti itu sayang, memang, dulu abang... suka sekali mengganggumu tapi setelah sumpahmu terlontar untuk abang, justru membuat abang semakin penasaran dengan kepribadianmu."


"Penasaran?"


"Hm."


"Kenapa? bukankah aku satu-satunya orang yang aneh menurutmu?"


"Ya... ternyata dengan keanehan cara pakaianmu, gaya bicaramu, dan pergaulanmu membuat dirimu telah menjaga harga dirimu dari pelecehan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Aku suka gayamu sayang."


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


ayo akak2ku yang terlop-lope ramaikan like n koment nya ya...

__ADS_1


Terimakasih...🤗


Saranghe...💞💞


__ADS_2