
Winda mengetukkan kuku-kuku jarinya diatas meja, tangan kanannya memegang android dengan jari tangan leluasa berselancar diatas layarnya membalas chat dari Tania dan Silvi, keadaan hening tinggal mereka berdua di meja itu setelah Willy undur diri dari pertemuan mereka dan segera menjemput Silvi.
Hingar bingar musik dan suara penyanyi kafe masih menghibur para pengunjung yang datang pergi silih berganti. Sigit masih sibuk dengan benda pipih ditangannya menyelesaikan pekerjaannya dengan Firman melalui online.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dari seorang wanita yang mengawasi keberadaan mereka dari meja yang tidak begitu jauh dari meja Winda dan Sigit, wanita itu tidak lain adalah Anita yang kebetulan berhenti di kafe balada, ingin makan siang di kafe yang sama dengan mereka.
Anita mengedarkan pandangannya disekitar ruangan didekat mejanya, ada begitu banyak pasang muda-mudi yang dia lihat disana. Begitu menyadari ada dua sosok manusia yang dia kenal sedang duduk berduaan tidak begitu jauh darinya, sempat membuat hatinya terusik ingin mengetahui hubungan Sigit dengan keberadaan mereka yang hanya berdua di kafe waktu makan siang, tidak lama kemudian terlihatlah Sigit sedang berdiri dengan mengulurkan tangannya pada Winda yang masih terduduk hendak pergi lalu merangkul pundak Winda meninggalkan kafe balada. Anita buru-buru mengeluarkan androidnya dan menyalakan rekam kamera setelah mengambil beberapa foto kebersamaan Winda dan Sigit.
Anita tersenyum dengan alis terangkat sebelah sebagai tanda kemenangan telah mendapatkan gambar yang akan menguntungkan dirinya, ada ide terencana dibalik senyumannya itu, sehingga tidak sabar ingin segera melaksanakan rencananya.
"Tunggu kejutan dari gue besok Git."
❄️❄️❄️
"Kenapa berhenti di sini bang, bukannya pulang? ini kan sudah sore?"
Suara Winda datar, penasaran dengan rencana Sigit yang menghentikan mobilnya diparkiran taman anggrek dan mengajaknya duduk dibawah pohon yang berada ditaman.
Winda melihat orang-orang disekitarnya sedang menikmati kebersamaan dengan pasangan dan ada juga yang datang bersama keluarganya. Terselip tawa bahagia melihat tingkah anak-anak kecil yang saling kejar mengelilingi bunga-bunga di taman.
Sigit menikmati quality time hari ini bersama Winda bebas ngantor, walaupun kerjaannya masih dilakukan dengan online. Paling tidak keinginannya untuk meluruskan kesalahpahaman istrinya sudah tidak ada kendala lagi. Sigit merebahkan tubuhnya diatas hamparan rerumputan taman yang luas nan asri karena terawat, Sigit mendaratkan kepalanya di pangkuan Winda yang seketika saja membuat Winda terkejut melihatnya, kaki kiri Sigit ditekuk bertumpu pada lutut kaki kanannya, matanya memandang wajah Winda yang menyimpan rasa terkejutnya.
"Abang? apa-apaan sih... jangan seperti ini, ini ditempat umum bang..."
Sigit terdiam sejenak melihat Winda yang sedikit kesal padanya.
"Hm, Abang tau."
"Terus? kenapa seperti ini?"
"Abang cuma ingin menikmati suasana ditaman anggrek dengan memandang keindahan langit dari pangkuan istri Abang."
jawab Sigit santai sambil tersenyum mengalihkan pandangannya ke langit biru.
Winda terdiam pasrah mendengar jawaban Sigit, membiarkan kepala Sigit yang terlihat nyaman dalam pangkuannya, dalam hatinya ada rasa senang dengan sikap suaminya hari ini yang memperlakukannya dengan romantis, tetapi Winda tidak ingin memperlihatkan suasana hatinya pada Sigit, Winda membuka bungkusan snack yang Sigit beli dari swalayan tadi lalu mengunyahnya perlahan-lahan.
__ADS_1
"Sayang..." panggilan Sigit mulai memecah kebisuan diantara mereka.
"Hm?"
"Masih inget, cerita Abang tentang bayi mungil malam itu?"
Winda menghentikan mengunyah snack didalam mulutnya memperhatikan raut wajah suaminya yang tenang menatap bola matanya.
"Hm, kenapa dengan bayi itu?"
"Bayi itu adalah Revan. Adik semata wayang Abang."
Winda terkejut, keningnya mengerut, terdiam. Tubuhnya seakan membeku mendengar perkataan Sigit.
"Re-Revan??"
"Hm, dia putra papi dengan wanita masa lalunya dulu sebelum bertemu dengan mami."
Sigit tersenyum melihat raut wajah Winda diatasnya yang terlihat tidak percaya. Kembali meletakkan bungkusan snack didalam plastik putih.
Sigit menghentikan ceritanya seraya meraih tangan Winda lalu menautkan jemari tangannya pada jemari tangan Winda diatas dadanya. Pandangan matanya menatap manik hitam Winda semakin dalam.
"Setelah itu kakek melamar mami untuk papi, mereka menikah dan lahirlah bang Bram dan Abang. Keluarga papi saat itu benar-benar sangat bahagia, hingga tibalah saatnya papi bertemu lagi dengan wanita itu yang ternyata sudah menjadi janda dengan seorang anak laki-laki yang seumuran dengan bang Bram. Suaminya meninggal ketika bekerja dalam sebuah proyek pembangunan yang tiba-tiba saja bangunan itu runtuh dan reruntuhan itu menghantam para pekerja disana termasuk suaminya, banyak korban saat itu, mereka dibawa dirumah sakit, namun sayang nyawa suaminya tidak bisa tertolong. Setelah itu mereka pindah di ibukota dan bertemu papi dan... menikah secara diam-diam hingga lahirlah adik Abang, Revan yang suka usil."
Sigit tersenyum ketika menyebut nama adiknya yang suka usil, Winda membiarkan jemari tangannya digenggam suaminya.
"Yaaah... bagaimanapun Revan adalah adik Abang. Karena air yang keluar dari seorang lelaki walaupun masuk didalam rahim yang berbeda adalah tetap sama sumbernya, bibit yang sama, yaitu benih yang sama dari papi Winata." Sigit tersenyum kecil setelah terlihat diwajahnya rasa pasrah terhadap kenyataan kehidupan keluarganya.
"Setelah sepeninggal ibu tadi, anak pertamanya bagaimana?" tanya Winda penasaran dengan saudara kandung Revan, Winda menanyakan keadaan kakaknya Revan.
"Dia... memilih tinggal bersama bibinya, tidak mau tinggal bersama dengan orang yang dia anggap telah menghancurkan kehidupan ibunya, dia juga sangat membenci Revan, maka dari itu kami menutupi identitas Revan rapat-rapat agar tidak terpecah putra-putra papi. Tapi... laki-laki itu justru ingin menghancurkan keluarga papi dengan ingin menghasud Revan sebagai alatnya."
ada kebencian dimata Sigit ketika mengucapkan kata laki-laki yang ingin menghancurkan keluarganya.
"Abang tahu siapa kakak kandung Revan?" tanya Winda.
__ADS_1
"Hm." Jawab Sigit terhenti sejenak memandang Winda sekilas, lalu melanjutkan kalimatnya. " Laki-laki itu adalah Renaldi, orang yang sudah memanipulasi berkas-berkas kontrak dengan perusahaan Utama tempo lalu, Pasti kamu sudah mengenalnya, karena papi memberikan tempat di perusahaan WP, tentu atas persetujuan mami, dan dia masih dalam kendali papi. Papi dan mami hanya ingin kami bersama, tidak terkecuali Renaldi, walaupun bukan darah dagingnya tetapi mereka tetap menganggapnya sebagai putranya juga, mengingat dia sebagai kakak kandung dari Revan."
"Kenapa tidak diberitahukan ke Revan saja semuanya? toh Revan sudah dewasa, sebentar lagi dia juga sudah lulus sekolahnya."
"Tidak, dia belum saatnya untuk mengetahuinya saat ini, karena dia masih labil pemikirannya. Dewasa itu menurutmu kalau melihat dari tubuhnya, tetapi cara mencerna setiap permasalahan dia belum siap, apalagi kalau sampai mengetahui status pernikahan orang tua mereka, justru dia akan hancur dan dia akan menyalahkan kehadirannya. Nanti jika sudah saatnya pasti dia akan mudah menerima keadaannya."
"Tetapi, jika Renaldi bertindak gegabah tanpa sepengetahuan papi?" tanya Winda ada perasaan khawatir.
"Tidak akan. Dia tidak berani melakukannya karena papi tahu betul kelemahannya. Apalagi dia sudah berani mence..."
Winda terdiam melihat suaminya tidak melanjutkan kalimatnya, dia mengerutkan keningnya.
"Dia kenapa?"
Winda memperhatikan Sigit yang terbangun dari pangkuannya dengan tangan menggenggam kedua tangannya.
"Sudahlah tidak usah membahas dia, Abang hanya ingin memastikan jika Abang tidak akan menyimpan kebohongan dimasa lalu Abang padamu, karena Abang akan selalu mengingat pesan mami waktu itu, jika seorang istri ditinggal pergi suaminya dengan wanita lain itu sangat menyakitkan, menyakitkan hati istrinya ataupun keluarganya. Untuk itu Abang tidak ingin peristiwa itu terulang pada wanita yang Abang sayang dan Abang cintai. Tetaplah disisi Abang, mengisi kekosongan tulang rusuk Abang yang kosong."
Winda terpaku menatap kedua bola mata Sigit semakin dalam mendengar kalimat Sigit yang begitu menyentuh hatinya. Benar-benar melambung tinggi bagaikan balon udara di angkasa diri Winda saat itu, ditambah lagi ketika tangan Sigit mengangkat tangannya dan berakhir dengan mencium punggung tangannya.
"Jadilah Wanita pertama dan wanita terakhir yang setia menemani Abang hingga hari akhir nanti Winda Zilfana Idris ku."
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Terimakasih akak2 semua yang sudah mendukung dengan hadiah, like, koment, n vote nya juga dong jangan kendor... 🥰
Terus support author ya jangan kasih kendor...💪🥰🥰
__ADS_1
Saranghe...💞💞