
"Aku semalam bermimpi ada seorang laki-laki yang mengucapkan ijab qobul dengan menyebut namaku, dia menggunakan stelan jas putih, dan aku juga memimpikan dirimu yang mengantarkan aku ke kontrakan ku kemudian menyuruh ku mengemasi barang-barang ku dan membawaku ke rumah ini, dan... aku bermimpi kalau aku sedang tenggelam dipinggir laut yang dalam, aku terseret ombak yang membawaku semakin jauh dari kerumunan orang-orang, aku berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya, anehnya dalam keadaan tenggelam aku malah memanggil-manggil namamu, hingga aku terbangun dan membuatku lelah, mimpiku hampir setiap malam tentang laki-laki berjas putih itu membuatku penasaran dan bertanya-tanya, sebenarnya apa sangkutannya laki-laki itu denganmu." Winda menjeda kalimatnya mengamati raut wajah Sigit di depannya yang terdiam menatap kedua bola matanya, setelah mengamati wajah Sigit, Winda melanjutkan kalimatnya.
"Aku beranjak dari tidurku lalu mencari petunjuk berharap bisa menjawab mimpi-mimpi ku setiap malam ahir-ahir ini. Aku berjalan menuju lemari, membuka satu persatu setiap pintunya dan laci didalamnya, namun aku justru mendapatkan kunci di laci satunya lalu membuka laci itu, aku menemukan digital ini dengan rasa penasaranku aku beranikan diri untuk mengambilnya dan melihat semua rekaman didalamnya."
Sigit mengerutkan keningnya dan mengikis jarak diantara mereka, lalu menggenggam tangan Winda.
"Maafkan aku yang sudah lancang me..."
"Jangan diteruskan Win." ucap Sigit memotong kalimat Winda.
"Aku tau perasaanmu. Aku tau kamu masih sulit menerima kenyataan ini, kalau kita sudah menikah. Bagaimanapun kamu menolak, kamu tidak percaya dengan penjelasan mami tadi pagi, tapi itu kenyataannya, kamu adalah istriku dengan bukti rekaman didalam digital ini dan... cincin di jarimu ini adalah cincin pernikahan kita, seperti yang kamu lihat direkam tadi." lanjut Sigit sambil mengangkat digital dari pangkuan Winda.
"Aku sangat bersyukur saat itu Revan merekam, mengabadikan momen terpenting dalam hidupku, walaupun awalnya aku sangat marah padanya, tapi sekarang bisa membantuku memberikan bukti nyata padamu Win." Sigit kembali meraih tangan Winda lalu menggenggamnya.
Sigit melanjutkan ceritanya yang dimulai dari kejadian pertama kali mereka bertemu dimalam hari yang tidak dia sangka malah berujung dengan pernikahan karena digrebek warga sekitar, hingga sampai terjadi tragedi tenggelamnya Winda yang mengakibatkan hilangnya sebagian memorinya, bahwa momen pernikahan merupakan momen terpenting mereka telah terlupakan oleh Winda.
Winda menitikkan air matanya mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut orang didepannya, dia benar-benar tidak mengira jika setiap mimpinya adalah peristiwa yang benar-benar dia lakukan, kenyataan.
"Ya Allah aku tidak menyangka seperti ini jawaban mimpi-mimpi ku selama ini, kalau aku adalah istri Sigit, orang yang suka meledekku, orang yang aku sumpahin mendapatkan jodoh yang lebih parah dari diriku, tapi malah Engkau menyandingkan kami untuk bersatu..." kata hati Winda setelah menyadari bahwa dirinya pernah sakit hati dengan ucapan Sigit yang selalu meledeknya.
"Winda..." panggilan Sigit lirih didepan wajah Winda yang sudah mengalihkan pandangannya kebawah.
"Win... kamu tidak kenapa-kenapa kan?" lanjut pertanyaan Sigit takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Win?"
Winda mengangkat kepalanya setelah tangan kanan Sigit memegang lalu mengangkat dagunya hingga wajah mereka saling berhadapan lalu tangan Sigit menghapus sisa air mata yang mengalir dipipinya.
"Kamu baik-baik saja kan?" kata Sigit kembali memastikan keadaan istrinya.
Winda hanya terpaku menatap manik hitam Sigit yang ternyata adalah suaminya.
"Ternyata apa yang aku lakukan saat bersamamu beberapa hari ini adalah sudah sering aku lakukan sebelumnya sehingga aku terbiasa melayani kebutuhanmu Sigit suamiku... suamiku? tidak, aku belum ingat semuanya, apa dia mencintaiku apa hanya sekedar kasihan padaku, aku tidak mau kecewa nantinya, ingat Win dia sudah ada bule, gadis yang jauh lebih cantik, lebih segalanya dibandingkan dirimu." Winda kembali bermonolog sendiri dalam pikirannya mengingat gadis bersama suaminya dalam rekaman video.
"Win? apa kamu merasa pusing?" tanya Sigit penasaran dengan Winda yang terdiam tidak menjawab pertanyaannya.
Winda menggelengkan kepalanya tersadar dari lamunannya setelah tangannya di gerakkan oleh Sigit.
"Tidak, aku sama sekali tidak pusing, cuma..."
Tok tok tok...
"Mas... mas Sigit... mbak Winda..."
Belum selesai Winda melanjutkan kalimatnya terdengar suara ketukan pintu kamar mereka yang diiringi dengan suara Ningsih dari balik pintunya.
Mereka saling pandang setelah menoleh pintu sebentar.
__ADS_1
"Itu suara Ningsih, biar aku saja yang bukain pintu nya."
"Hm."
Sigit melepaskan genggamannya dari tangan Winda, lalu segera berjalan mendekati pintu.
"Ada apa Sih?" ucap Sigit begitu pintu sudah dibuka.
Ningsih melihat wajah Sigit yang terlihat segar baru selesai mandi, dia senyum-senyum sendiri.
"Wah... asik-asik nih kayaknya si mas Sigit sama mbak Winda, em... kira-kira seperti apa ya bentuk mbak Winda sekarang? jadi penasaran deh... hihihi"
"Sih... ada apa senyum-senyum sendiri? ada yang lucu dengan mukaku?" suara Sigit mengagetkan lamunan Ningsih, lalu tersenyum nyengir didepan Sigit.
"E... ini mas Ningsih disuruh mbok Lastri membawakan makanan untuk mas Sigit dan mbak Winda, soalnya sudah ditunggu-tunggu mbok Lastri dimeja makan dari tadi mas Sigit sama mbak Winda tidak turun kebawah."
"Terus ngapain senyum-senyum sendiri tadi?"
"He he he he mas Sigit nih yang lembut napa bicaranya biar mbak Winda tidak takut sama mas Sigit he he he."
"Sini biar aku saja yang bawa makanannya masuk kedalam, kamu turun aja sana."
Ningsih menghentikan langkahnya yang akan masuk membawa nampan berisi makanan dan dua gelas jus ditangannya setelah Sigit menghadangnya dengan mengambil alih nampan dari kedua tangannya.
"Ih penasaran beneran deh, seperti apa kira-kira mbak Winda ya... pasti udah tidak berbentuk habis diterkam singa kelaparan hehehe"
"Ngapain masih disini Ningsih... senyum-senyum sendiri lagi, denger ya buang pikiran kotormu itu jauh-jauh. Sudah sana turun!"
"Hehehe iya mas, saya permisi dulu kalau begitu..."
Ningsih bergegas berjalan menuruni tangga sambil tersenyum.
Sigit meletakkan nampan diatas meja setelah menutup pintunya kembali, dia berjalan menuju ranjang menemui Winda, namun baru saja berjalan beberapa langkah dari sofa Sigit mendapati Winda ingin pergi.
"Aku mau keluar sebentar Git." pamit Winda begitu didepan Sigit.
"Mau keluar kemana Win?"
"Aku ada janji sama mbak Dian di kafe lili siang ini." jawab Winda sambil memutar badannya berjalan menuju pintu, namun tangan Sigit tidak kalah cepat menarik lengan Winda.
"Jangan pergi Win, temani aku hari ini, jangan kemana-mana." ucap Sigit saat Winda sudah tepat didepannya dengan sorot mata yang saling bertemu.
"Tapi aku sudah jan..."
"Winda tolong jangan bantah suamimu."
Winda ahirnya duduk diatas sofa putih, dia melihat dua piring nasi dan beberapa mangkuk yang berisi sayur dan lauk.
__ADS_1
Tangan Winda mulai terampil mengambil sayuran dan lauk diatas piring Sigit lalu menyodorkannya pada pemiliknya.
Sigit memperhatikan Winda yang tidak mengambil bagiannya membuat Sigit berinisiatif menggodanya.
"Ayo makan buka mulutmu a'."
Sigit mengulurkan sesendok nasi di bibir merah Winda.
"Apaan Sih Git? kayak anak kecil aja."
"Kamu kan lupa kalau setiap kita makan berdua didalam begini selalu sepiring berdua dan kamu selalu menyuapiku."
"Masak??"
"Hm."
"Tapi aku tidak ingat tuh."
"Makanya aku tadi bilang kamu lupa sayang..."
Winda melihat sesendok nasi di depannya dan wajah Sigit bergantian, dia berpikir merasa tidak pernah melakukan seperti yang dibilang suaminya.
"Ayo makan a'."
Winda membuka mulutnya setelah melihat tangan Sigit masih mengulurkan nasi di mulutnya.
"Hm, Sini biar aku saja yang menyuapi."
Winda mengambil alih piring Sigit dan menyuapi bergantian di mulut mereka.
Sesekali terdengar gelak tawa Winda dan Sigit saat mereka sambil bercanda disela-sela makan mereka, hingga tidak terasa dua piring nasi habis tidak tersisa, Sigit tersenyum menang telah berhasil mengelabui istrinya.
"Aku merindukan senyuman mu seperti ini sayang... teruslah bahagia dengan senyum yang selalu menghiasi bibirmu disepanjang hidup kita ke depan, apapun yang terjadi kaulah berlian ku yang menenteramkan hati Winda Zilvana Idris ku..."
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Hm... udah up lagi ya akak2ku...
terimakasih supportnya, kalian luar biasa...👍
__ADS_1
Ayo ramaikan terus like n komentarnya.
saranghe...💞💞