Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 126


__ADS_3

Sigit berjalan mondar-mandir diruang tengah. Genggaman tangannya memukul kecil pada mulutnya, cemas. Pikirannya kacau tidak karuan. Sudah beberapa hari dia mencari informasi tentang istrinya dan juga sudah melaporkan kasusnya ke kantor polisi, namun kabar berita tentang istrinya belum juga dia dapatkan.


Seakan gila dirinya saat ini, tak henti-hentinya ia memikirkan nasib Winda dan anak dalam kandungannya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Winda? siapa yang sudah berani berurusan dengan ku dengan menculiknya seperti ini? apalagi sekarang dia sedang hamil?"


Sigit masih terus memikirkan Winda.


Tok tok tok


"Masuk."


"Permisi pak, sekarang sudah saatnya meeting dengan perusahaan Permata. Mereka sudah menunggu bapak diruang rapat."


Lamunan Sigit buyar saat sekertarisnya memberitahukan agendanya hari ini.


"Hm baiklah, saya segera kesana."


"Baik pak."


Sekertaris itupun keluar setelah mendapat jawaban dari atasannya, ia menutup pintu kembali.


Sigit beranjak dari kursinya, membetulkan dasi dan jasnya, kemudian berlalu menuju ruang rapat.


❄️❄️❄️


Renaldi meninggalkan mobilnya dipinggir jalan, ia memperhatikan ban mobil yang kempes. Rasa kesal tidak membawa ban serep bergelayut dihatinya, ditambah lagi panas dan penat dibawah sinar matahari mengakibatkan keringat bening bercucuran membasahi kemejanya.


Ditengah perjalanan menuju lokasi kedua cukup melelahkan. Melewati jurang, tikungan benar-benar tempat yang sangat menguji kesabaran disaat seperti ini.


Sesekali ia melongokkan kepalanya mencari bantuan seseorang, namun tidak juga menemukan siapapun disana. Ia mengotak-atik, mengangkat, menggerak-gerakkan keatas kebawah hpnya tetap saja percuma tidak ada sinyal sama sekali.


Ditengah daerah terpencil seperti ini ia menyadari jaringan sulit dijangkau. Kembali ia memasukkan hpnya didalam saku.


Renaldi merasa lelah, ia mencoba mencari tempat berteduh dibawah pepohonan yang cukup rindang dengan semak-semak disekitarnya. Keringat membanjiri wajah dan tubuhnya.


"Hhhhhh....."


"Ternyata sengsara sekali terjebak di daerah terpencil seperti ini..." Renaldi menyeka keringatnya, kemudian menggerak-gerakkan bajunya berniat menghilangkan rasa panas ditubuhnya.


Perlahan-lahan sepoi angin terasa menyejukkan wajahnya. Ia menikmati sapuan angin dibawah pohon itu sehingga tidak ia sadari kedua matanya terasa nyaman untuk dipejamkan.


"Biarlah aku istirahat sebentar disini."


Renaldi menyandarkan tubuhnya di pohon besar setelah mengirim pesan pada rekan kerjanya tentang keadaan mobilnya yang pecah ban sehingga ia tidak bisa melanjutkan perjalanan.


"Tolong..."


"Tolong..."


Renaldi samar-samar mendengar suara seseorang yang sangat lirih dari balik pohon tempat ia berteduh.


"Tolong..."


"Tolong saya..."


Renaldi sedikit mengangkat kepalanya fokus pada pendengarannya.

__ADS_1


"Tolong..." suara itu terdengar seperti seseorang sedang kesakitan.


"Suara apa itu? ditempat sepi seperti ini ada suara seorang wanita yang sangat..." Renaldi membuka matanya mengedarkan pandangannya disekitarnya.


"Jangan-jangan suara?" tiba-tiba bulu kuduknya berdiri memikirkan makhluk yang tidak kasat mata.


"Tolong... tolonglah saya..." suara lemah itu terdengar lagi.


Renaldi berdiri, perlahan ia berjalan mencari dan mendekati suara itu berasal. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya dan memiringkan kepalanya memperhatikan tubuh seseorang.


Alangkah terkejutnya ia begitu mendapati tubuh seorang wanita yang berwujud didepannya sedang bersandar di batang pohon yang sama dengannya.


"Ya Tuhan... ternyata dia manusia." Renaldi tersentak melihat tubuh yang tergolek lemas.


Renaldi segera mendekat dan melihat keadaan wanita didepannya. Ia memeriksa nadinya yang masih berdenyut, nafasnya masih terdengar, menahan rasa sakit.


"Ya Tuhan, kenapa ada seorang wanita ditempat seperti ini dengan kondisi yang..." Renaldi berhenti berkata tidak melanjutkan kalimatnya, ia memandangi kepala yang tertutup hijab sedang menunduk lemah.


Kasihan.


Tidak tega ia melihat kondisi wanita itu, ia berdiri dan menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari bantuan, Namun sepertinya harapan nya sia-sia, karena dari tadi ia tidak menemukan seseorang ditempat itu.


Perlahan ia mencoba mengangkat tubuh wanita itu, namun ketika Renaldi berhasil mengangkat tubuh wanita itu kepala wanita itu mendongak tepat didepan wajahnya.


"Apa?!" Renaldi lagi-lagi terkejut melihat wajah didepannya. Ia tertegun tidak percaya dengan penglihatannya saat ini.


"Winda??" matanya menatap wajah Winda yang terlihat pucat.


"Kenapa dia bisa sampai disini?"


Bingung.


"Bukankah kemarin Sigit..." gumamnya lagi.


"Tolonglah saya... tolong..." suara Winda terdengar membuyarkan lamunannya.


Antara ragu, bingung dan kasihan menari dibenaknya. Teringat Sigit datang ke apartemennya dengan wajah menyeramkan menutupi kecemasan sedang mencari Winda.


Wajah Winata yang tersenyum melihatnya bersama ibunya.


"Ah bodo amat, yang penting sekarang segera cari bantuan disekitar sini, dia juga sedang hamil sekarang." Renaldi berjalan dengan membopong tubuh yang sudah tidak berdaya setelah pikiran berperang mengingat semua yang berhubungan dengan keluarga Winata.


"Bertahanlah Winda, bertahanlah." Renaldi mencoba memberikan semangat pada Winda, ia semakin mempercepat langkahnya.


Renaldi terus melihat wajah didepannya sehingga kembali ia teringat wajah wanita yang ia sayangi, wajah layu ibunya yang sedang sakit saat ditinggalkan ayahnya untuk selamanya saat itu, dan wajah bidadari kecil yang terus bersedih saat kepergian sahabatnya.


"Bertahanlah Winda..."


"Bertahanlah..."


Tidak terasa tetesan air mata jatuh membersamai tetesan keringat di wajahnya. Keringat semakin mengalir di sekujur tubuhnya, sengatan matahari tidak ia hiraukan lagi. Yang ada hanya perasaan cemas dan hawatir melihat wajah Winda yang semakin memucat.


Dengan nafas ngos-ngosan, Renaldi akhirnya berhasil mendapatkan sebuah rumah setelah ia berjalan cukup jauh, tidak berpikir panjang ia segera menerobos masuk didalam rumah itu.


"Permisi."


Renaldi menolehkan kepalanya melihat sekitarnya yang sepi tidak ada seorangpun didalamnya.

__ADS_1


"Permisi. Adakah orang didalam?" tidak ada jawaban.


"Permisi. Jika ada orang didalam saya butuh bantuannya." dengan suara ngos-ngosan Renaldi masih berharap ada seseorang yang dapat membantunya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini..." Renaldi bingung bercampur gugup.


Ia melihat ada sebuah kamar didepannya, tanpa ragu ia segera membawa Winda masuk dan meletakkannya diatas ranjang.


"Disini dulu, saya akan kembali lagi. Bertahanlah, kamu harus bertahan untuk anakmu." Renaldi segera berlalu mencari dapur, ia berharap ada sesuatu yang bisa diperbuat untuk membatu Winda.


Renaldi berjalan menyusuri ruangan mencari tempat tujuannya, ia terus berjalan menyusuri ruangan terdapat beberapa kamar yang tertutup pintunya, ruang tamu dan ruang keluarga, hingga ia menemukan dapur. Ia terdiam sesaat memperhatikan dapur yang bersih dan terawat, menunjukkan bahwa rumah ini ada penghuninya.


Ia melihat meja makan yang tersedia menu makanan, Renaldi pun segera menghidupkan kompor dan membuat minuman hangat untuk Winda, ia mengambil gelas dan memasukkan gula didalamnya, dengan gugup ia tergesa-gesa melakukan tugas dadakannya.


Tanpa ia ketahui ternyata tingkahnya telah diperhatikan seseorang dari belakangnya dengan sebatang kayu ditangannya siap dipukulkan kearahnya.


"Siapa kau berani masuk didalam rumahku!" teriak seorang wanita setengah baya memergoki dirinya yang sedang sibuk meracik minuman.


"Pencuri!! ada pencuri!!"


"Kau pencuri menerobos rumahku."


Renaldi bingung menangkis pukulan dari seseorang yang tiba-tiba menyerangnya dari belakang, ia pun mencoba menangkisnya.


"Bukan, saya saya bukan pencuri."


"Saya bukan pencuri."


"Tenang dulu, saya mohon tenang dulu."


Renaldi berhasil memegang kayu yang dipegang oleh wanita setengah baya didepannya setelah bertubi-tubi memukulnya.


"Saya mohon tenang dulu, dengarkan penjelasan saya." Renaldi menatap kedua bola mata didepannya.


"Didalam sana ada seseorang yang sangat memprihatinkan keadaannya, dia sedang membutuhkan bantuan anda, saya mohon tolonglah kami saat ini. Saya sangat memohon pada anda Bu bantulah kami." Renaldi menelangkupkan kedua tangannya memohon iba pada wanita didepannya.


Wanita itu menatapnya balik dengan sorot mata tajam sedikit tenang sikapnya, meyakinkan ucapan Renaldi.


"Silahkan ibu lihat sendiri diruang depan kalau tidak percaya, saya yang sudah membawanya disana."


wanita itu masih ragu mendengar ucapan Renaldi.


"Silahkan ibu lihat, kalau tidak ada siapapun disana silahkan anda memukul saya lagi dengan kayu ini sepuasnya." ucap Renaldi meyakinkan.


Setelah beberapa saat terdiam, wanita itu segera membalikkan badannya berjalan menuju kamar depan membuktikan ucapan pemuda didepannya tadi.


"Awas saja kalau sampai berbohong kamu anak muda." gerutu wanita setengah baya itu memasuki kamar depan.


"Kenapa aku jadi begini melihat keadaan Winda? seharusnya aku kan senang melihat menantunya si tua itu seperti ini? istri Sigit, laki-laki yang angkuh itu! he." Renaldi tersenyum kecut merutuki dirinya sendiri.


.


.


.


Bersambung 🤗

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya kak, berikan vote, like dan komentnya biar tambah seru ceritanya.


Saranghe 💞💞


__ADS_2