Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 124


__ADS_3

"Kok bisa gak ada?" tanya Revan heran. Ia berdiri dari duduknya menatap Ningsih.


"Tidak tau mas." jawab Ningsih cemas.


Revan meninggalkan meja makan berjalan memasuki kamar Sigit memastikan perkataan Ningsih.


Ningsih berjalan membuntuti Revan menuju kamar Sigit. Begitu juga dengan mami ikut berdiri dari duduknya mengikuti Revan dan Ningsih memasuki kamar Sigit.


"Mbak..." Revan membuka pintu ruang ganti, lalu berjalan memasuki kamar mandi.


"Win..." panggil mami.


"Mbak Winda..." Revan melanjutkan menggeledah setiap sudut ruangan didalam kamar Abangnya, namun tidak juga menemukan sosok Winda disana.


"Gak ada kan mas?" tanya Ningsih melihat Revan yang terlihat panik.


"Coba tanya mbok Lastri." ucap Revan membalikkan badannya. "Mbok Lastri yang seharian di rumah." lanjutnya.


Revan keluar dari kamar Sigit berjalan cepat menuju dapur mencari mbok Lastri.


"Mbok..."


Sementara mami dan Ningsih baru saja keluar dari kamar Sigit. Ningsih menutup pintu.


"Ningsih."


panggilan mami menghentikan langkah Ningsih.


"Iya buk." Ningsih membalikkan badannya berhadapan dengan lawan bicaranya.


"Coba kamu cari dikamar Abang yang diatas siapa tau ada disana." tiba-tiba mami teringat kamar Sigit yang berada di lantai atas.


"Oh iya ya Bu, Ningsih kok lupa ya..." mata Ningsih berbinar setelah mendengar kalimat mami.


"Ningsih cari kesana saja Bu." lanjut Ningsih dan segera berbalik menaiki tangga menuju kamar Sigit.


Ningsih memutar pegangan pintu kemudian membukanya dengan melebarkan bola matanya.


"Mbak Winda..." ia menelusuri setiap sudut ruangan itu.


"Mbak..."


Sepi tidak ada jawaban.


Ruang ganti baju dan kamar mandi pun kosong tidak ada tanda-tanda ada orang didalamnya. Ningsih segera beranjak menuju pintu.


"Ada Sih?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Ningsih saat hendak menutup pintu kamar Sigit, wajah Revan terlihat panik.


"Astaghfirullah bikin kaget aja mas Revan."


"Ada?"


Ningsih menggeleng menatap manik laki-laki didepannya.


"Tidak mas."


"Dimana coba? mbok Lastri juga tidak tau." Revan menautkan kedua alisnya, berpikir keras mencari dimana kakak iparnya sekarang.


"Apa mungkin mbak Winda pergi sama Abang?" terlintas dalam pikirannya.

__ADS_1


"Iya bisa jadi mas." Ningsih antusias penuh harapan.


Revan segera meninggalkan tempat itu setengah berlari dengan Ningsih berjalan dibelakangnya menuruni tangga.


Revan meraih hpnya diatas meja makan yang ia letakkan ketika ia berada di meja makan.


"Kata mbok Lastri tadi pagi ketika pipa air bocor, Winda memanggil pak Zain, Van." kalimat mami terdengar ketika Revan mendapatkan hpnya.


Revan menatap wajah mami dan wanita disampingnya.


"Iya Van." mbok Lastri mengangguk. "Tadi pagi mbak Winda kebingungan melihat air dilantai banjir kemana-mana, sementara dirumah tidak ada orang sehingga mbak Winda memanggil pak Zain ke depan untuk membantu mbok membetulkan pipa air itu, tapi setelah itu mbok juga tidak melihat mbak Winda lagi sampai sekarang." papar mbok Lastri terlihat ikut cemas.


"Tadi siang mbak Winda makan siang tidak?" tanya Revan.


Mbok Lastri terdiam sesaat mengingat-ingat.


"Tidak tau. Tapi makanannya masih utuh diatas meja." jawab mbok Lastri.


"Ya sudah kita tanya pak Zain siapa tau dia mengetahuinya." jawab mami.


Mereka saling pandang menyimpan tanya atas sikap Winda yang tidak seperti biasanya pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan orang-orang dirumah.


Revan berjalan paling depan keluar dari rumah menghampiri pak Zain yang berada di pos penjagaan.


"Pak Zain."


Pak Zain dan Riyan sedang duduk berhadapan mengobrol sambil menikmati secangkir kopi dihadapan mereka. Mereka berdiri saling pandang, terheran melihat Revan berjalan tergesa-gesa menghampirinya beserta ketiga wanita dibelakangnya.


"Pak." panggil Revan lagi semakin mempercepat langkahnya.


"Iya mas Revan." ucap laki-laki setengah baya itu.


Mendengar pertanyaan Revan membuat pak Zain terdiam sejenak, mengingat peristiwa tadi pagi, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak mas Revan, tadi siang mbak Winda tidak kemana-mana."


"Coba diingat-ingat lagi pak Zain." Revan menatap wajah laki-laki didepannya. "Siapa tau pak Zain lupa mbak Winda pergi dengan Abang atau temannya atau... sedang jalan-jalan ke luar sekitar sini."


Pak Zain menautkan kedua alisnya mengingat kegiatan seharinya mulai dari pagi hingga saat ini. Sedangkan semua orang yang berada di sekitarnya penasaran menunggu jawabannya.


"Iya pak Zain, tadi pagi mbak Winda kan manggil pak Zain tuh disini untuk membantu betulin pipa air yang bocor dibelakang? terus habis itu mbak Winda kemana? ikut masuk kedalam apa langsung ke taman?" mbok Lastri mencoba membantu mengingat-ingat peristiwa tadi pagi.


Pak Zain mengalihkan pandangannya pada mbok Lastri. Wajahnya terlihat berbinar dengan tersenyum kecil terlihat seperti menemukan sesuatu.


"Oh iya, saya baru ingat." kata pak Zain dengan tersenyum. "Tadi pagi saat saya mau bukain pintu gerbang untuk kurir yang mengantar paket, mbak Winda datang dan menyuruh saya agar membantu mbok Lastri di belakang, terus mbak Winda meminta kunci itu dan mengambil alih tugas saya saat itu."


Tin.


Belum selesai penjelasan pak Zain, suara klakson dari mobil Sigit terdengar dari balik pintu gerbang.


Tin tin.


Pak Zain dan semua orang yang berada di depan pos satpam menoleh kearah mobil yang menyorotkan lampu terangnya terhenti didepan gerbang.


"Sebentar mas, saya buka dulu pintu gerbangnya, Abang sudah pulang." izin pak Zain.


Pak Zain berlari membuka pintu gerbang untuk Sigit, kemudian menyapanya seperti biasa dengan memasang senyum dibibirnya.


"Selamat malam bang..."

__ADS_1


Sigit membuka kaca jendela mobil dan membalas sapaan pak Zain.


"Malam pak."


Sigit memasukkan mobilnya dan memarkirkannya dihalaman rumah, ia melihat Riyan, mami, Revan, Ningsih dan mbok Lastri berkumpul didepan pos penjagaan.


Heran.


Itulah perasaannya sekarang melihat semua orang-orang rumah berada di luar.


"Ada apa mereka pada diluar semua?" gumamnya seraya mematikan mesin mobil. "Tidak biasanya mereka disini malam-malam begini?" membuatnya penasaran.


Sigit turun dari mobil, lalu menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan mendekati orang-orang yang sedang berkerumun didepan.


Mami, dan semua yang ada disampingnya memperhatikan Sigit dan mobil yang sudah terpakir. Mereka melongokkan kepalanya mencari sosok Winda yang tidak kunjung keluar dari dalam mobil, mereka semakin kebingungan penuh rasa panik.


"Ada apa semuanya pada diluar?" tanya Sigit setelah jarak mereka terkikis, bola matanya meneliti satu persatu orang-orang yang berada didepannya. "Windanya mana? kok tidak terlihat sendiri? apa masih didalam?" lanjut Sigit bertanya.


Pertanyaan Sigit seakan cekikikan untuk semua orang yang ada disitu.


Deg.


Degupan jantung dan aliran darah yang berdesir dalam edarannya semakin tidak beraturan bagi semua orang yang menatap wajah Sigit.


Mereka menelan ludah dengan mengedipkan mata, menahan rasa takut ketika membayangkan sosok Sigit yang marah.


"Bu-bukannya mbak Winda ikut Abang?" tanya Revan gugup bercampur cemas.


Sigit memicingkan matanya menatap Revan.


"Maksud kamu apa barusan Van?"


Revan semakin cemas menatap wajah Abangnya.


"Mbak Winda tidak ada di rumah bang." jawab Revan. "Kami semua sudah mencarinya kemana-mana dari tadi, tapi belum menemukan mbak Winda."


"Sudahlah tidak usah membuat lelucon sama Abang ya kalian semua." jawab Sigit dengan tersenyum. "Gak lucu tau gak?" ucap Sigit menatap wajah semua orang didepannya dengan tersenyum kecut. Kemudian berjalan meninggalkan mereka masuk kedalam rumah.


"Bang!" panggil mami sedikit berlari mengimbangi langkah Sigit.


"Kita semua yang ada disini benar-benar sedang panik, kebingungan mencari Winda."


jelas mami masih dengan berjalan berusaha mensejajari langkah Sigit.


"Sudahlah mi, kalau kalian mau akting seperti aktor terkenal difilm-film itu sangat tidak lucu menurut Igit mi." kilah Igit membiarkan mami.


Sementara Revan, mbok Lastri dan Ningsih berjalan membuntuti langkah ibu dan anak itu.


"Sudahlah Sigit sangat jelek moodnya hari ini, jadi jangan membuatnya semakin buruk." Sigit menghentikan langkahnya, tangan kanan memegang gagang pintu kamarnya, kedua bola matanya menatap wajah mami yang terlihat resah.


"Igit mau mandi dan segera istirahat."


.


.


.


Bersambung 🤗🤗

__ADS_1


saranghe 💞💞


__ADS_2