Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
168. Sebuah keputusan


__ADS_3

Rumah Tommy terlihat sangat sepi, tidak terasa tujuh hari sudah kepergian Alice putri kecil Tommy, gadis kecil yang berjuang melawan penyakitnya dan pada akhirnya takdir Tuhan membuktikan jika Tuhan lebih menyayanginya.


Didalam ruang tamu kediaman Tommy, tampak si pemilik rumah sedang bersama tamu-tamunya, mereka tak lain adalah Renaldi dan para karyawan perusahaan. Para pekerja proyek pun datang turut berduka atas musibah yang menimpa Tommy.


Sesekali mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu, entah hal apa saja yang mereka bicarakan.


Tak lama berselang dari mereka berbincang-bincang, para karyawan dan pekerja proyek pun undur diri pada tuan rumah, kini hanya ada Tommy, Renaldi dan Firman. Suasana hening, kesedihan masih tampak dalam diri Tommy, itu terlihat dari raut wajah Tommy.


Sebenarnya ada perasaan malu, dan menyesal dalam diri Tommy telah melakukan hal yang merugikan orang banyak, apalagi terhadap Renaldi, orang yang paling ia rugikan dan ia kecewakan. Kata maaf dan menyesal terucap begitu menyekat lidahnya, berat.


Namun, Tommy mengucapkan penuh penyesalan dan memohon pada Renaldi agar rela memberikan pekerjaannya kembali setidaknya bisa membalas budi Renaldi atas kebaikan yang sudah Renaldi berikan pada putrinya selama berada di rumah sakit.


Ternyata, Renaldi adalah orang yang selalu membelikan semua barang-barang dan makanan yang diinginkan putrinya melalui dua orang lelaki yang selalu membantunya, ia sempat mengira jika kedua orang itu adalah perawat yang ditugaskan dokter untuk membantunya merawat Alice.


Bahkan Tommy melihat sendiri jika Renaldi yang selalu menemani Alice disaat ia pergi. Tommy mengetahui itu semua ketika tidak sengaja ia akan mengambil barang miliknya yang tertinggal didalam ruang rawat putrinya.


Tommy sangat terkejut dan ketakutan jika Renaldi berbuat macam-macam pada putrinya karena ulahnya.


"Sebagai rasa terimakasih saya atas semua apa yang telah anda berikan pada keluarga saya, izinkan saya menyerahkan semua aset saya pada anda pak Re." Tommy beranjak dari kursinya dan duduk dibawah. "Mungkin belum seberapa harganya jika dibanding dengan uang yang sudah saya gunakan untuk pengobatan anak saya selama ini, maka dari itu terimalah sertifikat ini sebagai jaminannya." Tommy meletakkan map yang berisi surat-surat penting diatas meja.


"Sudahlah pak, tidak perlu juga anda sampai duduk begini. Berdirilah, duduklah di kursi anda kembali." Renaldi tak nyaman dengan tingkah Tommy yang menurutnya berlebihan.


Perlahan Tommy beranjak dari duduknya, kembali duduk diatas kursinya.


"Tapi saya tidak pantas menerima kebaikan anda setelah apa yang saya lakukan pada anda dan perusahaan, terlalu besar kesalahan saya pak."


Firman melirikkan matanya pada Renaldi yang terdiam, lalu beralih pada map yang diletakkan Tommy diatas meja. Dalam hatinya ia tahu bagaimana kebaikan hati atasannya itu, bisa-bisa Renaldi akan menolak sertifikat itu.


Suasana hening, Renaldi terlihat sedang memikirkan sesuatu. Hingga pada akhirnya ada ucapan yang keluar darinya yang sangat memuaskan hati Firman.


"Baiklah." Renaldi mengambil map didepannya. "Sertifikat ini akan saya bawa, dan anda silahkan bergabung kembali dengan perusahaan setelah menandatangani berkas perjanjian yang akan diberikan pak Firman nanti sore." Renaldi menyorot wajah Tommy dengan serius.


Firman sudah menduga jika Renaldi adalah orang yang bijak saat mengambil keputusan, ia yakin jika Renaldi menerima sertifikat dari Tommy hanya untuk menjaga kehormatan Tommy sebagai rekan kerjanya bukan karena gila harta, dengan begitu Tommy akan merasa telah berkurang bebannya dan akan bekerja lebih nyaman.


Renaldi menghela nafas ringan di udara, sedangkan Tommy terlihat senyum lega diwajahnya.

__ADS_1


"Terimakasih pak Re sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan dan kebaikan anda pada saya kembali."


"Jangan berlebihan saya hanya sekedar membantu semampu saya. Baiklah, kalau begitu kami pamit pulang dulu." Renaldi berdiri dari duduknya. "Pak Firman tolong bawa surat-surat itu dan tolong jangan lupa nanti sore serahkan surat pernyataan dari perusahaan pada pak Tommy."


"Baik pak, siap laksanakan perintah!" jawab Firman seraya mengangkat tangan kanan ke pelipisnya bak seorang perwira yang sedang memberikan gerakan hormat.


❄️❄️❄️


Dikediaman Winata.


Hari ini tidak tahu kenapa Winda merasakan tidak enak sekali badannya, hawa panas dingin terasa di sekujur tubuhnya.


Winda dan Sigit sengaja menginap dirumah mami karena ingin sekali ia menginap disana. Sudah lama mereka tidak menginap dirumah orang tua Sigit.


"Papi sama Sigit apa belum pulang dari joging Win?" suara mami mengalihkan pandangan Winda dari taman.


"Belum mi."


"Kamu sudah sarapan?"


"Belum mi, nunggu mami."


"Kenapa mi?" tanya Winda heran melihat ibu mertuanya memperhatikan dirinya begitu intens.


"Wajah kamu pucat Win? kamu sakit?"


"Gak mi, Winda baik-baik saja."


"Masak sih?" mami meletakkan pisau yang dipegangnya, kemudian menyentuh dahi Winda memastikan jawaban menantunya.


"Cuman gak enak badan aja sih mi, mungkin Winda cuma kecapean." jawab Winda setelah mami memindah tangannya dari dahi Winda.


"Kamu masih ngajar di taman kanak-kanak ?"


"Masih mi, disana Winda malah sangat happy setiap hari selalu terhibur dengan anak-anak. Sini Winda bantu mi." Winda meraih apel dari tangan mami membantu mengupasnya.

__ADS_1


"Mungkin saking happy nya kamu terlalu banyak aktivitas jadi tidak terasa kamu lelah sebenarnya Win." ucap mami masih memikirkan penyebab wajah pucat Winda. "Atau... jangan-jangan kamu sedang hamil?" seketika mami membulatkan kedua bola matanya menatap Winda dengan mulut membulat.


"Aamiin, semoga Allah mengabulkan ya mi." jawab Winda santai disertai senyuman. "Bantu doanya ya mi, soalnya Winda baru aja Dateng bulan tiga Minggu kemarin."


"Ya, bisa jadi ini langsung jadi kan? mami biar tidak lama-lama nunggunya, sudah pingin nimang cucu lagi dari kalian."


"Tapi sayangnya ini sudah yang ke tiga kalinya Winda kayak gini mi, dulu juga sama seperti ini, kirain lagi ngidam begitu cek ke dokter e... negatif." tiba-tiba suara Sigit dari ruang tamu menyahut pertanyaan maminya.


Masih dengan kostum jogingnya Sigit mengelap wajahnya penuh keringat dengan handuk kecil yang bertengger di lehernya.


"Ya siapa tau udah ada hasilnya kan? memang kapan terakhir kali kalian periksa ke dokter?" tanya mami seraya menuangkan air mineral kedalam gelas untuk papi.


"Bulan kemarin mi." jawab Winda dan Sigit berbarengan.


"Tapi wajah Winda pucat banget loh bang." mami kembali menatap wajah Winda. Dan kali ini diikuti oleh Sigit dan papi.


Winda menepuk-nepuk kecil kedua pipinya, jadi salah tingkah diperhatikan mertua dan suaminya.


"Atau jangan-jangan..." mami memalingkan pandangannya pada Sigit, menatapnya penuh selidik. "Menantu mami kamu hajar sepanjang malam ya bang!" suara mami pelan dengan mengeratkan giginya.


Winda terdiam. Sedangkan Sigit mendelikkan wajahnya, memalingkan wajahnya agar tidak tersorot amukan tatapan wanita yang telah melahirkannya.


"Mami apa-apaan si." gerutu Sigit menyimpan rasa malu karena ketahuan kerja kerasnya bercocok tanam pada istrinya.


"Udah mi, tidak perlu diperpanjang. Ayo siapin baju papi dulu, papi mau mandi sekarang." papi beranjak dari kursinya mencairkan suasana, ia tahu bagaimana perasaan Sigit karena sama-sama jiwa lelaki pastilah tidak beda jauh saat seumuran Sigit seperti sekarang ini.


"Mami kayak tidak pernah muda aja." masih menggerutu walaupun kedua orangtuanya sudah masuk kedalam kamar mereka.


"Sudah, sudah." ucap Winda. "Tapi bener kan kata mami?" Winda berdiri sambil membawa piring kotor ke westafel.


"Iya. Tapi kamu ketagihan kan sayang?" Sigit mengikuti Winda sambil memeluk perut istrinya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung 🤗


__ADS_2