
"Kamu... ada masalah?" tanya pak Idris penasaran.
Sigit terlihat gugup mendengar pertanyaan dari laki-laki disampingnya.
"Tidak mungkin kan aku menceritakan peristiwa yang sudah bertahun-tahun itu pada bapak? apa coba nanti yang bapak pikirkan jika aku menceritakan peristiwa saat itu? kalau aku bercerita dan bapak sampai salah paham dengan ceritaku itu sudah jelas bapak akan mengira jika aku masih memikirkan gadis kecil itu..."
Sigit menoleh kebelakang memperhatikan wajah istrinya yang sedang terlelap.
"Tidak, aku tidak boleh menceritakan ini, karena ini sangat sensitif."
"Oh, itu pak saya tadi hanya terheran dengan jalan yang sudah dilewatin tadi." jawab Sigit mencari alasan yang tepat untuk menutupinya.
"Jalan yang banyak gang, terus banyak belokan gitu kok bisa ya bapak masuk dijalan ini? emm... maksud saya bapak kok faham gitu jalannya padahal kan ada beberapa gang dan belokan." lanjutnya penasaran juga.
Pak Idris melirikkan kedua ekor matanya kearah Sigit dengan menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu kembali fokus dengan tugasnya
"Ya... sebenarnya tempat tinggal bapak dulu tidak jauh dari sini Git. Jadi ya sedikit banyak faham daerah sini." jawab pak Idris.
Sigit diam mendengarkan kalimat pak Idris sambil menyetir mobil.
"Setelah Azam meninggal, ibu sangat kehilangan dan masih terbayang dengan kematian Azam, Ibu sangat sedih membuat bapak tidak tega melihat tangisan ibu dan Winda hingga bapak memutuskan kita harus pindah dari rumah itu. Rumah yang penuh kengan." berhenti sejenak sesekali membalas tatapan menantunya.
"Saat itu Winda sangat bersedih dan... hanya Aldi yang bisa menghiburnya dan juga Lili. Mereka menyayanginya seperti adiknya sendiri."
Sigit mendengarkan cerita keluarga istrinya dengan hidmat.
"Sebenarnya mereka berempat sangat akrab dulunya, akan tetapi entah mengapa dan bagaimana ceritanya bapak tidak begitu ngerti kenapa Aldi dan Lili tiba-tiba tidak pernah main di rumah lagi." lanjutnya.
"Sebelumnya, bapak sempat mendengar kabar bahwa ayahnya Aldi meninggal pada saat mengerjakan proyeknya yaitu tertimpa bangunan dan keadaannya sangat kritis sehingga nyawanya tidak bisa tertolong lagi. Dan... setelah itu kami tidak tahu lagi kabarnya, kami putus kontak sampai sekarang."
"Jadi... bapak harap kamu selalu sabar dengan istrimu jangan sampai cemburu atau sakit hati jika istrimu seperti tadi ya, itu mungkin karena dia masih berharap bertemu dengan kakaknya. Harap dimaklumi sikap istrimu begitu ya nak?"
Sigit menatap wajah bapak mertuanya penuh dengan pengharapan darinya agar memahami keadaan Winda.
"Iya pak jangan khawatir, Sigit paham kok. Semoga mas Aldi segera bisa ditemukan ya pak?"
"Aamiin." ucap pak Idris.
Drrrrrrtt drrrrrrt drrrrrrtt
🎵🎵🎵
Sigit merasakan getaran dari sakunya disertai dengan suara panggilan dari hpnya.
Ia segera meraihnya dan segera melihat nama yang nyembul dilayar hpnya.
Winda dan ibunya terbangun ketika mendengar suara hp berdering. Ia melihat suaminya sedang memperhatikan layar hp ditangannya.
"Dari siapa bang?" tanya winda.
"Om Gunawan, sebentar saya angkat dulu ya."
Ada tulisan nama Gunawan yang terlihat disana, ia segera menggeser icon warna hijau dan mengangkatnya.
"Assalamualaikum bang."
"Waalaikumsalam om."
"Apa kabar bang disana?"
"Alhamdulillah kami baik-baik saja om, papi sama mami gimana? baik-baik saja kan?"
"Baik bang, cuma... ini ada beberapa masalah yang sedang terjadi diperusahaan. Dan itu harus segera ditangani sekarang."
"Sekarang?"
"Iya sekarang."
"Ada masalah apa memangnya om sepertinya serius banget?"
__ADS_1
"Perusahaan pusat dan perusahaan cabang yang berada di Singapura sedang bermasalah dengan penurunan saham perusahaan sehingga saat ini perusahaan sedang terancam jika tidak segera ditangani. Sehingga bapak nanti malam berencana akan berangkat sendiri ke Singapura mengingat sangat urgen masalah ini."
"Sejak kapan masalah itu terjadi om?"
"Kemarin bang."
"Apa?! kemarin? ya Allah... tahu tidak om jika penurunan saham itu terjadi dalam satu jam saja bisa fatal akibatnya apalagi ini dari kemarin om!"
"Iya bang saya tahu itu."
"Tapi kenapa baru kasih kabar itu sekarang ke saya om?!"
"Bapak tidak ingin merusak acara Abang yang baru beberapa hari berada dirumah orang tuanya mbak Winda bang, jadi ini inisiatif saya sendiri memberitahu abang tanpa sepengetahuan bapak."
"Ya Allah ya Tuhan... itu kan bisa dibicarakan baik-baik om. Ya sudah begini saja mengingat papi belum sehat sepenuhnya biar saya sendiri yang berangkat nanti malam ke Singapura sedang om Gunawan yang menghandle perusahaan pusat. Jadi tolong om siapkan saja semuanya yang diperlukan dan langsung anter saja ke bandara, dari sini saya akan langsung menuju bandara saja."
"Baik bang."
"Atur semua jadwal keberangkatan saya dan jangan lupa kebutuhan saya juga disiapkan."
"Baik bang akan saya siapkan semuanya dan sampai jumpa nanti malam di bandara. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
klik.
Sigit menutup panggilan dari Gunawan, ia mengalihkan pandangannya pada pak Idris dan kedua wanita yang duduk di kursi belakangnya.
"Ada apa bang?" tanya Winda penasaran.
Ada perasaan tidak enak Sigit ketika akan menjawab pertanyaan istrinya dan tentunya juga merupakan perwakilan dari pertanyaan kedua mertuanya.
Terngiang dalam ingatan Sigit perkataan bu Arini yang belum lama memberitahukan rencana syukuran untuk istri dan bayinya yang akan dilaksanakan besok sore. Dan rencana saat ini yang akan ke taman yang sangat diinginkan Winda jauh-jauh hari sebelum datang kesini. Dan terakhir perkataan Gunawan yang mengabarkan bahwa perusahaan dalam keadaan genting sekarang ini.
Pusing.
Dihadapkan dengan keadaan yang harus ia putuskan dan mengatakan kepada ketiga orang didepannya saat ini.
"Emmm... begini pak, buk, dan kamu sayang..." Sigit membuka pembicaraan menjawab pertanyaan istrinya, ia memutar badannya kesamping lalu meraih jemari tangan Winda.
"Sebelumnya saya minta maaf jika tadi saya sudah mengatakan pada om Gunawan untuk berangkat ke Singapura tanpa membicarakan hal ini lebih dulu kepada bapak, ibu dan Winda. Karena ini menyangkut kewajiban yang lebih berat. Yaitu keadaan perusahaan papi sedang terancam tidak hanya dipusat tetapi juga sampai ke perusahaan cabang di Singapura jadi saya harus segera mengambil tindakan mengingat papi masih belum stabil kondisinya."
Pak Idris mendengarkan penjelasan Sigit dengan memegang kemudi mobil.
"Tidak apa-apa Git tindakan mu itu sudah tepat."
jawab pak Idris.
"Tetapi untuk acara besok pak?" tanya Sigit sudah melepas tangan Winda.
"Sudah tidak usah kamu pikirkan urusan disini biar bapak dan ibu yang menghandle acara disini besok, bapak mengerti apa yang kamu pikirkan sekarang Git."
Sigit terdiam sambil mencari tatapan istrinya yang tertutup sandaran kursinya.
Bu Arini tanggap dengan sikap Sigit yang menunggu reaksi dari Winda, telapak tangannya menggenggam tangan putrinya lalu menatap wajah Winda seolah mengatakan bagaimana pendapatmu?
Winda memperhatikan raut wajah ibunya, ia membalas tatapan ibunya lalu mengalihkan pandangannya kedepan pada suaminya.
"Iya bener apa yang dikatakan bapak bang. Abang lebih baik segera menangani masalah ini secepatnya, Winda setuju itu. Paling-paling Abang disana juga cuma beberapa hari kalaupun lama mungkin ya satu Minggu iya kan?" ujar Winda.
"Hm, mudah-mudahan secepatnya bisa diatasi sehingga tidak membutuhkan waktu lama disana." jawab Sigit.
Pak Idris sudah membelokkan mobilnya memasuki gang sempit mencari jalan pintas agar Sigit segera berangkat ke bandara mengingat jarak daerahnya sangat jauh.
"Jam berapa pesawatnya berangkat Git?"
"Sebentar pak sepertinya om Gunawan baru mengirim kabar." jawab Sigit seraya membuka notifikasi dari hp yang baru diterimanya, lalu membacanya.
"Nanti malam jam sebelas pak."
__ADS_1
"Berarti paling tidak kamu harus sampai disana jam sembilan malam Git."
"Iya pak." jawabnya lagi.
Sigit memalingkan wajahnya mencari sosok istrinya dibelakang.
"Sayang, untuk sementara ini kamu tetap disini dulu sampai Abang pulang ya?"
"Iya bang." jawab Winda.
"Sepuluh menit lagi kita sudah ketemu jalan raya jadi bapak akan segera mengantarmu sampai ke..."
"Tidak usah pak, biar saya naik taksi saja sampai ke bandara, karena memakan waktu yang sangat lama untuk sampai kesana, saya kasihan Winda jika kecapean nantinya bapak langsung ke rumah saja bapak dan ibu juga harus istirahat."
"Oh begitu? iya juga sih..."
Pak Idris fokus mengendarai mobil dan menambah kecepatan laju mobilnya setelah jalan yang dilaluinya sudah baik lagi.
Tidak sampai sepuluh menit mobil mereka sudah sampai dijalan raya, pak Idris segera memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
Sigit, Winda dan Bu Arini segera turun dari mobil setelah pak Idris keluar dari mobil dan mencari taksi untuk Sigit.
"Sayang, selama Abang pergi jaga kesehatanmu dengan baik jangan sembarangan, tunggu Abang sampai datang ya?" pesan Sigit pada Winda.
Sigit memeluk tubuh Winda,
"Abang pasti akan merindukanmu."
"Yang bener?"
"Hm."
Sigit melepas pelukannya setelah beberapa saat puas memeluk tubuh Winda, lalu duduk berjongkok dibawah Winda sehingga wajahnya tepat diperut buncit istrinya. Tangan kanannya memegang perut Winda sambil mengatakan sesuatu.
"Anak papa baik-baik ya sama mama. Papa pergi sebentar jadi anak papa jangan rewel ya nanti." Pesan Sigit seakan bayinya mengetahui ucapannya.
"Ya sudah bang mobilnya sudah nungguin Abang loh." Winda mengingatkan suaminya.
Sigit berdiri dan melihat dibelakangnya yang memang sudah ada mobil yang menunggunya.
"Hhhhh.... baiklah, jaga dirimu baik-baik ya sayang..."
"Hm."
"Love you honey."
Cup.
"Love you too papa..."
"Abang pergi dulu ya."
"Hm, hati-hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sigit segera masuk didalam taksi setelah berpamitan kepada kedua mertuanya. Ia melambaikan tangannya dari dalam mobil.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
__ADS_1
double up ya kak...❤️❤️
Saranghe...💞💞💞