
"Pak, Winda turun di minimarket depan situ sebentar ya ada sesuatu yang mau Winda beli." ucap Winda.
Mereka sudah dalam perjalanan menuju Jakarta. Begitu dibangunkan ibunya Winda langsung mengemasi barang bawaannya dengan dibantu ibunya, karena tergesa-gesa Winda membawa sekenanya sehingga ada beberapa barang yang tertinggal.
Dia meminta bapaknya menghentikan mobil didepan minimarket untuk membeli barang kebutuhannya.
"Ya sudah sekalian bapak tunggu sambil ngisi bahan bakar didepan ya..."
jawab pak Idris sekalian mengisi bahan bakar mobilnya.
"Iya pak, sepertinya didepan kasir juga ngantrinya lumayan itu." begitu sampai didepan minimarket mobil pak Idris berhenti. Winda membuka pintu mobilnya dan memperhatikan bagian depan kasir yang terlihat berjajar banyak orang sedang mengantri pembayaran.
"Rame juga ya pengunjungnya jam segini." kata pak Idris ikut menoleh kearah Minimarket.
"Ibu Winda turun dulu."
"Ibu temenin ya?"
"Tidak usah Bu biar Winda sendirian, Winda cuman sebentar kok."
"Hm, ya sudah kalau begitu hati-hati."
"Iya."
Winda melirik bapaknya dan menutup pintu kembali. Ia melangkahkan kakinya menuju minimarket dan segera memasuki minimarket itu.
Pak Idris kembali menjalankan mobilnya ke tempat yang diucapkan tadi.
Winda sudah berada dideretan tissue, sekilas ia melihat kembali kearah kasir yang masih terdapat seorang wanita dan seorang laki-laki yang berdiri berdampingan mengantri. Mereka saling meledek satu sama lain masih sama ketika ia baru masuk pintu masuk.
Samar-samar ia mendengar pembicaraan si wanita dan menertawakan belanjaan si lelaki. Windapun mengulum senyum di bibirnya.
"Mungkin pengantin baru yang dijodohin, ya maklumlah kalau masih suka ribut. Dulu Abang juga gitu awalnya." pikir Winda teringat masa lalunya melihat pemandangan kedua orang didepannya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
Winda segera mengambil camilan, minuman dan beberapa benda lain kebutuhannya, dengan cekatan ia sudah mendapatkan semuanya dan segera menuju kasir ikut mengantri dibelakang wanita yang memakai hijab longgar sama seperti dirinya.
Antrian sudah senggang tidak sepanjang saat dirinya ketika baru memasuki minimarket tadi hanya ada beberapa orang saja termasuk dua orang yang masih berbicara sedari tadi yang dilihatnya, kini terdengar si lelaki yang ngomel-ngomel pada kasir setelah ngomel pada wanita didepannya yang terdengar ledekan pada wanita itu.
"Hhh... dasar ya laki-laki benar-benar tidak tahu malu ini orang. Masak iya ribut dengan istrinya sendiri hanya dengan masalah camilan didepan umum begini? tidak bisa nanti aja didalam mobil apa berantemnya? kayak tidak ada tempat berdua aja. Yaa... setidaknya seperti Abanglah walaupun dulunya suka marah-marah padaku tapi tetap bisa menjaga harga diriku." pikir Winda heran terhadap kedua orang didepannya.
Winda terdiam mematung seketika ditempatnya saat wanita didepannya dan laki-laki itu maju melangkahkan kakinya bersamaan saling berebut hendak meletakkan keranjag belanjaannya diatas meja kasir.
"Eh mas saya duluan, kan antrinya duluan saya tadi." kata wanita didepannya sambil mendorong keranjang silelaki.
Petugas kasir pun tertegun melihat ulah kedua orang didepannya saling berebut.
__ADS_1
"Sabar ya mas, biar mbaknya yang duluan." ucap petugas itu menengahi dengan tersenyum ramah.
Winda mengerutkan keningnya mendengar ucapan wanita yang dikiranya adalah istri dari laki-laki itu.
"Loh? ternyata mereka bukan suami istri? kirain..." batin Winda bengong menyadari kesalah pahamannya terhadap dua orang didepannya.
Wanita itu tidak peduli dengan Aldi dan sekitarnya, ia segera meletakkan beberapa unit belanjaannya diatas meja kasir dari keranjang, petugas kasir tidak mau terjadi keributan dalam tugasnya, iapun segera menghitung nominal yang harus dibayarkan pelanggan setelah mengecek keseluruhan unit belanjaan yang disodorkan padanya, kemudian menyebutkan sejumlah angka yang harus dibayarkan, lalu wanita itupun mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya dan menyerahkan pada kasir.
Setelah selesai membayar belanjaannya wanita itu langsung keluar dengan tersungging senyum kemenangan di bibirnya.
"Kirain tadi itu istrinya loh mas." kalimat lirih Winda saat siwanita sudah meninggalkan pintu keluar.
"Enak aja kalau ngomong, bukan. Dia itu manusia robot." jawab Aldi sedikit meninggi tidak terima dengan ucapan Winda.
Winda hanya tersenyum melihat wajah jengkel laki-laki didepannya.
"Maaf, saya tidak tahu." ucap Winda seraya menganggukkan kepalanya.
Aldi melihat wanita yang berada didepannya lalu memperhatikan wajah itu, wajah asing yang baru pertama kali dilihatnya namun ia terasa heran dengan perasaannya, bukannya segera memalingkan wajahnya justru ia terkesiap menatap kedua bola mata itu. Seketika ia teringat seseorang setelah lama memperhatikan wanita didepannya.
"Tatapan mata itu... seakan aku pernah merasakan tatapan matanya."
"Silahkan pak." suara petugas kasir berusaha menyadarkan lamunannya.
Aldi masih terdiam.
"Mas, mas baik-baik saja?" tangan Winda digerakkan-gerakkan didepan wajah Aldi takut jika terjadi sesuatu pada laki-laki didepannya.
"Em? i-iya ada apa mbak?" suara Aldi terdengar gugup setelah tersadar dari lamunannya.
"Itu mas mbak kasirnya tanya sama mas tadi." jawab Winda sambil tersenyum keheranan.
"Tadi aja ngomel-ngomel sama mbak yang tadi tidak rela diduluin, sekarang aja diem? ngelamun lagi aneh." batin Winda tidak mengerti dengan sikap laki-laki didepannya.
"Iya pak dari pada bapak ngomel-ngomel lagi sama saya jika saya melayani mbak ini dulu jadi saya panggil bapak terlebih dulu." jelas petugas kasir.
"Oh iya mbak tidak apa-apa biar mbak ini dulu aja deh, tanggung. Biar sekalian saja." jawab Aldi mengalir begitu saja dari mulutnya tanpa dia sadari.
"Ye... tadi aja ngomel-ngomel sama mbak yang tadi, sekarang aja pasrah." ucap petugas kasir menggerutu sambil menarik keranjang Winda didekat monitar agar memudahkan proses menghitungnya.
Sigit terdiam menatap sorot mata petugas kasir sekilas, merasa kesal. Lalu membuang wajah dari petugas kasir itu.
"Tau! kenapa juga ini mulut semudah itu keluarin kata-kata tadi?! bikin malu aja!" batin Aldi menggerutu pada dirinya sendiri.
"Terimakasih loh mas atas kebaikannya, udah bersedia mendahulukan saya." ucap Winda pada laki-laki didepannya.
__ADS_1
Aldi diam seraya menatap mata Winda seakan menyembunyikan rasa malu.
"Biasa aja."
"Biasa aja, biasa aja kepalamu itu bau jengkol! dasar orang aneh." batin Winda.
Petugas kasir sudah selesai menghitung belanjaan Winda dan memasukkan didalam plastik besar.
"Semuanya dua ratus lima puluh ribu rupiah mbak."
"Oh iya mbak sebentar." jawab Winda seraya mengambil tas kecil dari dalam tas selempangnya lalu meletakkan diatas meja kasir, ia segera mengambil dompetnya dari sisi lain yang berada didalam tasnya.
"Bisa bayar pakai kartu kan mbak? soalnya saya tadi tergesa-gesa jadi tidak persiapan membawa duit."
"Bisa mbak."
Winda menyodorkan kartu kreditnya pada wanita itu. Petugas kasir memproses transaksi pembayaran Winda lalu memberikannya kembali setelah selesai.
"Ini kartunya dan ini belanjaannya, terimakasih atas kunjungannya ya mbak." ucap petugas kasir dengan menyodorkan kartu kredit dan dua kantong plastik putih pada Winda.
"Iya sama-sama mbak."
"Mari mas, sekali lagi terimakasih atas kebaikannya tadi." lanjut Winda pada sosok laki-laki yang sudah berbaik hati padanya. Setelah selesai membayar Winda segera keluar dari minimarket.
Petugas kasir mulai menghitung belanjaan Aldi dan memasukkannya didalam kantong plastik satu persatu. Aldi menyodorkan kartu kreditnya pada petugas kasir dan segera menerimanya kembali setelah selesai diproses.
Aldi beranjak dari meja kasir dan berjalan menuju pintu keluar.
"Pak, pak sebentar ada yang ketinggalan." Aldi menghentikan langkahnya saat suara petugas kasir memanggilnya.
"Ini sepertinya punya bapak ketinggalan."
Aldi terlihat bingung akan menerima benda yang diulurkan padanya, ia menolaknya karena merasa bukan miliknya, namun sipetugas kasir itu meyakinkan jika itu miliknya yang tertinggal. Aldi terdiam dan berpikir sejenak seraya melihat keluar terlihat sosok wanita yang berdiri disamping mobil.
"Oh iya terimakasih mbak." Aldi baru teringat jika benda itu adalah milik wanita yang mampu membuatnya bingung setelah menatap sorot mata wanita itu, ia segera meraih benda itu dan berlari keluar menuju tempat wanita itu berada.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
__ADS_1
Ayo ramaikan lagi jejaknya ya...
Saranghe 💞💞