Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 34


__ADS_3

"Siapa Win yang telpon lu barusan? terlihat hawatir sekali sama lu? biasanya juga gak ada yang nanya sama lu sedetail tadi? sampai tanya dimana, sama siapa, yang bawa mobil siapa..." tanya Tania disampingnya.


"Emm... itu. dia...e... a- a-a..." lidah Winda tiba-tiba kaku sehingga terbata-bata ketika akan menyebut nama abang untuk Sigit, membuat Tania bingung mendengarnya.


"Aa'? lu punya pacar?? atau...??" Tania merasa heran dengan jawaban sahabatnya yang terbata-bata tidak seperti biasa, matanya kini beralih kecincin yang tersemat dijari Winda.


"Tunangan lu?"


"Bu-bukan, aku tidak tunangan." jawab Winda gugup mengangangkat kedua tangannya seperti orang yang melambaikan tangan ketika berpisah.


"Ya Tuhan Win... itu cincin tidak sembarang cincin Win..." Tania memperhatikan cincin dan mengangkat jari Winda didekat wajahnya, matanya meneliti tiap-tiap sorot mutiara yang mengkilat.


"Setau gue ya Win ini cincin adalah cincin pernikahan, pasalnya gue tau betul ini berlian yang dirancang husus hanya untuk orang tertentu yang memesannya." lanjut Tania setelah mengetahui cincin yang tersemat dijari Winda tidaklah cincin biasa.


"Apa? cincin rancangan husus? apa itu berarti Sigit sudah memesannya jauh-jauh hari hanya untuk hadiah pernikahan? hanya demi aku? dan kalimatnya semalam... Sigit... ah abang... Winda kangen..." Winda tersenyum kecil mengingat kejadian semalam bersama suaminya.


"Tega ya Win lu sama gue, tunangan tidak ngundang sahabat lu sendiri, kenalin kek ke kita-kita. Jangan disimpen sendiri, bener-bener keterlaluan ya lu."


"Bu-bukan begitu Tan... a-aku..." Winda bingung.


"Jangan bilang ke gue jika laki-laki berkaca mata itu, siapa sih namanya? e... oh iya kak Faisal. Kak Faisal adalah tunangan lu." tebak Tania ketika mengingat Faisal kakak kelas Winda sekolahnya dulu yang pernah Winda kenalin ketika mereka bertemu dirumah kontrakannya.


"Apaan sih kamu Tan..." Winda terlihat semakin cemas mendengar ucapan sahabatnya yang salah faham mencoba menebak siapa orang yang telah menyematkan cincin dijarinya.


"Bisa gawat ini nanti, jika Tania sampai menggosipkan Faisal adalah tunanganku didepan teman-teman, bisa-bisa dijadikan bubur ayam aku nanti sama Sigit. Habis deh aku." Winda bermonolog didalam hatinya, dia menggigit bibir bawahnya penuh rasa cemas memikirkan perkataan Tania.


Winda memperhatikan villa bercat putih yang sudah berada didepannya, dia mengikuti Tania yang berjalan memasuki villa.


❄❄❄


Pikiran Sigit kacau setelah mengetahui Winda sudah dalam perjalanan menuju villa bougenville bersama teman-temannya, dia mondar-mandir berjalan didepan meja kerjanya.


"Ngapain coba aku masih disini kalau pikiranku masih berkutat dengan Winda, shiittt." Sigit menutup laptopnya kembali dan beranjak dari kursinya.


Sigit berjalan menuju lift menuruni gedung WP dengan langkah panjangnya, dia melihat jam tangan yang melingkar, jarum jam masih bertengger diangka dua, masih ada waktu untuk secepatnya sampai di villa papinya Willy, setidaknya sebelum petang dia sudah sampai disana.


Sigit bertindak cepat mengemudikan mobilnya supaya tidak terjebak macet, mengingat hari ini hari sabtu, sudah pasti akan macet berkepanjangan.


Suara music satu-satunya teman setia yang memberikan aliran semangatnya mengemudi sepanjang perjalanan, jari tanganya sesekali dia pukulkan distir kemudi, kepala mengangguk-angguk mengikuti alunan music.


Tidak terasa jalan tol terpanjang jakarta bandung sudah terlewati, kini tinggal sedikit lagi perjalanan yang melelahkan sudah hampir sampai.


Sigit menikmati pemandangan sore hari yang sejuk, angin pantai terasa menyapu wajahnya menyambut kedatangannya ketika kaca jendela yang sengaja dia buka untuk menikmatinya.


Mobil Sigit sudah memasuki gerbang putih yang terdapat gedung putih yang menjulang didepannya.


"Ahirnya sampai juga sebelum petang." kata Sigit lega begitu dia menghentikan mobilnya dihalaman parkir yang luas.


Drrrrt drrrrtt drrrrrttt.


Sigit melihat nama John dilayar kecil pintarnya.


"Hello bro, sudah sampai mana? lu jadi kan dateng ke villa? tinggal lu yang belum dateng."


"Hm, ini gue udah diparkiran depan."


"Parkiran depan? yang bener bro."


"Hm."


klik


Sigit mengahiri panggilan John, dia keluar dari mobil dengan membawa paper bag yang baru diambilnya dari jok belakang, lalu berjalan memasuki villa.

__ADS_1


❄❄❄


Jam delapan malam para tamu sudah mulai berdatangan memasuki ruang tamu, makanan dan minuman berjajar diatas meja, para pelayan berjalan silih berganti membawakan minuman diatas nampan untuk para tamu undangan om Surya, papinya Willy.


Sigit dan sahabatnya termasuk geng girl, dipersilahkan menempati meja yang sudah disiapkan untuk mereka.


Sesekali pandangan Sigit beralih ke Winda yang asik mengobrol dengan kedua sahabatnya.


Acara demi acara sudah terlaksana, hingga sampailah pada inti acara yang sangat mencengangkan ketika om Surya mengucapkan rasa syukur atas pertunangan Willy dan Silvi malam ini.


Om Surya menyebut nama Willy dan Silvi untuk berjalan menuju tempat yang sudah di siapkan untuk mereka. Willy pun megikuti petunjuk maminya untuk memasangkan cincin dijari Silvi secara bergantian.


"Gue tidak salah lihat kan bro?" ucap John terkejut.


"Gila. Willy gila, menyembunyikan ini semua dari kita sampai malam ini, dia berhasil ngasih surprise ke kita." tambah Topan.


Sigit tertegun mendengar ocehan kedua sahabatnya tentang Willy.


"Apalagi jika nanti kalian tahu kalau gue udah nikah sama Winda, apa yang akan kalian lontarkan ke gue John, Pan." batin Sigit memperhatikan kelakuan John dan Topan.


Tania membelalakkan matanya menyaksikan sahabatnya, mulutnya tidak henti-hentinya ngomel-ngomel.


Berbeda dengan Winda, dia lebih banyak diam. Walaupun terlihat jelas diwajahnya ada rasa terkejut, tidak percaya, namun dia seakan menyembunyikan sesuatu, entah apa.


"Pan, abis ini jangan-jangan lu yang air tenang menghanyutkan." tuduh John kepada Topan, membuat Sigit terkasiap.


"Maksud lu?" tanya Topan melirikkan matanya pada John.


"Ya... siapa tau lu sama Tania. kan jeruk makan jeruk." jawab John sekenanya, tanganya menyomot kue didepannya.


"Enak aja, emang gue mau sama angin Topan porak poranda kayak piranha?" tukas Tania nyolot.


"Gila lu ya mobil Tamiya nyebut gue piranha." sahut Topan tidak terima dengan sebutan piranha.


"Iya bisa jadi, kalau dilihat dari riwayat mereka dari awal semester tidak jauh beda seperti kucing dan tikus, ha ha ha..." sahut John.


"Iya memang kami pasangan serasi sih." Sigit menjawab argumen kedua sahabatnya.


"Beneran Git, gue sumpahin kalian berdua berjodoh, dan hubungan kalian akan berahir dipelaminan." tiba-tiba suara Willy terdengengar tanpa mereka sadari kehadarinnya dan Silvi sudah ditengah-tengah mereka.


"Aamiin. Terimakasih bro" jawab Sigit sambil mengangkat kedua telapak tangannya lalu diusapkan diwajahnya.


"Eit, dah enak aja lu bilang Git. nih dengerin baik-baik ya lu lu semua apa kata gue... sahabat gue Winda ini sudah bertunangan dengan kak Faisal, siganteng berkaca mata itu." ujar Tania sambil mengangkat tangan Winda yang mengenakan Cincin pemberian Sigit.


Winda menarik tangannya dari pegangan tangan Tania, dia membekap mulutnya dengan kedua tangannya, tertegun mendengar perkataan sahabatnya yang salah faham dengan pemikirannya sendiri mengenai siapa orang yang telah menyematkan cincin dijari tangannya.


Sigit terkesiap membelalakkan matanya ketika Tania menjelaskan tentang Winda yang berstatus tunangan Faisal.


"Benar apa yang dikatakan sahabatmu Winda Zilvana Idris?" Winda bergidik mendengar perkataan suaminya penuh penekanan pada kalimat terahirnya walaupun lirih, dia menggelengkan kepalanya dengan melihat tatapan suaminya.


Willy dan sahabatnya terkejut menyaksikan Winda dan Sigit bergantian, mereka terpaku melihat Sigit yang tidak seperti biasanya hanya suka meledek dan bergurau jika menyangkut Winda, namun saat ini mereka melihat raut wajah Sigit yang berbeda dengan kalimat yang tegas.


"Winda..." kata Silvi lirih, tangannya membelai pundak Winda di sampingnya.


"Tidak Git, ini hanya salah faham." kata Winda terjeda menatap suaminya. "Ini benar-benar kesalah fahaman saja. Baiklah sahabatku semua, apapun yang aku katakan... memang benar adanya, kalianpun pasti sudah mengetahui jika kebenaran kadang pahit diawal akan tetapi dia akan membawanya kepada hal yang baik untuk kedepannya." Winda melihat sahabatnya satu persatu.


"Tania, Silvi dan semuanya, kami sebenarnya..."


"Biar abang saja yang menjelaskan kepada mereka sayang." semua mata terbelalak tidak percaya dengan ucapan Sigit yang memotong perkataan Winda, Sigit tidak ingin istrinya terbebani menghadapi sahabatnya sendirian.


"Woooooowww... abang?? sayang???" suara kelima sahabatnya terdengar serentak terkejut.


Sigit berjalan memutari meja mendekati Winda yang berada disamping Silvi dan tania.

__ADS_1


"Wah... apa-apaan ini bro??"


"Abang? sayang?? apa lagi ini man??"


"Jangan drama lu Git."


"Iya nih gue bingung, gak ngerti deh sama kalian berdua."


"Sumpah, gue jadi bingung Win."


"kljkdseuh@gkjjxhk#ghj%&@#jkiytrxbnj"


Suara sahabatnya dari kedua geng terdengar riuh.


Sigit menggenggam tangan Winda yang dingin, dia menenangkan Winda yang wajahnya terlihat bingung setelah mendengar kata-kata semua sahabatnya.


"Sebenarnya kami sudah menikah." kata Sigit.


"Apa?????!" ujar Silvi, Tania, Willy, Topan dan juga John berbarengan, mulut mereka terbuka lebar, Benar-benar diluar dugaan mereka.


"Gila! lu bener-bener gila Git!!"


"Ckckckck bener-bener lu ya."


kata Topan dan John bergantian.


"Ini baru yang namanya jeruk makan jeruk, teman makan teman."


"Ha ha ha ha ha ha ha"


"Man gue salut sama lu. Selamat Git." ucap Wily sambil tersenyum memukul pundak Sigit, tangan mereka tergenggam beradu tos.


"Selamat bro."


"Selamat untuk kalian berdua, bener-bener kejutan yang tidak terlintas dibenakku."


Ucapan selamat terdengar silih berganti dari duo geng.


Silvi dan tania bergantian memeluk Winda.


"Kalian berdua harus cerita kekita." celetuk Silvi ditengah pembicaraan mereka.


"Tenang." jawab Sigit.


Mereka mendengarkan cerita sigit dari awal sampai peristiwa pernikahannya yang tanpa ada pengantin wanita disampingnya karena belum sadarkan diri, hingga larut malam mereka bercengkrama, terkadang terdengar suara gelak tawa dan sorakan ditengah cerita Sigit, tanpa mereka sadari para tamu sudah sepi.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Marhaban ya Syahru Ramadhan💖


💖


Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi yang melaksanakannya. Mohon maaf jika author ada kesalahan.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2