
Firman mulai membuka acara meeting, kemudian mempersilahkan Sigit untuk sambutan sebagai tuan rumah. Ditengah menyampaikan sambutannya, alangkah terkejutnya seisi ruangan saat itu dengan kalimatnya yang dengan lantang memberitahukan tujuan diadakannya pertemuan secara mendadak dilantai tiga dengan mengundang semua karyawannya.
"Baiklah saya sangat berterima kasih kepada bapak Winata Pratama, ibu Anita serta stafnya, dan juga semua staf dan karyawan-karyawan kantor cabang, dengan kerjasama kalian, dengan kerja keras kalian sehingga terjalin hubungan yang solid diantara kalian dan terlaksana pertama kalinya pertemuan besar seperti ini didalam gedung ini."
Sigit berhenti sejenak melihat berpasang-pasang mata memperhatikannya, lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
"Sebelumnya saya meminta bantuan dari saudari Winda Zilfana Idris untuk bersedia maju didepan." ucap Sigit sambil menoleh kearah Winda. Yang diikuti semua mata beralih pada si empunya nama yang dipanggil Sigit, pandangan semua orang yang hadir saat itu tertuju pada Winda, sontak membuat Winda bertambah gugup.
Melihat Winda yang masih terkejut dan terdiam duduk diatas kursinya membuat Sigit kembali memanggil namanya untuk yang kedua kalinya.
"Silahkan saudari Winda segera kedepan agar acaranya cepat selesai."
Winda perlahan berdiri dan berjalan mendekati Sigit yang berdiri disamping kursi papi Winata. Begitu sampai disamping Sigit Winda melihat suaminya sekilas dan mengalihkan pandangannya pada orang-orang disekitarnya.
Ada segelintir dua gelintir orang yang berbisik tidak mengerti.
Papi Winata terdiam menantikan rencana apa yang akan dilakukan putranya dengan memanggil menantunya didepan umum. Sedangkan Anita sudah merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya dari sikap Sigit yang memanggil nama Winda.
Sigit memegang kedua pundak Winda seakan memberinya kekuatan, matanya menatap bola mata Winda yang terlihat mendung seakan runtuh pertahanan air matanya. Sigit menganggukkan kepalanya meyakinkan Winda seolah-olah mengatakan tidak akan terjadi apa-apa dari bahasa tatapan matanya, lalu kembali pandangannya pada semua orang-orang yang hadir didalam ruangan.
"Perlu kalian ketahui dan kalian ingat dengan jelas, bahwa saya sangat berterima kasih kepada orang yang sudah berjasa menyebarkan video kami yang hari ini nama kami menjadi trending di media sosial sehingga banyak yang mendoakan kami dan bahkan tidak sedikit pula yang menghujat kami. Untuk itu... hari ini... saat ini... dan detik ini juga dengan bangga saya mempersilahkan semuanya untuk menyebarkan video ini sebagai video kelanjutan dari video yang sudah viral tersebut." Sigit berhenti sejenak seraya mengambil kotak kecil dari sakunya. Dia membuka hadiah untuk Winda yang seharusnya diberikannya nanti ketika sampai di hotel, dengan terpaksa dia memberikannya sekarang didepan umum.
"Abang... Winda malu..." suara Winda lirih hanya terdengar ditelinga Sigit. Namun Sigit hanya menjawabnya dengan sebuah kedipan mata saja.
"Ini adalah sebuah hadiah yang akan saya selipkan dijari manisnya nanti ketika kami sampai di hotel. Namun, karena ada hal yang lebih penting disini saat ini maka dengan senang hati saya membagi kebahagiaan saya kepada kalian semuanya." Sigit memasangkan cincin bertabur berlian yang tidak kalah mewahnya dengan cincin berlian pemberiannya waktu di hotel Mutiara dulu.
Semua mata terpaku melihat sikap Sigit yang tiba-tiba romantis terhadap Winda, mereka terbengong dengan mulut membulat sempurna, setelah itu suasana gaduh seketika, ada yang merespon positif dan ada juga yang merespon negatif. Winda memejamkan matanya menahan air matanya agar tidak tumpah, namun karena terharunya dengan kesungguhan Sigit membuatnya tidak tahan lagi untuk membendung air matanya. Sigit melihat air mata Winda yang sudah menganak sungai, tangan kanannya merangkul pundak Winda setelah selesai memasang cincin dijari tengah Winda, dia berharap dapat memberikan rasa tenang pada Winda saat itu, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Saya pribadi atas nama Sigit Andra Winata, putra dari papi Winata Pratama mengumumkan bahwa wanita disamping saya ini atas nama Winda Zilfana Idris adalah pasangan suami istri yang sah. Kami menikah sudah tiga bulan lebih tiga minggu yang lalu dengan dihadiri orang tua kami. untuk itu... kepada semua karyawan disini yang sudah berani menyebut nama istri saya dengan tidak pantas didengar telinga, silahkan menuju ruangan saya. Dan... mohon maaf untuk perwakilan dari perusahaan Duta Perkasa, dengan sangat menyesal saya mengatakan memutuskan kerjasama ini, karena saya sudah mengantongi bukti nyata setelah tiga puluh menit yang lalu mencari tanda buktinya. Untuk itu jangan khawatir, kami akan mengganti rugi kerugian atas pembatalan kerja sama ini, dan saya serahkan urusan selanjutnya pada manager saya, pak Firman, demikian dari saya pribadi. Terimakasih."
Sigit menuntun dengan menyandarkan kepala Winda didadanya seraya mohon pamit kepada papinya dan bergegas meninggalkan ruangan.
❄️❄️❄️
__ADS_1
Sigit membawa Winda kedalam ruang kerjanya, kemudian memeluk Winda dengan kepala masih bersandar di dada bidangnya.
"Sudah jangan menangis. Memang sudah seharusnya mereka dikasih pelajaran, agar berhati-hati dalam memilih informasi dan menanggapi informasi itu."
"Abang mau apakan karyawan-karyawan itu?"
"Pecat."
tegas suara Sigit menjawab pertanyaan Winda yang sudah terlihat tenang raut wajahnya, berubah terkejut.
"Jangan bang, kasihan mereka."
Winda menyela jawaban Sigit.
"Tidak ada ampun bagi siapapun yang berani menghina istriku, itu berarti dia sudah menghina Abang." jawab Sigit masih lantang.
"Termasuk diri Abang sendiri?" tanya Winda membalikkan keputusan Sigit.
Winda mengingatkan sikap suaminya yang pernah dilakukannya dulu, sambil menatap sorot tajam suaminya.
"Maka dari itu Abang menyesalinya sekarang, Abang tidak akan terima kamu dihina lagi."
jawab Sigit seraya membalas tatapan istrinya.
"Apa kita tahu jika mereka sangat membutuhkan pekerjaan ini? sama seperti Winda ketika pertama kali melamar kerja di sini dengan berjuta harapan agar diterima kerja disini?"
"Cukup Winda, cukup!"
Winda menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya dengan kalimat suaminya barusan yang benar-benar marah padanya.
Tok tok tok...
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Sigit pun merenggangkan tirainya yang dia tutup dari tadi agar perbuatannya bersama Winda tidak terlihat dari luar karena dinding depan ruangannya terbuat dari kaca sehingga transparan.
__ADS_1
Sigit menyuruh Winda masuk kedalam kamarnya yang berada didalam ruang kerjanya.
"Masuk kedalam, tenangkan dirimu sejenak, biar Abang yang mengurus mereka." suara Sigit sudah melunak tidak seperti ketika berdebat dengannya tadi.
Winda mengikuti perintah Sigit memasuki kamarnya, pertama kali ini dia memasuki kamar suaminya didalam ruang kerjanya, Winda mengedarkan pandangannya disekelilingnya, dia merasa nyaman dengan nuansa serba putih, dari segi seprai, sofa, dan sebuah lemari baju yang berwarna senada.
Winda tiduran diatas ranjang dengan sebuah buku ditangannya. Lambat laun dia merasakan kelopak matanya terasa berat.
"Uaahhh.." Winda menutup mulutnya ketika menguap, dia kelelahan dan terlelap diatas ranjang.
❄️❄️❄️
Diruang kerja Sigit.
Ada lima karyawan yang bersangkutan dengan peristiwa dilantai dasar tadi pagi, mereka meminta belas kasihan agar tidak dipecat, setelah menelan kata-kata pahit yang keluar dari amukan mulut Sigit karena keteledorannya tidak mencerna kabar berita lebih dulu dan langsung terprovokasi maka ucapannya membawa nasibnya diujung tanduk, antara dipecat jadi pengangguran atau tetap bekerja dengan baik.
Sigit mencerna kalimat-kalimat Winda, ada rasa kasihan ketika melihat raut wajah mereka disertai dengan kalimat penyesalannya, Sigit memberikan kesempatan bekerja lagi di perusahaannya dengan syarat hanya sebagai resepsionis. Melihat mereka yang gegabah mengatakan kata-kata yang tidak sopan sehingga Sigit ingin memberi pelajaran agar mereka menyadari betapa pentingnya mengelola emosi saat berhadapan dengan tamu, dengan siapa saja orang yang sudah seharusnya dihormati, tidak memandang derajat dan martabatnya.
Sigit merasa lega sudah memutuskan perkara yang nantinya bisa membuat istrinya tersenyum dengan keputusannya.
"Kamu benar-benar sudah merubah abang Winda..."
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Saranghe...💞💞
__ADS_1