Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 137


__ADS_3

"Sudah cukup Bram, jangan diteruskan." Suara papi memohon pada putra sulungnya.


Winda dan bayi mungilnya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter setelah menjalani perawatan intensif di ruang husus selama beberapa Minggu karena bayinya lahir secara prematur.


Hari ini Bram mengumpulkan anggota keluarga Winata termasuk Renaldi diruang kerja papi yang sudah dia rencanakan. Sementara Bu Arini dan pak Idris menunggu Winda didalam kamarnya, entah mangapa sejak semalam bayi mungil Winda menangis terus hingga menjelang pagi.


"Sekarang sudah saatnya semua anggota keluarga papi mengetahui kebenaran yang selama ini tertutup rapat Pi." sahut Bram.


"Bram sudah tidak bisa menutupi masalah yang seolah-olah semakin memojokkan papi." Bram sudah tidak sanggup melihat sikap Renaldi yang masih menyimpan kebencian terhadap papinya. Setiap kali ada kesempatan kebersamaan dirumah mereka, Renaldi selalu menghindari papinya dan sinis, belum ada kedekatan sama sekali diantara mereka. Renaldi belum bisa memaafkan kesalahan ayah adiknya. Bram sangat terpukul melihat papinya yang selalu merasa bersalah.


"Sebenarnya kebenaran apa yang kamu maksud Bram?" mami mengerutkan keningnya penasaran. Kedua bola matanya menatap tajam laki-laki yang ia lahirkan itu.


Sigit dan Revan terdiam mendengar kalimat abangnya, begitu juga dengan Renaldi yang semakin penasaran menunggu kelanjutan kalimat yang dimaksud Bram.


Bram melirik papi sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada orang-orang disekitarnya.


"Ini adalah kejadian yang sudah bertahun-tahun lamanya." Bram memulai ceritanya, tatapan matanya terhenti tepat menyorot Renaldi yang berada didepannya.


"Ketika itu aku bersama papi meninjau proyek yang sedang melakukan pembangunan disuatu tempat." pandangannya beralih pada Sigit.


"Kamu ingat Git, dihari saat kamu menghilang dan sehari semalam terpisah dari kami waktu itu?" tanya Bram.


Sigit menatap sosok Abangnya, iapun mengerutkan keningnya mencoba mengingat masa itu.


Tidak berapa lama, ia teringat saat ia tersesat lupa jalan pulang karena keasikan berjalan menikmati udara segar disekitarnya, ia bermain di sungai yang mengalir air terjun, airnya sangat jernih membuat ia lupa waktu, ditambah lagi ia asik merakit sebuah kapal dari ranting kering dan memanfaatkan daun-daun kering sebagai pelengkap perahunya agar dapat berlayar layaknya sebuah kapal layar di samudera luas. Matahari terasa semakin redup, semburat senja sudah mulai terlihat, hatinya saat itu sangatlah gusar, ia segera meninggalkan tempat itu dan berniat kembali ketempat dimana rombongan papinya berada.


Namun ternyata takdir berkata lain, setelah ia berjalan kesana-kemari berusaha menyusuri jalan didepannya, ia terus bertemu dengan pohon dan jembatan yang sama. Setiap pohon yang ia lewati ia kasih tanda, namun ia masih saja terjebak ditempat itu, berkutat ditempat yang penuh pepohonan yang tidak jauh dari tugu besar.


Karena semakin takut dan dengan tekad yang kuat memutuskan berjalan lagi, akhirnya ia menemukan jalan yang terdapat beberapa belokan, iapun mengikuti kata hatinya yang menggerakkan kakinya ke sebelah kiri jalan.


Ia terus berlari dan berlari seakan sedang berada ditengah hutan hingga hari sudah mulai gelap. Hatinya diselimuti rasa takut sendirian ditempat yang tidak ada pemukiman warga sama sekali.


Sesosok bayangan seorang gadis kecil muncul dihadapannya sedang berlari kearahnya.


"Ya, Igit ingat bang, peristiwa saat itu tidak akan pernah Igit lupakan, karena peristiwa itulah pertama kalinya Igit bertemu Winda." Jawab Sigit setelah mengingat kejadian pertama kalinya ia bertemu dengan bidadari hatinya yang ternyata Tuhan sudah mempertemukan mereka saat masih kecil.


Jawaban Sigit justru membuat anggota keluarganya terkejut.


"Ha?? bertemu dengan Winda??? Benarkah?" mami dan Bram berbarengan, mereka serempak karena terkejut.


"Hm." Sigit tersenyum tersipu.


Semua tatapan mata terarah pada dirinya.

__ADS_1


"Wah, apa ini yang namanya musibah membawa berkah?" lanjut Bram.


Sigit semakin tersenyum mengembang.


"Mungkin." Sigit melihat wajah Bram. "Takdir Tuhan itu merupakan rahasia yang sangat luar biasa. Pada saat itulah gantungan kunci bintang itu Igit berikan pada gadis kecil yang menyebut namanya sendiri dengan nama bidadari dan memanggilku dengan nama..."


"Bang. Tau gak? mata Abang mengingatkan Winda dengan mas bintang, laki-laki hebat yang selalu datang ketika Winda sendirian."


"Kenapa?"


"Mata yang indah."


"Sudah tidak usah dibahas, Abang tidak mau disamakan dengan orang lain. Abang ya Abang bukan si A, B, C, D bahkan Z."


Sigit terdiam, tiba-tiba teringat perkataan istrinya saat mereka berada di pantai saat itu. Kemudian menyandingkan dengan kalimat bidadari kecil malam itu.


"Mas bintang terimakasih ya... sudah membantu dan menemani bidadari disini, jika tidak ada mas bintang tadi entah bagaimana bidadari sekarang, hiks, hiks... mungkin sudah hilang ditengah hutan dan di maka..."


"Jadi, sebenarnya dia tidak lupa dengan tatapan mataku? Winda masih mengingatku, kenapa aku tidak menyadari kalimatnya waktu itu?" batin Sigit.


"Memanggil apa bang?"


Revan membuyarkan lamunannya. Sigit perlahan mengalihkan pandangannya pada adiknya yang penasaran padanya.


"Mas bintang." jawab Sigit singkat.


Renaldi justru terkejut mendengar jawaban Sigit.


"Apa? mas bintang? aku tidak salah dengar kah saat ini?" Renaldi teringat bidadari kecil saat itu.


"Mas bintang adalah nama yang selalu disebut bidadari setiap kali dia bercerita dan berkhayal dalam permainan sepasang boneka kecilnya yang dia beri nama bidadari dan bintang. Itu berarti mereka memang sudah mempunyai keterkaitan batin sejak kecil."


Renaldi terpaku dengan lamunannya, ia memperhatikan wajah Sigit, lama menatap sorot mata laki-laki itu. Mata sipit, mata yang teduh dan terlihat bijaksana karena ketegasan karakternya.


Terlebih ketika mendengar cerita Tania saat kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya sebagian ingatan Winda, membuatnya terharu pada sikap Sigit yang begitu menyayangi dan mencintai adik sahabatnya itu.


"Wah, so sweet sekali ternyata kisah Abang ya. Revan seakan sedang mendengarkan kisah pangeran dan tuan putri di negeri dongeng saja bang." respon Revan. "Judulnya Cinta abadi sang bintang dan bidadari."


Semua orang pun terkekeh mendengar kalimat Revan, tidak terkecuali Renaldi.


Suasana hening sesaat, semua orang didalam ruangan itu terdiam setelah tertawa.


"Ehem ehem." Bram berdehem, matanya melirik papi dan Renaldi.

__ADS_1


"Baiklah Bram lanjut lagi."


"Bertepatan dengan kisah Sigit dimalam itu, bertepatan pula dengan sebuah peristiwa yang sangat memberatkan papi malam itu juga."


"Dimana tepat terjadinya kecelakaan dalam sebuah proyek pembangunan yang ditangani om Gun, ternyata salah satu korban dari peristiwa itu adalah seorang manajer dari sebuah perusahaan yang mengontrol kinerja para pekerja bangunan."


"Sama sekali tidak ada yang menyangka saat itu, semuanya murni kecelakaan."


"Sang manajer yang berada di bawah saat itu, tiba-tiba saja tertimpa reruntuhan bangunan, sehingga papi dan om Gun yang baru datang segera mengevakuasi para pasien disana ke rumah sakit."


"Malangnya, Si manajer itu terluka parah dan tidak lama meninggal dengan memberikan wasiat pada papi yang sangat memberatkan papi."


"Bram. Hentikan."


"Tidak Pi."


"Jangan membuka masa lalu, biarkan papi sendiri yang menanggungnya Bram."


"Pi." bola mata Bram nanar.


Baru saat ini ia mampu menatap bola mata laki-laki yang sudah terlihat ada garis tua di wajahnya.


"Semuanya harus tahu! Bram sudah tidak bisa diam sekarang."


Papi terdiam. Mulutnya seakan terbungkam kain yang diikat sehingga tidak bisa berkata-kata. Bram yang lebih banyak nurut jika papi sudah memberi titahnya, namun saat ini ternyata seperti bukan Bram putra sulungnya. Seperti jelmaan Sigit yang tiba-tiba saja tegas dan tidak peduli titahnya.


Deg deg deg


Mami sudah mendapat firasat tidak enak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kedua telapak tangannya terasa dingin. Hatinya gusar entah kenapa.


Sigit semakin penasaran, sedangkan Revan bingung tidak mengerti.


"Renaldi."


Renaldi melihat wajah Bram, kedua bola matanya menatap Bram tidak berkedip, debaran jantungnya seakan terdengar didalam ruangan.


.


.


. Bersambung 🤗🤗


Saranghe 💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2