Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 132


__ADS_3

"Tan, kamu lihat gak sih ada yang terbang-terbang didepan?" dari kejauhan Faisal melihat sesuatu yang bergerak-gerak didepannya, semakin mobilnya melaju semakin terlihat jelas kelebat didepan membuatnya merinding, sehingga ia menanyakan pada wanita disampingnya.


"Hm?" Tania bengong mendengar pertanyaan Faisal. "Tidak tuh, dimana memangnya ada yang terbang?" lanjutnya seraya meluruskan duduknya mengedarkan pandangannya mencari yang dikatakan Faisal.


"Itu tu didepan sana." jawab Faisal dengan menunjukkan jari telunjuknya kedepan.


"Mana sih? gak ada apa-apa didepan."


ucap Tania masih menjereng matanya lurus kedepan.


"Ih dasar kamu ya, mata sebulet itu tidak melihat benda bergerak-gerak dari tadi." Faisal sedikit jengkel pada Tania, melirik Tania kesal. Namun Faisal segera menyadari jika menurut ahli penelitian ketika ia mengikuti seminar tentang pandangan mata wanita dan pria itu berbeda, dimana pandangan pria mampu melihat jarak jauh karena mengerucut lurus kedepan, sedangkan pandangan wanita akan melebar kesamping kanan dan kekiri. maka tidak heran jika dari tadi Tania tidak melihat benda didepan mobil mereka karena jaraknya memang masih jauh.


Tania fokus pada jalan didepannya, ia benar-benar memperhatikan tempat yang dimaksud Faisal, namun tidak lama kemudian ia melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak melambai dari kejauhan seperti yang dikatakan Faisal. Ia pun mengerutkan keningnya.


"Eh, eh iya aku lihat aku lihat sekarang." Tania membelalakkan matanya tertegun melihat selembar kain tertiup angin dari pinggir jalan.


"Mas, merinding gak sih melihatnya? ditempat seperti ini loh, sepi lagi, hiiii..." ucap Tania bergidik, bulu kuduknya seakan berdiri.


"Sudah gak sekarang. Kan kamu juga melihatnya, jadi itu benar-benar ada."


"Iiiihhhh, ditanya beneran kok jawabnya gitu?"


"Lah iya kan? itu berarti..."


"Bukan begitu maksud Tania mas... Tania takutnya kalau ada pembegalan ditengah jalan gimana? kan ngeri." ucap Tania mengungkapkan kekhawatirannya.


"Oh..." tanggapan Faisal, kemudian terdiam fokus mengemudi.


Faisal mengurangi kecepatan mobilnya saat benda berkibar itu sudah dihadapan mobil mereka, dan tak lain adalah sebuah selimut. Begitu pula dengan Tania memperhatikan selimut yang terkait di batang kayu tidak berkedip, ia melihat kebawah.


Terlihat olehnya seperti ada seseorang yang tergeletak dibawahnya.


"Mas, kurangi kecepatan lebih lambat lagi coba." Tania merasa ada yang mengganjal dari penglihatannya, ia menyuruh Faisal melambatkan laju mobilnya.


"Ada apa?"


"Coba deh lihat, sepertinya ada orang dibawahnya."


"Ah masak sih?"


"Coba deh berhenti dulu."


"Tidak usah Tan, siapa tau itu jebakan dari penjahat."


"Tapi..."


Tania membuka kaca mobil disampingnya.


Sayup-sayup terdengar suara rintihan, seperti orang kesakitan.


"Tolong... tolong..."


"Git... tolong..."


Tania seketika membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Ia berjalan mendekati suara itu.


"Tan, sudahlah ayo kita pergi saja." suara Faisal dari dalam mobil.


Tania masih berjalan mendekati suara itu.


Srek srek srek...


Ia menyeretkan kakinya melangkah hingga berada disamping tubuh yang terlihat sangat lemah didepannya.


Perlahan ia mendengar nama yang disebut oleh suara yang merintih sangat kesakitan.


"Git... aku disini Git..." terdengar suara seorang wanita yang tidak asing ditelinganya.


Deg.

__ADS_1


Jantungnya berdegup tidak beraturan, dengan menggigit bibir bawahnya, Tania meyakinkan hatinya.


"Aw... sakit sekali Git..."


"Ahhh... Sigit.... sakit Git..."


Tania memberanikan diri membalikkan tubuh yang berada didepannya, ia menyorotkan lampu hpnya dan berharap pikirannya yang kacau salah mengenali suara yang sangat ia kenali.


"Winda???"


Tania terkejut tidak percaya melihat wajah berhijab itu dengan sebujur tubuh yang lunglai diatas rerumputan basah kuyup karena sisa-sisa guyuran hujan semalam.


"Winda... ya Tuhan kamu benar-benar Winda?" antara ragu dan terkejut membuat Tania bingung.


"Sigit... di-dingin Git..."


"Cepat... lah... datang... Git... a... aku takut Git..." suara Winda meracau terbata-bata menggigil memanggil nama Sigit.


"Winda kamu kenapa Win? bagaimana kamu bisa ditempat seperti ini sendirian??"


tangan Tania meraih wajah Winda, panik.


"Mas Faisal!! maaaas!! bantu Winda maaaasss!!" seru Tania sekuat tenaganya memanggil nama Faisal yang masih diatas mobil.


"Maaaas tolong bantuin...."


Suara Tania menggema sangat keras, sehingga sangat terdengar jelas ditelinga Faisal.


Faisal terheran dengan Tania yang memanggilnya seakan terjadi sesuatu, terlebih lagi ia sempat mendengar nama Winda disela sebutan namanya.


Faisal segera menghambur menuju tempat Tania. Ia tidak percaya dengan tubuh yang berada di pangkuan Tania. Matanya membulat sempurna seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Winda??" lidahnya kelu memanggil nama wanita yang pernah ia harapkan dan sangat ia cintai.


Faisal segera mengangkat tubuh Winda dan membawanya masuk kedalam mobil.


"Tapi bagaimana caranya?" Tania bingung.


"Cari sesuatu yang sekiranya bisa digunakan ibu hamil dan menghangatkan tubuhnya." lanjut Faisal lagi.


Tania segera membongkar kopernya di bagasi belakang, ia mencari outhernya yang tebal dan bed cover yang ia bawa sebagai perlengkapan tidur nya selama dipedalaman kemarin, lalu mengambilnya.


"Mas, kamu tunggu diluar mobil dulu biar aku sendiri yang mengganti bajunya."


"Hm, iya ya." Faisal menuruti perkataan Tania.


Berpikir dalam diam tentang keberadaan Winda di tempat seperti ini, dia tidak habis pikir kenapa Winda bisa ditempat ini.


Kesal dan geram hatinya mengingat wajah Sigit yang telah menelantarkan pujaan hatinya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Sudah mas, ayo kita harus segera membawanya ke rumah sakit sekarang."


Suara Tania menyadarkannya, ia segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan hati-hati.


"Mas, kita harus secepatnya sampai dirumah sakit terdekat sini."


"Memangnya kenapa dengan Winda, Tan?"


"Sudahlah kamu tidak akan ngerti. Pokoknya secepatnya kita bawa dia ke rumah sakit."


Tania meraih hpnya dan menghubungi Sigit.


Berulang kali ia menghubungi Sigit, namun tidak juga bisa terhubung. Sehingga membuat Faisal bertambah geram melihatnya.


Faisal semakin panik saat ditengah perjalanan mendengar jeritan Winda meronta kesakitan. Tidak tega ia melihat seseorang yang ia cintai kesakitan.


"Gimana nih... Sigit dari tadi tidak bisa dihubungi." Tania terlihat sangat cemas. Tangannya tidak henti-hentinya memencet nama seseorang dilayar hpnya.


"Keterlaluan Sigit. Kalau tau akan ditelantarkan begini Winda ku, sudah dari dulu aku merebutnya dari kekangan Sigit brengsek itu."

__ADS_1


"Mas Faisal? Kamu masih menyimpan rasa itu pada Winda?" tanya Tania terkejut mendengar umpatan laki-laki disampingnya.


"Hm. Aku sangat mencintai Winda sejak dia duduk dibangku SMP dulu." jawab Faisal.


"Tapi, dia sekarang sedang mengandung anaknya Sigit mas, jadi aku mohon kamu jangan berbuat macam-macam." Tania khawatir dengan Faisal.


"Tenang saja Tan, aku bukanlah tipe lelaki yang suka merusak rumah tangga mantan." Faisal melirik sekilas Tania sambil mengemudikan mobilnya. "Akan tetapi, jika dia disakiti maka aku tidak akan diam saja, lihat saja aku akan bertindak."


Tatapan Faisal kali ini menakutkan dirinya, wajah yang terlihat kalem dan humoris tiba-tiba berubah menyeramkan seketika.


Tania menyentuh tengkuknya ngeri.


Suasana berganti hening, kedua manusia dibelakang kemudi saling diam tidak bersuara satu sama lain. Hingga terlihatlah sebuah bangunan yang tidak jauh dari laju kendaraan mereka.


"Didepan sepertinya ada klinik, kita belok disana dulu." suara Faisal memecah keheningan.


Tania mengangguk menyetujui keputusan Faisal.


Mobil Faisal memasuki parkiran dan segera membuka pintu berbarengan dengan Tania.


"Sus, tolong bawa brankar kesini cepat." suara Tania memanggil seseorang berbaju putih yang tidak lain adalah suster jaga pagi itu.


Dua orang berbaju putih sudah datang dengan sebuah brankar mendekati mobil mereka, dengan cekatan Faisal mengangkat tubuh Winda yang sudah tidak meracau lagi.


Brankar sudah didorong masuk didalam ruangan UGD, terlihat seorang dokter memasuki ruangan dan segera memeriksa Winda.


Tania mencoba menghubungi Sigit kembali, dan...


"Iya hallo. Tumben nelpon gue Tan?"


"Ya Tuhan... Sigit, lu usir istri lu dari rumah lu ya?"


"Bicara yang baik Tania, jangan asal bicara."


Tania terdiam sejenak.


"Lu yakin? tidak berbuat sesuatu dengan mengusir Winda dari rumah?"


"Apa maksud lu Tan? apa yang sedang lu bicarakan Tania?!"


"Asal lu tau ya Git, istri lu sekarang sedang berada di UGD. U-G-D denger lu?!"


"Apa??! UGD?? Tania!? Tania!?"


"Iya. Lu kalau sudah tidak cinta lagi sama sahabat gue jangan dibuang sesuka jidat lu ya. Sudah puas hisab enaknya, lu tinggal lempar aja kayak jeruk." maki Tania.


"Tania, dimana lu sekarang sama Winda, di rumah sakit mana kalian sekarang?"


Tania diam tidak menjawab Sigit.


"Denger Tania, lu dengerin gue baik-baik ya. Tolong lu jagain Winda ku, dia dalam bahaya sekarang, karena sudah seminggu ini dia telah diculik komplotan penjahat."


"Apa?? Winda diculik?"


"Ya itu faktanya, jadi gue mohon lu kasih tau di rumah sakit mana kalian sekarang? please talk me. Atau sharelok sekarang, gue segera kesana oke?"


.


.


.


. Bersambung 🤗🤗


Masih dag dig dug ya kak... jangan lupa untuk tersenyum selalu.


Terimakasih untuk yang selalu mendukung author sejauh ini akak2ku sayang... salam peluk jauh untuk akak2 semua...


Sarangheo 💞💞

__ADS_1


__ADS_2