
Hari cerah secerah mentari pagi, begitu pula dengan wajah dua insan yang hari ini dalam perjalanan menuju rumah mereka. Ya, mami dan papi sudah bisa pulang ke Indonesia setelah tiga bulan berada di Singapura karena proyeknya baru selesai.
Mami tidak sabar ingin segera bertemu dengan putra dan menantunya, perjalanan terasa sangat lama jika ditunggu-tunggu. Satu jam tiga puluh lima menit perjalanan dari bandara Changi, Singapura menuju Soekarno-Hatta, Indonesia, seperti biasa waktu perjalanan yang mereka tempuh. Namun, karena rasa rindu kepada putra dan menantunya perjalanan kali ini terasa lebih jauh dan begitu lama.
Mami memasuki taxi bersama papi, mereka sengaja pulang tanpa memberikan kabar karena memajukan jadwal kepulangan mereka yang sudah dikabarkan kepada orang rumah, mereka bermaksud ingin memberikan kejutan untuk kedua putranya dan menantunya. Rasa lelah dari perjalanan terasa lenyap begitu saja ketika membayangkan wajah menantunya yang akan segera memberikannya cucu, sehingga terbayar sudah penantian mereka dengan hadirnya penerus Sigit, putranya.
Papi menggenggam jemari mami, tersenyum bahagia melihat mami yang terlihat sangat gembira tidak sabar ingin segera sampai dirumah kediaman mereka.
"Hm, yang sebentar lagi mau gendong cucu sudah senyum-senyum sendiri dari tadi..." celoteh papi ditengah perjalanan mereka.
Mami tersenyum memandang suaminya.
"Tau aja papi ah... orang lagi senang juga ingin segera memeluk dan mengelus menantu dan juga calon cucu mami." tukas mami menyahut celotehan suaminya.
Sepasang suami istri itu menikmati perjalanannya dengan sesekali candaan dan obrolan ringan. Mami bersandar dipundak papi dan merangkul lengannya, membicarakan masa tua mereka.
Dari kejauhan papi memperhatikan truk didepannya dari arah berlawanan berjalan semakin kencang, truk itu terlihat oleng seakan hilang kendali berjalan begitu kencang.
Ciiiiiiiiiitttt....
Braaaaaakkkk
Pranggggggg....
Ciiiiiiiiiitttt
Braaangggg.....
Belum sempat sopir taxi meminggirkan taxinya, sebuah mobil truk sudah menghantam bagian depan taxi dari arah berlawanan.
"Aaaaaaaaaaa...."
Suara jeritan korban dari dalam mobil ketika taxi itu menabrak pembatas jalan. Sedangkan mobil truk terguling di jalanan.
Samar-samar terdengar suara rintihan yang sangat lirih dan akhirnya lenyap tak bersuara.
❄️❄️❄️
Berulang kali Revan menghubungi Sigit tidak juga tersambung karena androidnya telah di non aktifkan sebelum rapat dimulai, begitu juga dengan Winda hanya menyilant androidnya agar tidak menggangu rapatnya hari ini.
Revan berjalan mondar-mandir menunggu dokter yang berada didalam ruang UGD memeriksa keadaan orang tuanya. Ningsih dan mbok Lastri berada disana menemani Revan yang terlihat sangat kacau. Berkali-kali ia menghubungi kedua abangnya tidak juga tersambung, entah seperti apa perasaannya saat itu, yang jelas ia sangat resah dan bingung.
"Dengan keluarga pasien..." suara dokter dari dalam ruang UGD memecah keheningan ruang tunggu.
Revan bergegas berjalan mendekati sang dokter dengan diikuti Ningsih dan mbok Lastri dibelakangnya.
"I-iya saya dok, saya anaknya." jawab Revan gugup begitu didepan dokter.
"Begini, saat ini kami membutuhkan darah yang golongannya sama dengan mereka, sementara bank darah disini yang sesuai dengan golongan darah mereka masih kosong, dan kalaupun ada persediaan darah saat ini tidak ada yang cocok dengan mereka, jadi kami membutuhkan donor darah dari keluarga mereka yang kemungkinan besar ada yang sama. Kalau bisa usahakan secepatnya. Karena keadaan mereka sangat kritis harus segera mungkin mendapatkan darah itu." kalimat dokter menjelaskan Revan.
Revan memandang dokter tidak berkedip dan semakin gusar.
"Dokter, biar saya saja. Karena saya adalah putranya."
"Baiklah kita cek dulu diruang husus donor darah. Mari sebelah sini." dokter mengarahkan Revan disebuah lorong sebelah kanan dan memasuki ruangan yang dituju.
Ada dua orang berbaju putih yang berada disana, yang satu sedang mengurus entah apa yang Revan lihat sedang sibuk dengan peralatan medis diruang itu. Sedangkan seorang lagi bersiap mengambil darahnya untuk diambil sampelnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sang dokter kembali menjelaskan hasilnya.
"Alhamdulillah darahnya cocok dengan ayah kamu anak muda. Sementara untuk ibumu sama sekali tidak ada kecocokan sama sekali." jelas sang dokter padanya.
Revan terdiam mendengar kata dokter didepannya, ia mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Sudah, ayo siapkan dirimu sekarang anak muda." lanjut dokter mempersilahkan Revan merebahkan tubuhnya kembali sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan Revan yang semakin penasaran dengan keterangan dokter.
❄️❄️❄️
Siang hari didalam ruangan rapat perusahaan cabang.
__ADS_1
Sigit merasa aneh dengan dirinya, kakinya terasa lemas walaupun ia sedang duduk, detak jantungnya tiba-tiba terasa cepat, ia melamun seakan memperhatikan Winda yang sedang mempresentasikan berkas rapat hari ini, merasakan perasaan dan keadaan dirinya yang tiba-tiba saja tidak tenang.
Sigit memainkan pena ditangannya ketika Winda mengakhiri presentasinya, dan kembali duduk di kursinya. Sigitpun segera mengakhiri rapat hari ini dengan Haris Setiawan dari pihak perusahaan Duta Perkasa yang menggantikan proyek kerjasama yang sebelumnya dipegang oleh Anita.
"Baiklah, rapat hari ini cukup. Dan saya akhiri, terimakasih." Kalimat Sigit menutup rapat serta menutup map berkas didepannya, lalu pamit keluar ruangan lebih dulu dengan rekan bisnisnya dan segera berlalu meninggalkan ruangan. Sedangkan Haris Setiawan melanjutkan obrolannya dengan Firman masih didalam ruang rapat.
Sigit berjalan memasuki ruang kerjanya sambil mengendorkan dasi dilehernya.
Winda bersama Dian membereskan berkas diatas meja dan membawanya kemeja kerjanya, lalu menuju kantin mencari makan siang.
Setelah pesanan dua porsi makan siang untuk dirinya dan Sigit sudah siap, ia segera pamit pada Dian dan menuju ruang kerja suaminya.
Winda membuka pintu dengan perlahan dengan membawa makanan dari kantin, begitu membuka pintu ia tidak mendapati Sigit didalamnya, ia mengedarkan pandangannya disekitar ruangan, namun tidak juga menemukannya, ia meletakkan makanannya diatas meja lalu berjalan menuju kamar pribadi Sigit ketika jam istirahat.
Ceklek....
Winda membuka pintu lalu memasuki kamar itu, ia mendapati suaminya rebahan diatas ranjang dengan kepala disandarkan diatas tumpukan bantal putih, lengan tangan kanan diatas kepalanya dengan kedua mata terpejam.
Winda mendekati suaminya yang terlihat seperti kelelahan, tidak seperti biasanya. Ia mengira suaminya sedang ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Bang..."
panggil Winda lirih sambil duduk ditepi ranjang, samping Sigit.
Winda mengangkat lengan Sigit dari dahinya.
"Bang... ada apa?" tanya Winda lagi.
"Hm?" Sigit membuka matanya dan membenarkan duduknya.
"Abang sakit?"
"Tidak, Abang baik-baik saja."
"Tapi... kenapa terlihat lemes begitu coba?"
Sigit melihat wajah Winda penasaran menunggu jawabannya.
Winda memperhatikan suaminya sejenak, matanya meneliti tiap sorot sayup milik suaminya. Lalu tersenyum padanya.
"Abang makan dulu yuk."
"Tapi abang tidak ingin makan."
"Iya, itu sudah kebiasaan Abang kalau sibuk begini suka lupa makan, ayo ah makan dulu, sudah Winda bawakan makanan dari kantin." ajak Winda mencoba membujuknya dan menarik lengan Sigit seraya berjalan menuju pintu.
Tiba-tiba Winda terdiam ketika ia merasakan ada gerakan dari perutnya yang agak keras dan aktif dibandingkan dua minggu belakangan ini.
"Aw..."
"Kenapa?"
Winda menghentikan langkahnya didepan pintu dengan wajah terkejut dan kedua tangannya memegang perutnya, spontan membuat Sigit terheran dan cemas melihatnya.
Tidak lama Winda sudah tersenyum dengan wajah seperti menikmati rabaan tangan diperutnya. Matanya berbinar ditengah senyuman manis, ia menatap dalam-dalam bola mata Sigit.
"Coba deh bang pegang." Winda menarik tangan Sigit diperutnya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Sigit terkejut dengan gerakan diperut istrinya dengan mengangkat kedua alisnya, membalas senyuman wanita didepannya.
"Abang merasakan gerakan anak kita?" tanya Winda masih tersenyum ketika tangan Sigit merasakan gerakan janin dalam perutnya.
Sigit mengangguk dan menatap manik istrinya yang sedang bahagia. Ia duduk berjongkok mendekatkan wajahnya ke perut Winda dan membisikkan sesuatu seakan-akan sedang berinteraksi dengan janin dalam kandungannya.
"Anak papa dan mama sayang... sehat didalam sini ya..." kata Sigit lirih seraya menunjuk perut Winda. "Jangan nakal sama mama... jagain mama agar tetap sehat sampai kamu lahir nanti, jadilah anak papa yang cerdas, pintar, sehat dan kuat." lanjut Sigit seakan calon bayinya mendengar kalimatnya dengan merespon setiap kata-katanya dengan gerakan." Cupppp." Sigit mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kecupan diperut Winda yang tidak begitu terlihat jelas kehamilannya karena tertutup gamis longgar dan hijabnya.
Winda tersenyum melihat tingkah suaminya yang berkesan tidak malu menunjukkan sikap perhatiannya pada diriya dan janinnya.
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt...
__ADS_1
Winda mendengar suara getaran dari meja didepannya.
"Bang ada yang nelpon deh kayaknya."
Sigit menoleh arah suara getaran yang dimaksud Winda, ia berdiri dan mengikuti langkah Winda dari belakang yang berjalan mengambil benda pipih itu.
Sigit duduk di sofa dan meraih makanan diatas meja yang dibawa Winda dari kantin tadi.
"Hallo assalamualaikum..."
"....."
"Ya ada mbok?"
"...."
"Ini masih dikantor mau makan siang sama Abang. Ada apa nelpon pakai hp Revan, Revannya mana?"
"...."
"Oh... ya mbok, ya, nanti Winda sampaikan Abang kalau sudah selesai makan siang."
"...."
"Waalaikumsalam..."
"Ada ada Apa sayang?" tanya Sigit.
Winda melihat suaminya sekilas seraya meletakkan androidnya disamping nasi kotaknya dan meraih bagiannya.
"Dari mbok Lastri, katanya Abang dari tadi dihubungi Revan tidak aktif terus."
"Ya Allah, Abang lupa belum aktifin lagi." jawab Sigit masih mengunyah makanannya dan mengambil android di sakunya. "Apa kata mbok Lastri?" tanya Sigit, tangannya memencet tombol power pada androidnya.
"Katanya sih kita disuruh makan siang dan setelah itu Abang disuruh segera menghubungi balik Revan, secepatnya." jawab Winda sambil memasukkan suapan dimulutnya.
Sigit melihat beberapa panggilan tidak terjawab Revan di notifikasi androidnya, ia memperhatikan panggilan terakhir Revan pada notifikasinya tujuh menit yang lalu. Pikirannya melayang tidak menentu bertanya-tanya apa yang terjadi pada adik semata wayangnya itu, karena tidak biasa menghubunginya sebanyak itu.
"Ya sudah cepat habiskan makannya." ucap Sigit pada Winda menyembunyikan rasa hawatirnya pada Winda.
❄️❄️❄️
🎵🎵
"Halo mbok assalamualaikum..."
"...."
"Iya mbok ada apa? apa yang terjadi pada Revan? kenapa mbok menangis? katakan mbok."
"...."
"Kenapa mbok? ada apa dengan mereka?"
"...."
"Apa??"
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Hayuk Siap2.
__ADS_1
ditunggu komen terseru dan dukungan yang ekstra dari akak2 semua.
Saranghe 💞💞