Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 153. Rencana Sigit 2


__ADS_3

"Rima Wiguna Putri, itulah namanya bang. Nama seorang wanita yang Abang cari. Dia putri satu-satunya pemilik perusahaan Piramida Kembar, yaitu putri dari Wiguna Pramudya. Dia berprofesi sebagai seorang modeling, suka berpenampilan glamor dan... tentunya penampilan nomer satu baginya." sesuai permintaan Sigit, Gunawan mencari informasi tentang siapa wanita masa lalu Renaldi. Gunawan menyerahkan iPad nya pada Sigit yang sudah terpampang disana sederet gambar tentang wanita yang dibicarakan seraya menjelaskan identitas wanita itu.


Sigit penasaran dengan kisah cinta seorang Renaldi setelah mendengar cerita Tania pada istrinya tadi malam.


Ya, Semalam Sigit sempat mendengar percakapan Winda dengan Tania melalui video call mereka. Terlihat gadis itu sedang rebahan diatas ranjang ingin segera istirahat, ia mengeluhkan kakinya pegal, seluruh badannya sakit, semua itu gara-gara ulah Renaldi. Namun, Winda terus mendesaknya agar mau mengatakan ada apa dengan mereka yang datang dan pergi tanpa sepengetahuannya dari rumah papi Winata begitu saja. Lebih tepatnya seperti jalangkung, datang tak diundang pulang tak diantar. Hiiii.... serem kan mak readers....???


Dengan polosnya penuh kejujuran, akhirnya Tania menceritakan semua kejadian yang dilewatinya bersama Renaldi, mulai dari pergi dari rumah papi Winata, semalaman dipinggir pantai sampai seharian terjebak dijalanan, boleh dikatakan mereka berpetualang. Itulah menurut Tania.


Menyebalkan.


Berbeda dengan Tania, berbeda pula dengan penilaian Sigit terhadap sikap aneh Renaldi. Sigit merasa jika ada hal besar yang mengganggu pikiran Renaldi saat melihatnya berdua dengan Winda di taman kemarin malam, ia tau betul karakter seorang lelaki yang pernah menjalin hubungan dengan orang spesial dalam hidupnya, karena Sigit pernah merasakan hal itu.


Patah hati.


Ya, patah hati dengan Camelia saat itu. Dan dua kata itulah yang terselip dalam pikiran Sigit terhadap Renaldi. Dia yakin sikap Renaldi kemarin malam bukan karena menyimpan perasaan pada istrinya, melainkan patah hati dengan wanita lain, karena Sigit tau betul dengan perasaan Renaldi pada Winda tidak lain hanyalah perasaan sayang seorang kakak terhadap adiknya, hanya sekedar ingin melindungi dan membahagiakan Winda saja.


"Wow. Hebat juga ternyata Renaldi memilih seorang kekasih, tidak tanggung-tanggung dia om... Lanjut lagi om." Ucap Sigit dengan tersemat senyuman kecil dibibirnya, tidak sabar meminta laki-laki kepercayaan papinya melanjutkan kembali informasi yang dibawa untuknya.


"Baik bang. Mereka juga sudah menjalin hubungan selama lima tahun dan... bahkan mereka hampir menikah. Namun... tanpa sepengetahuan Renaldi ternyata gadis itu telah berselingkuh dibelakangnya."


Sigit terkejut, terdiam seketika menahan nafas dan dihembuskannya nafas itu secara perlahan ketika mendengar kalimat Gunawan. Kedua matanya kembali terfokus pada foto yang berada dilayar ipod, tangan kanannya sibuk menggeser foto-foto didalamnya.


"Siapa laki-laki itu om? Apa dia juga seorang pengusaha terkenal?" rasa penasaran mengusik pikiran Sigit.


"Tidak, dia seorang scurity dipusat belanjaan."


"Apa?" Sigit terkejut, kedua bola matanya terbelalak sempurna. Seakan tidak percaya.


Mustahil.

__ADS_1


jika ditangkap dengan daya pikirnya, bagaimana bisa? seorang modeling yang lebih mengunggulkan gaya hidup nya, dengan mudahnya ia menambatkan hatinya begitu saja?


Sigit tidak habis pikir dengan cara berpikirnya para wanita jaman sekarang, sebagian banyak wanita jaman sekarang seakan menyepelekan hubungan yang sudah pasti dan komitmen yang jelas dengan pasangannya, namun dengan bodohnya, dengan mudahnya bisa tergoda begitu saja dengan lelaki yang hanya baru dikenalnya atau mungkin lebih tajir dari pasangannya. Tapi masalah Renaldi ini justru nyeleneh dari sekian kasus yang pernah ia temui.


Bagaimana tidak? Biasanya, seorang wanita akan berpaling dari pasangannya karena ketajiran laki-laki lain melebihi pasangannya, atau ketampanannya, atau bisa jadi karena...


Seketika pikiran Sigit melancong ke ranah negatif.


"Tidak mungkin, tidak mungkin karena masalah hubungan yang bisa memuaskan nafsunya. Aku tau betul Renaldi bukanlah tipe laki-laki yang seperti itu. Atau... bisa jadi pemicunya itu karena silsilah keluarga Renaldi?" Sigit menepis pikirannya sendiri. "Tapi kalau dipikir-pikir silsilah keluarga Renaldi tidak ada yang salah? bahkan tidak akan ada yang tahu jika Renaldi adalah kakak kandung Revan." Sigit mulai gundah. "Ah sudahlah aku tidak mau pusing, yang jelas aku harus membuat rencana supaya keadaan cepat membaik. Setidaknya kerjaan Renaldi cepat selesai sehingga tidak berdampak pada perusahaan pusat."pikir Sigit akhirnya.


"Bang. Kalau boleh tau untuk apa Abang melakukan ini semua? mencari tau masalalu Renaldi? Abang tidak sedang membuat masalah kan?" selidik Gunawan menatap curiga. Lalu menyeruput secangkir kopi dari tangannya.


Sigit menggelengkan kepalanya.


"Om Gun tenang saja." Sigit melirik laki-laki yang sedang meletakkan cangkirnya diatas meja didepannya, kemudian ia meletakkan kedua tangannya diatas meja itu.


Gunawan membungkukkan badannya mendekatkan wajahnya, mengikuti tingkah Sigit dengan meletakkan tangannya di atas meja itu juga.


Mata Gunawan tidak berkedip, keningnya berkerut mendengarkan apa yang direncanakan anak atasannya itu.


Dengan lincahnya Sigit mengatakan apa yang sudah ia pikirkan semalaman, seperti seorang jubir. Tidak berhenti berbicara walaupun tidak ada teksnya. Semacam host aja kamu bang... bang.


Setelah mengerti maksud dari rencana Sigit, Gunawan menganggukkan kepala, setuju.


Beberapa saat mereka duduk dikafe sambil menikmati hidangan. Begitu pokok pembicaraan mereka selesai, mereka juga segera berpisah melanjutkan kegiatan masing-masing.


Hari sudah petang ditandai dengan semburat merah yang mulai terkikis, Sigit mengendarai mobilnya menuju rumah papi Winata.


Selama dalam perjalanan Sigit masih saja kepikiran Renaldi, rasa kasihan menggelayuti benaknya. Dikhianati adalah satu hal yang sangat menyakitkan. Apalagi jika itu dari orang yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Ada rasa kasihan mengingat umur Renaldi yang dalam kategori sudah matang untuk berumah tangga, namun sampai saat ini belum juga terlihat sedang dekat seseorang. Sigit ingin sekali mengetahui perasaan Renaldi terhadap wanita lain setelah patah hati dengan penghianat cintanya, adakah trauma dalam dirinya untuk mengenal seorang wanita lagi sebagai tempat berlabuh hatinya atau bahkan sebaliknya. Ah entahlah... Yang jelas Sigit akan melancarkan rencananya besok malam.


Sigit memarkir mobilnya dihalaman rumah mewah papi Winata, tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.


"Abang baru pulang?" suara Winda terdengar ketika kaki Sigit baru menaiki dua anak tangga menuju kamarnya. Sigit mengangkat kepalanya mencari pemilik suara yang berasal dari lantai atas.


"Hm, hari ini sangat melelahkan sayang." Langkah Sigit semakin diperlebar menaiki anak tangga hingga berhadapan dengan istrinya, tangan kanannya menyerahkan tas kerja pada wanita didepannya yang dia tenteng sejak tadi.


Sigit masuk didalam kamar seraya melonggarkan dasinya dan mulai melepaskan perangkat pakaiannya yang tentunya dibantu Winda.


"Abang mandi dulu ya." ucap Sigit setelah berhasil melepas bajunya. Kedua tangannya menelangkup wajah oval istrinya, gemas. Winda mengangguk dan tersenyum tersipu malu.


"Hm, cepetan sana, bau." goda Winda nyengir seraya memegangi hidungnya.


"Biarin."


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Winda ketika laki-laki teman tidurnya itu hendak masuk ke kamar mandi.


"Dasar." Winda menggeleng-geleng melihat sikap suaminya dengan tersenyum.


.


.


Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2