Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 12


__ADS_3

Setelah melakukan banyak drama, Winda akhirnya pasrah mengikuti perintah Sigit, dengan terpaksa dia memakai kemeja yang kebesaran ditubuhnya setelah terjadi perdebatan yang tidak menguntungkan dipihaknya. dia memperhatikan dirinya yang sudah terbalut pakaian suaminya.


Hati Winda masih gondok dengan suaminya, mukanya masam tidak bersemangat.


Sigit baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana boxer, dia mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk putih ditangannya,


Sigit berlalu melewati Winda yang masih duduk diatas ranjang. Winda memejamkan matanya setelah sekilas tubuh Sigit melintas didepannya. dia masih merasa asing melihat tubuh laki-laki yang tiba-tiba bebas bertelanjang dada entah apa bentuknya didepannya.


Sigit mengambil kaos santai dari lemari, lalu mengenakannya.


sekilas dari belakang Sigit, Winda melihat bayangan suaminya dari cermin.


Winda mengerutkan dahinya, dia mengingat-ingat bayangan itu seolah-olah pernah melihatnya, hingga setelah Sigit selesai mengenakan kaosnya dan sudah duduk disofa mendekati meja yang terdapat dua piring nasi dan dua gelas susu diatas nampan yang dibawakan mbok Lastri sedari tadi.


"Sarapan dulu Win! " suara Sigit membuka suasana hening.


Winda masih mengingat-ingat bayangan yang baru dilihat dari sosok suaminya, namun dia masih belum menemukan sosok siapa itu yang pernah dia lihat, dan dimana dia merasa pernah bertemu bayangan orang yang seperti baru dilihatnya.


Merasa panggilannya tidak direspon istrinya, Sigit mengulangi panggilannya lagi.


"Win. sarapan dulu! "


Winda belum bergeming dari duduknya.


"Win, dengar gak sih lu?! "


Winda baru tersadar ketika namanya ada yang memanggil, Winda menoleh kearah Sigit, melihat suaminya sudah duduk di sofa, dia yakin kalau suara Sigit yang didengarnya tadi.


"Hmmm... "


jawab Winda lalu berjalan kearah Sigit.


Mereka sarapan dalam keheningan, tidak ada suara yang berdecit diantara mereka berdua.


Selesai makan Winda membereskan piring mereka diatas nampan, dan berlalu menuju jendela, tangannya membuka pintu jendela, menghirup sejuknya udara dipagi hari, menikmati pemandangan taman yang berada dibawah kamar Sigit.


Sigit membiarkan Winda menikmati pemandangan disekitar rumah dari kamarnya. kalaupun itu bisa membuat Winda tenang, pikir Sigit.


dia membuka laptop, melanjutkan tugas yang belum juga terselesaikan.


Setelah lelah berlama-lama dibalkon kamar Sigit, Winda berjalan menuju ranjang, ia duduk dengan kepala disandarkan dikepala ranjang.


Tangan Sigit masih sibuk mengetik dilaptopnya, hanya sesekali matanya melirik kearah Winda, suasana didalam ruangan hening tidak ada percakapan diantara mereka,


Winda melihat jam dilayar hpnya sudah menunjukkan pukul 10.30 sayup-sayup matanya mulai terserang kantuk.


Tidak lama dari rasa kantuknya, Winda sudah tertidur pulas diatas ranjang, kepalanya masih tersandar dikepala ranjang, handuk masih melilit dirambutnya.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Terdengar suara pintu kamar diketok seseorang dari luar, Sigit lalu berdiri membukakan pintunya.


Ceklekkk


Terlihat mbok Lastri didepan pintu dengan membawa baju winda yang sudah rapi ditangannya.


"Baju mbak Winda sudah rapi bang."


"Lama amat baru kering mbok? biasanya juga cepet. "


"Iya tadi membereskan peralatan olahraga bapak Winata dulu bang."

__ADS_1


ucap mbok Lastri sambil berjalan kearah sofa, Sigit memperhatikan mbok Lastri meletakkan baju Winda yang sudah rapi disandaran sofa.


"Taruh situ aja mbok! "


"Memang papi sudah berangkat mbok kelapangan golfnya? " lanjut Sigit lagi


"Ya sudah tadi pagi-pagi sekali sama ibu dan Revan bang. " jawab mbok lastri, kepalanya menoleh kearah ranjang Sigit.


"Mbak Winda sudah tidur bang? "


mbok Lastri mengangkat nampan yang dibawanya tadi pagi untuk dibawa lagi kebawah.


"Iya mbok, biar istirahat dulu dia, mungkin masih kecapean."


ucap Sigit yang disambut senyum penuh arti mbok Lastri.


"Ya sudah bang si mbok kebawah dulu! yang ati-ati jangan terlalu keras sama mbak Windanya. kasihan! "


Ucap mbok Lastri lirih didekat telinganya masih dengan senyum menggodanya dan berlalu meninggalkannya.


"Apa-apaan sih mbok Lastri, pasti dia mikirnya yang aneh-aneh! "


lirih Sigit melirik kearah ranjang.


"Tapi, memang mau bagaimanapun Winda sudah menjadi istriku. terima maupun tidak, dia tetap istriku juga."


Sigit melangkahkan kakinya mendekati ranjang, matanya tak berkedip meneliti wajah Winda yang polos tanpa riasan. rambutnya masih tertutup handuk putih, yang tadi pagi masih ngotot menutupi rambutnya.


"Ternyata kalau diperhatikan lu memang cantik, hidung lu standard, tidak begitu mancung, bibir lu tipis. bulumata yang lentik. benar-benar cantik! sungguh tidak pernah gue sangka Win orang yang selama ini gue goda adalah istri gue sendiri."


Sigit bermonolog dalam dirinya sendiri memperhatikan istrinya tertidur. tanpa disadarinya ada senyum tipis bertengger dibibirnya.


Uuuuhh ...


Winda menggeliat, kedua tangannya terangkat diatas kepalanya.


Setelah terlihat jelas, Winda terkejut mendapati Sigit sudah didepan ranjangnya.


"Sigit? ngapain kamu kesini? bukanya tadi masih..." lirikan Winda bergantian kearah sofa dan Sigit. Sigit terlihat gugup ketika pandangannya tertangkap netra winda.


"Gue mau kekamar mandi! wudhu shalat dzuhur setelah itu cari baju ganti lu! buruan bangun! "


Mendengar perkataan Sigit Winda merasa aneh, dia membuka layar hp disampingnya dan melihat angka yang tertera masih pukul 11.40


Winda melirik Sigit dengan tersenyum mengejek.


"Masak? "


Merasa jawabannya tidak masuk akal, Sigit bergegas melajukan langkahnya ke kamar mandi.


❄❄❄


Sigit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dijalanan yang padat merayap di ibukota.


"Git! "


"Hm."


"Saat ini ada yang mau Winda bicarakan sama Sigit."


"Hm."


"Langsung ketujuan pembicaraan saja ya."


"Hm."

__ADS_1


"Mengenai... status kita kan masih dirahasiakan nih."


"Hmm"


"Supaya tidak mengundang kecurigaan temen-temen, gimana kalau aku tetep di rumah kontrakanku sampai beberapa waktu."


"Hmmm."


"Ham hem ham hem dari tadi! ada jawaban yang lain gak sih Git? "


"Terus suruh jawab gimana? "


"Ya paling tidak dijawablah sesuai pertanyaan Git! "


"Lagian lu nanya gak liat jalanan lagi padet begini! "


hhhhh


Winda mendesah, melihat jalanan yang memang padat kendaraan, memang benar apa yang dikatakan Sigit.


Winda melirikkan ekor matanya kearah Sigit.


"Memang benar sih kata Sigit, jalanan memang lagi padet-padetnya. Gimana sih Win sampai tidak memperhatikan keadaan terlebih dulu? jadi malu sendiri kan? "


"Ehem, ngelamun? kan bisa dibahas nanti Win! "


Winda memalingkan wajahnya ke


kiri jalan, setelah mendengar perkataan Sigit, ada perasaan malu didalam hatinya.


Sigit melirik Winda yang memalingkan wajahnya. ada perasaan kasihan dan menyesal terhadap Winda. diam-diam dia memikirkan keadaan Winda jika harus dikontrakan sendirian, mengingat keadaan Winda yang bagaimanapun statusnya adalah istrinya, apapun tentang istrinya sudah menjadi tanggung jawabnya.


Mereka masih saling diam hingga sampai ditempat yang dituju.


Mobil Sigit sudah berhenti diparkiran boutiqe langganan maminya.


Dia keluar dari mobilnya dibarengi Winda disampingnya.


Mereka memasuki boutiqe dengan Winda masih mengekor dibelakangnya.


Mereka disambut ramah oleh pelayan bu Mirna.


"Selamat siang bang Sigit. Ada yang bisa kami bantu?"


"Siang juga mbak. "


"Mbak tolong ambilin baju yang sesuai dengan fashion dia ya! "


"Siap bang! "


Sigit memberikan mandat kepada pelayan boutiqe.


"Tidak perlu mbak biar saya memilih sendiri! " sela Winda dengan cepat,


Mendengar perkataan Winda, Sigit curiga dengan pilihan yang akan diambil Winda. dia berpikir istrinya akan mengambil model baju yang sudah oldmodel, lalu ia pun menggandeng tangan Winda menuju


bagian baju husus keluaran terbaru,


mengingat dirinya suka berpenampilan simple, rapi, modis dan tentunya keliatan elegant, walaupun harga belum tentu mahal.


diapun mengambil beberapa potong pakaian yang dirasa cocok untuk istrinya.


Winda hanya terpaku melihat tingkah suaminya, dirinya bagaikan manekin yang dipajang didepan toko. tidak beda jauh dengan manekin didepannya saat ini.


"Yang mau pakai baju siapa? yang memilih baju juga siapa? hhhhh"

__ADS_1


gerutu Winda dalam hati. Winda tidak mau perdebatan tadi pagi terulang lagi apalagi didepan umum. karena dia tau betul, jika Sigit tidak suka dibantah keinginannya


__ADS_2