Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 141 Kepergian Brian


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang. Terlihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah keluarga Winata. Riyan membuka pintu mobil untuk Sigit dan Winda.


Setelah semalam menunggu di rumah sakit dengan kondisi seperti itu membuat kesehatan Winda terpuruk, badannya demam kurang istirahat dan banyak menangis.


Mami dan Bu Arini menganjurkan Sigit membawa pulang Winda saja agar bisa beristirahat sejenak.


Keadaan Brian masih sama seperti semalam, tidak ada perubahan. Hingga Bram yang menggantikan posisi Sigit jika ada yang diperlukan saat Sigit bekerja di kantor.


"Istirahat lah dulu sebentar, pikirannya slow tidak usah berpikir yang macam-macam, Brian sudah ditangani oleh ahlinya dan sekarang dia ditungguin Oma dan neneknya. Jadi kamu juga harus tenang disini."


Sigit memapah Winda hingga di atas ranjang mereka.


"Aku ingin menunggunya disana Git."


"Nanti, kalau kamu sudah istirahat dan badannya sudah mendingan, kita kesana lagi ya?" Sigit membujuk Winda agar menuruti perkataannya. "Abang juga mau istirahat sebentar di rumah."


Winda memandang suaminya


"Kamu tidak ke kantor?"


"Tidak, Abang juga capek."


Winda terdiam, ia membuka hijabnya dan segera menuju kamar mandi membersihkan badannya yang sudah bau ASI sejak semalam.


Sigit menunggu Winda yang masih didalam kamar mandi. Ia ketiduran diatas ranjangnya.


Tubuh Winda merasa lebih segar setelah mandi air hangat, ia keluar dari kamar mandi dan segera mengganti handuknya dengan baju rumah.


Kedua bola mata Winda memandang sesosok tubuh yang telentang di atas ranjang, iapun berjalan mendekati sosok itu.


"Git." tangan Winda menggerakkan pundak suaminya.


Sigit perlahan membuka matanya.


"Kamu ketiduran?"


"Hm, aku sangat ngantuk sekali." matanya terpejam kembali.


"Shalat subuh dulu Git." Sigit baru tersadar mendengar perkataan Winda, kemudian menyeret tubuhnya ke tepi ranjang dan beranjak memasuki kamar mandi.


❄️❄️❄️


Suasana didalam rumah terasa sepi, semuanya pergi ke rumah sakit. Winda dan Sigit baru saja sarapan di meja makan, Revan sudah berangkat ke sekolah, sedangkan mbok Lastri semalam sudah dirumah sakit ketika Rian menjemput mereka. Ningsih, Sofia bersama anak-anak pergi ke rumah sakit membawa makanan untuk semua orang yang masih di sana, sekalian bareng Revan berangkat ke sekolah.


Sigit melihat Winda sekilas yang masih memungut piringnya, ia terdiam memikirkan tentang sikap Winda yang menurutnya ada sedikit perubahan setelah tragedi penculikan. Agak cuek tidak seperti dulu, apalagi sekarang sering memanggil namanya tanpa kata Abang didepannya.


"Ada apa Git?" tanya Winda merasa aneh melihat wajah Sigit seperti sedang berpikir.


"Sepertinya aku harus bertanya langsung pada Winda, ada apa sebenarnya dengan dirinya sekarang, hingga dia tidak seperti dulu lagi memanggil ku Abang, atau mungkin karena ada Faisal waktu itu? ah tidak, aku tidak boleh berprasangka dulu." batin Sigit.


Drrrttt drrrrtttt drrrrtttt


🎵🎵🎵🎵🎵


Hp Sigit bergetar yang terletak di atas meja makan. Sigit pun segera mengambil dan melihat siapa yang menelponnya.


"Siapa Git?" Sigit membaca nama yang muncul dilayar hpnya.


"Papi." ucap Sigit sambil menoleh kearah Winda setelah membaca nama itu.


"Ada apa ya?" Sigit penasaran bertanya pada istrinya.


"Angkat saja." Winda menatap suaminya yang masih belum mengangkat panggilan papinya.


Sigit menggeser tombol hijau keatas mengangkat panggilan papinya, kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan Winda yang membereskan sisa makan mereka barusan.


Winda sudah selesai membereskan meja makan ketika Sigit kembali menemuinya.

__ADS_1


"Kenapa papi?"


"Abang harus berangkat ke kantor sekarang karena ada meeting mendadak." jawab Sigit seraya berjalan kedalam kamar mereka.


❄️❄️❄️


Mami dan Bu Arini akhirnya bersedia pulang setelah dibujuk oleh Bram dan Sofia. Riyan sudah membawa barang-barang bawaan yang sudah dibereskan mbok Lastri dan Ningsih sedari tadi.


Bram merasa kasihan melihat kedua wanita itu menunggui cucunya sejak semalam, mereka juga kurang istirahat membuat Bram khawatir, maka dari itu Bram membujuk mereka agar istirahat dulu di rumah.


Akhirnya mereka berpamitan pada Bram dan Sofia.


"Bram, hubungi mami jika ada perkembangan tentang Brian." pesan mami saat menuju pintu keluar.


"Iya mi, pasti."


"Pak Bram!"


"Pak Bram!"


Suara seorang wanita memanggilnya dari belakang, membuat Bram dan semua mata yang ada disana mencari arah suara itu.


Mami dan Bu Arini menghentikan langkahnya melihat seorang perawat berbaju hijau sedang berlari kearah mereka dengan memanggil nama Bram.


"Pak Bram hhh... hhhhh....."


Perawat itu sudah berdiri didepan mereka dengan nafas terengah-engah.


"Iya sus ada apa?" tanya Bram terheran.


"Itu pak, pasien atas nama Brian Andra Winata..."


"Kenapa dengan Brian." Bram terkejut.


"Ada apa dengan cucuku!" suara Bu Arini dan mami serempak, tidak kalah terkejutnya.


"Dia kritis, bahkan kata dokter..."


"Ya Allah......" seketika jeritan dari keluarga Winata histeris, membuat para pengunjung bertanya-tanya ada masalah apa pada keluar itu, mereka tidak mengerti.


"Permisi pak, buk, saya segera ke sana." lanjut suster itu lagi lalu membalikkan tubuhnya menuju ruang ICU dimana Brian dirawat.


Bram dan rombongannya kembali lagi ke ruangan yang berada didepan ruang ICU Brian berada.


"Bram, telpon papi dan Sigit sekarang! suruh mereka kesini! cepat!" titah mami pada putra sulungnya, susah payah ia berjalan.


"Iya mi, iya."


Berkali-kali Bram memencet nomer kedua laki-laki anggota keluarganya itu. Namun panggilannya tidak segera terangkat, hingga panggilan yang terakhir pada Sigit segera terangkat oleh adiknya itu.


"Sudah terhubung Bram?" tanya mami lagi, gusar hatinya.


Bram menganggukkan kepalanya dengan memberikan kode agar mami tidak panik.


"Bilang sama Sigit, suruh pelan-pelan jika dia kasih kabar dengan Winda!" lanjut mami khawatir.


❄️❄️❄️


Ditempat yang berbeda.


Sigit sangat terkejut, ia segera meninggalkan ruang rapat dan memberitahukan papinya jika keadaan putranya semakin memburuk, sehingga dengan terpaksa meeting mereka dipending dulu.


Sigit menimang-nimang sendiri pikirannya, ia mempertimbangkan keadaan Winda jika mengetahui keadaan Brian saat ini.


Sigit segera mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit.


Lamunannya melayang pada Winda yang sedari tadi menulis pesan padanya jika perasaannya sedang tidak enak, hatinya berdebar kencang, tidak tenang, bola matanya dipenuhi Brian. Winda pun mengatakan padanya akan menyusul sendiri ke rumah sakit, tidak sabar menunggu jemputan darinya.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu Win, jika engkau tahu keadaan Brian sekarang? bagaimana aku mengatakan padamu sayang...." mata Sigit sudah mengembun membayangkan wajah istrinya.


Drttt drrrtttt


🎵🎵🎵


Mata Sigit melihat hp yang berada di dasbor mobilnya, terlihat disana nama panggilan Winda. Ia pun segera mengangkatnya seraya memarkir mobilnya.


"Assalamualaikum sayang..." Sigit mengusap air matanya yang sudah menetes.


"Wa'alaikumsalam.... hiks hiks kamu dimana Git..."


Sigit terkejut mendengar suara isakan Winda dari sebrang telpon.


"Kenapa Win? aku... aku... dirumah sakit, kamu sekarang dimana? kenapa kamu menangis?"


"Brian Git... Brian.... Brian anak kita hiks hiks..."


"Hei... kenapa nangis? jagoan kita baik-baik saja."


"Hiks hiks."


"Udah tidak usah menangis, sekarang kamu dimana? masih dirumah kan?"


"Aku sudah bersama Brian di ruang ICU Git."


Deg.


Jantung Sigit seakan berhenti berdetak. Ia segera mengunci rem tangan mobil dan keluar dari mobilnya. Ia berlari memasuki gedung rumah sakit mencari ruang ICU.


Langkah kakinya melambat, degup jantungnya seakan terdengar memenuhi ruangan rumah sakit ketika pandangannya berhenti pada semua anggota keluarganya berpelukan penuh Isak tangis, ia berjalan mendekati Renaldi, Bram dan Sofia yang menatapnya tanpa kata-kata, hanya air mata yang tampak di sudut mata semuanya.


Perlahan ia berjalan melewati semuanya yang membisu, ia melanjutkan langkahnya mencari sosok istrinya yang belum ia temukan, Sigit berjalan membuka pintu ruang ICU.


Alangkah terkejutnya ia melihat sosok Winda yang sudah memeluk erat tubuh Brian yang sudah tidak terhubung lagi dengan peralatan medis.


Para perawat terlihat baru saja selesai membereskan peralatan yang tadi malam menempel di tubuh anaknya, alat pengontrol detak jantung pun sudah tidak terdengar lagi, semuanya terlihat normal, seakan tidak ada pasien yang sedang dirawat disana.


"Sayang..." suara Sigit semakin membuat orang-orang disekitarnya tergugu, justru sikap mereka membuat Sigit semakin bingung tidak mengerti apa yang terjadi.


"Brian sudah sembuh?" Winda tetap terdiam tidak berkata sepatah kata pun, air matanya pun sudah tidak terlihat lagi hanya sisa-sisa isakan yang terdengar.


"Dia baik-baik saja kan sayang..." lanjut Sigit.


"Mohon maaf Bu, pak, jenazah akan segera dibersihkan sekarang, tidak baik jika terlalu lama menunggu." suara dokter laki-laki terdengar


Deg.


Seakan Sambaran petir disiang bolong.


Sigit terkejut saat mendengar kalimat sang dokter, lututnya gemetar seketika.


"Innalillahi wainnailaihi raaji'uun." lirih Sigit setelah menyadari keadaan anaknya saat ini.


Tangan seorang perawat mengambil alih bayi mungil dari gendongan Winda yang masih terdiam pasrah tanpa bersuara dan berontak sama sekali. Suster membawanya keluar ruangan.


Sigit mendekati Winda yang menatapnya, kemudian memeluk tubuh yang tidak berdaya itu seraya membisikkan kata-kata ditelinga nya.


"Sabar sayang... sesungguhnya Allah sedang mengambil milik-Nya, karena semua ini adalah titipan dari-Nya, termasuk diri kita adalah milik-Nya juga. Sabar sayang... bersabarlah ikhlaskan Brian. Biarkan dia tenang disisi Allah. Cuppp."


Bu Arini sudah tidak tahan lagi menahan perasaannya. Wajah Azzam kembali terbayang di pelupuk matanya. Tiada yang tau perasaannya saat ini. Renaldi mendekap wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu sangat erat, seakan tau apa yang dirasakan wanita itu saat ini.


.


.


. Bersambung 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2