Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 149. Sikap aneh Renaldi


__ADS_3

"Ah... andaikan mereka tau jika aku cemburu dengan keromantisan mereka saat ini, pasti mereka tidak akan memperlihatkan so sweet mereka dibawah kerlipan bintang yang selalu tersenyum memandangnya." Batin Renaldi melihat keromantisan pasangan didepannya tanpa sepengetahuan mereka.


Renaldi membalikkan badannya setelah cukup lama ia menyaksikan adegan romantis secara cuma-cuma didepannya, melihat kedua insan yang tenggelam dalam lautan asmara itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemui mereka.


Renaldi menahan perasaan hatinya yang tiba-tiba saja teringat dengan seorang gadis pujaannya yang selama ini telah menghianati kesetiaannya. Siapa sangka jika wanita itu tega berselingkuh darinya dengan seseorang yang tidak selevel dengannya.


Lima tahun lamanya ia menjaga cintanya, menjaga hatinya dari godaan gadis-gadis cantik disekitarnya, namun hanya bermodal kesetiaan dan kepercayaanlah ia tetap menangguhkan pilihannya pada Rima kekasihnya. Menunggu dan menjaga hati untuk kekasih hatinya. Ternyata oh ternyata... Apa boleh dikata jika air susu dibalas air tuba. Itulah yang didapat Renaldi.


Hanya penyesalan dan kecewa dalam hatinya yang kini harus ia rasakan, karena terlalu percaya dengan pilihannya.


Sejak mereka berkomitmen dalam menjalin sebuah hubungan yang lebih serius kejenjang pernikahan, Renaldi sudah berpikir jauh merencanakan masa depan mereka. Termasuk pekerjaan, tempat tinggal, keturunan, bahkan pendidikan anak-anaknya nanti sudah termindset dalam otaknya. Tujuannya, agar anak-anaknya tidak merasakan sakitnya menghadapi kenyataan hidup tanpa mempunyai basic yang cukup memadai seperti yang terjadi di zaman sekarang. Banyak sekali masyarakat yang kesulitan mencari pekerjaan jika tidak memiliki skill dan knowledge. Keahlian tanpa diimbangi dengan pengetahuan akan mudah tertipu sesuai perubahan zaman, misalnya bermain layang-layang, jika hanya mampu membuat kerangkanya saja tidak bisa menerbangkannya karena tidak mengerti tehnik menerbangkannya maka tidak bertahan lama layangan yang sudah mengudara akan putus begitu saja. begitu pula jika hanya memiliki pengetahuan tanpa diiringi dengan keahlian maka hanya bisa angan-angan saja.


Semenjak kejadian itu Renaldi mulai sadar, ia mengambil sebuah pelajaran dari lika-liku perjalanan hidupnya, jika salah satu pelajaran tersulit dalam hidup adalah dengan membiarkan semuanya pergi. Apakah itu rasa bersalah, kemarahan, cinta, kehilangan atau pengkhianatan.


Merubah memanglah tidak akan pernah mudah, butuh perjuangan dan pengorbanan. Entah berjuang untuk bertahan atau berjuang untuk membiarkannya pergi. Jika terluka sampai menghancurkan jiwa menjadi berkeping-keping, maka perspektif dalam hidup pasti akan berubah dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menyakitinya lagi. Itulah sebabnya Renaldi belum begitu memikirkan pasangan hidup hingga di umurnya yang sudah di kepala tiga ini.


"Andai saja dia tidak berbuat sehina itu, aku pasti sudah menikahinya sekarang... Hhhhh...." Renaldi menghela nafas menyapu wajahnya dengan kasar, kemudian berlalu meninggalkan sejoli yang sedang dimabuk asmara.


Dengan hati gontai ia melangkahkan kakinya menjauhi tempat itu. Keromantisan suami istri itu melekat dalam kedua pupil matanya, berkali-kali ia menggelengkan kepalanya tidak habis pikir memikirkan pasangan yang dengan entengnya mereka bercinta disembarang tempat.


"Huhh... dasar, mentang-mentang ditaman sendiri dunia benar-benar milik berdua, seenaknya saja mereka berbuat." Renaldi menggerutu seraya membuka pintu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah papi Winata. Namun ia terkejut saat mendapati Tania sudah membawa nampan yang berisi beberapa minuman ditangannya.


Renaldi baru teringat jika dia tidak datang sendirian ketika berkunjung ke rumah papi Winata, melainkan berdua dengan Tania. Keinginan Bu Arini lah yang menyuruh Tania untuk mampir ke apartemen Renaldi dan menyuruhnya menemui Winda sepulang dari kantornya untuk membawakan oleh-oleh dari Bu Arini. kebetulan saat itu Renaldi baru saja keluar dari kamarnya. Tidak segan wanita setengah baya itu menyuruh Renaldi untuk mengantarkan Tania ke rumah besannya.


"Kenapa wajahnya kesal begitu pak Re? apa kalian sedang terjadi sesuatu?" tanya Tania seraya celingukan mencari seseorang dibelakang sosok lelaki itu, namun Tania tidak menemukan siapapun disana. Ia tertegun melihat rekan kerjanya masuk kedalam sendirian dengan wajah ditekuk sambil menggerutu.


Renaldi mendongak, alisnya terangkat sebelah melihat wajah Tania. "Kamu mau bawa minuman ini keluar?"

__ADS_1


Tania menganggukkan kepala.


"Iya pak, sekalian mau ngobr..."


"Sssstttt, tidak usah! Ayo kita pergi saja sekarang!" Renaldi memotong perkataan Tania, tidak ingin melihat gadis itu seperti dirinya, merasa canggung setelah melihat apa yang barusan dilihatnya. Ia mengambil alih nampan yang dibawa Tania, lalu membalikkan tubuh gadis didepannya itu dan mendorongnya memasuki meja makan.


Tania mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan sikap laki-laki yang menggiringnya masuk kedalam.


"Ada apa sih pak?!"


"Udah kamu nurut aja kenapa, jangan bawel!"


Tania kesal, Renaldi merebut paksa nampan dari tangan Tania dan meletakkannya diatas meja.


Tidak ingin keberadaannya tadi diketahui oleh Sigit dan Winda, Renaldi buru-buru melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Jangan lupakan dengan sikap konyolnya menarik paksa tangan Tania. Entah ia sadari maupun tidak jika ia sudah bersentuhan dengan seorang gadis setelah sekian lama ia tidak pernah bersikap seperti itu dengan wanita manapun setelah putus dengan Rima kekasihnya. Renaldi bersikap lebih dingin pada setiap wanita yang berusaha mendekatinya.


Sementara di halaman rumah, terlihat mbok Lastri sedang kebingungan melihat ulah Renaldi yang menarik paksa tangan Tania dengan langkah kaki terburu-buru mendekati mobil mereka.


"Maaf mbok, saya ada kepentingan mendadak, jadi saya pamit dulu, dan... bilang pada Winda jika titipan dari ibu sudah diletakkan Tania diatas meja makan ya mbok permisi mbok assalamu'alaikum..." Renaldi menyahut pertanyaan mbok Lastri yang belum selesai, ia melihat wanita itu sekilas sekaligus berpamitan.


Renaldi membukakan pintu mobil untuk Tania, kemudian berlari kecil menuju pintu kemudinya.


"Kita mau kemana pak?" tanya Tania begitu Renaldi duduk dikursi kemudi.


"Sudah ikut saja jangan banyak tanya!"


Tania mengernyitkan keningnya tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Kedua matanya masih menatap gerakan laki-laki disampingnya.

__ADS_1


"Udah jangan bengong! cepat pasang seat beltnya Tania...!" Renaldi heran ketika lirikan matanya menangkap wanita disampingnya masih terdiam mematung menatapnya saat tangannya sudah menekan stik gigi mobilnya.


Tania tergagap begitu mendengar perintah Renaldi. Ia buru-buru memasangkan benda panjang yang melingkar diperutnya.


"Saya benar-benar bingung pak."


"Sudahlah saya tidak tanya." jawab Renaldi cepat seraya melajukan mobil keluar dari pintu gerbang.


Tin.


"Terimakasih pak Zain." sapa Renaldi pada petugas keamanan keluarga Winata yang membukakan pintu gerbang untuknya dengan ramah. Laki-laki itu pun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


Mobil sudah merayap mengular dijalan raya, suasana kota Jakarta dimalam hari tidak sepanas kota Jakarta saat siang hari. Suasana malam hari terasa lebih adem ketimbang di siang hari, karena kepulan asap kendaraan tidak menambah panasnya terik matahari. Angin malam pun lebih dingin.


Tania terdiam memandang di sekitar jalan. Gedung-gedung menjulang terlihat gemerlap lampu penerangan dari sana. Mata Tania menikmati pemandangan yang mereka lewati untuk mengurangi kecanggungan yang tercipta didalam mobil.


Ya, selama didalam mobil mereka berdua hanya terdiam membisu tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Lama Tania membiarkan Renaldi mengendarai mobil melintasi jalanan yang tak kunjung sampai tujuan laki-laki disampingnya. Seakan tak ada ujung pangkalnya jalanan itu. Ia sesekali hanya melirik Renaldi.


Tania menangkap gelagat Renaldi yang terlihat seakan sedang menyimpan hal besar yang mengganjal pikirannya saat ini. Tapi entah apa itu, tidak berani mencari tau dengan menanyakannya.


"Hhhh... dia yang punya masalah, dia pula yang mengetahui apa pokok masalahnya, tapi kenapa aku yang diseret-seret dalam suasana seperti ini?? benar-benar orang aneh! coba tadi kalau bukan karena ibu sahabat ku yang menyuruhku tadi, aku pasti tidak akan mau dianter pak Re. Dasar orang aneh!" Gerutu Tania dalam hati.


.


.

__ADS_1


. Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞


__ADS_2