Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 19


__ADS_3

Sigit baru saja selesai mandi, dia mengedarkan pandangannya disetiap sudut kamarnya tidak menemukan sosok istrinya, kakinya melangkah menuju ruang ganti, namun baru saja langkahnya sampai didepan nakas, dia menghentikan gerakan tangannya yang mengusap rambutnya, matanya tertuju pada setelan jas diatas nakas yang sudah tertata dan siap untuk dipakainya.


Didepan cermin meja rias, ada senyum yang menghias dibibirnya, ketika dia memandang dirinya yang sudah memakai pakaian yang dipilihkan istrinya.


"Wajar Git, kalau Winda menyiapkan semuanya, karena dia itu istrimu. jadi, jangan mikir yang macam-macam kamu."


Sigit masih tersenyum sendiri dalam lamunannya.


❄❄❄


"Wah... mantu mami pagi-pagi sudah bantu mbok Lastri didapur."


Kata mami Lia yang baru keluar dari kamarnya melihat Winda sedang menata piring diatas meja.


Winda menoleh dan tersenyum kearah mertuanya yang semakin mendekatinya di meja makan.


Ningsih baru datang ke ruang makan mendekati mami Lia, tangannya membawa sepiring cumi bakar.


"Iya lho buk. mbak Winda itu kan pengantin baru, seharusnya kan angkrem dulu to ya dikamar! lha ndak mau e bu! dari tadi pagi-pagi sekali sudah didapur, padahal mbak Winda udah cantik, rapi. Kan sayang-sayang make upnya jadi keringetan." kata Ningsih. Mami Lia mendaratkan duduknya diatas kursi.


"Memangnya lu Sih! kena keringat langsung luntur make upnya?"


Tiba-tiba suara Revan dari tangga menimpali perkataan Ningsih.


"Ye... enak aja mas Revan. Bedak Ningsih juga mahal mas! "


Ningsih merasa kesal dengan perkataan Revan.


Revan duduk dikursi samping mami Lia, dan mencomot cumi bakar diatas piring.


"Saya keatas dulu mi, manggil Sigit." kata Winda yang bersiap berdiri dari duduknya. Namun, baru saja berdiri


Sigit sudah datang diruang makan.


Sigit sudah rapi dengan setelan jas maroonnya yang disiapkan Winda ketika suaminya mandi.


Sigit segera bergabung bersama mami Lia, sibungsu Revan, dan istrinya dimeja makan. Sigit duduk disamping istrinya yang sudah duduk setelah melihatnya datang.


"Abang mau kekantor? " masih dengan mengunyah sarapannya, mami Lia bertanya kepada Sigit setelah memperhatikan pakaian putranya yang sudah rapi.


Winda meletakkan piring suaminya yang sudah lengkap dengan isinya, lalu dia mulai memakan sarapannya.


"Ya mi, ada sedikit kerjaan yang harus Sigit selesaikan dulu." jawab Sigit mulai menyendokkan nasi yang sudah disajikan Winda.


"Kalau Winda? mau kemana? " pertanyaan mami Lia dilontarkan kepada menantunya.


"Winda juga mau ke kantor cabang mi, karena dia ternyata kerja disana selama ini." Sigit menjawab duluan pertanyaan maminya.


"Oh..." mami hanya membulatkan mulutnya seolah-olah baru mengetahuinya.


Ningsih meletakkan piring yang berisi buah pencuci mulut diatas meja, matanya melirik kearah Sigit dan Winda dengan melebarkan bibirnya terlihat menggoda mereka berdua, lirikan matanya beralih kearah mami Lia.


"Aduh bu... kalau pengantin baru itu kenapa ya selalu terkesan wangi... bangunnya pagi... terus rapi... wajahnya berseri-seri... auranya terlihat berbeda gitu lho bu."


Kata Ningsih dengan nada malu-malu, badannya diayunkan kesamping kanan dan kiri.


Mami Lia mengangkat alisnya, dan tersenyum memandang Ningsih yang hobinya ngoceh ketika melihat sesuatu yang menarik pikirannya.


"Apa lagi kalau bangun tidur sudah ada bidadari cantik dan segelas kopi didepan mata... ehem ehem... hmmmm " lanjut Ningsih, matanya dikedip-kedipin kearah Winda.


"Dunia milik berdua Sih, lu nyamuknya, nguuuuung... ha ha ha..."


Revan menimpali perkataan Ningsih, dia tidak mempedulikan lirikan tajam abangnya kearah Ningsih.


Winda masih terdiam mendengar ledekan untuk dirinya dan suaminya.


"Kenapa mata lu Sih. Lu cacingan? " kata Sigit masih dengan lirikan tajamnya kearah Ningsih.


"Enggak! enggak mas! enak aja. cantik-cantik begini dibilang cacingan to mas." kata Ningsih membela diri dengan wajah cemberut.


"Terus ngapain lu masih disini? " kata Sigit

__ADS_1


"He he maaf mas Sigit, Ningsih sebenernya mau nyapu halaman belakang tadi he he..." jawab Ningsih dengan nyengir.


Mami menyebikkan bibirnya mendengar jawaban Ningsih yang paling suka menggoda Sigit.


"Mas Revan besok pagi Ningsih buatin kopi lagi ya." kata Ningsih mengedipkan matanya kearah Revan.


Revan tahu arah maksud ART comelnya, matanyapun melirik Sigit.


"Dua sekalian, tanggung kalau cuma satu Sih. Ha ha ha..." tambah Revan.


"Iya mas beres."


Jawab Ningsih sambil lari kecil meninggalkan mereka berempat.


Sigit menyorotkan bola matanya kearah adik sematawayangnya.


Merasa horor melihat sorotan mata abangnya, Revan segera berdiri, mengahiri sarapannya.


"Mi, Revan berangkat duluan. keburu telat nanti." Revan mengahiri makan paginya, tangannya menyalami tangan mami dan mencium punggung tanganya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam"


mami menjawab salam putra bungsunya yang masih memakai seragam putih abu-abu.


❄❄❄


Di dalam mobil Sigit.


Winda kembali diantar Sigit ke kantor cabang Wp, mereka terdiam, Winda masih sibuk dengan gawainya, Sigit fokus dengan jalanan yang sudah mulai padat kendaraan. Matanya sesekali melirik Winda disampingnya, terkadang terlihat tawa kecil menghias dipipi istrinya.


"Semalem ngapain dikolam? "


suara Sigit membuka keheningan.


"Hm? " Winda berpaling dari gawainya menoleh kearah Sigit,


Winda hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Sigit.


"Terus? "


"Mmmm... yah... hanya ingin melihat bulan purnama aja. biasanya kan hujan kalau malem." jawab Winda.


Drrrrt drrrrt drrrrtt


Winda merasakan getaran didalam tasnya, tangannya segera mengambil benda itu.


"Ibu? ada apa ngajak vidio call? "


Winda bertanya sendiri, tangannya memencet warna hijau di layarnya.


"Angkat aja siapa tau penting." kata Sigit.


"Assalamualaikum ibu? "


"Waalaikumsalam nak."


"Ibu sama bapak disana apa kabar?"


"Alhamdulillah baik nak, ibu sama bapak sehat."


"Syukurlah bu."


"Winda bagaimana? sudah sembuh? "


"Alhamdulillah sudah bu.


Winda udah bisa masuk kerja dari kemarin."


"Syukurlah nak, ibu sama bapak ikut senang mendengarnya" kata bu Arini, kemudian terdiam sejenak, dan melanjutkan kata-katanya lagi.

__ADS_1


"Winda, putri ibu, kamu sekarang sudah tidak sendirian lagi, jadi kamu harus mendengarkan suamimu ya."


Winda tersenyum dan mengiyakan nasehat ibunya.


Sigit ikut mendengarkan perkataan ibu mertuanya dengan masih mengemudikan mobil, dia mengurangi kecepatannya.


"Kamu lagi dalam perjalanan?"


Bu Arini melihat putrinya sedang didalam mobil.


"Iya bu, ini sudah sampai tempat kerja Winda."


"Dianter sama nak Sigit? "


tanya bu Arini.


"Iya bu."


Winda tersenyum


Sigit sudah menghentikan mobilnya diparkiran kantor cabang WP.


"Ibu bisa ngobrol sebentar sama menantu ibu? " kata bu Arini kepada Winda.


Winda menoleh kearah suaminya


"Ibu mau bicara sama kamu."


Sigit mengambil alih gawai Winda.


"Assalamualaikum ibu? "


"Waalaikumsalam, nak Sigit baik? "


"Alhamdulillah baik bu "


"Ibu terimakasih sama nak Sigit sudah menjaga putri ibu dengan baik, jangan bosan mengingatkan Winda terus ya nak."


"Insya Allah bu, Sigit akan berusaha menjaganya dengan baik, karena sudah menjadi tanggung jawab Sigit bu." jawab Sigit sambil menoleh kearah Winda.


Mendengar jawaban suaminya kepada ibunya, Winda merasakan akan semakin terbatas kebebasanya, tidak seperti ketika masih sendiri, dia bisa mengatur sesuai keinginannya tanpa harus menunggu izin dari seseorang terlebih dulu.


"Baiklah kalau begitu nak, ibu sudah tenang sekarang, karena putri ibu sudah ada yang memperhatikan secara husus, ibu titip salam buat orang tua nak Sigit karena kemarin tidak sempat mampir."


"Iya bu tidak apa-apa, nanti saya sampaikan sama mami."


"Ya sudah ibu tutup dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Sigit mengahiri vidio call mertuanya.


Sigit memberikan gawai Winda kembali. dan disambut oleh Winda. Mereka saling memandang.


"Apa lu liat-liat? apa ada yang berubah dari mata gue? " kata Sigit memperhatikan tatapan istrinya dengan sedikit senyum dipipi Winda.


"Terimakasih sudah mau me..."


"Udah jangan GR lu." kata Sigit mulai terlihat salah tingkah melihat senyuman istrinya. Winda hanya pasrah mendengar ucapan suaminya.


"Tu udah sampai, kenapa tidak turun?" kata Sigit. Winda masih diam memperhatikannya.


"Apa mau ikut gue aja kekantor pusat?! " kata Sigit menggoda dengan nada menantang istrinya. Sigit melihat wajah istrinya seakan-akan ada yang mau dibicarakan kepadanya.


"Gak gak gak. Aku turun aja."


Winda gelagapan dan segera menjabat tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.


"Ya udah aku turun dulu, Assalamualaikum." Winda mengahiri perkataan suaminya, dan membuka pintu dan menutupnya kembali setelah dia keluar.


"Waalaikumsalam"


jawab Sigit disertai senyumnya yang mengingat wajah istrinya gelagapan ketika digodanya tadi.

__ADS_1


"Kenapa hati gue berdebar-debar ya kalau bersama Winda? addduh... Git Git jangan ngaco lu ya." kata hati Sigit, tangannya dipukulkan distir mobil dan kepala digelengkan, dia segera membawa mobil dari parkiran.


__ADS_2