Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 27


__ADS_3

"Git, maaf."


Winda mengalihkan wajahnya dari hadapan Sigit, membuat Sigit sadar atas perbuatannya, salah tingkah melihat Winda sudah membalikkan tubuhnya memutar kunci pintu dan masuk rumahnya.


Sigit mengikuti langkah Winda dari belakang setelah mengunci pintunya kembali, dia meletakkan bungkusan plastik yang dibawanya diatas meja makan didekat piring yang sudah disiapkan Winda dari dapur.


"Sebaiknya kita makan dulu, baru shalat isya'." kata Winda, tangannya sudah membuka dua bungkus nasi goreng dan menuang air putih dalam gelas Sigit.


Sigit meletakkan tuxedonya disenderan kursi dan melipat lengan kemeja putihnya.


"Hmm." jawab Sigit setelah duduk dan mulai mengambil bagiannya.


Mereka makan malam tanpa ada perbincangan sama sekalai sampai makan malam berahir.


Winda membereskan piring kotor kecucian piring dan mencucinya.


Sigit beranjak dari kursinya menuju kamar mandi.


Setelah selesai mencuci piring, Winda merapikan kursi meja makan kembali dan membawa tuxedo Sigit didalam kamar depan lalu menggantungnya dengan hanger.


"Cepetan ambil air wudhu, kita sholat berjamaah. Aku tunggu." kata Sigit saat Winda menggantungkan hanger.


"Hm? " jawab Winda dengan membalikkan tubuhnya dihadapan Sigit yang sudah didepannya tanpa Winda ketahui kapan masuknya.


"Malah bengong."


"Gak salah? beneran yang aku dengar barusan? "


"Hm, bener. buruan wudhu aku tunggu."


Winda bergegas keluar kamar depan dan masuk kamar mandi.


Setelah beberapa saat didalam kamar mandi, Winda keluar dan kembali masuk didalam kamar depan, Winda melihat sudah ada dua hamparan sajadah disamping ranjangnya dengan Sigit duduk bersila menunggunya.


Winda segera memakai mukena dan mengikuti setiap gerakan Sigit didepannya hingga selesai.


"Kita shalat sunnah dua rakaat sekalian ya?" kata sigit begitu mereka selesai shalat yang diahiri dengan gerakan salam.


"Shalat lagi? bukannya tadi sudah Git shalat sunnahnya setelah shalat isya'? " tanya Winda terheran karena memang barusan dirinya dan Sigit selesai melaksanakan secara masing-masing.


"Hm." jawab Sigit "Sudah ikutin saja." lanjut Sigit.


"Iya... tapi shalat apa lagi Git?" ucap Winda dengan tangan sudah mulai membuka mukenanya.


"Win, kita belum shalat dua rakaat berjamaah ketika kita baru menikah, padahal semua malaikat yang ada dilangit akan mendoakan sepasang pengantin baru yang melaksanakan shalat sunnah itu, dan kita masih termasuk baru. apakah kamu tidak mau didoakan mereka? " Sigit menjelaskan alasannya kepada Winda yang diikuti gelengan kepala Winda setelah mendengar penjelasan dari dirinya.


"Ya sudah pakai lagi mukenanya sekarang." ucap Sigit.


Winda mengikuti perintah Sigit memakai mukenanya kembali dan mengikuti gerakan suaminya lagi dari belakang sampai selesai.


Begitu selesai shalat, Sigit membalikkan tubuhnya menghadap Winda dengan duduk bersila, lama Winda melihat suaminya yang sudah didepannya.


Winda menyalami tangan Sigit dan menciumnya, tangan kiri Sigit menyentuh kepala Winda dan mendekatkan kepalanya beberapa saat dikening Winda lalu meniupnya, Winda memejamkan matanya ketika Sigit mencium keningnya setelah meniup kepalanya.

__ADS_1


"Apa itu berarti Sigit akan meminta haknya dariku sebagai istri yang seutuhnya malam ini? "


kata hati Winda berdebar.


"Bantu abang merengkuh surga-Nya Win, karena hanya dirimulah yang abang inginkan sebagai teman sehidup dan sesurga abang nanti."


Kata Sigit lirih, matanya menatap manik Winda yang sudah tidak berjarak dengan kedua tanganya mengenggenggam tangan Winda.


"Abang? "


Ucap Winda terheran, mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan abang yang biasanya panggilan itu disebut oleh orang yang berada dirumah papi Winata untuk Sigit, dan kini Sigit menyebutkan dirinya dengan sebutan abang disaat hanya ada mereka berdua.


"Iya, abang Win. Aku ingin sebutan itu keluar dari bibirmu yang manis ini."


Winda memperhatikan tangan Sigit didagunya dengan ibu jari di bibir bawah semakin mendekatkan bibir mereka yang jaraknya sudah terkikis.


"Tapi Git, aku belum bisa memberikan cintaku kepada orang yang sama sekali tidak mencintaiku, terlebih pada orang yang masih membenciku."


Ucap Winda mengalihkan pandanganya dari Sigit dan melepaskan genggaman tangan Sigit.


Winda berdiri dan memalingkan wajahnya dari Sigit.


Sigit segera berdiri, menarik tangan kanan Winda sebelum Winda melangkahkan kaki menjauh darinya, sehingga membuat tubuh Winda kehilangan keseimbangan dan terjatuh di pelukannya, dengan refleks tangan Winda memegang leher Sigit sebagai sumber kekuatannya agar tidak terjatuh, sehingga membuat mata mereka saling beradu.


"Cinta itu tidak harus ditunjukkan dengan ucapan Win, tapi harus ditunjukkan dengan sikap. Karena jika hanya mengucapkan kata cinta saja tanpa ada sikap kasih, sayang, saling memahami dan saling cinta itu hanya menyakitkan salah satu diantara kita Win."


Ucap Sigit lirih sambil mendudukkan istrinya diatas ranjang.


Sigit membuka mukena Winda dan melemparnya dihamparan sajadah yang belum sempat dilipatnya.


"Aku hanya ingin ada namamu didalam hatiku dan hanya ada namaku didalam hatimu. biarkan kita lalui hari-hari penuh warna indah Win. Sehingga mudah bagi kita untuk menjalaninya bersama."


Winda membiarkan pergerakan Sigit. Perlahan Sigit merebahkan tubuh mereka diatas ranjang. Dalam sekejab tubuh mereka sudah polos dibawah selimut.


Hawa panas menjalar disekujur tubuh Winda ketika wajah Sigit berada diceruk lehernya, gerakan semakin panas membuat Winda terhanyut dengan suasana permainan Sigit, rintihan, ******* bercampur baur menjadi racauan dua sejoli yang terus terdengar dalam pertempuran panas seakan tiada ujung selesainya.


Enam jam sudah mereka bergumul dalam kehangatan hasrat pengantin baru dalam keheningan malam,


seakan dunia benar-benar milik mereka berdua, tiada suara terindah yang didengar Sigit selain sebutan namanya yang didengar dari bibir tipis yang berada dibawahnya.


"Honey, i love you from the bottom of my heart." bisik Sigit setelah berhasil melancarkan sentakan terahirnya ditelinga Winda penuh senyum kemenangan setelah melihat wajah istrinya yang lemah tidak bertenaga.


"I love you Winda Zilvana Idris." lanjut Sigit saat mata mereka saling menatap dan mengecup kening Winda.


Sigit menumbangkan tubuhnya disamping tubuh Winda yang sudah tidak berdaya tertutup selimut putih, tangannya membelai kepala Winda penuh kasih dan senyum.


"Thanks you honey, cupps. Abang bersih-bersih dulu."


Sigit beranjak dari ranjang setelah memakai boxer birunya dan berlalu kekamar mandi.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Sigit kembali didalam kamar membangunkan Winda yang sudah tertidur.


"Kasihan istri abang, kecapean."

__ADS_1


Sigit berkata sendiri setelah memperhatikan wajah Winda yang tertidur pulas terlihat kelelahan setelah pertempuran panas karena ulahnya, namun Sigit lebih tidak tega jika istrinya tidak segera membersihkan badannya, sehingga dengan terpaksa Sigit membangunkan Winda.


"Honey." Sigit duduk didekat kepala Winda dengan wajah berdekatan.


"Honey, bangun, bersihkan dulu badanmu." suara Sigit membangunkan Winda lagi.


"Honey"


"Hm...." jawab Winda dengan suara masih berat


"Bangun, mandi dulu."


"Hmmm.... capek."


"Ayo bangun mandi biar seger badannya."


"Hmmmmmm..." Winda membuka matanya dan melihat wajah Sigit sudah di atas hidungnya.


"Capek."


"Coba buat mandi, pasti ilang capeknya."


"Dingin."


"Coba dulu berdiri."


Winda duduk dan berangsur menggeser kakinya ke tepi ranjang dengan menggulung selimut ditubuhnya dan berdiri.


Winda baru menggerakkan kakinya untuk melangkah, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, dan badannya seakan tidak ada keseimbangan hampir membuatnya terjatuh.


Sigit bergerak cepat menangkap tubuh istrinya.


"Kenapa? sakit? " ucap Sigit ketika melihat Winda meringis kesakitan.


Winda hanya mengangguk.


"Perih..."


jawaban Winda membuat Sigit tidak tega melihatnya, dia melirik seprai putih yang ditiduri Winda terdapat bercak noda darah.


Sigit tersenyum ada kepuasan terhadap tingkahnya semalam.


Winda curiga melihat senyum suaminya disaat dirinya merasakan kesakitan karena ulahnya semalam yang benar-benar menguras tenaganya.


Winda mengikuti lirikan Sigit keatas ranjang, begitu melihat seprei putih yang dia tempati matanya terbelalak.


"Git, aku lagi dapet." Winda terlihat terkejut melihatnya, justru perkataan Winda mengundang tawa Sigit yang menganggap istrinya benar-benar masih polos dengan hubungan malam pertama.


"Git, berarti yang kita lakuin semalem dilarang Git? " kata Winda masih cemas.


jangan lupa support like, komen, sukur2 dikasih hadiah votenya buat Winda biar tidak stressss dengan nodanya ya...


mau tanya nih, bagusnya diilangi pake detergen apa ya biar bisa hilang nodanya 😂😂

__ADS_1


__ADS_2