Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 44


__ADS_3

Sigit menatap kedua bola mata Winda, mereka saling mencari jawaban dari pertanyaan yang muncul dari benak masing-masing.


"Jika hati Winda merasakan ada ikatan dengan pernikahan kami, itu berarti ada kemungkinan dia akan mudah menerima penjelasan ku, akan tetapi bagaimana dengan pikirannya? dia ada masalah dengan ingatannya. Aku takut dengan kondisinya jika aku mengatakannya sekarang dia akan shock, belum bisa menerimaku. Tapi, aku melihat dia begitu kuat dan baik-baik saja. Namun tidak apalah jika aku mencoba mengatakan yang sebenarnya secara perlahan."


"Kamu tahu cincin ini?" ucap Sigit sambil mengangkat tangan Winda yang menggunakan cincin bertabur berlian dan cincin pernikahannya.


Winda menggelengkan kepalanya tidak mengerti ucapan Sigit, dia melihat cincin dijarinya secara bergantian dengan wajah Sigit yang terlihat ada hal serius yang akan disampaikannya.


"Kamu sama sekali tidak mengingatnya? dimana dan dari siapa cincin ini? dan dalam hal apa cincin ini bisa ada dijarimu?"


Tanya Sigit semakin dalam pada Winda yang dijawab dengan gelengan kepalanya, sama dengan jawaban yang pertama.


"Tidak. Aku tidak mengingat apapun tentang cincin ini." jawab Winda dengan pandangan beralih ke cincin dijarinya, tangan kiri meraba-raba cincinnya.


Sigit seakan hilang harapan dengan ingatan Winda setelah mendengarkan kata-kata Winda, dia melihat tangan kiri Winda yang melepaskan cincin berlian dijari kanannya.


"Aku hanya merasakan dan mendengarkan kata hatiku, bahwa cincin ini adalah hadiah, bisa jadi hadiah dari seseorang yang istimewa dalam hidupku, seseorang yang memberikan cincin ini dengan penuh cinta, kasih sayang padaku." lanjut Winda dengan menatap wajah Sigit.


Dada Sigit berdetak cepat mendengar kata-kata Winda, dia memperhatikan istrinya yang kembali memandang cincinya dan memakainya kembali.


"Sepertinya orang itu memberikan cincin ini dijari tanganku agar aku mengingatnya terus dalam keadaan apapun, namun sayang aku hanya bisa merasakannya dengan hati, tapi..." Winda menghentikan kalimatnya lalu menatap wajah Sigit.


"Aku tidak dapat mengingatnya. Tetapi aku ahir- Ahir ini sering merasa ada yang aneh."


Ucap Winda sambil tersenyum kecil kepada Sigit.


"Seperti saat ini, entah mengapa hati kecilku mengatakan jika kamu adalah orang yang baik, padahal selama ini kita hanya berteman sejak semester pertama sampai sekarang, walaupun kamu orangnya tidak begitu suka dengan diriku yang menganggap aku hanya lelocon bagimu... tapi... aku juga tidak tau kenapa kamu sekarang berbeda sekali dengan yang dulu he he he..."


Mata Winda memperhatikan wajah Sigit yang berpaling dari wajahnya dengan terdiam mengetukkan jarinya diatas meja.


"Atau mungkin... karena pengaruh teman wanita kamu ya..." ucap Winda meledek Sigit.


Mendengar perkataan Winda yang terasa ledekan untuk dirinya membuat Sigit tersenyum getir dari bibirnya.


"Tadi malam aku bermimpi sama seperti mimpiku dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah. Aku mengejar seorang pemuda dengan postur tubuhnya dan ciri-ciri yang sama, dia sedang mengejarku dikebun kelapa sawit, setiap kali aku akan menemukannya dia menghilang dibalik pohon sawit, kemudian aku mengejarnya, aku kejar dan aku kejar sampai aku kelelahan, tetap saja aku tidak menemukannya, hingga aku berlari berbalik arah darinya aku biarkan dia, ketika aku berjalan meninggalkannya justru pemuda itu mengejarku semakin dekat. Namun aku tetap saja tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas." Cerita Winda panjang menceritakan mimpinya, Sigit mengerutkan keningnya mencermati cerita istrinya.


"Pemuda dalam mimpiku semalam sama persis dengan pemuda dalam mimpiku sebelumnya, aku sudah memimpikannya sangat lama sekali, seorang pemuda yang hanya terlihat dari belakang cermin dengan postur tubuh dan ciri-ciri yang sama, Tinggi, tubuh sintal, potongan rambut cepak, memakai kaos abu-abu, itulah ciri-ciri nya pemuda mimpiku, yang kata bapak dia adalah suamiku." kata Winda terjeda sambil bermain cincin dijari tangannya.


"He he he sungguh aneh alam mimpi itu, masak iya aku masih sekolah sudah punya suami, untuk saat ini saja aku masih jomblo." lanjut Winda sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Sigit hanya terdiam mendengarkan istrinya, dia semakin penasaran setelah menghubungkan peristiwa demi peristiwa yang mereka alami sampai saat ini hingga cerita mimpi yang disampaikan oleh Winda barusan.


"Seandainya, jika kamu benar-benar sudah menikah, sedangkan suamimu adalah orang yang tidak kamu suka. apa yang yang akan kamu lakukan?" tanya Sigit.


"Em.... Aku akan melihat bagaimana perjuangannya dia mengambil cintaku. simple kan? he he he... kurasa selama ini aku tidak pernah terlibat adu mulut, adu fisik dengan siapapun Git, karena aku tidak punya musuh. Lagian kamu nanyanya aneh, sudah tau aku tidak punya teman special tiba-tiba kamu bicara seperti itu." jawab Winda sambil tersenyum melirik Sigit. Sigit semakin optimis jika dirinya masih ada harapan dengan keadaan Winda.


Ketika mereka masih asik mengobrol datanglah mbok Lastri memanggil Sigit yang sudah berada disampingnya.


"Bang, maaf Abang dipanggil bapak disuruh keruang kerja bapak sekarang."


"Sekarang bik?"


Suara Sigit terasa keberatan mendengar pesan yang disampaikan mbok Lastri barusan padanya.


Mbok Lastri mengerti perasaan Sigit yang merasa terganggu dengan kedatangannya.


"Iya bang."


Sigit segera berjalan memasuki rumahnya setelah berpamitan dengan Winda, mbok Lastri pun duduk di samping Winda menggantikan Sigit sambil berbincang-bincang, tidak lama setelah mbok Lastri duduk mami Lia datang menghampiri mereka, mami Lia duduk di kursi kosong samping Winda, entah apa yang mereka bicarakan sehingga terlihat sangat seru, sesekali ada tawa diantara perbincangan mereka.


Tidak terasa malam semakin larut, mami Lia mengajak Winda masuk kedalam rumah, lama mami dan Winda menunggu Sigit dan papi diruang tamu,namun mereka belum juga keluar dari ruang kerjanya, mami melihat Winda yang terlihat kelelahan ahirnya menyuruhnya tidur dikamar Sigit, awalnya Winda menolak karena dia merasa tidak enak, mami memaksanya dan malam memang sudah larut tidak mungkin dirinya akan pulang sendirian, ahirnya Winda dengan terpaksa mengikuti perintah mami Lia.


Winda terpaku melihat ruangan Sigit yang begitu luas dibanding dengan kamar tidur yang ditempati Sigit di kontrakannya.


"Bagaimana bisa Sigit mengontrak bersamaku jika rumahnya sendiri bagaikan istana seperti ini? apa alasan Sigit mengontrak bersamaku? kenapa juga maminya begitu baik padaku? apa Sigit telah melakukan sesuatu padaku yang tidak aku ketahui sama sekali? ada apa sebenarnya? apa telah terjadi sesuatu diantara Kami? aku harus menanyakan hal ini padanya nanti." Winda berkata sendiri dalam hatinya setelah melihat ruangan Sigit.


Mami Lia tersenyum memperhatikan Winda yang masih terdiam, mami membiarkan Winda meneliti setiap sudut ruangan Sigit yang sejatinya adalah kamarnya juga sebagai pemiliknya.


Setelah beberapa saat memperhatikan Winda yang terdiam seperti memikirkan sesuatu, dari wajahnya mami Lia mendekati Winda yang masih berdiri, kedua tangannya memegang tangan Winda, mengajaknya duduk diatas ranjang, lalu memberitahunya lemari baju ganti jika akan tidur. Winda menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada mami Lia.


Winda segera terlelap setelah kepergian mami Lia beberapa waktu lalu, dia tidur diatas ranjang king zise Sigit, dengan masih menggunakan jilbabnya dan tubuh tertutup selimut hijau.


❄️❄️❄️


Didalam ruang kerja papi Winata, Sigit masih membicarakan kerjaan mereka yang semakin menguras tenaga. Papi Winata menyuruh Sigit mengurus proyek yang berada di Bandung untuk beberapa hari.


"Tiga hari pi?"


"Iya, tiga hari, kenapa? kelamaan?"

__ADS_1


"Bukan begitu pi, apa sebaiknya tidak om Firman atau Gunawan saja gitu Pi yang ngurus proyek disana, papi kan tau kalau Sigit pergi, berarti Sigit meninggalkan Winda sendirian dirumah?"


"Masalah itu sudah papi dan nami bicarakan tadi, sudah diatur sama mami, Winda dirumah ini nemenin mami selama kamu di Bandung, karena papi mau ke Singapura besok, jadi ada alasan mami untuk Winda tinggal disini beberapa hari nanti sampai kamu pulang."


Setelah dipikir perkataan papi Winata yang sudah dipertimbangkan sebelumnya dengan mami, Sigit memutuskan untuk menyetujui keputusan papinya.


"Baiklah pi kalau itu keputusan papi dan persetujuan mami, Sigit akan melakukannya"


"Ya sudah kalau begitu sekarang sudah jam setengah dua belas sudah larut malam, kamu mau pulang dikontrakan atau tidur dirumah, Kasihan Winda sudah menunggumu dari tadi."


"Baik Pi, Igit lihat keadaan dulu."


Sigit mengikuti langkah papinya dari belakang, kemudian berjalan menuju taman, namun belum sampai melewati dapur mbok Lastri memanggilnya dan memberitahu keberadaan Winda yang sudah dikamarnya.


Sigit memasuki kamarnya setelah menutup pintunya secara perlahan, dia melihat sekeliling ruangannya sepi, dia mencari keberadaan Winda yang di sofa namun tidak ada, Sigit langsung menuju ranjangnya, dia melihat wajah istrinya yang kepalanya masih tertutup jilbab.


Sigit mendekati wajah bersih itu lalu tersenyum memandangnya cukup lama, hingga tanpa dia sadari bibirnya mengecup bibir merah didepannya, tangannya membelai pucuk kepala Winda.


"Sayang... biarkan namaku hadir kembali didalam hatimu, mungkin Tuhan memberikan cara yang lain untuk menyatukan kita lagi, walaupun dalam ingatanmu tidak ada tentang status kita sebagai suami dan istri. Tapi Abang yakin.... kalau didalam hati kecilmu merasakan ada ikatan cinta kita sebagai pasangan hidup." Sigit berkata lirih didepan wajah yang sangat terlelap karena kecapean menunggunya.


"Cupp, tidurlah yang nyenyak sayang, Abang benar-benar bersyukur bisa melihatmu tidur di ranjang ini lagi."


Sigit kembali mencium bibir istrinya, lalu beranjak berjalan menuju sofa dan merebahkan dirinya di sana.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


jangan lupa dukungannya ya...


sebentar lagi seru deh ceritanya babang biar tambah semangat bacanya...


saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2