
Sigit memperhatikan Winda yang terlihat lincah meracik bumbu lalu berlanjut memotong sayuran didalam wadah.
Matanya tidak berkedip memandang istrinya yang benar-benar terlihat sangat cantik dengan mengenakan lingerie yang dipadu dengan jubah tidurnya tadi pagi, rambutnya dijepit keatas dengan penjepit rambut, sehingga lehernya yang putih terlihat beberapa tanda merah keunguan karena ulahnya.
Sigit tersenyum sambil berjalan mendekati Winda yang masih fokus dengan aktivitasnya.
Winda terkejut ketika kedua tangan Sigit memeluk perutnya dari belakang dengan hembusan nafas yang terasa begitu hangat di tengkuknya secara tiba-tiba.
"Ada yang bisa abang bantu? mecahin telur misalnya." kata Sigit ketika teringat pertama kalinya Winda meminta bantuannya untuk memecahkan telur saja setelah mengetahui dirinya tidak bisa memasak.
"Hm?"
Winda terheran dengan ucapan Sigit, dia menolehkan kepalanya kesamping sehingga pipi kirinya terbentur hidung suaminya.
"Kenapa? ada yang salah dengan kataku?" tanya Sigit semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya.
Winda merasa berat tidak bebas bergerak ketika suaminya semakin erat memeluknya, Winda terdiam sejenak.
"Memangnya abang bisa memasak? bukannya abang waktu praktek kerja lapangan dulu selama beberapa bulan tidak bisa memasak sama sekali? bisanya cuma ngabisin makanan doang."
jawab Winda sambil melirik suaminya ketika mengingat masa PKL mereka, dimana kelima teman laki-lakinya termasuk suaminya yang selalu memberikan uang belanja namun tidak mau ikut terjun dalam dunia dapur.
Di Universitas mereka, PKL sebagai salah satu mata kuliah pada semester 7 dengan bobot 6 SKS. Selama melakukan magang, mahasiswa diharapkan bisa mengimplementasikan secara langsung berbagai ilmu dan teori yang telah didapatkan sewaktu perkuliahan di kelas. Program PKL dirancang agar mahasiswa memiliki pengalaman tentang dunia kerja, khususnya di bidang hukum, seperti profesi advokat, konsultan hukum, peneliti, jurnalis hukum, dan lain-lain.
Selain menjadikan magang sebagai program wajib bagi mahasiswa, ternyata Universitas mereka juga memiliki metode belajar yang unik dan tidak cepat bosan. Paduan antara teori, studi kasus, dan berbagai proyek individu maupun kelompok tentu dapat memperkaya kemampuan mahasiswanya. Universitas mereka juga mengajak mahasiswa untuk melakukan kunjungan lapangan dan diskusi ke berbagai institusi yang memiliki keterkaitan dengan materi ajar.
"Iya... itu dulu sayang... sekarang sudah bisa walaupun cuma sekedar mecahin telur doang..." jawab Sigit nyengir setelah mengingat kejailannya dan teman-temannya dulu.
Tangan Sigit masih betah menggelayut diperut langsing istrinya dengan dagu diatas pundak sebelah kiri Winda dengan sesekali menggesekkan pucuk hidungnya dileher istrinya.
"Bang kapan Winda selesai memasaknya jika abang gangguin terus begini... katanya udah laper?" ucap Winda merasa terganggu dengan ulah suaminya, tangannya sambil mengaduk nasi diatas wajan yang sudah siap dipindahkan diatas piring.
"He he he... tu dah selesai masaknya he he..." jawab Sigit sambil menunjuk nasi goreng dengan dagunya.
"Abang mau emang makannya disini?" Winda menyahut perkataan suaminya sambil mengangkat penggorengan ditangannya.
"Ha ha ha... bisa aja."
Sigit tertawa melihat ulah istrinya, kemudian melepaskan pelukannya dan membantu mengambil dua piring dari lemari cantik bagian atas.
Winda membagi nasi goreng cumi hitam buatannya menjadi dua bagian lalu membawanya dimeja makan dengan dibantu Sigit membawakan dua gelas ditangannya.
Mereka menikmati makanan yang tersaji didepannya, Sigit yang sudah merasa lapar sedari tadi langsung menghabiskan bagiannya.
"Tau tidak." ucap Sigit sambil meletakkan gelas yang sudah tandas air didalamnya.
__ADS_1
"Hm? tidak." jawab Winda pada suaminya.
"Ini adalah nasi goreng hitam yang pertama kali abang makan."
"Hm?"
Winda terhenyak mendengar ucapan suaminya.
Sigit tersenyum melihat raut Winda yang tertegun.
"Nasi goreng hitam?"
"Iya bener nasi goreng hitam." jawab Sigit.
Winda menghela nafas menahan rasa kesal atas ucapan suaminya, tangannya memunguti piring mereka yang sudah kosong lalu membawanya kecucian piring.
"Bang, tadi itu nasi goreng cumi hitam namanya, jadi nasinya juga ikutan hitam, sama kan dengan gula, jika dia dicampur dengan kopi jadi hitam kan warnanya... namanya juga berubah menjadi kopi hitam, kalaupun dicampur susu namanya berubah kopi susu." jelas Winda setelah selesai mencuci piring dan duduk disamping Sigit diruang tamu.
"Iya juga sih, tapi nasi gorengnya enak kok."
"Gombal! pasti ada maunya ini ujung-ujungnya."
"GR." jawab Sigit sambil melirik Winda disampingnya.
Suasana hening sesaat, Sigit membuka mesin pintarnya lalu memeriksa notifikasi masuk.
Baru saja melangkahkan kakinya, tangan Sigit menarik lengannya dengan mata masih menatap gawainya.
"Jangan kemana-mana, tetaplah disini temani abang, abang cuma sebentar."
Winda menghentikan langkahnya dan menuruti permintaan suaminya duduk disampingnya kembali. Winda kembali teringat cerita Sigit semalam yang sempat terputus, dia merasakan bagaimana romantisnya hubungan suami istri diawal pernikahan, sebulan dua bulan tiga bulan paling lama mungkin setahun, setelah itu mulai bermunculan permasalahan demi permasalahan yang berat dalam rumah tangga.
Mulai dari persoalan keturunan, perekonomian sampai kesibukan masing-masing pasangan yang menjadi pemicu hadirnya sandaran baru yang bisa membuatnya nyaman.
Setelah selesai dengan urusannya Sigit meletakkan gawainya di atas meja, dia memperhatikan wajah istrinya yang sedang memikirkan sesuatu.
Sigit tersenyum menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan istrinya.
"Kenapa?"
"Em... gak papa, cuma... kepikiran aja dengan cerita abang semalam."
Winda mengambil bantalan sofa dari punggungnya dan meletakkannya dipangkuannya.
Sigit terdiam mengelus-elus dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.
__ADS_1
"Hmmm... itu yang membuatmu melamun? atau... jangan-jangan kamu berpikir jika abang akan berpaling begitu? sama seperti suaminya ibu itu?" ucap Sigit pada Winda.
Winda mengangkat kedua pundaknya dengan kedua tangannya keatas.
"Bisa jadi. Abang juga tidak jauh kemungkinan akan berbuat sama seperti itu jika kedepannya sudah tidak ada lagi rasa saling percaya dengan pasangan abang."
"Naudzubillah, jangan sampai terjadi, cukup salah satu orang saja yang menjalaninya."
sahut Sigit dengan cepat.
Winda masih ingin mengetahui lebih dalam pemikiran suaminya, Winda pun melanjutkan pertanyaannya.
"Jika Winda tubuhnya berubah gendut, jelek nanti setelah melahirkan sehingga abang sudah tidak berselera lagi dengan pasangan abang. Apa abang tidak tertarik tuh dengan yang namanya daun muda? yang notabenenya lebih cantik, seksi dan... lebih seger tentunya..."
"Semoga saja abang tetap istiqamah dengan istri abang yang sudah mulai ada rasa cemburu dan rasa takut kehilangan suaminya dengan wanita lain ini, abang hanya ingin menghabiskan hidup sampai masa tua nanti bersama istri abang ini." jawab Sigit sambil menoel ujung hidung Winda.
Winda terdiam mendengar kata-kata suaminya, dia membiarkan tangan Sigit membuka jepitan rambutnya, lalu menggerai rambutnya yang panjang, lalu menyisipkan anak rambutnya yang menyembul diwajahnya di belakang telinganya.
Kedua bola mata mereka saling beradu.
"Tapi... jika Winda tidak bisa memberikan keturunan untuk abang, apakah rasa itu masih ada didalam sini?" tangan Winda menunjuk dada sebelah kiri suaminya ketika pertanyaan yang dia takutkan ahirnya keluar juga dari rasa takut kehilangan Sigit.
Sigit melihat jari telunjuk Winda lalu meraih tangan Winda yang menunjuk dadanya, matanya menatap kedua bola mata Winda yang menunggu jawaban darinya.
"Sesuatu yang belum terjadi janganlah didahului dengan ucapan yang akan selalu membuatmu ketakutan dan akan terus membayangimu. Alangkah lebih baiknya setiap permasalahan itu segera dibicarakan tanpa harus ditutup-tutupi, bukankah kejujuran, keterbukaan merupakan kunci utama dalam langgengnya sebuah hubungan berumah tangga? untuk itu kita harus saling mensupport satu sama lain dengan berusaha semampu kita dan berdoa agar dimudahkan usaha kita. Dan... abang juga tidak ingin membuatmu tersakiti dengan keegoisan abang."
Jawaban Sigit membuat Winda terharu, Winda menganggukkan kepalanya, tidak terasa air bening menetes dari matanya. Winda tidak menyangka jika pertanyaannya justru membuatnya semakin nyaman dengan jawaban Sigit kepadanya.
Sigit mengusap air mata istrinya yang lolos begitu saja, lalu membelai kepala Winda dengan lembut. Winda merasakan sentuhan dikepalanya sangat membuatnya nyaman.
"Abang...."
Winda mengalungkan tangannya diperut suaminya, kepalanya disandarkan didada Sigit.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
ayo akak2ku yang terlop-lope dukung terus dengan like n komentnya ....
__ADS_1
saranghe...💞💞